<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299</id><updated>2012-02-16T09:20:33.907-08:00</updated><title type='text'>Opini</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pseks-opini.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>101</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-3978353663243823203</id><published>2011-12-12T08:20:00.000-08:00</published><updated>2011-12-12T10:29:08.993-08:00</updated><title type='text'>Pelatihan Penerapan Akuntabilitas dalam Kerja Kemanusiaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-US3p_vHFfCk/TuYuLCHN18I/AAAAAAAABrg/3Qwvlc9OSO4/s1600/IMG00354-20111205-0907+00001.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" oda="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-US3p_vHFfCk/TuYuLCHN18I/AAAAAAAABrg/3Qwvlc9OSO4/s200/IMG00354-20111205-0907+00001.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HrGA55VAeg8/TuYuTNRHR0I/AAAAAAAABro/g2Fxf0A-2p4/s1600/IMG00358-20111205-0922+00000.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" oda="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-HrGA55VAeg8/TuYuTNRHR0I/AAAAAAAABro/g2Fxf0A-2p4/s200/IMG00358-20111205-0922+00000.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;Karina Surabaya mengikuti &lt;em&gt;Aid-Countability Training&lt;/em&gt; atau Pelatihan Penerapan Akuntabilitas dalam Kerja Kemanusiaan. Acara yang diselenggarakan bersama oleh &lt;em&gt;Public Interest Research and Advocacy Center&lt;/em&gt; (PIRAC) dan LSM Harapan Umat (HARUM), Malang. Pelatihan tersebut&amp;nbsp;&amp;nbsp;diselenggarakan pada Senin, 5 Desember 2011 di Universitas Brawijaya, Malang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akuntabilitas merupakan kewajiban setiap lembaga pengelola bantuan kemanusiaan, baik pihak pemerintah maupun institusi lainnya, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal maupun internasional, media massa, lembaga pendidikan, perusahaan dan organisasi keagamaan. Sebagian organisasi pengelola bantuan kemanusiaan memahami akuntabilitas sebatas pemberian laporan kepada donatur atau masyarakat. Sebagian lainnya merasa sudah akuntabel karena laporan keuangannya diaudit oleh akuntan publik. Padahal, akuntabilitas tidak hanya mengacu pada laporan, tapi juga pada aspek-aspek lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para pegiat organisasi kemanusiaan dengan difasilitasi &lt;em&gt;Public Interest Research and Advocacy Center&lt;/em&gt; (PIRAC) dan Humanitarian Forum Indonesia (HFI) sudah menyusun pedoman akuntabilitas pengelolaan bantuan kemanusiaan. Upaya ini didahului dengan penelitian dan pemetaan praktik dan persoalan akuntabilitas pengelolaan bantuan bencana di empat lokasi bencana, yaitu di Bandung, Jawa Barat, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Aceh Besar, Aceh dan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, PIRAC dan HFI juga melakukan analisis terhadap&amp;nbsp;enam pedoman atau standar pengelolaan bantuan kemanusiaan internasional yang di dalamnya tercakup aspek-aspek akuntabilitas. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil penelitian itu yang diperkaya dengan pengalaman-pengalaman lapangan berbagai organisasi kemanusiaan yang dijadikan bahan dalam penyusunan Pedoman Akuntabilitas Bantuan Kemanusiaan. Penyusunan panduan ini dilakukan secara bersama dengan melibatkan beragam unsur organisasi yang berperan dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan, seperti &lt;em&gt;Catholic Relief Services&lt;/em&gt; (CRS), Dana Kemanusiaan Kompas (DKK), Karina, Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), &lt;em&gt;Public Interest Research and Advocacy Center&lt;/em&gt; (PIRAC),&amp;nbsp;Humanitarian Forum Indonesia (HFI), Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU), Forum Zakat (FOZ), &lt;em&gt;YAKKUM Emergency Unit&lt;/em&gt; (YEU), Yayasan Tanggul Bencana Indonesia (YTBI) dan &lt;em&gt;World Vision Indonesia&lt;/em&gt; (WVI) dan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA). Selain LSM juga melibatkan OPZ (Organisasi Pengelola Zakat), media massa dan pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Pedoman ini sudah berhasil dirumuskan dan diluncurkan dalam bentuk buku panduan pada akhir Oktober 2010.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peluncuran buku panduan ini ditindaklanjuti dengan pelatihan-pelatihan yang diikuti oleh lembaga-lembaga yang bergerak dalam kegiatan kemanusiaan agar bisa dipahami, diterapkan serta dijadikan panduan dalam mengukur / menilai akuntabilitas lembaga. Pedoman akuntabilitas ini berfungsi sebagai upaya &lt;em&gt;self-assessment&lt;/em&gt; bagi organisasi pengelola bantuan kemanusiaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan umum dari Pelatihan ini adalah, memberikan pemahaman mengenai Pedoman Akuntabilitas kepada Lembaga Pengelola Bantuan Kemanusiaan&amp;nbsp;yang memiliki program penyaluran bantuan kemanusiaan. Selain itu, menyediakan kesempatan bagi pengelola bantuan kemanusiaan untuk memperkuat kapasitasnya dalam menilai akuntabilitas organisasi, baik organisasinya masing-masing ataupun organisasi lain yang dibantu. Dan memberikan gambaran proses praktis pengukuran akuntabilitas dengan menggunakan Pedoman Akuntabilitas Pengelolaan Bantuan Kemanusiaan: dari mulai metode pengukuran, &lt;em&gt;scoring&lt;/em&gt;, pembuatan &lt;em&gt;chart&lt;/em&gt; sampai penulisan laporan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sesi&amp;nbsp;I,&amp;nbsp;Mengenal Akuntabilitas Pengelolaan Bantuan Kemanusiaan, peserta mendapat&amp;nbsp;penjelasan tentang definisi, praktek dan tantangan. Beberapa definisi itu mengenai beberapa prinsip seperti, independensi, non diskriminasi, keberpihakan terhadap kelompok rentan, komitmen organisasi, mekanisme umpan balik, transparansi yang seluruhnya berjumlah 13 butir. Sesi II,&amp;nbsp;tentang Mengenal Prinsip-prinsip Akuntabilitas Pengelolaan Bantuan Kemanusiaan menjelaskan&amp;nbsp;metode pengukuran akuntabilitas dengan d&lt;em&gt;ocument review&lt;/em&gt;, wawancara atau &lt;em&gt;Focus Group Disccusion&lt;/em&gt; (FGD). Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan serta dapat dilakuka secara internal maupun eksternal. Secara umum, alur proses penilaian berkenaan dengan pemahaman tentang alat dan proses, hasil penilaian masing-masing prinsip / indikator serta hasil rekomendasi dan perbaikan yang diakhiri dengan strategi perbaikan dan tindak lanjut. Di&amp;nbsp;sesi III,&amp;nbsp;peserta memprakktekkan Pengukuran Akuntabilitas, dengan &lt;em&gt;scoring&lt;/em&gt; dan pembuatan &lt;em&gt;chart&lt;/em&gt; akuntabilitas. Tujuannya, peserta dapat memahami penerapan &lt;em&gt;scoring&lt;/em&gt; dan mampu melakukan penilaian akuntabilitas dalam organisasi. Sesi ini diisi dengan simulasi dan penulisan laporan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pelatihan itu, selain menambah kapasitas, Karina Surabaya juga menjalin jejaring dengan berbagai lembaga dan penggiat organisasi kemanusiaan, seperti Palang Merah Indonesia Propinsi Bali, Rumah Yatim Surabaya, LSM Pelangi Mitra, Bulan Sabit Merah (BSMI) Mataram, LBH APIK, Lazuardi Birru, Swadaya Ummat, Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF), Al Munawaroh, Rumah Perubahan, &lt;em&gt;Norwegian Red Cross&lt;/em&gt;, Griya Yatim Dhuafa, Aliansi Peduli Perempuan dan Anak - ACCESS (&lt;em&gt;Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme&lt;/em&gt;), AMPERA Haltim, PMI Kalimantan Tengah, &lt;em&gt;CIRCLE Indonesia&lt;/em&gt; dan LAZIS Sabilillah. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-3978353663243823203?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/3978353663243823203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/3978353663243823203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/12/pelatihan-penerapan-akuntabilitas-dalam.html' title='Pelatihan Penerapan Akuntabilitas dalam Kerja Kemanusiaan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-US3p_vHFfCk/TuYuLCHN18I/AAAAAAAABrg/3Qwvlc9OSO4/s72-c/IMG00354-20111205-0907+00001.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-7734403263683771905</id><published>2011-11-18T11:54:00.000-08:00</published><updated>2011-11-20T07:32:44.076-08:00</updated><title type='text'>Peningkatan Kapasitas Tanggap Darurat Bencana (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-rrYtgRrftC4/TsbAKHFkHYI/AAAAAAAABrQ/EGk5d3crGNs/s1600/blt3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" hda="true" height="140" src="http://2.bp.blogspot.com/-rrYtgRrftC4/TsbAKHFkHYI/AAAAAAAABrQ/EGk5d3crGNs/s200/blt3.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-nY2t-vNYeGU/TsbAMp75BxI/AAAAAAAABrY/1If2KUkjFR8/s1600/blt4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" hda="true" height="140" src="http://2.bp.blogspot.com/-nY2t-vNYeGU/TsbAMp75BxI/AAAAAAAABrY/1If2KUkjFR8/s200/blt4.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pada sesi, &lt;em&gt;Alur Kerja Tanggap Darurat&lt;/em&gt;, Sdr. Joseph Hanny Hendra memaparkan bahwa siklus proyek merupakan tahapan kegiatan yang tersusun secara logis untuk mencapai sebuah tujuan. Hal ini sangat penting karena, siklus proyek merupakan kerangka kerja utama untuk merancang dan mengelola aksi-aksi kemanusiaan. Selain itu mempermudah dalam memonitor dan mengevaluasi kegiatan kemanusiaan yang dijalankan. Siklus itu terdiri dari &lt;em&gt;bencana – kajian – analisa – perencanaan – implementasi – monitoring dan evaluasi.&lt;/em&gt; Hal ini masih mempertimbangkan beberapa hal ialah: situasi bencana berubah dengan cepat, adaptasi perubahan kebutuhan, keleluasaan dalam merancang ulang sebuah intervensi, tidak membuat sekali langsung jadi karena apa yang tidak bisa dipenuhi sekarang, bisa dipenuhi nanti, berdasarkan hasil analisa. Pada kesempatan itu ada sharing dari Yudo, seorang anggota Tagana yang menceritakan pengalaman dalam menangani bencana sejak &lt;em&gt;mapping&lt;/em&gt;, implementasi pembagian&amp;nbsp;makan dan evakuasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikutnya&amp;nbsp;sesi &lt;em&gt;Pengertian Bencana&lt;/em&gt;, Sdr. Ipung fasilitator dari unsur LSM menguraikan apa itu bencana ? Apa&amp;nbsp;penyebabnya ? Apa semua kejadian disebut bencana ? Apa syarat sebuah kejadian disebut bencana ? Bencana, tak lain merupakan suatu kejadian yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia, terjadi secara tiba-tiba atau perlahan, menyebabkan hilangnya jiwa manusia, harta benda, lingkungan dan kejadian ini terjadi di luar kemampuan masyarakat dengan sumberdayanya. Saat bencana, ada suatu gangguan serius terhadap keberfungsian masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang luas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan manusia tersebut untuk mengatasi dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sdr. Ipung menguraikan arti resiko, ialah suatu kehilangan dan kerusakan harta benda, gangguan kegiatan mata pencaharian dan ekonomi atau kerugian dalam hal kematian, luka-luka dari timbulnya akibat bencana. Arti ancaman ialah kejadian, gejala alam atau kegiatan manusia yang berpotensi untuk menimbulkan kematian, luka-luka, kerusakan, harta benda, gangguan social ekonomi atau kerusakan lingkungan. Arti kerentanan, ialah kondisi-kondisi yang ditentukan oleh faktor faktor atau proses fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan hidup yang meningkatkan kerawanan suatu masyarakat terhadap dampak ancaman bencana. Juga arti kapasitas, yang merupakan gabungan antara semua kekuatan dan sumberdaya yang tersedia dalam suatu masyarakat atau organisasi yang dapat mengurangi tingkat resiko atau akibat dari bencana. Kekuatan yang dimiliki tiap individu atau kelompok yang dapat ditingkatkan, dimoblisasi dan digunakan, untuk memberikan kemudahan kepada tiap-tiap indiviudu dan masyarakat. Kegiatan kemanusiaan, tak lain mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas masyarakat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu mitigasi ialah usaha struktural dan non struktural yang diambil untuk membatasi dampak ancaman bencana. Misalnya dengan mendirikan pos pengamatan. Atau jika terjadi bencana (tanggap darurat, evakuasi) dan sesudah bencana (rehabilitasi, rekonstruksi). Semntara kegiatan sebelum bencana sebagai mitigasi ialah: peringatan dini, sosialisasi, pelatihan, komunikasi, pemantauan dan pemetaan. Secara sederhana, pada kasus gunung meletus dapat dikategorikan, situasi awas ialah ada gejala menuju letusan utama. Status&amp;nbsp;siaga ialah prakiraan bahwa aktivitas akan berlanjut ke letusan dan waspada ialah terjadi peningkatan kegiatan vulkanis dan tidak ada gejala peringatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya&amp;nbsp;peserta menuliskan apa saja kejadian bencana di daerah masing-masing, upaya yang dilakukan oleh masyarakat (korban) dan organisasi yang ada dan pemerintah. Wilayah&amp;nbsp;Blitar menguraikan situasi Gunung Kelud meletus, hujan pasir, lahar dingin, banjir di Lodoyo akibat banyak penebangan hutan. Wilayah&amp;nbsp;Kediri menyebutkan&amp;nbsp;bencana banjir dan longsor di Kandangan, serta lahar dingin Gunung Kelud di Kepung. Sementara di wilayah Tulung Agung dan Trenggalek yang lokasinya pegunungan, memiliki kerawanan banjir, tanah longsor, tsunami di Watulimo, dengan korban material sangat banyak serta puting beliung. Sepanjang tahun 2003 hingga tahun 2010 secara dominan&amp;nbsp;terjadi bencana tanah longsor dan banjir. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sesi &lt;em&gt;Kajian, Analisa, Perencanaan&lt;/em&gt;, Sdr. Heri Risdianto menyebutkan pentingnya kajian. Kajian merupakan informasi awal dari sumber langsung yang membantu keputusan lembaga dalam merespon, menentukan penentuan langkah lanjut dan referensi kegiatan di masa depan. Selain itu ada kajian dampak yang menganalisa siapa yang terpapar oleh bencana, korban jiwa, kerusakan. Serta kajian kebutuhan untuk mengenali kebutuhan mendesak, seleksi kriteria penerima manfaat, kelompok rentan, partisipasi warga dan struktur lokal yang bisa membantu.Dalam hal ini diperlukan kajian dampak dan kebutuhan serta &lt;em&gt;chek list point,&lt;/em&gt; apa saja yang perlu dikaji. Dengan demikian, analisa merupakan penyelidikan terhadap kejadian, peristiwa untuk mengetahui dan memastikan keadaan yang sebenarnya. Sasarannya adalah adanya data yang akurat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesi terakhir, &lt;em&gt;Implementasi, Monitoring dan Evaluasi&lt;/em&gt;, Bp. Atong dari BPBD Pemkot Madiun, menguraikan kebutuhan logistik sebagai kebutuhan yang nyata pada manusia, baik dalam situasi encana maupun tidak. Bentuknya berupa panganyang dibutuhkan untuk memenuhi tingkat gizi dan non pangan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Dalam pelaksanaan harus ada alur rantai pasokan dari agen logistik, ada agen pengangkutan dan penanggunjawab komoditas. Hal yang tak kalah penting ialah sistem pendistribusian, di mana pendataan mengikutsertakan orang yang terkena dampak bencana, pemilahan penerimaan bantuan, pemberian harus sesuai dengan penerima bantuan secara langsung kepada penerima bantuan dan memberikan laporan pada pendonor / pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah, gambaran umum kegiatan Peningkatan Kapasitas Tanggap Darurat Bencana. Seluruh peserta mendapat materi alur kerja tanggap darurat sesuai &lt;em&gt;Standard Sphere&lt;/em&gt; yang digunakan oleh hampir seluruh lembaga kemanusiaan. Peserta mendapat gambaran&amp;nbsp;karya tanggap darurat, berupa teknik kerja kelompok, mengenal kode etik pekerja kemanusiaan dan penjelasan alur kerja tanggap darurat atau siklus proyek.&amp;nbsp;Materi ini didukung dengan pengenalan definisi bencana sebagai ancaman, kajian dan analisa. Lalu pembelajaran alur kerja tanggap darurat, tentang perencanaan, implementasi dan monitoring-evaluasi. Sebagai penutup pelatihan peserta diajak untuk menyusun rencana tindak lanjut dalam kelompok masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir kegiatan pelatihan, bersamaan dengan berkumpulnya relawan peduli bencana, diumumkan pula&amp;nbsp;terbentuknya Karina Kevikepan&amp;nbsp;Blitar. Sebagai pelindung Rm.&amp;nbsp;Agustinus Made, Pr, yang juga menjadi Koordinator Bidang Kerasulan Umum Kevikepan Blitar. Sdr.&amp;nbsp;Yohanes Bagus sebagai ketua, disusul Sdr.&amp;nbsp;Victorianus Krishna dan Sdr. Eko, koordinator wilayah Blitar&amp;nbsp;dan Sdr.&amp;nbsp;Tri Ananda Henry Saputra,&amp;nbsp;koordinator wilayah&amp;nbsp;Wlingi dan Sdr. Eko Yuni Prasetyo, koordinator wilayah Tulung Agung. Sedangkan Sdr. Suroso sebagai&amp;nbsp;sekertaris,&amp;nbsp;Sdr.&amp;nbsp;Paulus Sumardiono dan Sdri.&amp;nbsp;Silvia sebagai bagian keuangan. &lt;em&gt;(disarikan dari: Notulensi Peningkatan Kapasitas Tanggap Darurat Bencana, Slorok, Blitar).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-7734403263683771905?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7734403263683771905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7734403263683771905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/11/tindak-lanjut-pelatihan-sphere-2.html' title='Peningkatan Kapasitas Tanggap Darurat Bencana (2)'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rrYtgRrftC4/TsbAKHFkHYI/AAAAAAAABrQ/EGk5d3crGNs/s72-c/blt3.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-8978938324723466663</id><published>2011-11-18T11:49:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T14:28:41.553-08:00</updated><title type='text'>Peningkatan Kapasitas Tanggap Darurat Bencana (1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-NQuuQ2pxkeI/Tsa9rqr2Z1I/AAAAAAAABrA/zno4SyOTwFc/s1600/blt.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" hda="true" height="141" src="http://3.bp.blogspot.com/-NQuuQ2pxkeI/Tsa9rqr2Z1I/AAAAAAAABrA/zno4SyOTwFc/s200/blt.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YeznlyE-gGE/Tsa9wSxTxvI/AAAAAAAABrI/a6aza5a0p1Y/s1600/blt2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" hda="true" height="140" src="http://3.bp.blogspot.com/-YeznlyE-gGE/Tsa9wSxTxvI/AAAAAAAABrI/a6aza5a0p1Y/s200/blt2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Karina Keuskupan Surabaya yang mengikuti kegiatan CB4ER (&lt;em&gt;Capacity Building for Emergency Response&lt;/em&gt;), menindaklanjuti dengan mengadakan Peningkatan Kapasitas Tanggap Darurat Bencana, sebagai tindak lanjut pelatihan yang sama.&amp;nbsp;Pelatihan yang diadakan 8-9 Oktober 2011 tersebut diadakan di Komplek SDK Slorok, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Fasilitator kegiatan ini&amp;nbsp;ialah tim 9 yang telah mengikuti pelatihan di Larantuka dengan&amp;nbsp;fasilitator dan dukungan dari Karina KWI dan &lt;em&gt;Catholic Relief Service (CRS)&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Latar belakang kegiatan ini ialah situasi dan kondisi geografis wilayah Keuskupan Surabaya yang memiliki daerah rawan bencana seperti banjir, letusan gunung berapi dan tanah longsor. Ini karena ada 2 aliran sungai besar yakni Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas. Selain itu terdapat gunung berapi aktif yakni Gunung Kelud. Sementara itu di bagian selatan, merupakan&amp;nbsp;daerah pegunungan yang rawan longsor dan di pesisir selatan rawan tsunami seperti Pacitan, Trenggalek dan Tulung Agung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya, pada tanggal 18-23 Juni 2011, 9 orang perwakilan Karina Surabaya telah mengikuti Pelatihan Sphere di Larantuka. Mereka terdiri dari 2 orang wakil BPBD Propinsi Jawa Timur, 1 orang wakil BPBD Kota Madiun, 1 orang perwakilan LSM, 2 orang wakil Karina Surabaya dan 2 orang wakil Karina Posko Madiun dan Pare. Dalam pelatihan ini selain mendapatkan materi standard penanganan bencana, peserta berinteraksi dan berbagi pengalaman dalam merespon bencana. Pada akhir pertemuan disepakati terbentuknya tim 9 untuk menginformasikan hasil pelatihan ke beberapa daerah. Kegiatan ini bertujuan, membentuk jejaring antar peserta pelatihan di tingkat daerah, pengenalan ancaman wilayah masing-masing, pengenalan pelaksanaan kegiatan operasi tanggap darurat sesuai dengan kode etik pekerja kemanusiaan dan pengenalan menyusun sistem akuntabilitas bagi penerima manfaat dalam respon bencana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peserta kegiatan ini 35 orang relawan Karina Posko Blitar, Madiun, Wlingi, Kediri, Wlingi, Tulung Agung dan Trenggalek juga OMK paroki dan stasi, pengurus Seksi Sosial Paroki, Kesbanglimaspol dan Dinas Sosial Kabupaten Blitar dan aparat desa rawan bencana. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;F.J. Soewandi, Seksos Paroki St. Yusup, Blitar, mewakili Rm. Prima Novianto, Pr mengucapkan dukungan atas prakarsa pertemuan tersebut dan mengharapkan ada tindak lanjut. Pengalaman selama 69 tahun di Blitar mengalami Gunung Kelud meletus sepertinya tidak ada apa-apa. Tetapi setelah itu, ada banjir bandang dengan kedalaman 3 meter akibat&amp;nbsp;hutan jati dibabat. Ia mengharapkan Paroki di Blitar, Tulung Agung dan Wlingi membentuk Karina agar menjadi ujung tombak ketika terjadi bencana. Bencana bukan hanya saat gunung&amp;nbsp;meletus, tetapi juga lahar dingin. Apresiasi disampaikan kepada para relawan yang mengorbankan diri untuk kegiatan kemanusiaan. Paroki sangat mendukung gagasan dan kerjasama dengan dinas-dinas terkait. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai &lt;em&gt;Pengantar&lt;/em&gt;, Sdr. Joseph Hanny Hendra memberikan gambaran pelatihan. Berdasarkan pengalaman, ternyata tidak bisa bekerja sendiri atau dalam kelompok sendiri, melainkan bekerjasama dengan berbagai lembaga yang bergerak di bidang kebencanaan baik dari pemerintah maupun non pemerintah. Maka pelatihan ini melibatkan unsur Dinsos, BPBD, Kesbanglinmaspol, aparat Pemerintah Desa, LSM dan Gereja. Ketika merespon bencana, harapannya tidak amburadul tetapi ada komando yang jelas.&amp;nbsp; Harapannya ada jejaring dalam penanganan bencana. Sebagai contoh di Pare dan Madiun ada jejaring dengan pemerintah dan lembaga non pemerintah sehingga bisa bekerjasama. Kegiatan ini juga kesempatan meningkatkan kapasitas sebagai pribadi / kelompok, pertemuan persaudaraan, sehingga saling mengenal dan memudahkan koordinasi menangani bencana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sesi &lt;em&gt;Merancang&amp;nbsp;Organisasi&lt;/em&gt;, Bp. Marcus Hariastono menunjukkan sistem yang terdiri dari kelompok yang memiliki hirarki yang sistematis dalam pembagian kerja. Syarat organisasi memiliki&amp;nbsp;struktur atau jenjang kedudukan yang memungkinan individu memiliki posisi yang jelas dan ada pembagian kerja. Setiap individu dalam organisasi memiliki satu bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Peserta diajak membuat organisasi dengan menentukan tugas&amp;nbsp;ketua, sekretaris dan bendahara. Lalu fasilitator mengecek dan kelompok mempresentasikan kembali tugasnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesi selanjutnya,&amp;nbsp;&lt;em&gt;Pengenalan Karina Keuskupan Surabaya&lt;/em&gt;, Rm. A. Luluk Widyawan, Pr mengatakan bahwa Karina Surabaya menjadi satu keluarga bersama Karina Keuskupan di Indonesia dan Karina KWI. Pembentukan Karina tak lain karena situasi wilayah di Keuskupan Surabaya rawan bencana. Kegiatan yang dilakukan ialah tanggap darurat bencana, peningkatan kapasitas relawan dengan melibatkan paroki. Karina tidak membawa bendera agama, tetapi kemanusiaan. Hal ini mengingat visi Karina ialah belarasa demi keutuhan martabat manusia. Selama hampir 5 tahun, &amp;nbsp;Karina Surabaya beberapa kali membantu kegiatan tanggap darurat di berbagai tempat, mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas, merancang organisasi, menduplikasikan hasil pelatihan, terutama kepada paroki rawan bencana dan membuat jejaring dengan kevikepan dan paroki untuk memudahkan koordinasi. Ia menekankan bahwa siapapun boleh terlibat, mendukung kegiatan Karina, karena kegiatan ini bersifat kerelawanan. Namun mereka yang terlibat hendaknya mengikuti cara kerja yang telah dijadikan prosedur bersama. Selain itu, jika paroki hendak mengadakan kegiatan&amp;nbsp;Karina, agar&amp;nbsp;tetap berkoordinasi dengan Pastor Paroki, Dewan Pastoral Paroki, Seksi Sosial Paroki atau Stasi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sesi &lt;em&gt;Kode Etik Pekerja Kemanusiaan&lt;/em&gt;, Budi Hartono menjelaskan rumusan Sphere yang dibuat Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah. Kode etik ini sifatnya bukan teknis operasional, tetapi mempertahankan standar tinggi dalam respon kemanusiaan. Misalnya, panggilan&amp;nbsp;kemanusiaan harus diutamakan. Berkenaan dengan bantuan, harus&amp;nbsp;diberikan tanpa memandang ras, agama atau kebangsaan tanpa membeda-bedakan. Prioritas bantuan ditentukan semata-mata berdasarkan kebutuhan. Bantuan tidak boleh&amp;nbsp;digunakan untuk kepentingan politik atau keagamaan tertentu, juga tidak&amp;nbsp;mejadi&amp;nbsp;alat politik pemerintah. Bantuan justru tetap&amp;nbsp;menghargai kebudayaan dan adat istiadat setempat, membangkitkan respon terhadap bencana dari kapasitas lokal dan&amp;nbsp;melibatkan penerima bantuan dalam pengelolaan bantuan darurat. Bantuan harus berusaha mengurangi kerentanan di masa datang dan&amp;nbsp;memenuhi kebutuhan dasar sementara. Lembaga kemanusiaan&amp;nbsp;harus akuntabel, kepada mereka yang dibantu, maupun mereka yang memberikan sumber daya. Dalam kegiatan informasi, publikasi dan kampanye, harus ada sikap memperlakukan korban bencana sebagai manusia yang bermatabat dan bukan sebagai obyek yang tidak berpengharapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah rambu-rambu yang&amp;nbsp;membantu menjalankan tugas kemanusiaan supaya tidak keluar dari rel, tidak menimbulkan bencana baru dan pijakan untuk bekerja bersama. Kode etik ini sifatnya mengikat.&amp;nbsp;Tujuannya agar ada kesepakatan untuk tidak keluar dari jalur prosedur sehingga&amp;nbsp;tidak disalahgunakan. Sebaliknya&amp;nbsp;jika dijalankan, akan sangat besar manfaatnya dan mengamankan pekerjaan dan pekerja&amp;nbsp;kemanusiaan. &lt;em&gt;(disarikan dari: Notulensi Peningkatan Kapasitas Tanggap Darurat Bencana, Slorok, Blitar)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-8978938324723466663?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8978938324723466663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8978938324723466663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/11/tindak-lanjut-pelatihan-sphere-1.html' title='Peningkatan Kapasitas Tanggap Darurat Bencana (1)'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-NQuuQ2pxkeI/Tsa9rqr2Z1I/AAAAAAAABrA/zno4SyOTwFc/s72-c/blt.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-1725207887717619838</id><published>2011-11-17T12:10:00.000-08:00</published><updated>2011-11-17T12:19:54.705-08:00</updated><title type='text'>Partisipasi Penghijauan Di Lemongan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VSpIRWEyKbs/TsVp9yiiBQI/AAAAAAAABqo/j_HZXlDO2Lc/s1600/lemongan2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" hda="true" height="142" src="http://3.bp.blogspot.com/-VSpIRWEyKbs/TsVp9yiiBQI/AAAAAAAABqo/j_HZXlDO2Lc/s200/lemongan2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-WMBLmJzDXn0/TsVqBQP7QnI/AAAAAAAABqw/YRXpV3HUhZE/s1600/lemongan5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" hda="true" height="141" src="http://1.bp.blogspot.com/-WMBLmJzDXn0/TsVqBQP7QnI/AAAAAAAABqw/YRXpV3HUhZE/s200/lemongan5.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karina Posko Paroki St. Mateus, Pare mengikuti &lt;em&gt;Lemongan Conservation Run&lt;/em&gt;, pada Minggu 13 November 2011 di area Gunung Lemongan, Kabupaten Lumajang. Kegiatan penghijauan tersebut diselenggarakan aktivis peduli lingkungan Laskar Hijau yang dikoordinir oleh Aak Abdullah Al Kudus. Rombongan Karina Pare bergabung bersama lembaga dan organisasi masyarakat lain, seperti Perhutani Klakah, Yonif 527 Lumajang, SAR Kabupaten Lumajang, Praxis, Jakarta, PBM, Jakarta, Vabfas Lumajang, MPPM, SRM Ranu Klakah, Foswot dan SBMI Probolinggo. Juga LSM Jagad Lestari, Probolinggo, KAPAL wilayah Lumajang, mahasiswa Universitas Ma Chung, Malang, Unair Surabaya dan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah, Jember.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum melakukan penghijauan, peserta yang memeriahkan acara tersebut berlari sejak dari Ranu Lemongan menuju ke Gunung Lemongan yang jaraknya sekitar 7 kilometer. Para peserta&amp;nbsp;membawa sendiri bibit tanaman yang akan ditanam. Aneka bibit itu antara lain jenis tanaman trembesi, sukun, kluwi, wuni, jambu merah, saga, mangga, nangka, sirsak dan lainnya,&amp;nbsp;dengan total tanaman sebanyak 3.000 bibit&amp;nbsp;pohon. Mereka bersama ratusan warga menanam di sekitar wilayah Watu Silang, karena pada musim kemarau yang lalu kawasan tersebut terbakar habis seluas 100 hektare.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aak Abdullah Al Kudus, koordinator panitia kegiatan &lt;em&gt;Lemongan Conservation Run&lt;/em&gt; mengatakan bahwa panitia hanya memotivasi kegiatan ini. Hal itu pertanda optimisme, bahwa negeri ini masih memiliki banyak orang yang baik, yang mau berkorban untuk Indonesia melalui penghijauan dengan tanpa pamrih. Undangan disebar secara informal lewat &lt;em&gt;sms&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; saja, peserta berdatangan dengan jumlah yang melampaui perkiraan panitia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, FA. Yunianto, koordinator Karina Posko Pare mengatakan bahwa kegiatan penghijauan pernah berlangsung di Paroki St. Mateus, Pare. Suatu saat mereka diserahi bibit tanaman, antara lain bibit&amp;nbsp;mahoni dan asem yang masih banyak dari Bp. Sumaji, Ketua Stasi Satak, Kampang Baru, Pare. Saat itu paroki kesulitan mendistribusikan. Bibit tersebut pernah dibagikan saat pembelajaran Pengurangan Resiko Bencana di beberapa sekolah dan ditanam di sekitar lokasi rawan bencana, di Desa Sumberdono untuk memperkuat tanggul sungai yang dilanda lahar dingin Gunung Kelud. Ketika mendapat kabar acara &lt;em&gt;Lemongan Conservation Run&lt;/em&gt; melalui &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt;, mereka memutuskan&amp;nbsp;hadir. Berbeda dengan kehadiran pertama&amp;nbsp;Karina yang saat ini hanya menjadi peserta, kali ini&amp;nbsp;Posko Pare berpartisipasi dalam penghijauan sambil&amp;nbsp;menjajaki belajar bersama Laskar Hijau.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-1725207887717619838?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1725207887717619838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1725207887717619838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/11/partisipasi-penghijauan-di-lemongan.html' title='Partisipasi Penghijauan Di Lemongan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VSpIRWEyKbs/TsVp9yiiBQI/AAAAAAAABqo/j_HZXlDO2Lc/s72-c/lemongan2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-2191279507189053526</id><published>2011-11-15T16:31:00.000-08:00</published><updated>2011-11-15T16:36:13.993-08:00</updated><title type='text'>Dari Program, Solidaritas Regio Jawa-Papua-NTT Sampai Modul ASG</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qrQqOUBakCw/TsMD3_wTd-I/AAAAAAAABqg/oJ-1urTvEQk/s1600/rjawa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="151" nda="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-qrQqOUBakCw/TsMD3_wTd-I/AAAAAAAABqg/oJ-1urTvEQk/s200/rjawa.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertemuan Komisi PSE Keuskupan-Keuskupan Regio Jawa berlangsung pada 12-13 November 2011 di Rumah Retret Fransiskus Asisi (samping SMU van Lith), Jln. Kartini No. 11 Muntilan. Acara pokok pertemuan tersebut ialah &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; program kerja setiap Komisi PSE Keuskupan, merumuskan program kerja Komisi PSE Regio Jawa untuk tiga tahun ke depan (2012-2014) dan merancang program kaderisasi, khususnya modul Ajaran Sosial Gereja (ASG) untuk para penggerak PSE. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh perwakilan PSE Regio Jawa yang hadar pada Konpernas Komisi PSE KWI XXII di Tomohon dan peserta dari unsur APP dan PPSM sebanyak 3-4 orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sesi pemaparan program, Komisi PSE Keuskupan Malang menerangkan program animasi APP, pertemuan antar Komisi, penyegaran pengurus, animasi HPS dan PPSM, konsolidasi dengan tim Solidaritas Kemanusiaan Keuskupan Malang serta koordinasi dengan tim beasiswa. Keuskupan Surabaya memaparkan program tahun 2012 ialah, pengembangan kesadaran dan partisipasi umat dalam upaya pemberdayaan kewirausahaan bagi petani dan kaum muda dan pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro atau Credit Union (CU).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keuskupan Agung Semarang (KAS) menampilkan program rutin, pertemuan tim kerja PSE, pertemuan antar Kevikepan, Regio Jawa, rekoleksi pengurus PSE, up dating dan pengolahan data umat, membentuk pilot project kelompok pelayanan karitatif di 8 paroki, membuat laporan perkembangan gerakan karitatif dan menyalurkan dana karitatif. Berkenaan dengan wirausaha akan dilakukan pendataan dan pemilihan wirausahawan yang akan ditingkatkan, membentuk tim tokoh wirausaha di paroki terpilih, mendampingi wirausahawan kecil, membuat konsep &lt;em&gt;self support community&lt;/em&gt;, konsientisasi sistem&amp;nbsp;&lt;em&gt;self support community&lt;/em&gt; dan membuat katalog wirausahawan kecil. Berkenaan dengan program HPS akan dilakukan pembuatan VCD hidup organik, serasehan umat mengenai penyadaran hidup organik. Sedangkan program jangka panjang ialah, animasi tim kerja&amp;nbsp;PSE Paroki, koordinasi dan pendampingan ke Paroki yang terkena dampak erupsi merapi serta pertemuan antar CU se-KAS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keuskupan Bandung akan melakukan program penguatan seksi PSE paroki, pengembangan karya pemberdayaan lewat program APP, penguatan gerakan CU dan HPS. Sedangkan Keuskupan Bogor merancang program re-katekisasi, pendidikan nilai, pemberdayaan ekonomi umat dengan tekanan, konsolidasi ke dalam dan sinergi antar komisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keuskupan Agung Jakarta menampilkan program yang diperhatikan secara khusus ialah PSE, APP, HPS. Program fokus karya PSE ialah menyusun buku panduan karya PSE sudah disosialisasikan, rapat koordinasi dan konsolidasi, rekoleksi, retret, pengembangan terus karya karitatif dan karya pemberdayaan berfokus pada pemberdayaan bidang pendidikan melalui gerakan Ayo Sekolah dan Ayo Kuliah. Pada jangka panjang gerakan ini akan dikembangkan menjadi gerakan Ayo Bekerja, yang di dalamnya menyangkut pelatihan dan bursa kerja. Selanjutnya akan dikembangkan juga menjadi gerakan Ayo Sehat. Sedangkan untuk pemberdayaan ekonomi melalui gerakan CU.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada kesempatan sesi kedua, Rm. FA. Teguh Santosa, Pr, selaku Sekretaris Eksekutif Komisi PSE KWI menyampaikan paparan program dinamisasi solidaritas antar Regio, khususnya antar Jawa-Papua-NTT. Hal ini akan diikuti dengan kegiatan &lt;em&gt;live in&lt;/em&gt; para Ketua Komisi PSE Keuskupan Regio Jawa atau penggerak PSE ke keuskupan di luar jawa yang memiliki medan kerja yang sangat berat, seperti Regio Papua. Solidaritas antar Regio, khususnya Jawa-Papua-NTT akan ditindaklanjuti dalam pertemuan antara Komisi PSE KWI dengan Ketua Komisi PSE Regio Jawa dan satu orang staf. Komisi PSE KWI akan menyiapkan desain kerjasama yang dimaksud dan memfasilitasi pertemuan.&amp;nbsp;Selain itu Komisi PSE KWI akan memfasilitasi sinergi kerasulan Komisi PSE dengan komisi-komisi lain, reanimasi APP dan penyiapan modul pembelajaran ASG.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hari kedua atau sesi ketiga, pembicaraan fokus pada merancang modul ASG. Seluruh Komisi PSE Keuskupan Regio Jawa menyepakati tema dan pembagian tugas pendalaman tema. Setiap Keuskupan akan membahas tema seperti martabat manusia, hormat kepada kehidupan manusia, kesejahteraan umum, prinsip asosiasi dan seterusnya. Keuskupan Surabaya akan menyiapkan&amp;nbsp;materi prinsip kebaikan umum. Format modul bukan format untuk pendalaman iman. Format yang disepakati sebagai berikut: tema, termasuk dasar pemikiran, tujuan dan pengalaman hidup yang menampilkan kisah pengalaman orang lain. Tekanan penyampaian kisah tak lain adalah cermin kisah bagi refleksi pembaca, apa pengalamanku sehubungan dengan pengalaman yang dikisahkan. Lalu disusul relevansi dengan teks Kitab Suci dan ASG serta&amp;nbsp;diakhiri pilihan gerakan yang sebaiknya dilakukan&amp;nbsp;berkaitan dengan tujuan yang telah ditulis di depan. Format tulisan memakai font 12, jumlah halaman berkisar 5-10 halaman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Draft awal dibuat oleh setiap Komisi PSE keuskupan, lalu dikirim ke semua Komisi PSE Regio Jawa dan tim editor&amp;nbsp;untuk ditanggapi. Rancangan disepakati selesai pada 31 Januari 2012.Selanjutnya draft akhir akan dibahas dalam pertemuan PSE Regio Jawa pada bulan Maret 2012. Bahan modul pembelajaran ASG akan di &lt;em&gt;launching&lt;/em&gt; dan disosialisasikan dalam acara Kaderisasi Penggerak PSE pada pertemuan PSE Regio Jawa bulan Juli 2012. Sementara program kerja lainnya akan dikonkretkan dalam pertemuan PSE Regio Jawa dengan PSE KWI dalam pertemuan berikutnya. Rencana&amp;nbsp;pertemuan PSE Regio Jawa selanjutnya akan diadakan tanggal 16-18 Maret 2012 di Semarang atau Yogyakarta dengan pokok bahasan modul pembelajaran ASG.&amp;nbsp;&lt;em&gt;(disarikan dari: Notulensi Pertemuan Komisi PSE Keuskupan Regio Jawa, 12-13 November 2011, di Rumah Retret Fransiskus Asisi, Muntilan).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-2191279507189053526?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2191279507189053526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2191279507189053526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/11/dari-program-solidaritas-regio-jawa.html' title='Dari Program, Solidaritas Regio Jawa-Papua-NTT Sampai Modul ASG'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-qrQqOUBakCw/TsMD3_wTd-I/AAAAAAAABqg/oJ-1urTvEQk/s72-c/rjawa.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-8988183712401809938</id><published>2011-11-15T10:31:00.000-08:00</published><updated>2011-11-15T14:19:34.034-08:00</updated><title type='text'>Hilarius Sunardi, Menyediakan Pangan Bersih</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-m_H36-9zcUw/TsKuqk_BnoI/AAAAAAAABqI/94vkEDqDr6k/s1600/sunardi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="152" nda="true" src="http://1.bp.blogspot.com/-m_H36-9zcUw/TsKuqk_BnoI/AAAAAAAABqI/94vkEDqDr6k/s200/sunardi.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-aMqIM6KsX44/TsKuuAh2uTI/AAAAAAAABqQ/84WY9Uy9adA/s1600/sine+5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" nda="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-aMqIM6KsX44/TsKuuAh2uTI/AAAAAAAABqQ/84WY9Uy9adA/s200/sine+5.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bp. Hilarius Sunardi (55) adalah seorang petani. Ia warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi. Suatu saat istrinya menderita sakit maag akut. Ia mengorbankan banyak materi demi&amp;nbsp;kesembuhan sang istri. Ia bahkan sampai menjual ternak dan sebagian tanahnya. Saat mengalami kesulitan itulah, ia memutuskan untuk melakukan puasa. Ia berpuasa untuk meminta petunjuk dari Tuhan demi mendapatkan&amp;nbsp;kebaikan bagi kehidupan keluarga yang sedang mengalami kesulitan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam menjalani puasa itu, Sunardi mendapat mimpi. Ia didatangi oleh sosok Ratu yang bersinar kilau-kemilau. Ratu itu mengatakan supaya ia mentaati 10 Perintah Allah. Ratu itu juga memberikan sebuah piring yang sangat bersih. Setelah peristiwa itu, Sunardi menulis 10 Perintah Allah pada kertas dan ditempelkan di dinding rumahnya yang sederhana. Tulisan itu dalam Bahasa Jawa. Sejak saat itu, setiap melakukan kegiatan,&amp;nbsp;ia dan seluruh anggota keluarga selalu melihat tulisan itu dan mengingat terus untuk dilakukan. Akan tetapi ada yang masih menganjal, ialah maksud mimpi tentang piring yang sangat bersih itu. Ia belum mengetahui maknanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama bertahun-tahun, Sunardi diajak oleh rekan-rekannya sesama petani untuk bergabung dalam Kelompok Tani Mulya. Ia mendengar, dengan menjadi anggota, ia akan mendapatkan modal untuk mengusahakan pertanian. Ia juga mendengar bahwa kelompok akan mengdakan pembelajaran bertani organik. Saat itu ia tidak begitu antusias.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia memang mendapat pinjaman modal untuk membeli ternak. Tetapi lama-kelamaan yang menarik baginya adalah pertanian organik. Pelatihan pertanian organik setiap bulan diikuti dengan sungguh-sungguh. Ia mendapatkan penjelasan bahwa&amp;nbsp;dengan melakukan tani organik, ia dapat memuliakan ciptaan Tuhan. Tuhan dimuliakan lewat pengelolaan tanah tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida kimia. Selain itu ia memuliakan Tuhan dengan menghasilkan pangan organik yang sehat bagi siapapun yang memakan beras organik. Maka, ia mulai membuat pupuk kompos dan obat hama tanaman padi dari bahan organik. Ia mempraktekkan pertanian organik tanpa menggunakan bahan kimia sama sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat ini ia sudah tiga kali menanam padi secara organik. Hasil panen yang diperolehnya naik. Semula ia mendapatkan hasil panen 4 kuintal. Sekarang ia mendapatkan hasil lebih banyak, menjadi 4,7 kuintal. Hasil panen itu merupakan hasil panen terbaik di desanya. Bahkan ketika terjadi serangan hama wereng pada musim tanam lalu, tanaman padinya tidak mengalami masalah. Ia memenuhi lumbungnya dengan hasil panen. Ia&amp;nbsp;juga menjual beras organik yang masih ada kepada orang lain, ketika ada orang yang menginginkan hasil panenannya. Keluarganya juga menikmati hasil panen beras sehat itu. Sunardi merenung, mungkin inilah yang dimaksud dengan piring yang bersih, sebagaimana pernah muncul dalam mimpinya. Ia menyediakan hasil pangan yang bersih dan sehat pada piring yang sederhana. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini Bp. Hilarius Sunardi dan rekan-rekan petani di Kelompok Tani Mulyo, menawarkan beras organik kepada siapapun. Semoga berkat Tuhan yang diterima Bp. Sunardi, berupa beras hasil pangan sehat itu juga dirasakan oleh banyak orang. Semoga berkatNya melimpah untuk siapapun. &lt;em&gt;(Sdr. Antonius Nurdianto).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-8988183712401809938?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8988183712401809938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8988183712401809938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/11/bp-hilarius-sunardi-menyediakan-pangan.html' title='Hilarius Sunardi, Menyediakan Pangan Bersih'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-m_H36-9zcUw/TsKuqk_BnoI/AAAAAAAABqI/94vkEDqDr6k/s72-c/sunardi.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-3532905247975386518</id><published>2011-11-13T03:42:00.000-08:00</published><updated>2011-11-15T10:37:22.853-08:00</updated><title type='text'>HPS 2011 Paroki Ngawi, Dari Lahan Ke Persembahan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-s8o5Aj7AJVA/Tr_Mx1IHyQI/AAAAAAAABpo/5C45daqJWS8/s1600/sine+4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="149" nda="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-s8o5Aj7AJVA/Tr_Mx1IHyQI/AAAAAAAABpo/5C45daqJWS8/s200/sine+4.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-wFPKmG4CBcc/Tr_M5QJdgCI/AAAAAAAABp4/Bc1x6eWbKG8/s1600/sine+2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" nda="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-wFPKmG4CBcc/Tr_M5QJdgCI/AAAAAAAABp4/Bc1x6eWbKG8/s200/sine+2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JBDlaWgueLo/Tr_M8RQG4AI/AAAAAAAABqA/i1IaoRUPTW8/s1600/sine+3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" nda="true" src="http://3.bp.blogspot.com/-JBDlaWgueLo/Tr_M8RQG4AI/AAAAAAAABqA/i1IaoRUPTW8/s200/sine+3.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Program Kegiatan Penguatan Kemandirian Petani Organik, Kelompok Tani Mulyo, Desa Mojorejo, Stasi Sine, Paroki St. Yosep, Ngawi menekankan pada 2 hal pokok. Ialah proses produksi dan pemasaran hasil produksi pertanian organik. Kemandirian petani yang diusahakan meliputi produksi dan pemasarannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, Kelompok Tani Mulyo yang difasilitasi Sdr. Antonius Nurdianto melakukan berbagai kegiatan penguatan kemandirian petani meliputi, kemandirian lahan pertanian, kemandirian input faktor-faktor produksi dan kemandirian produksi pertanian dengan meningkatkan pemahaman tentang menanam dan memanen secara berkelanjutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal kemandirian lahan, terjadi kegiatan di lahan milik kelompok seluas 40 are dan di lahan milik pribadi anggota seluas 40 are. Berkenaan dengan input faktor-faktor produksi yang diusahakan ialah pengadaan kompos sebanyak 10 ton, pupuk cair organik sebanyak 100 liter, pengembangbiakkan jamur antagonis sebanyak 100 liter, pengembangbiakkan tanaman pestisida nabati, berupa bibit tanaman sebanyak 20 jenis. Selain itu ada pengembangbiakkan predator pemakan hama tikus, ialah burung hantu, berupa 1 pasang induk burung hantu di dalam 5 &lt;em&gt;pagupon&lt;/em&gt; (kandang). Saat pelatihan pengembangbiakkan burung hantu, diperkenalkan cara pengembangbiakkan, pembuatan dan pemasangan &lt;em&gt;pagupon&lt;/em&gt;, pelepasan induk burung dan pemeliharaannya. Selain itu ada sosialisasi ke 4 RT di sekitar lokasi lahan, sehingga burung tidak diburu. Berkenaan dengan produksi pertanian, petani bersama kelompok menanam padi dengan sistem pertanian organik. Intinya ada kegiatan menanam padi tanpa pupuk kimia dan tanpa pestisida kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan penanaman padi berlangsung dalam lahan demonstrasi selama 6 bulan. Hasilnya, produk beras organik didistribusikan ke umat Paroki dan beberapa paroki di Kevikepan Madiun. Selain itu produk pertanian dipasarkan melalui jejaring distributor organik yang tersebar di wilayah Keuskupan Surabaya, melalui Seksi Sosial Paroki dan lintas Keuskupan bersama jejaring petani organik di kawasan Yogyakarta. Beras dikemas dalam kantong plastik 5 kg per kantong. Untuk memberikan pembelajaran kemandirian petani dan konsumen, dibagikan selebaran berisi materi pertanian organik komprehensif. Materi tidak hanya mengajak konsumen untuk membeli beras, sekalipun beras tersebut sehat, tetapi dilengkapi dengan animasi tentang nilai ekonomi, ekologi, sosial budaya serta spiritualitas. Dengan demikian, seluruh proses produksi yang diupayakan demi memandirikan petani, didukung dengan penyadaran kepada konsumen, yang sekaligus memperlancar pemasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Kelompok Tani Mulyo didukung oleh 10 orang petani dari stasi-stasi sekitar. Selain memantapkan diri dengan pengembangan pertanian organik, mereka mengembangkan pemeliharaan burung hantu. Dampak positif kegiatan tersebut tidak hanya dialami anggota kelompok, tetapi juga dirasakan masyarakat sekitar. Mereka tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga bantuan dan dukungan dalam mengusahakan produk pangan sehat. Selain dari Seksi Sosial Paroki, dukungan diberikan juga oleh Komisi PSE KWI. Dengan demikian sosialisasi Hari Pangan Sedunia (HPS) terjadi melalui tindakan nyata dan bukan hanya teori. Pengenalan HPS terjadi sejak dari lahan pertanian sampai ke tangan konsumen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Tani Mulyo, pada awalnya hanya menggarap lahan seluas 40 are di daerah Desa Mojorejo. Lokasi itu menjadi tempat praktek dan belajar organik bagi petani. Saat ini, yang bertanggung jawab atas pengelolaan lahan adalah Bp. Hilarius Sunardi. Selama ini, hasil pertanian dibagi secara merata sesuai kesepakatan bersama. Sebagian hasil panen dimanfaatkan oleh pemilik lahan, sebagian lagi untuk Bp. Sunardi dan sebagian lain untuk seluruh anggota kelompok. Lokasi tersebut terbuka untuk pembelajaran bagi para petani, siswa-siswi dari lembaga pendidikan, peneliti serta siapa saja yang hendak mempelajari pertanian organik, mulai dari pembuatan kompos, mikro organisme lokal, pestisida nabati dan pengembangbiakkan burung hantu. Namun, hal utama yang dilakukan ialah pembelajaran pertanian alami, sejak dari pengadaan bibit, penanaman, proses panen dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat perayaan HPS 2011 di Paroki St. Yosep, Ngawi, para petani diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman mengusahakan produk pangan sehat. Sebagaimana dikisahkan, Bp. Antonius Paidi, seorang anggota Kelompok Tani Mulyo, baginya mengusahakan pertanian organik merupakan usaha &lt;em&gt;nguri-uri bumi pertiwi&lt;/em&gt; (memelihara kelestarian bumi). Bumi pertiwi adalah ciptaan agung Sang Pencipta. Jika bumi dipelihara dengan baik, maka orang memuliakan ciptaanNya dan Tuhan sendiri. Sejak masa menanam sampai memanen, ia mengaku tidak menaburkan pupuk kimia dan tidak menyemprotkan pestisida kimia sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, dalam bertani organik, petani harus memiliki iman. Selanjutnya biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. Selama proses pertanian organik berlangsung, petani harus jujur. Jujur akan niat bertani organik, jujur mengusahakan hasil produk pangan sehat, jujur dalam bekerja keras dan jujur atas hasil panen. Jika tidak jujur, seperti perumpamaan Yesus, apa yang dilakukan ibarat benih yang jatuh di tanah berbatu atau di antara semak duri sehingga benih itu mati. Jika jujur, petani akan menuai hasil melimpah. Ketika hasil panen diperoleh, setelah memenuhi kebutuhan pangan bagi keluarga, Bp. Paidi merelakan beras hasil kerja kerasnya dan campur tangan dari Tuhan itu, dirasakan oleh orang lain. Ia menjual beras organik sebagai upaya berbagi dan mendapatkan dukungan bagi karya pertanian organik berikutnya. Tanpa dukungan dari konsumen, maka niat untuk mengusahakan produk pangan sehat akan berhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bp. Paidi mengutip kata-kata imam saat mengunjukkan persembahan dalam perayaan Ekaristi, &lt;em&gt;“Inilah hasil bumi dan usaha manusia, yang bagi kami akan menjadi santapan rohani”.&lt;/em&gt; Maka, ia bersyukur atas hasil bumi berupa makanan, mempersembahkan yang terbaik dan sehat kepada Tuhan serta membagikan kepada sesama. Seraya mengharapkan supaya Tuhan selalu memberi kemurahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan Perayaan HPS sedemikian itu, semakin banyak orang yang menyadari pentingnya mengusahakan pangan sehat. Dan semakin banyak orang yang memilih mengkonsumsi produk organik, yang berarti mendukung usaha petani dalam mengusahakan produk pangan sehat. &lt;em&gt;(Sdr. Antonius Nurdianto, pendamping Kelompok Tani Mulyo, Desa Mojorejo, Stasi Sine, Paroki St. Yosep, Ngawi)&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-3532905247975386518?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/3532905247975386518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/3532905247975386518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/11/hps-2011-paroki-st-yosep-ngawi-dari.html' title='HPS 2011 Paroki Ngawi, Dari Lahan Ke Persembahan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-s8o5Aj7AJVA/Tr_Mx1IHyQI/AAAAAAAABpo/5C45daqJWS8/s72-c/sine+4.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5266781428191414488</id><published>2011-09-28T17:25:00.000-07:00</published><updated>2011-11-25T15:56:58.455-08:00</updated><title type='text'>Konpernas Komisi PSE KWI XXII: Kerasulan PSE Menghadirkan Karya Baik Allah dengan Membangun Hidup Dalam Kelimpahan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-02utW2HUOkQ/ToO6tF_WtII/AAAAAAAABmg/El_GSkGhMGg/s1600/konpernas2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" kca="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-02utW2HUOkQ/ToO6tF_WtII/AAAAAAAABmg/El_GSkGhMGg/s200/konpernas2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;I. Proses Konpernas &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tema Konpernas Komisi PSE KWI XXII Tahun 2011 adalah Kerasulan PSE menghadirkan Karya Baik Allah dengan Membangun Hidup Dalam Kelimpahan. Konpernas ini bermaksud untuk menggali, mengkaji dan merefleksikan kembali karya kerasulan Gereja Katolik di bidang pengembangan sosial ekonomi di tengah umat dan masyarakat agar menjadi kekuatan dan daya dorong untuk semakin melibatkan diri dalam mengembangkan hidup satu sama lain, dan mencerdaskan dalam tata kelola dunia baru yang semakin adil, damai, dan berkelimpahan (Kerajaan Allah). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konpernas yang dihadiri 36 keuskupan bertujuan untuk menyegarkan dan menegaskan kembali spiritualitas dan arah kerasulan PSE, menimba dan meneguhkan semangat persaudaraan antar keuskupan dalam kerasulan PSE dan mengembangkan sinergisitas kerasulan PSE antara Komisi PSE KWI, Regio dan Keuskupan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses Konpernas PSE KWI XXII dimulai dengan melihat kembali karya kerasulan PSE yang sudah digulirkan berdasarkan hasil Konpernas PSE KWI XXI di Lampung melalui pandangan umum Kerasulan PSE Tahun 2008 – 2011 dan sharing masing-masing regio mengenai karya kerasulan PSE keuskupan-keuskupan. Masukan nara sumber menyegarkan dan menegaskan kembali arah Kerasulan PSE. Diskusi-diskusi kelompok memperdala dan memperkaya semangat dan karya kerasulan PSE. Pengalaman perjumpaan dengan kelompok-kelompok pemberdayaan masyarakat dibidang pertanian, peternakan kerajinan, pendidikan luar sekolah dalam kegiatan eksposur semakin memperkaya dan memperluas wawasan karya kerasulan PSE. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;II. Penegasan Karya Kerasulan PSE&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Jati Diri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerasulan sosial merupakan salah satu bentuk perwujudan tugas perutusan Gereja. Kerasulan PSE merupakan upaya Gereja untuk menumbuhkan sikap cinta kasih dalam persekutuan kristiani demi tegaknya kebenaran dan keadilan dalam tata dunia menurut dimensi sosial ekonomi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai kerasulan Gereja, Kerasulan PSE mengambil bagian dalam perutusan Yesus yang datang ke dunia - menjadi manusia supaya manusia “Mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10) dan untuk memperdamaikan segala sesuatu dalam diri-Nya (Kol 1:20) dan menjadi pengantara antara Allah dengan manusia (1 Tim 2:5). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesuai dengan martabatnya sebagai “Gambar dan rupa Allah” (Kej 1:27), hidup dalam kelimpahan menyangkut seluruh dimensi kehidupan manusia dalam relasinya dengan Allah, dengan sesama dan dengan seluruh ciptaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seluruh hidup dan tindakan Gereja, baik ketika mewartakan, merayakan, maupun berbuat kasih, berkaitan erat dengan upaya pengembangan manusia secara menyuluruh dalam segala dimensinya (Caritas in Veritate 11). Dengan demikian seluruh kehidupan Gereja diarahkan pada pengembangan manusia secara utuh. Dalam konteks hidup sekarang ini, upaya pengembangan manusia secara menyeluruh tidak dapat dilepaskan dari upaya pelestariaan keutuhan ciptaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Semangat Dasar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerasulan PSE mendasarkan diri pada spiritualitas inkarnatoris, misteri penjelmaan Allah dalam hidup manusia, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Dalam proses inkarnasi itu, Firman Allah menunjukkan solidaritas dengan manusia, dengan “Mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil 2:7), menunjukkan semangat belarasa kepada mereka yang menderita (Mat 9:36), dan mengupayakan hidup baru dan berkelimpahan dengan membawa kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi tawanan, penglihatan bagi orang buta, dan pembebasan bagi orang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk 4, 18). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Pelaku &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai bagian integral dari tugas perutusan Gereja, kerasulan PSE merupakan tanggung jawab seluruh umat beriman. Pelaku kerasulan PSE adalah seluruh umat Allah, mulai dari para Uskup, para imam dan diakon, kaum religius, dan seluruh umat beriman awam. Komisi PSE menjadi penggerak utama dalam kerasulan PSE.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Wujud dan Arah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan mengikuti gerak inkarnatoris Yesus, Komisi PSE memahami panggilannya untuk mewujudkan karya baik Allah bagi manusia. Komisi PSE menjadi animator utama atau penjiwa dalam menggerakkan umat kristiani untuk menegakan martabat manusia dan mewujudkan solidaritas dalam dimensi sosial ekonomi teristimewa bagi kaum miskin dengan bergiat bersama mereka. Komisi PSE juga menjadi mediator pembentukan komunitas yang menyatukan, memperdamaikan dan mengembangkan persaudaraan sejati. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;III. Tata Kelola Karya Kerasulan PSE &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mewujudkan Kerasulan PSE sebagaimana ditegaskan dalam Konpernas Komisi PSE KWI XXII, dibutuhkan Tata Kelola kerasulan PSE yang dijiwai oleh Roh Kudus dan dilaksanakan secara bertanggung jawab, integral, terpadu dan berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Jiwa &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jiwa seluruh kerasulan PSE dalam Gereja adalah Roh Kudus yang dianugerahkan Yesus Kristus yang bangkit kepada Gereja dalam pejiarahannya di dunia menuju “surga dan dunia baru”. Kerasulan PSE bergiat untuk menganimasi - mengobarkan semangat Roh Kudus - supaya seluruh umat tergerak untuk mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah, khususnya keadilan, solidaritas, belarasa, hadir bersama, bergiat bersama, dalam kehidupan kongkret masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Pola&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerasulan PSE mengutamakan pola karya 3M: melibatkan, mengembangkan dan mencerdaskan. Melibatkan berarti menjumpai, hadir bagi orang lain dan mengajak untuk bergiat bersama dalam membangun kehidupan baru. Mengembangkan berarti meningkatkan kualitas hidup secara utuh dengan bertumpu pada nilai-nilai dan kearifan hidup masyarakat setempat. Mencerdaskan berarti memberdayakan diri, secara pribadi dan bersama-sama sehingga mampu memilih dan menentukan arah kehidupan yang sesuai, bermakna dan bernilai. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Strategi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Meningkatkan kemampuan personalia Komisi PSE dan penggerak kerasulan PSE disemua tingkatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Menggiatkan kerasulan PSE yang signifikan dan relevan secara integral dan terpadu melalui komunitas basis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Mengoptimalkan gerakan APP, HPS dan LKM yang sudah ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Membangun kemitraan dan meningkatkan sinergi dalam kerasulan PSE baik secara internal maupun eksternal. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Kesepakatan dan Kesepahaman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Kaderisasi Penggerak Kerasulan PSE dan peningkatan kemampuan tata kelola kerasulan PSE.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Re-animasi ASG, APP dan HPS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Membangun sinergi antara Komisi PSE dengan Karitas baik di tingkat KWI (Karina) maupun di tingkat Keuskupan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Meningkatkan koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi kerasulan PSE di tingkat nasional, regional dan lokal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Pengurus Komisi PSE KWI, Regio, Keuskupan merancang program kerasulan PSE yang menyeluruh dan berkesinambungan untuk jangka waktu tiga tahun sebagai kelanjutan Konpernas PSE XXII.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5266781428191414488?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5266781428191414488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5266781428191414488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/09/konpernas-komisi-pse-kwi-xxii-kerasulan.html' title='Konpernas Komisi PSE KWI XXII: Kerasulan PSE Menghadirkan Karya Baik Allah dengan Membangun Hidup Dalam Kelimpahan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-02utW2HUOkQ/ToO6tF_WtII/AAAAAAAABmg/El_GSkGhMGg/s72-c/konpernas2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-840822562118147959</id><published>2011-09-28T15:16:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T09:11:03.021-07:00</updated><title type='text'>Seminar CU di Unika Widya Mandala</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dypQCs7codA/ToOvGGHaqDI/AAAAAAAABmU/OJcqIxmQ2ps/s1600/cu2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" kca="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-dypQCs7codA/ToOvGGHaqDI/AAAAAAAABmU/OJcqIxmQ2ps/s200/cu2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-D0jS8fttcJs/ToOvJEGvRCI/AAAAAAAABmY/SigNJfJb_OM/s1600/cu1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" kca="true" src="http://3.bp.blogspot.com/-D0jS8fttcJs/ToOvJEGvRCI/AAAAAAAABmY/SigNJfJb_OM/s200/cu1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Seksi Sosial Paroki Aloysius Gonzaga dan Universitas Katolik (Unika) Widya Mandala Surabaya menggelar Seminar tentang &lt;em&gt;Credit Union&lt;/em&gt; (CU). Seminar yang mengambil tema CU Dalam Implementasi Arah Dasar Keuskupan Surabaya ini diadakan pada 20 Agustus 2011 di Gedung Agustinus, Ruang A 301, Unika Widya Mandala. Seminar ini dihadiri 10 orang dari lembaga pendidikan Katolik dan 50 orang dari DPP dan Seksos Paroki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana diketahui, salah satu prioritas program yang diusung oleh Komisi PSE Keuskupan Surabaya adalah pemberdayaan lembaga keuangan mikro (&lt;em&gt;Credit Union&lt;/em&gt;). Sebagaimana hasil sidang Sinodal KWI November 2006 lalu diputuskan bahwa situasi sosio-ekonomi mendorong Gereja memberi tanggapan pastoral dengan mencanangkan gerakan sosio-ekonomi untuk dilakukan oleh segenap umat Katolik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Situasi di beberapa paroki khususnya DPP, seksi PSE paroki belum memahami, mengenal semangat dan mengupayakan program pemberdayaan lembaga keuangan mikro dengan baik. Selain itu Unika Widya Mandala sebagai lembaga pendidikan tertinggi di bawah lindungan Keuskupan Surabaya merasa perlu mengadakan pendidikan mengenai CU di lingkungan pendidikan sehingga bisa mengimplementasiakan nilai kekatolikan dan mendukung upaya implementasi Ardas. Dengan demikian, paroki dan lembaga Katolik yang belum memberdayakan lembaga keuangan mikro (CU) dibantu untuk memahami isi, mengenal semangat dan mengupayakan pemberdayaan lembaga keuangan mikro yang menekankan karya sosial pemberdayaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seminar ini bertujuan, membantu peserta yang berasal dari paroki dan sekolah Katolik untuk memahami CU dalam perspektif Ekonomi Kerakyatan, menumbuhkan semangat solidaritas, peduli,&amp;nbsp;memajukan sesama secara inklusif serta&amp;nbsp;saling percaya (&lt;em&gt;trust&lt;/em&gt;). Acara ini menampilkan pembicara Ibu Anastasia Septa Wulandari, dosen Fakultas Bisnis, Rm A. Luluk Widyawan, Ketua Komisi PSE Keuskupan Surabaya, Ibu Harni dari Puskopdit Jatimtim dan Bp. Heru, manager CU Perekat, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wacana CU&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu Anastasia memaparkan bahwa sistem perekonomian mempunyai peran dalam kehidupan. Meskipun sistem ekonomi Indonesia masih tertinggal dengan negara lain, contohnya&amp;nbsp;Filipina. Nasionalisme memberi pengaruh dalam pemberlakuan sistem ekonomi. Hal ini ditelaah dari 2 titik ekstrim dalam sejarah ekonomi Indonesia, ialah kutub moderat yang dipengaruhi investasi asing dan kutub pribumi yang dominan memajukan bisnis dengan memajukan industri nasional. Namun, hubungan bilateral dan multilateral, mengharuskan Indonesia menganut sistem perekonomian terbuka. Banyak sistem ekonomi asing yang masuk mengakibatkan Indonesia menganut sistem campuran. Meskipun demikian pemerintah berusaha untuk mengontrol dengan mengembangkan kontrol pasar atau&amp;nbsp;koperasi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem ekonomi dianggap berhasil jika semua rakyat yang bernaung dalam suatu negara ikut merasakan dampak positif. Ini sebenarnya tampak dalam CU yang mengusung ekonomi kerakyatan. Dalam perjalanan ekonomi, kenyataannya usaha kecil dan menengah (UKM) lebih bertahan.&amp;nbsp;Pengalaman itu memberi pelajaran agar ada perhatian lebih untuk mengembangkan usaha&amp;nbsp;kecil menjadi menengah dan yang menengah bisa semakin meningkat. Ini selaras dengan perekonomian&amp;nbsp;berlandaskan kasih (bdk., Markus 12: 30-31) dan orientasi ekonomi pada kemuliaan Allah (bdk., Rom 11 :36). Kegagalan ekonomi tak lain karena manusia telah kehilangan kasih dan&amp;nbsp;hidup demi kepentingan sendiri, mengejar dan memperkaya diri. Inilah sistem ekonomi yang berlaku sekarang, neo liberalisme. Sistem seperti ini&amp;nbsp;perlu dikontrol dengan sistem alternatif sebagaimana pola dalam CU. Terlebih karena perekonomian dalam perspektif Kristiani berpihak pada kaum miskin (bdk., Matius 25: 34-40) dan selaras&amp;nbsp;yang digambarkan dalam cara hidup jemaat perdana. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang terjadi dalam CU ialah lembaga keuangan yang di dalamnya berkumpul orang yang saling percaya dan berwatak sosial, untuk mewujudkan kesejahteraan. Prinsip utamanya swadaya,&amp;nbsp;pendidikan serta gotong royong. Bebeberapa hal positif CU yang memberi manfaat ialah pendidikan agar&amp;nbsp;anggota&amp;nbsp;tidak boros, cakap mengelola keuangan, penggunaan manajemen terbuka dan menghindari sikap konsumtif. Modal diperoleh dari anggota yang memiliki komitmen sama. Jika diadopsi pada sistem perekonomian Indonesia, hal&amp;nbsp;yang terpenting ialah modal tidak bergantung pada investasi dari luar (asing), melainkan mengembangkan usaha kecil. Karena itu, baik sekali jika Fakultas Bisnis memperkenalkan CU kepada mahasiswa sebagai sistem ekonomi yang dapat mewujudkan kesejahteraan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rm. A. Luluk Widyawan, Pr mengutip Ensiklik &lt;em&gt;Caritas In Veritate&lt;/em&gt; yang kembali menyerukan komitmen Gereja pada pembangunan sebagai&amp;nbsp;panggilan dari Allah untuk mewujudkan kesejahteraan. Kenyataannya, yang terjadi selama ini&amp;nbsp;justru ambivalensi sistem ekonomi. Pembangunan dengan pendekatan teknologis mengakibatkan eksploitasi tak terkendali dan tata kelola buruk, yang justru menghancurkan potensi ekonomi. Gereja sebagaimana disebut Paus Benediktus XVI, khawatir karena yang terjadi hanya upaya memaksimalkan laba (&lt;em&gt;rent-seeking&lt;/em&gt;). Terbukti bahwa manusia terancam integritasnya, modal cenderung mengalir ke negara maju atau kaum kaya dan tidak ada sumberdaya sosial dan institusional dari komunitas lokal yang dilibatkan dalam&amp;nbsp;membuat keputusan ekonomi. Selain itu, kinerja bisnis bertanggungjawab hanya pada investor, manajemen bisnis hanya peduli pada pemegang saham, akibatnya kepentingan buruh tidak pernah mendapat tempat. Hal ini diperburuk dengan&amp;nbsp;spekulasi keuangan yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek sehingga&amp;nbsp;mengakibatkan pengalihan modal yang menyebabkan buruknya perekonomian di suatu negara. Kenyataan yang&amp;nbsp;memprihatinkan ini menunjukkan bahwa&amp;nbsp;sistem ekonomi tidak pernah dapat memecahkan persoalan-persoalan&amp;nbsp;sosial sendiri, karena itu ekonomi&amp;nbsp;membutuhkan etika.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kredit mikro,&amp;nbsp;jika&amp;nbsp;dikelola dengan baik seperti CU, merupakan bentuk sistem ekonomi yang beradab. Sembari mengingatkan bahwa ada kegiatan ekonomi mikro, memakai nama CU, tetapi&amp;nbsp;tidak konsisten dengan rambu-rambu CU.&amp;nbsp;Justru disinilah peran&amp;nbsp;kaum rohaniwan untuk memberi seruan moral, bukan menjadi pengurus. CU tidak melulu mengejar laba, meskipun&amp;nbsp;tidak mengabaikannya. Karena sebagaimana disebutkan dalam Ajaran Sosial Gereja, laba merupakan tanda bahawa sistem ekonomi berjalan baik dan menjadi jalan untuk meraih tujuan manusiawi dan sosial. Laba tetap merupakan&amp;nbsp;sarana untuk&amp;nbsp;mencapai tujuan pasar dan masyarakat agar lebih manusiawi. (CIV. 46). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nota Pastoral KWI tahun 2004 menegaskan bahwa Gereja ikut serta dalam pembangunan ekonomi kerakyatan sekaligus&amp;nbsp;mengentaskan kemiskinan. Pintu masuk untuk melibatkan diri terhadap situasi itu melalui&amp;nbsp;gerakan CU. Gerakan CU tak lain ialah gerakan&amp;nbsp;yang mengutamakan manusia, dalam komunitas, mendahulukan menabung untuk&amp;nbsp;merencanakan masa depan. Sebagai tindak lanjut komitmen Gereja, pada Konpernas Komisi PSE XX tahun 2005, ada kesepahaman agar rohaniwan tidak&amp;nbsp;duduk sebagai pengurus aktif, tetapi sebagai pengawas atau&amp;nbsp;moderator; mengelola lembaga keuangan mikro secara&amp;nbsp;profesional, transparan dan berpihak pada kaum miskin; membuat&amp;nbsp;kegiatan atau keputusan dalam pertemuan anggota;&amp;nbsp;menggunakan manajemen dan administrasi yang baik serta memiliki dasar hukum, sebagai&amp;nbsp;landasan organisasi untuk menjamin hak dan kewajiban anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Praksis CU&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selaras dengan itu, Ibu Suharni menjelaskan bahwa Koperasi Kredit, yang sering disebut &lt;em&gt;Credit Union&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;merupakan jenis koperasi yang dibangun berdasarkan&amp;nbsp;kepercayaan. Koperasi menganut asas swadaya, bertumbuh dan berkembang atas dasar kekuatan diri sendiri, dari, oleh dan untuk anggota. Dalam Koperasi Kredit, jika&amp;nbsp;menjadi anggota berarti menjadi pemilik, yang perlu mengetahui hak dan kewajiban, mempunyai rasa percaya, rasa memiliki serta peduli untuk memperbesar usaha CU. Jika&amp;nbsp;menjadi anggota, ia mulai untuk mengubah&amp;nbsp;pola pikir dan pola hidup. Dengan menabung, seseorang membantu anggota lain yang membutuhkan. Jika&amp;nbsp;meminjam pun,&amp;nbsp;ia&amp;nbsp;mempunyai tanggungjawab untuk mengembalikan.&amp;nbsp;Jelas bahwa dengan menjadi anggota CU berarti&amp;nbsp;memiliki kemauan menjadi&amp;nbsp;citra Allah yang bukan kapitalistis. Karena yang terpenting ialah membangun manusia, bukan uang. Hal ini dilakukan dengan cara mengubah&amp;nbsp;pikiran, membangun sikap, menjauhi pengaruh negatif dan belajar menyukai hal yang harus dilakukan. Misalnya mengubah rumus&amp;nbsp;menabung yang&amp;nbsp;dulu: simpanan sama dengan pendapatan dikurangi konsumsi menjadi pendapatan dikurangi simpanan sama dengan konsumsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bp. Heru dari CU Perekat di Bandung, mengisahkan awal di tempat kerjanya ada koperasi serba usaha. Kemudian berubah&amp;nbsp;menjadi koperasi simpan pinjam. Pengalaman tersebut diterapkan di Paroki Katedral Bandung dengan memakai konsep CU. Dalam perkembangan,&amp;nbsp;CU Perekat bekerjasama dengan Puskopdit Jabar mengadakan aneka pelatihan. Tahun 1998 diawali&amp;nbsp;serangkaian pertemuan dengan para ketua lingkungan. Setelah 13 tahun, Komisi PSE Keuskupan Bandung, turut serta membantu. Memang semula, ia menghadapi&amp;nbsp;aneka tantangan seperti pertanyaan pesimis, apa uang akan aman disimpan di CU ? apa bedanya dengan menabung di bank ? Hal semacam itu menjadi&amp;nbsp;kritik yang dijawab dengan kinerja&amp;nbsp;CU Perekat, sehingga semakin meyakinkan dan menarik anggota untuk masuk dalam CU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengalaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bp. Heru sendiri merasa pengalamannya mengkuti&amp;nbsp;CU seperti pengalaman spiritual mengikuti Yesus. Ia&amp;nbsp;hadir ke lingkungan-lingkungan dan membangun relasi. Itulah yang disebutnya membangun dasar CU, karena rasa peduli kepada sesama. Meskipun ada tantangan, selalu ada usaha untuk mencari&amp;nbsp;penyelesaian. Termasuk ketika harus melakukan pendekatan dengan&amp;nbsp;Pastor Paroki dan DPP. Baginya semua tidak ada yang kebetulan, namun seolah diatur oleh Tuhan. Memang tidak mudah, karena CU mengajak orang&amp;nbsp;untuk menabung, namun teknik menarik&amp;nbsp;anggota dapat&amp;nbsp;dibuat&amp;nbsp;berdasarkan aturan. Aturan sangat penting, karena jika tidak ada sistem atau tidak ada manager, lebih baik tidak membuka tabungan. Apa yang di awal disebut sebagai&amp;nbsp;spiritual, perlu didukung dengan&amp;nbsp;manajemen sebagai&amp;nbsp;teknis yang tidak boleh dilewatkan. Salah satu pengalamannya ketika menganalisa kemampuan membayar dari anggota yang akan meminjam, ia harus cermat. Karena meskipun ada jaminan, koperasi tidak mempunyai wewenang untuk menyita. Ia berpesan agar sebaiknya dibangun&amp;nbsp;1 koperasi saja yang didukung&amp;nbsp;dengan unit pengawas&amp;nbsp;dan koperasi-koperasi lain&amp;nbsp;dapat melebur menjadi satu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu Suharni mengingatkan kalau memiliki niat menjadi anggota CU untuk mencari untung, lebih baik tidak perlu&amp;nbsp;membentuk&amp;nbsp;CU. Karena menjadi perintis memerlukan&amp;nbsp;pengorbanan, terutama bagi&amp;nbsp;penggerak awal. Yang terpenting ialah membangun kepercayaan untuk menarik anggota masuk dalam CU. Memang selalu ada kekhawatiran, namun hal ini perlu dijelaskan dan diatasi. Terlebih karena&amp;nbsp;CU membawa semangat universal demi&amp;nbsp;kesejahteraan anggota. Ia mengingatkan agar CU&amp;nbsp;diurus dengan sungguh-sungguh, ada manager, karyawan, penggunaan IT dan sangat baik bila ada kantor sendiri. &lt;em&gt;(disarikan dari: Notulensi Seminar CU dalam Implementasi Arah Dasar Keuskupan Surabaya di Unika Widya Mandala, Surabaya)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-840822562118147959?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/840822562118147959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/840822562118147959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/09/seminar-cu-di-unika-widya-mandala.html' title='Seminar CU di Unika Widya Mandala'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-dypQCs7codA/ToOvGGHaqDI/AAAAAAAABmU/OJcqIxmQ2ps/s72-c/cu2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-7129938412601629244</id><published>2011-09-25T18:22:00.000-07:00</published><updated>2011-10-06T02:24:50.413-07:00</updated><title type='text'>Pengurangan Resiko Bencana untuk Tiga Desa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bswr3Vrhbhk/To0HNUPqFPI/AAAAAAAABm4/hUOQsNa4NHg/s1600/par3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" kca="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-bswr3Vrhbhk/To0HNUPqFPI/AAAAAAAABm4/hUOQsNa4NHg/s200/par3.jpg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8sqtsJz5pdI/To0HQkQJ0SI/AAAAAAAABm8/CPV5MKN6aK8/s1600/par.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" kca="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-8sqtsJz5pdI/To0HQkQJ0SI/AAAAAAAABm8/CPV5MKN6aK8/s200/par.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kegiatan Pelatihan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) di wilayah Pare, dilakukan&amp;nbsp;di Desa Sumberdono, Pare, Kediri, Minggu, 11 September 2011. Kegiatan ini merupakan lanjutan&amp;nbsp;sejak&amp;nbsp;&lt;span a="undefined" c="4" closure_uid_8fbx7k="245" id="result_box" lang="id" td="null"&gt;&lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="158" td="null"&gt;Februari 2009,&lt;/span&gt; ketika tiga desa&amp;nbsp;terdampak aliran lahar dingin Gunung Kelud. &lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="167" td="null"&gt;Kehadiran&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="168" td="null"&gt;relawan&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="169" td="null"&gt;Karina&lt;/span&gt; Posko Pare&amp;nbsp;telah &lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="174" td="null"&gt;membuka peluang&lt;/span&gt; kerjasama.&amp;nbsp;&lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="176" td="null"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="217" td="null"&gt;omunikasi&amp;nbsp;intensif berujung pada&amp;nbsp;keinginan warga mengadakan&amp;nbsp;kegiatan&amp;nbsp;untuk meningkatkan &lt;/span&gt;&lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="220" td="null"&gt;kapasitas&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="221" td="null"&gt;dan kesiapan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;m&lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="222" td="null"&gt;enghadapi&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="223" td="null"&gt;bencana&lt;/span&gt;&lt;span class="hps" closure_uid_8fbx7k="227" td="null"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta yang hadir merupakan wakil&amp;nbsp;masyarakat dari Desa Sumbersuko, Gadungan dan Sumberdono. Pukul&amp;nbsp;17.30 acara dimulai dengan&amp;nbsp;perkenalan wakil warga dan tim&amp;nbsp;Karina Posko Pare. Acara pelatihan berhenti sejenak,&amp;nbsp;memberi kesempatan&amp;nbsp;warga yang mengadakan sholat Maghrib&amp;nbsp;di sebuah mushola.&amp;nbsp;Menarik sekali, mushola tersebut dibangun warga&amp;nbsp;dari pasir&amp;nbsp;yang mengalir bersama lahar Gunung Kelud. Setelah sholat, warga kembali mengikuti pelatihan. Antusiasme warga cukup baik.&amp;nbsp;Para relawan yang menjadi penanggungjawab kegiatan pun berperan maksimal. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehari sebelumnya,&amp;nbsp;para relawan fasilitator mempelajari materi Pengurangan Resiko Bencana bersama-sama. Mereka berbagi dalam&amp;nbsp;&lt;em&gt;micro teaching&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;di aula Paroki.&amp;nbsp;Sdr. Budi menyampaikan materi&amp;nbsp;tentang bencana secara umum. Sdr. Yunus menyampaikan masalah&amp;nbsp;ancaman,&amp;nbsp;Sdr. Ari menyampaikan tema&amp;nbsp;kerentanan, Sdr. Eva mengulas&amp;nbsp;kapasitas-kapasitas&amp;nbsp;yang diperlukan untuk menghadapi bencana, dan&amp;nbsp;Sdr. Dodo mengajak&amp;nbsp;peserta masuk dalam diskusi&amp;nbsp;kelompok,&amp;nbsp;membahas pohon ancaman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para peserta diajak untuk mengetahui situasi nyata,&amp;nbsp;ketika terjadi letusan dan aliran lahar Gunung Kelud. Warga&amp;nbsp;antusias memberikan tanggapan, pertanyaan, sekaligus mensharingkan pengalaman&amp;nbsp;ketika terjadi bencana. Mereka&amp;nbsp;sepakat untuk membentuk tim kerja penanganan bencana. Selanjutnya di masing-masing Desa Sumbersuko, Gadung dan Sumberdono membentuk&amp;nbsp;tim yang secara khusus setiap anggotanya memiliki&amp;nbsp;tugas. Pada bagian akhir,&amp;nbsp;para&amp;nbsp;peserta membangun niat bersama,&amp;nbsp;mengajak warga lain membuat dan&amp;nbsp;mengenali&amp;nbsp;peta rawan bencana serta&amp;nbsp;mengikuti beberapa paket pelatihan. Tujuannya agar komunitas di Desa Sumbersuko, Gadungan dan Sumberdono memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan untuk mengurangi resiko bencana. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peningkatan kapasitas tersebut akan dilanjutkan dengan program pendampingan dari fasiltator Posko Pare. Mereka telah&amp;nbsp;menyiapkan paket-paket pendampingan selama satu tahun ke depan. Harapannya,&amp;nbsp;ada komunitas&amp;nbsp;solid yang berupaya membangun kesadaran bersama tentang kesiapsiagaan&amp;nbsp;menghadapi bencana. Ada pula&amp;nbsp;rancangan jalinan komunikasi antar tokoh-tokoh masyarakat yang berada di kawasan&amp;nbsp;paling dekat dengan Gunung Kelud, hingga&amp;nbsp;tokoh masyarakat yang paling jauh, yang juga mengalami dampak&amp;nbsp;lahar Gunung Kelud. Komunikasi dan koordinasi ini menjadi salah satu bentuk kekuatan warga dalam mengurangi resiko bencana. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah pelatihan, anggota Posko Pare&amp;nbsp;mengadakan evaluasi bersama di posko. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana para relawan fasilitator berperan dengan&amp;nbsp;melihat interaksi bersama&amp;nbsp;warga, selama&amp;nbsp;kegiatan berlangsung. Bp.&amp;nbsp;Kuncoro selaku&amp;nbsp;Ketua RT di Desa Sumberdono menanggapi&amp;nbsp;positif&amp;nbsp;kegiatan tersebut&amp;nbsp;dan akan mensosialisasikan informasi yang diperoleh&amp;nbsp;kepada seluruh&amp;nbsp;warga di wilayahnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan ini&amp;nbsp;tidak hanya bertujuan&amp;nbsp;meningkatkan kapasitas warga dalam PRB, tetapi&amp;nbsp;meningkatkan kapasitas relawan atau&amp;nbsp;fasilitator.&amp;nbsp;Bp. Edi Loke, selaku Program Koordinator, mengawal kegiatan ini. Juga relawan Karina Keuskupan Surabaya yang telah mendapatkan aneka peningkatan kapasitas, melalui&amp;nbsp;pelatihan-pelatihan&amp;nbsp;oleh Karina KWI, terlibat mendukung rangkaian pelaksanaan kegiatan.&amp;nbsp;Semua tidak lain agar, relawan lokal&amp;nbsp;semakin&amp;nbsp;berdaya dan&amp;nbsp;sanggup mendampingi kelompok masyarakat wilayahnya, secara mandiri. Kelak penguatan komunitas di Pare dan Madiun akan dikembangkan di tempat lain, yang juga rawan bencana. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-7129938412601629244?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7129938412601629244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7129938412601629244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/10/penguran-resiko-bencana-untuk-tiga-desa.html' title='Pengurangan Resiko Bencana untuk Tiga Desa'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-bswr3Vrhbhk/To0HNUPqFPI/AAAAAAAABm4/hUOQsNa4NHg/s72-c/par3.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5417324639587898854</id><published>2011-09-24T11:08:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T16:41:43.556-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Entrepreneurship Untuk UKM</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vIuqD3ww1Rs/To9MNfdh5iI/AAAAAAAABnM/l392P16GQ18/s1600/hjy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" kca="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-vIuqD3ww1Rs/To9MNfdh5iI/AAAAAAAABnM/l392P16GQ18/s200/hjy.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-c48EkUbXbSo/To8-sOmyI9I/AAAAAAAABnE/MksaAL7opTs/s1600/DSC003846YLYX85856X454Z.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" kca="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-c48EkUbXbSo/To8-sOmyI9I/AAAAAAAABnE/MksaAL7opTs/s200/DSC003846YLYX85856X454Z.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-5Iyx8Cp1GIc/To8-vZv1YnI/AAAAAAAABnI/By6J-ZZg_ps/s1600/DSC003889YZX493MXZ9IIIL.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" kca="true" src="http://1.bp.blogspot.com/-5Iyx8Cp1GIc/To8-vZv1YnI/AAAAAAAABnI/By6J-ZZg_ps/s200/DSC003889YZX493MXZ9IIIL.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rencana tindak lanjut yang dirancang pengurus Seksi Sosial Paroki Se-Kevikepan Surabaya Barat menjadi nyata. Koordinator Seksos Paroki Se-Kevikepan Surabaya Barat, Bp. Petrus Budiono merancang sebuah kerjasama dengan Universitas Ciputra, Surabaya untuk memberi pembekalan bagi peserta pelatihan wirausaha. Kegiatan ini terlaksana pada 22-26 Agustus 2011 dengan fasilitator dosen Universitas Ciputra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta berasal dari utusan paroki di Kevikepan Surabaya Barat yang meliputi Paroki Redemptor Mundi, St. Aloysius Gonzaga, St. Stefanus, Tandes, St. Yusup Karangpilang, St. Yakobus Citraland, St. Maria Gresik dan Sakramen Mahakudus, Pagesangan. Mereka semua telah memiliki usaha atau pernah memiliki usaha. Mereka selama ini menggeluti usaha antara lain: toko kecil, jasa konsultan, penjahit, mebel serta profesi lain. Usia peserta rata-rata di atas 35 tahun. Sementara dari unsur perempuan yang mengikuti sebanyak 40 %. Kegiatan ini dibatasi hanya untuk 24 peserta saja. Namun hanya 21 orang yang dinyatakan mendapat sertifikat kursus, karena 3 orang gugur di tengah jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan ini memiliki tujuan agar peserta dapat membedakan penjualan dengan pemasaran, mampu merancang pemasaran sebagai ide bisnis secara &lt;em&gt;on line &lt;/em&gt;atau&lt;em&gt; off line&lt;/em&gt;, mengenali minat diri dan kompetensi diri, mencetuskan ide bisnis yang sesuai dengan minat dan kompetensi, mampu memilih kelompok pelanggan dengan karakter sesuai dengan karakter diri dan memilih disiplin bisnis yang sesuai, mampu membuat model bisnis yang &lt;em&gt;visible&lt;/em&gt; dan mampu membuat rencana aksi sebagai acuan &lt;em&gt;start up&lt;/em&gt; bisnis. Juga harapannya peserta mampu mendampingi para calon pelaku kewirausahaan, melalui penguasaan model bisnis sebagai acuan melakukan &lt;em&gt;lean start up&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;effective scale up&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 5 hari, peserta mengikuti kegiatan efektif selama 8 jam sehari. Jika ditotal ada 40 jam, sejak pukul 8 hingga jam 5 sore, diselingi istirahat setiap sesi dan pada makan siang. Pada bagian pertama, peserta mendapatkan masukan tentang inspirasi ide bisnis dan pemasaran, lalu bagian kedua etika dalam pemasaran bisnis serta bagian ketiga, strategi model dan rencana &lt;em&gt;start up&lt;/em&gt; bisnis. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini ialah &lt;em&gt;case-based learning, in class learning&lt;/em&gt; serta &lt;em&gt;off class selling&lt;/em&gt;. Pada bagian akhir pelatihan, peserta diharapkan sudah memutuskan model bisnis yang akan dikembangkan disertai action plan yang lengkap. Model dan &lt;em&gt;action plan&lt;/em&gt; yang dirancang oleh setiap peserta kemudian dipresentasikan di depan fasilitator dan peserta lain, agar mendapat kritikan, masukan atau usul dalam realisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama, peserta diperkenalkan dengan &lt;em&gt;mind set entrepreneurship&lt;/em&gt; sebagai pilihan hidup dan konsep bisnis yang dimulai dengan pemasaran. Setelah minum, peserta mengenal pemasaran sampai menjual ide bisnis. Pada hari kedua, peserta mengenali minat dengan mengisi formulir dipandu fasilitator. Peserta melihat &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;, kompetensi dan jaringan yang dimiliki. Kemudian disusul pengenalan konsep hidup yang pararel atau linear untuk mendukung bisnis berjalan dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketiga, peserta mendapatkan masukan mengenai hidup kewirausahaan yang beretika dipandu Rm. Yustisianto, Pr. Rm. Yus menekankan etika bisnis sebagai aplikasi atau implementasinya dalam bidang produksi, distribusi dan tukar-menukar barang dan jasa ekonomi. Etika bisnis mengembangkan prinsip sekunder berkenaan dengan hubungan majikan dan buruh, penjual dan pembeli, pelaku bisnis di hulu dan hilir, industri dan pada akhirnya seluruh bangsa. Sebagai kewajiban dasar, pelaku bisnis harus memperhatikan akibat langsung atau tidak perbuatannya terhadap orang atau kelompok lain. Sekalipun masyarakat memegang prinsip, "bagaimana enaknya" tanpa mengihraukan "bagaimana baiknya", dampak perbuatan orang akan menimpa orang atau kelompok lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku bisnis harapannya tetap mendidik hati nurani secara peka dengan mempelajari permasalahan hidup dan melakukan kebaikan. Sebagai majikan, produsen, distributor terikat untuk memenuhi syarat kesejahteraan karyawan serta kewajiban menjaga keamanan konsumen. Dalam tukar menukar barang dan jasa, dalam menjual dan membeli, tidak boleh mengeksploitasi pelanggan dengan penipuan. Intinya bagaimana usaha bisnis tidak boleh serta merta merugikan orang atau kelompok lain. Penjelasan etika bisnis, dipertegas dengan penjelasan Ibu Victoria Suryani yang memaparkan etika bisnis dalam lingkungan Astra Group. Selain itu ada pemaparan bisnis sebagai partisipasi pengembangan bangsa dan pengalaman &lt;em&gt;social bussines.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari keempat, peserta mendengarkan kisah pelaku usaha yang bertahan dan berkembang meskipun hanya memiliki 3 warung saja. Ini tak lain karena disiplin pelaku wirausaha. Semua itu diperjelas dalam resep kelanggengan usaha yang intinya sederhana, fokus dan konsisten. Peserta kemudian mempresentasikan ide dan rencana bisnis masing-masing. Tampak sekali ada kesulitan, semangat sekaligus tantangan dan peluang dalam merencanakan ide. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kelima, peserta mendapat masukan rencana pengembangan aksi nyata bisnis, meliputi pengembangan produk dan pasar yang efisien. Selain itu, peserta diperkenalkan cara menciptakan saluran distribusi dan pemeliharaan konsumen secara efektif. Setelah minum, peserta memperbaiki rencana keuangan dan sampai pada finalisasi, ketika peserta melakukan perubahan-perubahan agar rencana bisnisnya semakin mantap. Fasilitator menekankan bahwa selain aneka ilmu dalam pelatihan, keuletan, kegigihan dan kesungguhan peserta untuk menerapkan ilmu dalam kegiatan bisnis, menjadi penentu suksesnya program ini di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki St. Aloysius Gonzaga memberikan dukungan dalam kegiatan ini dengan menyediakan tempat. Selain itu, dukungan penuh dari para dosen dan staf Lembaga Pengabdian Masyarakat, Universitas Ciputra. Pelatihan bahkan menambah waktu hingga 17 September 2011. Karena pada sesi terakhir, ketika pembuatan dan presentasi &lt;em&gt;action plan&lt;/em&gt;, waktu yang disediakan ternyata tidak cukup. Peserta cukup bersemangat, hal ini tampak dari tingkat kehadiran mencapai 60 %. Fakta kehadiran menunjukkan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat. Mereka bahkan saling menampilkan keterampilan dengan demo pembuatan kuliner, keterampilan membuat bordir, sharing pemasaran produk dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi PSE Keuskupan Surabaya yang turut mendukung kegiatan ini, melihat pelatihan ini sebagai perwujudan rancangan program dalam pertemuan Seksos Paroki di Sasana Krida Jatijejer, Trawas. Komisi PSE akan terus menganimasi Paroki di Kevikepan Surabaya Selatan dan Surabaya Utara untuk menduplikasi kegiatan sejenis. Karena, sesuai dengan Arah Dasar, kegiatan yang diprioritaskan ialah kewirausahaan bagi kaum muda dan kaum petani. Meskipun sudah dirancang, peran dan komitmen koordinator Kevikepan dan Seksos Paroki sangat penting dalam mewujudkan rencana tersebut. &lt;em&gt;(disarikan dari: Laporan Pelaksanaan Entrepreneurship Untuk UKM, Paroki St. Aloysius Gonzaga).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5417324639587898854?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5417324639587898854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5417324639587898854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/10/pelatihan-entrepreneurship-untuk-ukm.html' title='Pelatihan Entrepreneurship Untuk UKM'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vIuqD3ww1Rs/To9MNfdh5iI/AAAAAAAABnM/l392P16GQ18/s72-c/hjy.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-9216136844344444769</id><published>2011-09-20T22:06:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T09:49:01.841-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Manajemen Keuangan Praktis bagi Posko Paroki Rawan Bencana</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-scZYmNv8JqI/ToVSdtd0KlI/AAAAAAAABmk/tU6fYajhWW4/s1600/makna1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="151" kca="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-scZYmNv8JqI/ToVSdtd0KlI/AAAAAAAABmk/tU6fYajhWW4/s200/makna1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8UGyqpCP3c4/ToVSidrSAFI/AAAAAAAABmo/VprraiDDBjs/s1600/makna2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" kca="true" src="http://3.bp.blogspot.com/-8UGyqpCP3c4/ToVSidrSAFI/AAAAAAAABmo/VprraiDDBjs/s200/makna2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Semangat habitus baru dengan himbauan agar setiap organisasi pelayanan&amp;nbsp;memiliki kemampuan yang cakap, mendapat jawaban dalam rangkaian program peningkatan kapasitas Karina Keuskupan Surabaya. Karina Surabaya sebagai&amp;nbsp;organisasi di bawah Komisi PSE,&amp;nbsp;memiliki fokus dalam hal kemanusiaan, secara khusus&amp;nbsp;program penanganan&amp;nbsp;dan pengurangan resiko bencana. Rangkaian kegiatan seperti pelatihan Pengurangan Resiko Bencana, Tanggap Darurat, Manajemen Siklus Proyek dan Manajemen Keuangan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga-tenaga dalam pelayanan kemanusiaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tanggal 19-21 Agustus 2011, Karina Surabaya mengadakan Pelatihan Manajemen Keuangan Praktis. Pelatihan ini didahului dengan persiapan materi dan &lt;em&gt;micro teaching&lt;/em&gt; yang melibatkan para fasilitator. Fasilitator yang pernah mengikuti Pelatihan di tingkat Karina KWI ialah: Ibu Emilia Susan, Sdri. Fina Utami Putri dan Bp. Heri Risdianto didukung Bp. Edi Loke. Mereka melakukan persiapan sebagai kesempatan mempelajari&amp;nbsp;materi&amp;nbsp;dan memformulasikan&amp;nbsp;sesuai dengan situasi di lapangan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan ini memiliki tujuan, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan relawan di bidang manajemen keuangan praktis, membangun pemahaman bersama pengelolaan keuangan ketika terjadi bencana, meningkatkan kesadaran pentingnya prinsip akuntabilitas, memahami standar-standar pelaksanaan dan pengolaan keuangan serta membangun kerjasama dan kesepahaman dalam tahap-tahap pembuatan laporan keuangan. Mekanisme kegiatan diawali dengan membentuk tim fasilitator yang terdiri dari anggota yang pernah mengikuti pelatihan keuangan Karina KWI. Mereka kemudian mendalami dan merancang modul-modul yang akan digunakan, membagi tugas, merancang kegiatan, mengundang para peserta dari setiap Posko Paroki rawan bencana, seperti Paroki Blitar,&amp;nbsp;Trenggalek, Pare,&amp;nbsp;Nganjuk, Madiun, Cepu dan Bojonegoro. Meskipun yang hadir hanya 4 Posko Paroki saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelatihan dimulai dengan perkenalan dan harapan peserta terhadap pelatihan tersebut. Harapan berkenaan dengan keuangan ialah mengetahui cara membuat dan mengatur keuangan ketika terjadi bencana, termasuk membuat rancangan untuk disetujui dan membuat laporan keuangan. Harapan berkenaan dengan Karina agar semakin memahami gerakan Karina, struktur organisasi, sehingga bisa berperan maksimal dan akhirnya menularkan ilmu kepada teman-teman di setiap Posko. Peserta selanjutnya dibagi dalam 3 kelompok untuk mengawal semua proses demi kelancaran sebuah kegiatan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bp. Edi Loke mengawali dengan memperkenalkan apa itu Karina. Materi menekankan visi, misi, program dan kegiatan yang dilakukan Karina Surabaya selama ini. Siapapun yang terlibat, hendaknya mengikuti alur dan memahami gerak bersama program yang ditetapkan tersebut. Selanjutnya, Rm. A. Luluk Widyawan memberikan penegasan tentang Karina Keuskupan Surabaya. Ia&amp;nbsp;mengingatkan&amp;nbsp;pelayanan kemanusiaan yang digerakkan&amp;nbsp;oleh hati yang penuh belarasa dan serba spontan, perlu didukung dengan manajemen yang memadai, bukan semata-mata&amp;nbsp;supaya&lt;em&gt; mbulet.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Acara dilanjutkan dengan penjelasan tentang manajemen keuangan yang dibawakan oleh Heri Risdianto. Dalam paparannya, Heri menekankan manajemen keuangan berkaitan dengan perencanaan, pengorganisasian, pengontrolan dan pengawasan sumber-sumber keuangan organisasi dalam rangka mencapai tujuan. Proses ini diperlukan untuk mengatur sumber keuangan yang terbatas, mengatur resiko dan menggunakannya agar sesuai dengan tujuan. Hal yang terpenting adalah perlunya pengawasan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada 7 prinsip keuangan yaitu, Prinsip Viabilitas agar pengeluaran seimbang dengan pemasukan; Pelayanan agar penggunaan keuangan sesuai dengan kepentingan; Prinsip Standard Akutansi dalam mengunakan sistem menyimpan dokumen dan data keuangan; Prinsip Akuntabilitas dimana organisasi harus bisa menjelaskan apa saja kegiatan yang dilakukan dan untuk apa saja kegunaan uang yang diberikan donor dan penerima manfaat. Selain itu ada Prinsip Konsistensi dalam menggunakan keuangan sesuai dengan rencana yang dilakukan sehingga antara laporan keuangan dan budget, konsisten serta Prinsip Transparansi agar dapat menyediakan data dan informasi berkaitan dengan kegiatan dan penggunaan dana dalam membiayai kegiatan. Prinsip terakhir yang penting ialah Integritas setiap pribadi dalam sebuah organisasi untuk bekerja dengan jujur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip tersebut didukung dalam 4 pilar utama dalam manajemen keuangan ialah: Data Akuntansi dalam rupa data transaksi keuangan yang akurat, Perencanaan Keuangan berkaitan dengan dengan rencana strategis, operasional dan rencana biaya pengeluaran. Juga Pencatatan Keuangan organisasi dalam melakukan pengeluaran dan merapikan data akutansi secara jelas dan teratur serta Pengawasan Internal yang menekankan adanya pengawasan, pengecekan dan keseimbangan yang dilakukan terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari kedua, pembahasan&amp;nbsp;Manajemen Keuangan untuk Organisasi Nirlaba disampaikan oleh Emilia. Pembahasan dimulai dengan menjelaskan apa itu oranisasi nirlaba, dasar hukum, ciri-ciri, bentuk, penanggungjawab dan cara mendapatkan dana dalam pengelolaan organisasi. Secara singkat dijelaskan pula pentingnya manajemen keuangan dalam sebuah organisasi nirlaba. Akuntabilitas sangat diperlukan karena mereka yang tidak akuntabel akan tidak dipercaya untuk mendapatkan donor. Transparansi diperlukan untuk membantu pengambilan keputusan, terlebih ada hubungannya dengan publik dan pemerintahan. Penjelasan tersebut menujukkan pula perbedaan yang mendasar antara manajemen dan akuntansi keuangan. Perbedaan tersebut membedakan input, output dan pengambil keputusan dalam pengambilan keputusan serta siapa saja yang berperan dalam pengambilan keputusan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu,&amp;nbsp;pengenalan mengenai &lt;em&gt;microsoft excel&lt;/em&gt; sebagai dasar untuk membuat laporan keuangan. Fina Utami menjelaskan penggunaan program tersebut sekaligus melatih para peserta untuk mempraktekkan simbol dan fungsi yang tersedia. Selanjutnya peserta masuk dalam kelompok untuk mempelajari sebuah kasus bencana di sebuah lokasi. Ketika berhadapan dengan non bencana, program yang ada diadakan adalah Program Pengurangan Resiko Bencana. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para peserta dalam kelompok, diminta untuk merancang budget berdasarkan situasi yang dialami masyarakat. Hal ini berarti mendengarkan keinginan masyarakat untuk dituangkan dalam program kegiatan, sehingga bukan turunan dari atas, melainkan masukan dari bawah. Tujuannya agar peserta memiliki pemahaman dan pengetahuan, bagaimana merancang anggaran ketika menjalankan sebuah program pengurangan resiko bencana. Berkaitan dengan materi pelatihan tersebut, ada pengalaman yang menarik. Dana yang dirancang ternyata sebagian besar untuk membiayai operasional kantor, sekretariat dan fasilitator. Setelah diadakan kajian kritis, semua kelompok mengatur anggaran agar proposional antara biaya program pelayanan dan biaya operasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Materi pelatihan selanjutnya memperkenalkan alur pembelian, bagaimana sampai terjadi pembelian, dasar-dasar pembelian, bukti dokumen atau nota sebagai penunjang, serta dokumen pencatatan. Emilia Susan menjelaskan dokumen-dokumen penting keuangan mulai dari kategori permohonan pengadaan barang dan dokumen-dokumen penunjang proses akuntansi. Seluruh proses penawaran barang dan jasa harus didokumentasikan secara jelas. Ada proses pengadaan barang, permohonan pembelian dan penerimaan barang. Para peserta diberi contoh dokumen-dokumen yang harus ada dalam sebuah proses. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan ini berlanjut pada pembuatan laporan keuangan. Dalam laporan keuangan ada unsur yang harus ada ialah jurnal, buku besar, hingga analisa laporan keuangan. Selanjutnya ada simulasi pembelian. Para peserta diberi uang mainan untuk mempraktekkan cara membelanjakan uang tersebut, mendokumentasikan dan membuat sebuah laporan keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari Ketiga&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hari ketiga, peserta diminta untuk melanjutkan membuat alur keuangan sampai pada laporan keuangan yang lengkap dan utuh, sejak dari simulasi pembelian hingga&amp;nbsp;laporan keuangan. Bukti-bukti yang ada saat simulasi pembelian menjadi acuan untuk pembuatan laporan keuangan. Dalam kesempatan itu, fasilitator menjelaskan pengisian jurnal pada &lt;em&gt;format excel&lt;/em&gt; yang telah dibagikan&amp;nbsp;dalam bentuk &lt;em&gt;softcopy&lt;/em&gt;. Penjelasan itu menjadi bekal&amp;nbsp;untuk mengerjakan laporan&amp;nbsp;sehingga peserta langsung mempraktekan proses input data pada &lt;em&gt;jurnal sheet&lt;/em&gt;. Setelah mereka menyelesaikan jurnal, fasilitator kembali memberi petunjuk pengisian tahap selanjutnya yaitu buku besar. Tahap terakhir dari laporan keuangan adalah analisa laporan keuangan. Peserta mengerjakan studi kasus dalam kelompok sampai&amp;nbsp;membuat laporan keuangan secara keseluruhan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai pukul 11.00 para peserta sudah menyelesaikan seluruh laporan keuangan yang disimpan dalam format &lt;em&gt;microsoft excel&lt;/em&gt; yang memudahkan&amp;nbsp;mengetahui proses. Sebagai bahan peneguhan, fasilitator menyampaikan teori mengenai laporan keuangan yang dapat dijadikan kata kunci pembuatan laporan keuangan ialah tepat waktu, akurat dan relevan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Acara selanjutnya &lt;em&gt;post test.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Kesimpulannya menggembirakan, hampir semua peserta mengalami peningkatan kemampuan dalam memahami berbagai hal tentang keuangan. Bukan sekedar merancang anggaran dan membuat laporan keuangan yang baik. Selain itu, dalam&amp;nbsp;evaluasi diketahui bahwa awalnya para peserta belum memahami istilah-istilah keuangan, namun dalam proses partisipatif yang&amp;nbsp;intensif, pengertian-pengertian tersebut dimengerti. Hal ini didukung oleh kemampuan fasilitator mendampingi&amp;nbsp;peserta&amp;nbsp;berdasarkan standar Karina selama ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harapannya, peserta pelatihan menjadi penanggungjawab dalam pengelolaan keuangan ketika terjadi bencana. Mereka dapat menjadi fasilitator bagi teman lain yang ingin mengetahui dan mempelajari manajemen keuangan praktis. Mereka diharapkan melakukan&amp;nbsp;duplikasi untuk menularkan pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang keuangan di posko masing-masing. Kegiatan peningkatan kapasitas bagi para relawan akan diteruskan dan berdasarkan kesepakatan, Tulungagung (Trenggalek)&amp;nbsp;menjadi tuan rumah untuk pelatihan&amp;nbsp;selanjutnya, yaitu &lt;em&gt;Project Cycle Management&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;(disarikan dari: Laporan Pelatihan Manajemen Keuangan Praktis, Karina Keuskupan Surabaya)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-9216136844344444769?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/9216136844344444769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/9216136844344444769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/09/pelatihan-manajemen-keuangan-praktis.html' title='Pelatihan Manajemen Keuangan Praktis bagi Posko Paroki Rawan Bencana'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-scZYmNv8JqI/ToVSdtd0KlI/AAAAAAAABmk/tU6fYajhWW4/s72-c/makna1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-4728730844814200872</id><published>2011-09-18T09:14:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T22:59:07.634-07:00</updated><title type='text'>Kunjungan Caritas Belgia Ke Pare Dan Madiun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-boxro_2YJkY/Tos0cTy2M5I/AAAAAAAABmw/Hc41BJVpzOY/s1600/kb.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" kca="true" src="http://3.bp.blogspot.com/-boxro_2YJkY/Tos0cTy2M5I/AAAAAAAABmw/Hc41BJVpzOY/s200/kb.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9dfhHzIJqlQ/Tos0g1ibJmI/AAAAAAAABm0/qNnR_np-KSw/s1600/kb2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" kca="true" src="http://1.bp.blogspot.com/-9dfhHzIJqlQ/Tos0g1ibJmI/AAAAAAAABm0/qNnR_np-KSw/s200/kb2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kegiatan Pengurangan Resiko Bencana yang menjadi program kegiatan&amp;nbsp;Karina Keuskupan Surabaya ternyata memiliki nilai&amp;nbsp;strategis. Inti kegiatan tersebut ialah&amp;nbsp;agar&amp;nbsp;masyarakat yang hidup&amp;nbsp;di kawasan rawan bencana, membekali diri untuk mampu mengurangi resiko, apabila&amp;nbsp;menghadapi bencana. Kegiatan tersebut selain bentuk kegiatan di luar masa tanggap darurat, turut&amp;nbsp;meningkatkan kapasitas relawan Karina dan memberi dampak yang baik bagi warga dampingan. Kegiatan itu mendapat kunjungan dari perwakilan &lt;em&gt;Caritas Belgia&lt;/em&gt; selama berada di wilayah Keuskupan&amp;nbsp;Surabaya,&amp;nbsp;7-8 September 2011. Kunjungan juga digabung dengan&amp;nbsp;pertemuan bersama&amp;nbsp;Caritas Maumere.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiba di&amp;nbsp;Bandara&amp;nbsp;Juanda,&amp;nbsp;Mr. Dominic Verhoeven, staf kantor pusat &lt;em&gt;Caritas Belgia&lt;/em&gt; dan Mr. Joeri Leysen, perwakilan &lt;em&gt;Caritas Belgia&lt;/em&gt; di Asia,&amp;nbsp;tampak&amp;nbsp;antusias. Mereka ingin mendengar secara langsung&amp;nbsp;kegiatan yang dilakukan oleh Karina Surabaya. Rm. A. Luluk Widyawan, Pr didampingi staf dan relawan Karina, Bp. Edi Locke, Ibu Emilia Susan, Fina UP dan Heri Risdianto, membeberkan situasi Jawa Timur di mana Keuskupan Surabaya berada. Selain itu disampaikan pula informasi&amp;nbsp;seputar&amp;nbsp;kegiatan sosio-pastoral Gereja,&amp;nbsp;&amp;nbsp;program dan kegiatan, khususnya tentang&amp;nbsp;Pengurangan Resiko Bencana.&amp;nbsp;Karina Surabaya&amp;nbsp;sebagai bagian dari&amp;nbsp;Komisi PSE Keuskupan Surabaya dalam program dan kegiatannya&amp;nbsp;selalu mengarusutamakan prioritas program Ardas ialah,&amp;nbsp;pemberdayaan lembaga keuangan mikro / &lt;em&gt;Credit Union&lt;/em&gt; dan pemberdayaan kewirausahaan petani dan kaum muda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu,&amp;nbsp;Pater Klaus Naumann,&amp;nbsp;SVD dari Caritas Maumere memperkenalkan program penguatan kapasitas masyarakat dalam bidang pertanian. Mereka hendak mengadakan program pendampingan komunitas petani coklat&amp;nbsp;yang selama ini tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola kebun.&amp;nbsp;Harapannya,&amp;nbsp;setelah ini ada program pendampingan atas kerjasama&amp;nbsp;&lt;em&gt;Caritas Belgia&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;VECO&lt;/em&gt;, sehingga&amp;nbsp;hasil panen&amp;nbsp;meningkat.&amp;nbsp;Petani diharapkan&amp;nbsp;pula&amp;nbsp;menggarap pasar&amp;nbsp;agar hasil petani tidak dipermainkan&amp;nbsp;oleh tengkulak. Pertemuan tersebut&amp;nbsp;diakhiri&amp;nbsp;dengan santap siang bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Di&amp;nbsp;Pare&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu, rombongan menuju&amp;nbsp;ke Pare. Setelah&amp;nbsp;singgah beberapa menit di Pastoran St. Mateus, Pare bersama&amp;nbsp;relawan dari Posko Paroki yang dikoordinir FA. Yunianto, rombongan langsung menemui warga di Desa Sumbersuko. Ketika bertemu dengan tokoh masyarakat di sana, Joeri dan Dominic menanyakan pengalaman warga tentang situasi yang dialami ketika terjadi bencana. Ternyata ada &lt;em&gt;early warning system&lt;/em&gt;&amp;nbsp;warga&amp;nbsp;dengan cara&amp;nbsp;memukul &lt;em&gt;kenthongan&lt;/em&gt; (alat musik bambu) untuk memberi tanda agar&amp;nbsp;mencari tempat yang aman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka pun memiliki kearifan lokal berupa kisah&amp;nbsp;yang diyakini&amp;nbsp;secara turun temurun. Mereka&amp;nbsp;menunjuk tempat di seberang sungai kering nan lebar, yang disebut berada di wilayah Kerajaan Majapahit sebagai tempat yang aman jika terjadi&amp;nbsp;letusan&amp;nbsp;dan aliran lahar Gunung Kelud. Warga juga&amp;nbsp;memilki referensi dari alam&amp;nbsp;untuk mengetahui akan terjadi letusan atau tidak. Apabila berbagai jenis binatang liar dari gunung&amp;nbsp;turun ke kebun warga,&amp;nbsp;ini merupakan&amp;nbsp;tanda alamiah agar&amp;nbsp;warga&amp;nbsp;segera mencari tempat yang aman. Kedatangan binatang liar tersebut&amp;nbsp;menjadi tanda&amp;nbsp;akan terjadi bencana.&amp;nbsp;Joeri dan Dominic langsung melihat lokasi aman&amp;nbsp;yang hanya dipisahkan oleh sebuah sungai kering. Sungai kering ini merupakan jalan&amp;nbsp;mengalirnya lahar.&amp;nbsp;Warga mengisahkan bahwa saat lahar dingin menerpa pada tahun 2008 lalu, mereka mengalami kesulitan air bersih, karena sumber air dan pipa penampungan diterpa lahar. Mereka mendapat bantuan dari Karina Posko Pare, karena bantuan yang ada tidak menjangkau&amp;nbsp;tempat tinggal mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rombongan melanjutkan kunjungan&amp;nbsp;ke Desa Gadungan. Desa ini posisinya ada di antara aliran lahar yang mengalir dari lokasi&amp;nbsp;atas, dengan lokasi yang lebih bawah. Warga&amp;nbsp;mengalami dampak aliran lahar dingin berupa aneka material dari gunung yang menumpuk,&amp;nbsp;mengakibatkan endapan lumpur dan mengisolasi jalan serta menghancurkan rumah. Seorang ibu tokoh masyarakat&amp;nbsp;Gadungan, mengakui&amp;nbsp;peran Karina Posko Pare&amp;nbsp;yang saat itu membantu. Relasi inilah yang mengantar mereka&amp;nbsp;menyambut baik, ketika ada tawaran&amp;nbsp;pelatihan.&amp;nbsp;Masyarakat mendapatkan pengenalan tentang menghadapi bencana, termasuk&amp;nbsp;pengetahuan dan ketrampilan mengorganisasi warga, bantuan maupun dukungan dari lembaga pemerintah. Dengan demikian&amp;nbsp;mereka kelak&amp;nbsp;lebih siap jika menghadapi bencana sehingga&amp;nbsp;resiko dapat dikurangi. Namun hal itu ditanggapi Joeri secara kritis dengan pertanyaan, apakah yakin jika suatu ketika terjadi bencana besar, masyarakat mampu meminimalkan korban ? Ibu tersebut hanya tersenyum sambil mengucapkan "&lt;em&gt;Pasrah, berserah kepada Allah&lt;/em&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan di&amp;nbsp;Pare berakhir dengan kunjungan ke Desa Sumberdono. Desa Sumberdono merupakan tempat paling bawah dan akhir dari aliran lahar Gunung Kelud. Bp.&amp;nbsp;Kuncoro menjelaskan&amp;nbsp;kondisi&amp;nbsp;mereka&amp;nbsp;ketika terjadi bencana. Lumpur menggunung, menutup jalan, sungai dan rumah warga. Saat itu, relawan Posko Pare memberikan bantuan sak dan bahu-membahu bersama warga membuat tanggul dari sak yang untuk diisi pasir sebagai penahan. Pada kesempatan lain, relawan membantu bibit tanaman untuk menguatkan tanggul tepi sungai. Memang,&amp;nbsp;dari tahun ke tahun kedalaman sungai semakin dangkal, karena timbunan aneka material yang dibawa aliran lahar. Bahkan ada lokasi yang tadinya lebih bawah sekarang menjadi lapangan yang rata akibat timbunan. Selain itu,&amp;nbsp;ia mengatakan bahwa jaringan informasi antara teman-teman di&amp;nbsp;Desa Sumbersuko, wilayah atas yang&amp;nbsp;paling dekat dengan Gunung Kelud, lalu Desa&amp;nbsp;Gadungan yang terdampak&amp;nbsp;aliran lahar, serta Desa Sumberdono sebagai lokasi akhir aliran&amp;nbsp;lahar, menjadi hal yang sangat penting. Maka, pelatihan yang melibatkan&amp;nbsp;masyarakat dari Desa&amp;nbsp;Sumbersuko, Gadungan dan Sumberdono, penting sekali dalam rangka koordinasi.&amp;nbsp;Setelah itu&amp;nbsp;rombongan menuju&amp;nbsp;Pastoran St, Mateus, Pare untuk&amp;nbsp;makan malam bersama relawan dan Pastor Paroki, Rm. Kusnugroho, Pr. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Di&amp;nbsp;Madiun&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rombongan meneruskan perjalanan&amp;nbsp;dan akhirnya&amp;nbsp;tiba untuk bermalam di Madiun.&amp;nbsp;Joeri dan Dominic sempat bertemu dengan tim Karina Posko Madiun dan Rm.&amp;nbsp;Hardi Aswinarno, Pr. Mereka&amp;nbsp;menginformasikan keadaan Madiun dan&amp;nbsp;sekitarnya&amp;nbsp;bila terjadi bencana serta&amp;nbsp;relawan&amp;nbsp;muda yang dikoordinir Joseph Hanny Hendra dalam kegiatan kebencanaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keesokan harinya,&amp;nbsp;rombongan&amp;nbsp;langsung mengadakan pertemuan&amp;nbsp;dengan warga di Dusun Bayeman. Pertemuan dilakukan&amp;nbsp;dalam dialog&amp;nbsp;sambil&amp;nbsp;menuju lokasi terdampak banjir. Hal ini membuat utusan &lt;em&gt;Caritas Belgia&lt;/em&gt; itu mendapatkan&amp;nbsp;gambaran&amp;nbsp;jelas tentang kondisi&amp;nbsp;warga ketika bencana menerpa.&amp;nbsp;Tanggul yang dibangun justru menjadi bumerang dan&amp;nbsp;mengakibatkan banjir&amp;nbsp;mengepung dua RT, tempat tinggal warga. Dulu ketika belum ada tanggul, mereka mengatakan banjir lebih cepat surut. Namun ketika tanggul dibangun, air lebih lama menggenang&amp;nbsp;di pemukiman. Akibatnya warga&amp;nbsp;kesulitan&amp;nbsp;menjalankan aktivitas harian, mengalami kerusakan tanaman pangan dan&amp;nbsp;pada akhirnya memperburuk situasi ekonomi, karena terjadi hampir setiap tahun.&amp;nbsp;Joeri dan&amp;nbsp;Dominic mengusulkan ada pertemuan warga dengan&amp;nbsp;pemerintah untuk menginformasikan kondisi ini. Harapannya ada solusi, sehingga&amp;nbsp;warga mendapatkan&amp;nbsp;jalan keluar dan tidak selalu menjadi korban.&amp;nbsp;Selain penguatan masyarakat melalui program Pengurangan Resiko Bencana yang akan mengarusutamakan &lt;em&gt;Credit Union, &lt;/em&gt;perlu ada komunikasi dengan para pemangku kepentingan untuk mengatasi masalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah melakukan perjalanan dari sekitar tanggul menuju ke&amp;nbsp;posko, ternyata warga&amp;nbsp;telah menyiapkan makan siang. Acara makan&amp;nbsp;itu sederhana, dengan lauk &lt;em&gt;kulupan&lt;/em&gt;, sayur lodeh, sambal dan ikan. Joeri dan Dominic bersatu bersama warga makan dengan cara &lt;em&gt;muluk &lt;/em&gt;(tidak memakai sendok). Segera setelah berpamitan dan foto bersama,&amp;nbsp;rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya. Keesokan harinya,&amp;nbsp;Joeri dan Dominic&amp;nbsp;meneruskan kunjungan&amp;nbsp;ke Yogyakarta.&amp;nbsp;Mereka berdua&amp;nbsp;memberikan kesan&amp;nbsp;selama kunjungan dengan ucapan,&amp;nbsp;"&lt;em&gt;We were impressed by the work you have done / accieved in such a short periode of time"&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;(catatan kunjungan Caritas Belgia, oleh Edi Loke)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-4728730844814200872?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4728730844814200872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4728730844814200872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/10/kunjungan-caritas-belgia-ke-pare-dan.html' title='Kunjungan Caritas Belgia Ke Pare Dan Madiun'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-boxro_2YJkY/Tos0cTy2M5I/AAAAAAAABmw/Hc41BJVpzOY/s72-c/kb.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-4649178662636358550</id><published>2011-08-29T15:02:00.000-07:00</published><updated>2011-12-15T12:44:06.371-08:00</updated><title type='text'>Pemulihan Ekonomi Korban Lumpur</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-aD-JNFwxW64/TupboWdGoJI/AAAAAAAABr4/fOXcso-CAS8/s1600/x2_9828d32.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" oda="true" src="http://3.bp.blogspot.com/-aD-JNFwxW64/TupboWdGoJI/AAAAAAAABr4/fOXcso-CAS8/s200/x2_9828d32.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-yIoQGrKLjPs/TsLxopHZo2I/AAAAAAAABqY/xm-mWR27aPM/s1600/por.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="151" nda="true" src="http://3.bp.blogspot.com/-yIoQGrKLjPs/TsLxopHZo2I/AAAAAAAABqY/xm-mWR27aPM/s200/por.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Sudah lebih dari 5 tahun semburan lumpur Lapindo terus berlangsung, sejak 29 Mei 2006, tanpa ada upaya tuntas&amp;nbsp;untuk mengatasinya. Area kerusakan semakin meluas tanpa terkendali. Ancaman tidak hanya pada hilangnya wilayah hidup bagi ratusan ribu warga, melainkan juga terus menurunnya kualitas hidup yang jauh dari kata layak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Warga yang kehilangan sumber produksi akibat tertimbun maupun tercemar lumpur tidak dapat dengan mudah terpulihkan. Dibutuhkan penyesuaian dan eksperimentasi untuk tetap menjadikan area sekitar semburan sebagai wilayah produksi. Pembiaran kondisi tercemar menjadikan warga tidak bisa mengolah lahan. Pendapatan keluarga tersendat. Nasib pendidikan anak-anak menjadi tak menentu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih bahaya lagi, wilayah di sekitar semburan lumpur yang tercemar berbagai kandungan logam berat dan hidrokarbon. Penurunan kualitas kesehatan senyatanya tercatat pada Puskesmas setempat. Untuk penderita ISPA, naik sangat signifikan setahun sejak semburan terjadi. Pada 2009, tercatat 52.000 warga menderita ISPA, lebih dari dua kali lipat dari tahun 2005 yang berjumlah 24.000. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak banyak informasi substansi yang bisa diakses oleh warga. Ketiadaan informasi ini menjadi penghalang warga untuk memahami situasi dan berjuang mendapatkan hak-haknya. Padahal perlu upaya memperoleh informasi-informasi kepada warga secara seimbang. Termasuk upaya agar informasi dari warga tersampaikan secara luas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Program&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Program pemulihan ekonomi tersebut ialah, Pemanfaatan lahan sempit. Program ini merupakan inisiasi atas kondisi lingkungan yang buruk. Sawah dan lahan warga yang telah tercemar tidak dapat digunakan lagi. Satu hal yang terpikirkan untuk tetap bertani adalah dengan pengembangan pertanian dengan tidak menggunakan sumber daya lahan yg telah rusak. Pertanian lahan sempit dengan pendekatan organik diinisiasi sebagai upaya pemulihan ekonomi warga yang sebelumnya telah bertani. Pada tahap awal dibutuhkan setidaknya satu demonstrasi area (demplot) untuk ujicoba. Masa uji coba hanya 3 bulan mengingat masa panen pertanian sayur kurang dari satu bulan. Posko telah melakukan penguatan pengetahuan model pertanian ini kepada warga Besuki dengan belajar pertanian Organik pada kelompok tani organik di Trawas, Mojokerto.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selaras dengan pemanfaatan lahan dengan memakai media dan pupuk organik perlu didukung dengan budidaya cacing &lt;em&gt;Lumbricus Rubellus&lt;/em&gt;. Pemakaian kascing sebagai media dan pupuk bisa saling silang dengan hasil sisa sampah tanaman yang bisa menjadi pakan cacing. Selain bisa dikelola sebagai penghasil media dan pupuk, lebih lanjut cacing juga bisa dipasarkan sebagai bahan pakan ternak dan lain-lain. Kebutuhan yang disiapkan ialah pembuatan kolam-kolam dengan ukuran maksimal lebar 1,5 meter dan tinggi maksimal 1 meter&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sama halnya dengan pertanian lahan sempit, kerusakan lingkungan perlu diadaptasi demi keberlanjutan kehidupan di wilayah sekitar semburan. Budidaya ikan hias merupakan introduksi model pertanian yang tidak memeanfaatkan banyak sumber daya lingkungan lokal. Jenis-jenis ikan hias &lt;em&gt;Beta, Guppy, Lobster&lt;/em&gt; air tawar masih diprediksi memungkinkan dilakukan di wilayah sekitar semburan. Program dijalankan setelah selesai dilakukan &lt;em&gt;assestment&lt;/em&gt; pasar di wilayah Porong dan Sidoarjo yang sedang berjalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mendukung pengembangan ketrampilan, kaum muda yang terdampak secara ekonomi perlu mendapatkan kegiatan yang bernilai ekonomis. Pasca lahan rusak dan hilangnya pabrik menjadikan kaum muda memiliki kekosongan waktu. Keterbatasan ketrampilan yang didapatkan selama masa sekolah membatasi ruang gerak kaum muda beraktivitas. Penguatan ketrampilan sablon dan pertanian budidaya diharapkan memberikan kelaluasaan bagi kaum muda untuk mendapatkan sumber produksi. &lt;em&gt;(disarikan dari: Program Pemulihan Ekonomi Korban Lapindo; foto oleh: Rere Christanto dan Novik Ahmad)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-4649178662636358550?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4649178662636358550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4649178662636358550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/09/program-pemulihan-ekonomi-korban-lumpur.html' title='Pemulihan Ekonomi Korban Lumpur'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-aD-JNFwxW64/TupboWdGoJI/AAAAAAAABr4/fOXcso-CAS8/s72-c/x2_9828d32.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5185985306876499849</id><published>2011-08-07T10:59:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T01:32:48.058-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Gerakan APP</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Aksi Puasa Pembangunan (APP) dalam beberapa tahun terakhir mendapat tanggapan. Beberapa tanggapan&amp;nbsp;itu berkenaan dengan hal-hal primer seperti biaya, bahan pendalaman iman, pelaksanaan dan pasca pelaksanaan APP. Tanggapan itu menjadi masukan yang berguna di&amp;nbsp;saat&amp;nbsp;keberadaan APP pada tahun 2011 ini, tepat&amp;nbsp;telah berlangsung selama 40 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Aneka tanggapan&amp;nbsp;itu antara lain, &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, pembuatan bahan pendalaman iman APP ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Laporan keuangan menunjukkan pembuatan bahan pendalaman iman memang cukup besar. Hal ini&amp;nbsp;karena, sejak 15 tahun terakhir pembuatan bahan APP di Keuskupan Surabaya tidak dilakukan terpusat, satu bahan di tingkat keuskupan.&amp;nbsp;Panitia APP keuskupan hanya memberikan kerangka dasar. Selanjutnya masing-masing kevikepan, yang memiliki tim mengolah kerangka dasar itu menjadi bahan pendalaman iman. Sejak dari persiapan, pertemuan&amp;nbsp;pembuatan bahan hingga sosialisasi di tingkat kevikepan, paroki dan stasi dilakukan oleh tim kevikepan, didukung&amp;nbsp;oleh Panitia APP keuskupan. Hal ini dilakukan agar&amp;nbsp;bahan APP&amp;nbsp;sesuai dengan konteks situasi di kevikepan tersebut, namun tidak lepas dari kerangka dasar yang disepakati.&amp;nbsp;Ketika itu jumlah kevikepan yang ada hanya lima. Sejak tahun 2007, jumlah kevikepan bertambah menjadi tujuh. Tentu, hal ini&amp;nbsp;meningkatkan anggaran dana pembuatan bahan pendalaman iman APP.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, bahan pendalaman iman APP yang dibuat dan dipakai di seluruh wilayah keuskupan, dinilai kurang&amp;nbsp;menarik, membosankan dan terkesan hanya menyentuh sisi kognitif. Hal ini menunjuk pada&amp;nbsp;metode yang dipakai dari tahun ke tahun tidak ada pembaharuan, ialah metode tuturan lisan yang dibawakan oleh pemandu. Padahal, sebagian besar umat telah terbiasa dengan aneka tayangan atau bahan yang tidak lagi sekedar tuturan lisan atau gambar, yang membuat peserta cenderung kurang&amp;nbsp;tertarik. Masukan yang muncul,&amp;nbsp;bahan lebih menarik jika didukung dengan, misalnya tampilan &lt;em&gt;audio visual&lt;/em&gt;, penggunaan film yang dikemas dalam VCD atau penggunaan metode lain seperti presentasi dengan &lt;em&gt;power point.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Bahan yang terbatas seringkali semakin kurang&amp;nbsp;menarik apabila&amp;nbsp;dibawakan oleh pemandu yang kemampuannya juga terbatas. Memang kenyataannya, para&amp;nbsp;pemandu adalah mereka yang rela dan mau melaksanakan. Sementara mencari orang untuk menjadi pemandu&amp;nbsp;bukan perkara mudah. Banyak orang enggan menjadi pemandu, sehingga&amp;nbsp;yang menjadi pemandu adalah orang yang itu-itu saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, saat pelaksanaan bahan pendalaman iman APP, umat yang hadir dinilai sedikit sekali. Jika dilihat dengan perbandingan jumlah umat yang tercatat di suatu lingkungan atau kelompok kecil umat, mereka yang menghadiri pendalaman iman APP tak sebanding. Misalnya, kasus di suatu lingkungan yang berjumlah 30 kepala keluarga, yang menghadiri pendalaman iman APP hanya 10 orang saja. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan pelaksanaan doa-doa, misalnya Doa Rosario di bulan Maria atau di bulan Rosario. Jumlah umat yang hadir lebih banyak. Agaknya,&amp;nbsp;umat lebih membutuhkan atau menganggap perlu berdoa, dibandingkan mengikuti kegiatan pendalaman iman APP. Jumlah kehadiran umat yang sedikit itu dapat disamakan dengan jumlah kehadiran mereka pada saat pendalaman iman di Bulan Kitab Suci atau pendalaman iman Masa Adven. Kenyataan&amp;nbsp;tersebut&amp;nbsp;dapat disimpulkan sebagai, umat kurang berminat&amp;nbsp;mengikuti kegiatan yang sifatnya kognitif, mengajak berpikir dengan bahan yang dianggap "berat", dengan metode yang tidak menarik dan pemandu yang monoton.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, pasca pelaksanaan APP,&amp;nbsp;apa yang dimaksud dengan gerakan / aksi nyata APP tidak diwujudnyatakan secara maksimal. Dengan kata lain, perwujudan aksi nyata gerakan APP tidak dilakukan. Atau jika dilakukan&amp;nbsp;di beberapa tempat pun, bukanlah sebagai&amp;nbsp;gerakan&amp;nbsp;se keuskupan, melainkan gerakan sporadis saja.&amp;nbsp;Penyebabnya bisa saja karena faktor pelaksanaan pendalaman iman APP yang sepi peminat sehingga gerakan / aksi nyata tidak terlaksana.&amp;nbsp;Atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;justru tindak lanjut aksi nyata dalam gerakan tidak dipahami karena&amp;nbsp;hal itu tidak ditekankan&amp;nbsp;dalam bahan. Padahal&amp;nbsp;APP merupakan aksi. Pasca&amp;nbsp;pendalaman iman APP hendaknya&amp;nbsp;ada gerakan / aksi nyata umat di berbagai tingkatan,&amp;nbsp;sekaligus menjadi perwujudan tobat di Masa Pra Paskah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Aksi nyata / gerakan umat itu memiliki subyek sasaran ialah umat beriman agar semakin melayani kaum miskin yang membutuhkan bantuan. Bahan pendalaman iman APP memang mengikuti tema tertentu dan tema itu diarahkan agar menjadi gerakan / aksi nyata. Pesan untuk mengarahkan pada gerakan / aksi nyata pun sebenarnya telah diusahakan, namun kenyataannya tidak cukup memotivasi umat&amp;nbsp;untuk melakukannya.&amp;nbsp;Selain itu, tema atau fokus setiap tahun, dirasakan&amp;nbsp;tidak serius, karena tidak berkelanjutan dan tidak dipantau pelaksanaannya.&amp;nbsp;Tema yang setiap tahun berganti, menyebabkan tema yang tahun lalu&amp;nbsp;belum dikerjakan secara serius dan&amp;nbsp;rencananya akan&amp;nbsp;diulang lebih baik tahun berikutnya, justru telah terganti&amp;nbsp;dengan tema baru.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Berbagai tanggapan&amp;nbsp;tersebut disertai dengan aneka persoalan sekunder lain. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, bahan yang dikerjakan di setiap kevikepan memberi warna terlalu beragam. Hal ini justru tidak menampakkan bahwa&amp;nbsp;sebenarnya ada gerakan bersama yang menjadi fokus tahunan. Setiap kevikepan memang membuat bahan dengan tema tertentu yang ditentukan berdasarkan kerangka dasar se keuskupan, namun tekanan pada aksi nyata / gerakan kurang&amp;nbsp;tegas.&amp;nbsp;Sehingga&amp;nbsp;tidak kelihatan ada gerakan bersama se keuskupan pada&amp;nbsp;tahun tertentu atau bahkan tidak ada gerakan apapun di setiap kevikepan, paroki, stasi, wilayah atau lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, keprihatinan yang ada dalam pembuatan bahan pendalaman iman APP ternyata juga disebabkan oleh&amp;nbsp;pembuat bahan&amp;nbsp;yang masih terbatas. Di kevikepan-kevikepan, yang memiliki tim pembuat bahan pendalaman iman, bahan APP tidak mengalami pembaharuan yang berarti, baik dari segi personel maupun pemanfaatan metode dan sarana. Lebih&amp;nbsp;memprihatinkan,&amp;nbsp;ada kevikepan yang tidak memiliki tim pembuat bahan pendalaman iman APP.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Rupanya, APP yang dipandang oleh&amp;nbsp;umat menjadi kesempatan baik dan strategis&amp;nbsp;menjadi&amp;nbsp;peristiwa pertobatan dan perwujudan gerakan / aksi nyata berdasarkan fokus tertentu, pada saat yang sama kurang&amp;nbsp;mendapatkan dukungan dan solusi.&amp;nbsp;Kiranya keprihatinan ini mengundang siapapun yang memiliki kepedulian&amp;nbsp;memberikan dukungan, agar APP sungguh menjadi kegiatan yang tidak hanya berdimensi ritual namun sosial, demi&amp;nbsp;mewujudkan kesejahteraan umum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5185985306876499849?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5185985306876499849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5185985306876499849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/08/refleksi-app.html' title='Refleksi Gerakan APP'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-7732000834545680217</id><published>2011-08-04T09:53:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T09:59:38.399-07:00</updated><title type='text'>Dari Hama Wereng, Ke Lumbung Gabah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-H_PdL4dTeWw/TjrOdPdcULI/AAAAAAAABmQ/moD3QUGF26s/s1600/11.+diserang+tikus+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="142" src="http://3.bp.blogspot.com/-H_PdL4dTeWw/TjrOdPdcULI/AAAAAAAABmQ/moD3QUGF26s/s200/11.+diserang+tikus+1.jpg" t$="true" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak Maret 2011, curah hujan yang sedemikian tinggi dan perubahan iklim yang sangat ekstrem dirasakan membawa dampak yang cukup signifikan dan berpengaruh buruk dalam dunia pertanian. Dampak buruk yang dirasakan oleh para petani adalah gagal panen. Selain itu, perubahan iklim tersebut juga memicu munculnya sekian jenis hama species baru, termasuk hama wereng. Hama wereng ini sangat sulit dibasmi dan sekarang menjadi monster-monster kecil yang menyerang tanaman padi. Meskipun sudah diusahakan berbagai macam cara untuk memberantasnya, namun justru membawa dampak sebaliknya. Hama wereng kebal dan justru semakin merajalela, sehingga menyebabkan tanaman padi ludes dimakan dan akhirnya dalam hitungan hari tanaman padi itu mati. Tanaman padi yang diserang hama wereng itu seketika menjadi berwarna merah seperti terbakar. Inilah, situasi yang disebut sebagai gagal panen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengerikan lagi, ternyata hama wereng meninggalkan telor yang jumlahnya tak terhitung pada tanah garapan petani. Ketika para petani mencoba menanam padi lagi dengan harapan akan panen, ternyata sebaliknya tanaman padi tidak bisa tumbuh sempurna dan bahkan mati. Memang, mula-mula tidak ada tanda-tanda munculnya serangan hama wereng tersebut. Namun, setelah tanaman padi berumur 3-4 minggu, telor wereng yang tersimpan dalam tanah itu menjadi hama wereng yang dalam sekejap menyerang, hingga tanaman padi menjadi merah seperti terbakar dan dalam hitungan hari tanaman padi itu tidak bisa bertumbuh dan akhirnya mati. Inilah yang membuat para petani berhenti menanam padi dan seolah-olah masih trauma dengan serangan hama wereng tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi sekarang ini sudah sangat memprihatinkan. Petani sudah tidak bisa panen selama tiga kali musim tanam. Dengan demikian, tidak ada lagi persediaan gabah. Apalagi petani sudah terlanjur menjual gabahnya dan tidak menyisihkan gabah untuk disimpan. Situasi itulah yang kemudian disebut sebagai krisis ketahanan gabah. Artinya, petani tidak lagi memiliki persediaan pangan, sementara pada saat yang sama mereka gagal panen karena hawa wereng yang menyerang tanaman padi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak petani tetap berusaha menanam meski mengetahui situasi yang tidak memungkinkan tersebut. Namun hasilnya tetap sama, petani gagal panen. Situasi semacam itu diperparah dengan harga gabah yang melonjak naik. Sekarang ini, harga beras di pasar mencapai lebih dari Rp 6.500, sementara di desa harga beras mencapai Rp 7.500.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ketahanan pangan itu juga melanda umat yang tinggal di Kuasi Paroki St. Hilarius Klepu, yang mayoritas umatnya adalah petani. Secara nyata, keprihatinan menyangkut keadaan krisis ketahanan pangan di desa Klepu ialah: petani tidak dapat menanam padi lagi karena hama wereng, sehingga lumbung persediaan gabah telah habis, beras sulit didapatkan, terbukti dari fakta yang mengatakan bahwa beras yang dijual di pasar telah habis sejak pukul 10.00 WIB dan petani tidak dapat menanam padi paling tidak sampai pertengahan Oktober dan sangat mungkin akan berlangsung sampai pada pertengahan bulan Januari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menanggapi situasi yang memprihatinkan itu, langkah strategis yang direncanakan sebagai antisipasi ketahanan pangan oleh Kuasi Paroki St. Hilarius, Klepu adalah membangun lumbung gabah di masing-masing lingkungan. Tujuannya, menyelamatkan masyarakat Klepu dari krisis pangan, memberi pembinaan dan pembelajaran masyarakat Klepu sehingga memiliki orientasi ke masa depan. Dengan pendirian lumbung di masing-masing lingkungan diharapkan para petani sadar akan pentingnya memiliki persediaan gabah sebagai antisipasi krisis pangan, menggerakkan masyarakat Klepu untuk memiliki lumbung di masing-masing keluarga dan membangun jaringan bank gabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengadaan gabah dan pendirian lumbung di masing-masing lingkungan adalah langkah awal untuk menyediakan gabah bagi masyarakat Desa Klepu yang dilanda krisis pangan. Pengelolaan gabah yang ada dalam lumbung di masing-masing lingkungan dikoordinir oleh Sekolah Pamong Tani, Ora Et Labora. Sementara itu, di masing-masing wilayah telah dibentuk kepengurusan untuk pengelolaan lumbung gabah. Bahkan mereka telah mengadakan rapat koordinasi untuk mempersiapkan lumbung gabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan bank gabah merupakan bentuk antisipasi ketahanan pangan yang akan terus dipromosikan, agar para petani memiliki kebiasaan untuk menyisihkan sebagian hasil panen sehingga memiliki ketahanan pangan, sekaligus mengantisipasi adanya krisis pangan. Keseluruhan proses tersebut berada di bawah koordinasi Sekolah Pamong Tani. Mereka bertanggungjawab mengontrol keseluruhan proses pengelolaan lumbung gabah, memeriksa catatan peminjaman gabah di masing-masing lingkungan dan bekerjasama dengan anggota lingkungan yang dipilih, terlibat dalam pengelolaan lumbung gabah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-7732000834545680217?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7732000834545680217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7732000834545680217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/08/dari-hama-wereng-ke-lumbung-gabah.html' title='Dari Hama Wereng, Ke Lumbung Gabah'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-H_PdL4dTeWw/TjrOdPdcULI/AAAAAAAABmQ/moD3QUGF26s/s72-c/11.+diserang+tikus+1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-4191743692336297498</id><published>2011-06-19T16:18:00.000-07:00</published><updated>2011-06-23T09:33:53.595-07:00</updated><title type='text'>Pengelolaan Program Seksi Sosial Dengan 9 Langkah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PTcMHQBZeRg/TgNqz1YTzSI/AAAAAAAABlU/rsX09_Xe5Gs/s1600/9.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" i$="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-PTcMHQBZeRg/TgNqz1YTzSI/AAAAAAAABlU/rsX09_Xe5Gs/s200/9.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dalam rangka mendukung pelaksanaan Arah Dasar, Komisi PSE Keuskupan Surabaya melihat pentingnya program Pemberdayaan Aktivis dan Perangkat Pastoral. Kesempatan ini diberikan kepada para aktivis seksos di Kevikepan Blitar, Kediri, Cepu dan Madiun. Mereka diberikan aneka materi sehingga memahami, mengenal semangat dan mengupayakan pelaksanaan Ardas dengan baik. Setelah menerima pembekalan manajemen pengelolaan program dengan menggunakan 9 langkah, mereka mendiskusikan dalam kelompok per kevikepan, lalu setiap perwakilan&amp;nbsp;menyampaikan hasil diskusi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kevikepan Blitar merumuskan latar belakang perumusan program karena ada situasi di mana orang muda kebanyakan masih berpikir menjadi pegawai atau orang kantoran, sedikit&amp;nbsp;sekali yang memiliki orientasi bisnis. Mereka yang memiliki ijasah pun bergantung pada ijasah dan menganggur. Usaha yang akan dilakukan ialah, bagaimana meningkatkan taraf hidup mereka sambil menyadarkan agar tidak tergantung pada ijasah. Apalagi cita-cita menjadi pegawai pada saat ini sulit, bahkan harus keluar uang karena menyogok. Kondisi yang lain ialah, banyak anak muda yang memilih menikah dengan cepat, namun istilahnya, &lt;em&gt;mangan minum melu morotua&lt;/em&gt; (makan dan minum bergantung pada mertua). Karena kondisi ini, maka dirancang program untuk membantu orang muda menghadapi masa depan yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang sedang dan akan diusahakan antara lain budidaya jamur, pertanian organik, pelatihan bordir dan pengelolaan ketela karena di daerah Blitar Selatan merupakan penghasil ketela. Tujuan kegiatan tersebut demi menciptakan masa depan yang mandiri. Sasarannya untuk orang muda dan pasutri muda. Kegiatan yang dirancang terjadi pada tahun 2012&amp;nbsp;ini membidik peserta tidak terlalu banyak, maksimal 100 orang. Sebagai referensi, di paroki St. Yusup Blitar sudah ada upaya&amp;nbsp;untuk mendukung program dengan pendekatan ke Dinas Pertanian setempat.&amp;nbsp;Bahkan dukungan itu nyata berupa kesediaan petugas turun langsung ke lapangan memberikan penyuluhan&amp;nbsp;dan memfasilitasi akses dana ke&amp;nbsp;pemerintah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah menginventaris masalah dan mendiskusikan, Kevikepan Kediri melihat bersama keadaan yang memprihatinkan yang ada di sekitar mereka. Ada situasi dominan di wilayah Pare dan Kediri, di mana warga&amp;nbsp;bekerja sebagai buruh musiman dan keadaanya memprihatinkan. Mereka memiliki penghasilan yang serba tidak menentu. Mereka hanya bekerja pada saat musim tanam atau musim panen. Di luar masa itu pekerjaan mereka serabutan. Bahkan mereka yang sudah tua dan tidak memiliki tenaga lebih parah. Mereka melakukan pekerjaan &lt;em&gt;ngasag (&lt;/em&gt;kegiatan buruh tani mengambil remah-remah sisa panenan). Jika hal itu pun tidak, mereka akhirnya mengemis. Ini sungguh menjadi keprihatinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk&amp;nbsp;menjawab situasi itu direncanakan program Lokakarya Peluang Karya Usaha yang bersifat padat karya. Sasaran utamanya bagi buruh musiman dan kaum muda. Tujuannya meningkatkan pendapatan mereka. Pada kesempatan awal, akan diberikan pemahaman kepada pendamping program, ketua lingkungan atau ketua stasi yang memiliki umat sebagai buruh musiman. Perkiraan peserta sejumlah 80 peserta. Model yang dipakai lebih merupakan ceramah peluang usaha, &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; dan tanya jawab. Program ini akan dilaksanakan bertepatan dengan pertemuan seksos se Kevikepan Kediri di Pare, bulan Agustus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kevikepan Madiun akan menjawabi situasi kaum muda yang tidak tertarik berwirausaha dan banyaknya pengangguran dengan dukungan modal. Bagi kaum muda yang tidak tertarik berwirausaha, akan diadakan pelatihan motivasi untuk mengubah pola pikir selama ini, bahwa wirausaha memiliki status yang lebih rendah dibandingkan pegawai negeri atau swasta. Sasaran yang dituju selain orang muda, namun juga orang tua. Rencananya setiap paroki akan diberi kuota 10 orang. Model yang dipilih berupa lokakarya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan untuk mendukung permodalan dengan pendirian Credit Union (CU) akan diawali dengan pelatihan motivasi. Hal ini sesuai dengan pengalaman di Paroki St. Yoseph, Ngawi, mereka mendirikan CU setelah mendapatkan motivasi. Sasaran yang dipilih adalah paroki di Kevikepan yang belum memiliki CU, sehingga&amp;nbsp;mendorong agar semua paroki mendirikan CU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya memberdayakan umat, ibarat perumpamaan talenta&amp;nbsp;dalam Kitab Suci. Selama ini aneka potensi umat masih terpendam, padahal&amp;nbsp;jika diberdayakan umat memiliki potensi luar biasa. Saat mereka mengawali CU rintisan,&amp;nbsp;ada perasaan pesimis seakan tidak mungkin,&amp;nbsp;tidak punya potensi atau suara pesimis yang melemahkan. Namun ternyata pada tahun keenam sekarang ini, anggota CU berjumlah sebanyak 500 orang dengan aset 1,3 M. Hal ini mengindikasikan bahwa di paroki yang belum memiliki CU, potensi yang luar biasa itu belum tergali. Sasaran program ini adalah seksos se Kevikepan Madiun, setiap paroki mengutus 10 orang. Model yang dipilih ialah ceramah penjelasan,&amp;nbsp;motivasi serta berbagi pengalaman dari CU yang telah berhasil. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat ini di Keuskupan Surabaya telah ada&amp;nbsp;tim CU yang memiliki motivator CU. Tim ini&amp;nbsp;diketuai Bp. A. Boyni, yang ditujukan kepada paroki yang ingin mendapatkan penjelasan tentang CU sehingga dapat mengundang.&amp;nbsp;Kegiatan CU ini tidak lain untuk mensejahterakan anggota. Sasaran lebih lanjut adalah umat di stasi-stasi, karena sesuai dengan paradigma CU modern, salah satu syaratnya ialah memiliki anggota sebanyak minimal 1.000 orang. Sedangkan&amp;nbsp;program kewirausahaan, akan ditempuh sosialisasi dan&amp;nbsp;motivasi ke stasi-stasi atau berkunjung ke tempat usaha yang sudah berhasil. Beberapa bentuk kewirausahaan yang dipilih adalah wirausaha bengkel, pertanian organik, sablon dan makanan ringan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kevikepan Cepu mendiskusikan latar belakang program karena situasi kaum muda di kawasan tersebut yang serba bingung, karena mencari pekerjaan sulit. Sementara itu,&amp;nbsp;para petani banyak yang belum mengetahui mengelola pertanian yang baik. Maka akan diarahkan agar petani bekerja secara ramah lingkungan, sehat dan membuat orang sehat pula.&amp;nbsp;Di masa lalu, orang menikmati hasil pertanian dari sawah yang tanahnya subur, karena mengutamakan pertanian organik. Saat ini tanah telah keras, tidak subur atau&amp;nbsp;kering seperti kondisi seperti tanah di Paroki St. Petrus dan Paulus, Rembang yang sawahnya bersifat tadah hujan. Pertanian organik berkembang baru sedikit saja di Paroki St. Wilibrordus, Cepu. Namun para petani&amp;nbsp;memberanikan diri bertani organik&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;mulai menikmati hasilnya. Mereka bahkan telah menjual hasil&amp;nbsp;beras organik dalam kemasan, setiap 1 kg harganya Rp. 12.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pelatihan yang diupayakan ialah pendampingan pasca panen dan pemasaran hasil pertanian. Tujuannya terwujud budidaya pertanian organik di paroki yang belum memulai pertanian organik serta meningkatkan kesejahteraan&amp;nbsp;petani. Sasaran program ini adalah para petani muda. Meskipun kehidupannya serba bingung, harapannya mereka tetap dapat menggarap sawah secara sehat. Acara yang akan diadakan pada bulan November 2011 di Cepu ini juga akan mengenalkan pembuatan agen hayati dan biogas. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bp. E. Koeswara dari Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandala Surabaya mengaku cukup puas dengan hasil yang ditempuh dalam pembelajaran selama sekitar 2 jam. Meskipun ada beberapa hal yang perlu dipertajam dalam rupa angka sehingga terukur. Sementara Rm. A. Luluk Widyawan, Pr, Ketua Komisi PSE mengomentari bahwa&amp;nbsp;program hendaknya memiliki&amp;nbsp;sasaran yang&amp;nbsp;menyentuh langsung pada mereka yang miskin atau pra sejahtera. Memang sebagaimana dikatakan Yesus, orang miskin selalu ada padamu. Usaha-usaha seksos&amp;nbsp;seakan tidak mampu menghapus kemiskinan, namun turut menjawabi situasi sekitar yang memprihatinkan. &lt;em&gt;(disarikan dari notulensi Lokakarya Pemberdayaan Aktivisi dan Perangkat Pastoral Kevikepan Blitar, Kediri, Madiun dan Cepu).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-4191743692336297498?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4191743692336297498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4191743692336297498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/06/pengelolaan-program-dengan-9-langkah.html' title='Pengelolaan Program Seksi Sosial Dengan 9 Langkah'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-PTcMHQBZeRg/TgNqz1YTzSI/AAAAAAAABlU/rsX09_Xe5Gs/s72-c/9.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-4766850966168203141</id><published>2011-06-18T09:30:00.000-07:00</published><updated>2011-06-19T08:04:23.179-07:00</updated><title type='text'>Implementasi Program Kewirausahaan Bagi Petani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-YTMIz8AHm38/Tf4P13NddiI/AAAAAAAABkc/j8Sbv8nuvJo/s1600/Fotoku02847MLA5X5MZ8ALZ8I.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" i$="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-YTMIz8AHm38/Tf4P13NddiI/AAAAAAAABkc/j8Sbv8nuvJo/s200/Fotoku02847MLA5X5MZ8ALZ8I.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Paroki St. Yusup, Blitar, dalam rangka mengimplementasikan Ardas, mengadakan berbagai kegiatan berkenaan dengan prioritas program pengembangan sosial ekonomi. Sosialisasi Ardas telah dilakukan dalam pertemuan DPP Pleno bersama para koordinator wilayah, ketua wilayah, ketua lingkungan serta organisasi lain. Sejak Agustus 2010 usaha mengimplementasikan Ardas ditempuh dengan membuat surat ajakan untuk melakukan gerakan nyata. Seksos paroki mulai membentuk tim penggerak tani lestari dengan sasaran di tingkat paroki maupun korwil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada kegiatan sosialisasi Ardas, disampaikan pula sosialisasi gerakan Hari Pangan Sedunia (HPS). Kegiatan ini diadakan pada 24 Agustus 2010 di Korwil Mojorejo yang dihadiri wakil dari 9 stasi sebanyak 22 orang. Selanjutnya diadakan pelatihan pembuatan pupuk organik dan biogas yang dipandu Bp. PH. Sitris, di Stasi Gondang Tapen yang dihadiri 70 orang petani. Sementara di Stasi Kalidahu, seksos memfasilitasi terbentuknya kelompok petani organik yang membudidayakan jamur. Selain itu, dalam rangka memperingati HUT Paroki yang ke 79 diadakan peringatan HPS pada bulan Oktober 2010. Pada acara tersebut dibagikan bibit sayuran seperti lombok, terong, sawi dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai hasil nyata&amp;nbsp;kegiatan tersebut, di Korwil Mojorejo terbentuk kelompok petani organik, Sekar Tanjung. Kelompok yang memiliki anggota sebanyak 35 KK itu mulai menabung dengan mengumpulkan modal sebesar Rp. 12.000.000,-. Untuk memenuhi kebutuhan anggota, kelompok mengusahakan &lt;em&gt;hand tractor&lt;/em&gt; yang diperoleh dari iuran anggota dan bantuan Pemda Kabupaten, Blitar. Mereka juga mengusahakan mesin perontok padi secara swadaya&amp;nbsp;dari anggota&amp;nbsp;serta pembuatan lumbung penyimpanan padi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam program yang diberi nama Program Peningkatan Pendapatan Petani Kecil (P4K) kelompok tani melakukan beberapa hal. Beberapa kegiatan itu ialah: pembuatan lumbung pangan, warung tani yang &lt;em&gt;mengepul &lt;/em&gt;(mengumpulkan) dan menjual produk, membudidayakan tanaman pangan seperti jamur, budidaya ternak dan mengusahakan simpan pinjam bagi anggota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rangka meningkatkan produksi, ada upaya penerapan teknologi tepat guna di bidang pertanian untuk mendukung pembuatan pupuk organik, pestisida organik serta alat mesin pertanian. Sebagai pendukung, kelompok mengusahakan pengesahan usaha dengan Surat Ijin Usaha Produksi (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Hal yang sedang direncanakan ialah meningkatkan taraf hidup anggota dengan perintisan biogas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Stasi Kali Gambang, telah dibentuk kelompok petani Argo Mulyo. Kelompok telah didaftarkan ke Dinas Pertanian Kabupaten Blitar No. Reg. 520.11/1178/409.308/2009. Saat ini anggota yang terdaftar sebanyak 60 orang petani dengan aset berupa penggiling makanan ternak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam refleksi kegiatan ditemukan beberapa kendala seperti: letak geografis yang sulit dengan jarak dari paroki sejauh 45 km di daerah pegunungan, sumber daya manusia yang berlatar belakang sekolah dasar dan kemiskinan warga dengan pendapatan di bawah UMR. Sementara kelemahannya, minimnya kapasitas berkenaan dengan hal kewirausahaan dan&amp;nbsp;pertanian dari para pengurus DPP serta&amp;nbsp;belum ditemukan kader-kader atau relawan yang memiliki kompetensi di kedua bidang tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk&amp;nbsp;menyikapi kelemahan tersebut, pada tahun ini akan diupayakan kegiatan peningkatan usaha kelompok yang sudah ada. Beberapa usaha di tingkat korwil atau stasi ialah: membentuk kelompok usaha krupuk singkong di Korwil Stasi Swaru Buloroto yang dirintis oleh 5 orang anggota, merintis pembuatan tepung singkong (MOCA) di Stasi Kaligambang, mencarikan pemasaran produk jamur dan krupuk singkong dan membuat biogas di Stasi Mojorejo. Sementara itu, akan diupayakan secara terus menerus sosialisasi kewirausahaan bagi para petani. Dalam hal ini seksos akan bekerjasama dengan bidang pembinaan untuk sasaran orang muda Katolik, sambil mengatasi beberapa&amp;nbsp;masalah seperti narasumber, dana serta fasilitator. &lt;em&gt;(disarikan dari Implementasi Ardas dan Program Kerja Bidang Kerasulan Umum, Paroki St. Yusup, Blitar).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-4766850966168203141?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4766850966168203141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4766850966168203141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/06/implementasi-kewirausahaan-petani.html' title='Implementasi Program Kewirausahaan Bagi Petani'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-YTMIz8AHm38/Tf4P13NddiI/AAAAAAAABkc/j8Sbv8nuvJo/s72-c/Fotoku02847MLA5X5MZ8ALZ8I.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-517885337705507097</id><published>2011-06-15T00:00:00.000-07:00</published><updated>2011-11-18T01:09:50.328-08:00</updated><title type='text'>Refleksi Karya Pastoral Pertanian Organik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nkBKUesPUVA/TsYgwalwKYI/AAAAAAAABq4/oEEjKGnc-ps/s1600/tani.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" hda="true" height="141" src="http://1.bp.blogspot.com/-nkBKUesPUVA/TsYgwalwKYI/AAAAAAAABq4/oEEjKGnc-ps/s200/tani.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sejak&amp;nbsp;tahun 1980-an, Gereja Katolik Indonesia telah terlibat dalam gerakan pertanian organik. Gerakan tersebut kini telah meluas di berbagai keuskupan, paroki, stasi yang digulirkan bersama masyarakat. Hal ini tentu sangat menggembirakan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rangka&amp;nbsp;memperkuat gerakan tersebut, perlu jaringan yang kokoh serta para penggerak yang semakin cerdas,&amp;nbsp;kritis dan reflektif. Jika tidak, ada bahaya besar, bukan hanya persoalan&amp;nbsp;penggerak pertanian organik berjalan sendiri-sendiri, tetapi kehilangan roh sebagai basis spiritual dari gerakan tani organik. Jika itu terjadi, akan berimbas pada hal-hal teknis di lapangan yang mengingkari ‘prinsip gerakan tani organik’. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Refleksi Karya&amp;nbsp;Pastoral&amp;nbsp;diharapkan mampu meneguhkan dan memperkuat wawasan spiritual,&amp;nbsp;memperkaya pengetahuan dan&amp;nbsp;teknis&amp;nbsp;para penggerak tani organik. Dengan kekayaan yang dimilikinya diharapkan para penggerak mampu mentransfer spirit, nilai serta pengetahun kepada rekan-rekan petani lain. Kebutuhan untuk berjejaring pun akan semakin meluas, bukan hanya dalam pemasaran, tetapi terutama berbagi spirit, pengetahuan dan keterampilan teknis. Di tangan para penggerak yang cerdas, gerakan pertanian organik akan semakin kuat dan meluas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bertolak dari latarbelakang itulah, PSE Regio Jawa akan menyelenggarakan Refleksi Karya Pelayanan Pastoral Pertanian&amp;nbsp;Organik. Kegiatan ini bertujuan:&amp;nbsp;memberikan penyegaran dan pengayaan spiritualitas para penggerak dan praktisi tani organik Komisi PSE Regio Jawa, meningkatan pengetahuan dan pemahaman mengenai gerakan pertanian organik bagi para penggerak tani organik dan membangun jaringan antar para penggerak dan praktisi tani organik PSE Regio Jawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertemuan kali ini memiliki alur sebagai berikut,&amp;nbsp;pertemuan memakai metode lingkaran pastoral, meski tidak secara ketat dengan empat&amp;nbsp;tahap yang akan dilewati yaitu: tahap&amp;nbsp;pengalaman di mana setiap Komisi PSE keuskupan dimohon menyusun bahan sharing mengenai seluruh&amp;nbsp;karya pelayanan pastoral tani organik yang selama ini dijalankannya. Artinya,&amp;nbsp;hal sekecil apapun dalam rangka pastoral tani organik sebaiknya dituangkan secara tertulis. Tahap analisis,&amp;nbsp;setiap&amp;nbsp;keuskupan dimohon juga merumuskan kekuatan dan peluang serta hambatan dan tantangan yang dihadapi di setiap keuskupan dalam pengembangan tani organik. Tahap refleksi iman, peserta&amp;nbsp;merefleksikan pengalaman berpastoral tani organik dikonfrontasikan dengan pangalaman peserta dari keuskupan lain, pengalaman eksposure serta pengantar refleksi dari narasumber. Dan diakhiri dengan tahap rencana tindak lanjut ketika&amp;nbsp;setiap keuskupan merumuskan rencana tindak lanjut pengembangan karya pelayanan pastoral tani organik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkenaan dengan kegiatan eksposure yang bertujuan&amp;nbsp;memperkaya wawasan serta memperdalam refleksi, seluruh peserta dilibatkan dalam proses eksposure ke dua tempat yang terkait&amp;nbsp;dengan pengembangan gerakan tani organik. Ialah, Yayasan Pakem yang membuat kompos dari&amp;nbsp;cacing yang dirintis dan dikembangkan oleh Romo Tan Sui, SJ dan&amp;nbsp;Joglo Tani di&amp;nbsp;Godean. Sementara berkenaan dengan refleksi iman atas karya pastoral pertanian organik akan dipandu oleh&amp;nbsp;Romo Ageng Marwoto, SJ dan Romo Sunu, SJ.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan yang dirancang bagi&amp;nbsp;utusan dari setiap PSE keuskupan Regio Jawa masing-masing sebanyak&amp;nbsp;10 orang perwakilan yang terdiri dari unsur, Komisi PSE, APP dan PPSM serta para penggerak pertanian&amp;nbsp;organik, petani organik dan calon petani organik, mitra tani organik (suplier produk organik, komunitas konsumen produk organik). Sampai jumpa di Godean, Sleman, Yogyakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-517885337705507097?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/517885337705507097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/517885337705507097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/06/refleksi-karya-pastoral-pertanian.html' title='Refleksi Karya Pastoral Pertanian Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nkBKUesPUVA/TsYgwalwKYI/AAAAAAAABq4/oEEjKGnc-ps/s72-c/tani.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5514564657991282677</id><published>2011-06-13T22:56:00.000-07:00</published><updated>2011-06-21T06:06:06.889-07:00</updated><title type='text'>Dari Lokakarya Pemberdayaan Aktivis dan Perangkat Pastoral</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Off7uZEo6aQ/Tfb5GWRlepI/AAAAAAAABkE/4W7nT2D8LjQ/s1600/dt1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="117" src="http://1.bp.blogspot.com/-Off7uZEo6aQ/Tfb5GWRlepI/AAAAAAAABkE/4W7nT2D8LjQ/s200/dt1.jpg" t8="true" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_dw6sJmr4XI/Tfb5KDH7fWI/AAAAAAAABkI/d9lahRq_ePM/s1600/dt2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="163" src="http://4.bp.blogspot.com/-_dw6sJmr4XI/Tfb5KDH7fWI/AAAAAAAABkI/d9lahRq_ePM/s200/dt2.jpg" t8="true" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 4-5 Juni 2011, Komisi PSE memfasilitasi seksi sosial paroki se-Kevikepan Surabaya Utara, Barat dan Selatan dalam acara Lokakarya Pemberdayaan Aktivis dan Perangkat Pastoral. Acara yang dihadiri seksi sosial paroki dan ketua DPP bidang kerasulan umum itu bertujuan agar: pengurus seksi sosial&amp;nbsp;memahami wawasan tentang Ardas, meliputi: rumusan Ardas, tuntutan Ardas, review gerak pastoral, review perangkat pastoral, seksi PSE, opsi karya sosial pemberdayaan, pendataan kaum petani dan kaum muda yang perlu diberdayakan dan 9 langkah pengelolaan program. Selain itu&amp;nbsp;membantu&amp;nbsp;seksi sosial&amp;nbsp;memiliki semangat untuk mengimplementasikan Ardas sesuai dengan peran dan tanggungjawab masing-masing, juga dalam kebersamaan dengan komunitas&amp;nbsp;lain dan&amp;nbsp;membuat rancangan implementasi Ardas &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peserta yang hadir&amp;nbsp;sebanyak 36 orang,&amp;nbsp;berasal dari 19 paroki dari 21 yang diundang. Paroki yang tidak hadir dari Paroki St. Maria Ratu Damai, Pogot dan St. Maria, Gresik. Dari 36 peserta yang hadir, 83% atau sekitar 30 orang berasal dari seksi sosial dan DPP bidang kerasulan umum. Sedangkan 17% atau sekitar 6 orang berasal diluar unsur PSE , misalnya dari DPP bidang pastoral lainnya.&amp;nbsp;Secara umum bisa dikatakan bahwa tingkat kehadiran&amp;nbsp;sesuai dengan target peserta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada kesempatan test, terjadi peningkatan antara hasil pre test dengan post test. Jika dilihat dari nilai rata-rata peserta yang sebelumnya 51,41, meningkat&amp;nbsp;menjadi 67,56. Namun peningkatan tersebut belum siginifikan. Hal tersebut memberikan makna,&amp;nbsp;start awal peserta akan pemahaman konsep Ardas masih kurang sehingga nilai dasarnya juga masih rendah 51.41. Lagipula, pemahaman akan konsep Ardas tidak bisa&amp;nbsp;melalui pelatihan saja. Proses implementasi&amp;nbsp;memberikan pemahaman lebih terhadap konsep Ardas. Selain itu, menjadi "PR" bagi tim Komisi&amp;nbsp;bahwa pembelajaran Ardas harus terus digaungkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila dikategorikan dalam nilai baik dan kurang baik, antara pre test dan post test, terdapat peningkatan nilai baik (&amp;gt;70), dari 11,76% menjadi 54%. Namun hal itu belum mencapai 75% seperti yang menjadi target indikator keberhasilan dalam pelatihan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan berdasarkan paroki yang menjadi peserta pelatihan ini, Paroki St. Maria, Kepanjen memiliki nilai rata-rata tertinggi, menyusul Paroki St. Yakobus dan St Michael, Perak. Namun hal tersebut belum bisa mewakili keseluruhan umat yang ada di paroki tersebut berkenaan dengan&amp;nbsp;pemahaman Ardas. Memang ada beberapa paroki yang menunjukkan progres yang cukup menonjol pada pre test dan post test, yakni Paroki Kristus Raja, St. Michael, St.&amp;nbsp;Vincentius a Paulo serta Gembala Yang Baik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Analisa singkat di atas hanya evaluasi keberhasilan kegiatan dalam ranah kognitif. Sedangkan ranah afektif cukup berhasil, hal ini&amp;nbsp;dibuktikan dengan semangat para peserta pada saat berdiskusi. Masing-masing paroki mengemukakan isu yang muncul dari&amp;nbsp;paroki dan mendiskusikan ide dasar, sebagai solusi atas isu tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasil akhir, rancangan program tiap kevikepan&amp;nbsp;sudah dirumuskan. Kevikepan Surabaya Barat akan mengadakan Pelatihan Kewirausahaan untuk orang yang mau dan yang belum punya usaha dengan dukungan CSR&amp;nbsp;PT. Ciputra Surya, Tbk. Kevikepan Surabaya Utara merancang pendataan kaum muda yang membutuhkan bantuan wirausaha dan pendataan perusahaan yang dapat menjadi rekanan&amp;nbsp;berwirasuaha. Sementara Kevikepan Surabaya Selatan fokus mensosialisasikan Credit Union kepada DPP dan mendorong umat dalam gerakan menabung. Tidak hanya itu,&amp;nbsp;setiap paroki masih merumuskan kegiatannya yang akan dikumpulkan tanggal 18 juni 2011. &lt;em&gt;(Ibu Elisabeth Supriharyanti, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandala, Surabaya dan tim Komisi PSE Keuskupan Surabaya)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5514564657991282677?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5514564657991282677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5514564657991282677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/06/dari-lokakarya-pemberdayaan-aktivis-dan.html' title='Dari Lokakarya Pemberdayaan Aktivis dan Perangkat Pastoral'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Off7uZEo6aQ/Tfb5GWRlepI/AAAAAAAABkE/4W7nT2D8LjQ/s72-c/dt1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-238455159345568086</id><published>2011-06-11T00:23:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T23:11:02.390-07:00</updated><title type='text'>Pengembangan Wahana Pembelajaran Pertanian Organik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-n6xLrBco-kA/TfMZkTKpyyI/AAAAAAAABh4/lQw57JNSutU/s1600/P1170701.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://1.bp.blogspot.com/-n6xLrBco-kA/TfMZkTKpyyI/AAAAAAAABh4/lQw57JNSutU/s200/P1170701.JPG" t8="true" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JHRBCOKxGN8/TfMZCguVFpI/AAAAAAAABhw/fq7Oj9Duo2g/s1600/cepu2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-JHRBCOKxGN8/TfMZCguVFpI/AAAAAAAABhw/fq7Oj9Duo2g/s200/cepu2.jpg" t8="true" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qNrO1CJtfbw/TfMY-bZELxI/AAAAAAAABhs/U6zELAVoVcs/s1600/cepu3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/-qNrO1CJtfbw/TfMY-bZELxI/AAAAAAAABhs/U6zELAVoVcs/s200/cepu3.jpg" t8="true" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none;"&gt;Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Surabaya sejak tahun 2006, telah mencanangkan program pengembangan pertanian organik. Program ini&amp;nbsp;hendaknya dilakukan di Paroki yang memiliki basis pertanian atau umatnya berprofesi sebagai petani. Program ini selaras dengan kesadaran baru masyarakat untuk menghidupi&amp;nbsp;gaya hidup sehat dengan pangan organik. Prioritas program Arah Dasar Keuskupan Surabaya tahun 2009-2019 menetapkan, pengembangan kewirausahaan bagi petani dan kaum muda,&amp;nbsp;terintegrasi dengan pengembangan pertanian organik. &lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none;"&gt;&lt;strong&gt;Keprihatinan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pencanangan program ini berkaitan dengan berbagai bentuk keprihatinan yang dialami masyarakat dewasa ini. khususnya kaum petani. Para petani yang berjuang dan menghabiskan sebagian besar waktunya di ladang atau sawah ternyata tidak menikmati hasil yang maksimal. Biaya produksi yang sangat tinggi berkaitan dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia telah membuat kondisi petani tetap terpuruk. Hasil produksi yang dijual di pasar, tidak mampu meningkatkan kesejahteraan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbagai himbauan untuk meningkatkan taraf hidup para petani lewat aneka gerakan, tidak disertai dengan program pemberdayaan para petani itu sendiri. Program pemberdayaan yang seharusnya menjadikan&amp;nbsp;para petani menjadi tuan bagi tanah yang dimilikinya, membuat mereka justru berpindah menjadi agen pupuk atau agen pestisida kimia. Sementara itu, para petani tidak memiliki akses informasi yang cukup berkaitan dengan peningkatan kapasitasnya. Tanah garapan atau lahan yang bisa dijadikan tempat belajar untuk meningkatkan kualitas para petani, hampir tidak tersedia atau jika ada belum diolah. Dalam dekade terakhir ini, himbauan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tidak disertai dengan tersedianya media belajar bagi para petani untuk meningkatkan produktifitas pangan atau meningkatkan kesejahteraannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbagai wacana untuk mengembangkan aneka pangan alternatif sesuai kondisi sosial budaya setempat, terbatas&amp;nbsp;pada wacana. Karena tidak disertai&amp;nbsp;kegiatan nyata agar para petani bisa melihat dan mencontoh. Selain itu, ada keprihatinan yang mendalam terhadap kesehatan pangan. Hanya untuk mengejar hasil besar, para petani selalu meracuni tanah, meracuni produk pertanian dengan zat-zat kimia lewat pupuk dan pestisida yang justru merusak tanah. Tanpa disadari, hal ini&amp;nbsp;mengganggu kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi hasil produksi pertanian.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gerakan Nyata&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Keprihatinan ini memicu lahirnya&amp;nbsp;gerakan nyata untuk mengembangkan pertanian&amp;nbsp;terintegrasi. Memang beberapa tempat, seperti di Paroki&amp;nbsp;St. Yosep, Blitar, Stasi St. Hilarius, Klepu, Paroki St. Maria, Ponorogo, Paroki St. Yusup, Ngawi dan Gubug Lazaris di Paroki St. Yosep, Kediri&amp;nbsp;sudah memulai pertanian organik. Selain itu,&amp;nbsp;Wahana Patria, SDK St. Maria, Blitar&amp;nbsp;yang dikelola para suster Abdi Roh Kudus serta SDK St. Theresia dan SDK St. Maria, Surabaya mulai terlibat dalam pengembangan pelestarian lingkungan. Bahkan kedua SDK tersebut&amp;nbsp;mendapatkan penghargaan nasional Adiwiyata tahun 2010 dan 2011. Yakni,&amp;nbsp;penghargaan lingkungan hidup yang diberikan pada sekolah-sekolah yang melaksanakan program pelestarian lingkungan. Berbagai komunitas dan kelompok tani,&amp;nbsp;termasuk Paroki St. Wilibrordus, Cepu,&amp;nbsp;secara konsisten menjalankan kegiatan berwawasan organik. Mereka memanfaatkan lahan untuk penghijauan, memproduksi pupuk dan pestisida &amp;nbsp;organik, membuat biogas dan mengolah lahan secara organik. Namun disadari bahwa gerakan ini&amp;nbsp;tidak cukup, karena masih dibutuhkan media belajar bagi para petani yang secara nyata mempraktekkan sistem pertanian terintegrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Tani Bumi Berseri,&amp;nbsp;dimoderatori&amp;nbsp;Rm. Siprianus Yitno, Pr,&amp;nbsp;menanggapi keprihatinan tersebut dengan mengembangkan Wahana Pembelajaran Pertanian Organik. Wahana tersebut mengambil tempat di&amp;nbsp;eks sekolah&amp;nbsp;di Jl. Bontang No. 7, Mentul, Kelurahan Karang Boyo, Kecamatan Cepu.&amp;nbsp; Pada saat&amp;nbsp;mencari lahan, ada permintaan dari Dewan Pastoral Paroki Cepu untuk memanfaatkan&amp;nbsp;bekas SMAK St. Louis,&amp;nbsp;yang ditutup karena kekurangan siswa. Lahan seluas 3 hektar, lengkap dengan bangunan sekolah&amp;nbsp;bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Komisi PSE Kevikepan Cepu, Seksi Sosial Paroki dan Kelompok Tani Bumi Berseri memanfaatkan lokasi tersebut untuk dijadikan lahan percontohan pertanian terintegrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan pengembangan wahana tersebut ialah,&amp;nbsp;menyiapkan lahan untuk konservasi aneka ragam pangan lokal dan konservasi lingkungan,&amp;nbsp;menyiapkan fasilitas pelatihan bagi para petani untuk memulihkan tanah, membuat pupuk organik, membuat obat pembasmi hama alami dan biogas. Tidak hanya itu, kegiatan lain ialah, menyiapkan tempat penampungan hasil pertanian, menyiapkan&amp;nbsp;laboratorium sederhana untuk pertanian terintegrasi dan&amp;nbsp;tempat berkumpul para petani untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perencanaan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahap persiapan, akan dilakukan perbaikan&amp;nbsp;ruangan&amp;nbsp;yang tidak terurus,&amp;nbsp;mempersiapkan lahan, membuat kolam resapan dan saluran&amp;nbsp;air, membuat pagar hidup keliling lahan dan mencari aneka tanaman pangan lokal untuk dibudidayakan.&amp;nbsp;Selanjutnya, akan dimulai&amp;nbsp;memelihara ternak sehingga dapat&amp;nbsp; memanfaatkan kotoran untuk&amp;nbsp;pembuatan pupuk organik. Pada tahap pengorganisasian akan diusahakan mengumpulkan kelompok tani untuk mendapatkan gambaran mengenai program pelestarian lingkungan, menyiapkan berbagai paket pelatihan&amp;nbsp;seperti memproduksi pupuk, menganalisa kondisi&amp;nbsp;dan mengolah tanah secara baik. Selain itu, wahana&amp;nbsp;akan&amp;nbsp;mengajak kelompok belajar,&amp;nbsp;tingkat SD sampai PT untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat&amp;nbsp;belajar. Sehingga&amp;nbsp;kepedulian terhadap situasi dan kondisi pertanian serta pengembangannya semakin meluas.&amp;nbsp;Para petani akan memberdayakan diri&amp;nbsp;menjadi nara sumber&amp;nbsp;untuk memberikan contoh dan pendidikan kepada generasi muda. Karena,&amp;nbsp;yang bisa menolong petani adalah petani itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan ini memiliki sasaran terutama pengembangan kapasitas bagi anggota&amp;nbsp;kelompok tani organik Bumi Berseri. Tidak hanya itu&amp;nbsp;juga bagi&amp;nbsp;masyarakat petani yang memiliki lahan di sekitar&amp;nbsp;wahana pembelajaran. Artinya,&amp;nbsp;keberadaan wahana&amp;nbsp;mendukung program pemerintah setempat (RT, RW, dan perangkat desa). Tak ketinggalan, para petani dari paroki se-Keuskupan Surabaya dapat belajar untuk&amp;nbsp;mengembangkan pertanian organik di Parokinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rancangan pengembangan Wahana Pembelajaran Pertanian Organik ini akan dibagi dalam 3 jangka waktu. Pada jangka pendek&amp;nbsp;(1 tahun) kegiatan yang dilakukan ialah membenahi jalan masuk, mengurus batas tanah secara hukum, memperbaiki penginapan&amp;nbsp;bagi&amp;nbsp;penjaga, membuat pematang setebal 2 meter dan menanam pagar hidup sepanjang 300 meter, membuat 4 kolam resapan (2 kolam sebesar 10 x10 meter dan&amp;nbsp;2 kolam sebesar 6 x 6 meter). Sebagai pendukung, wahana&amp;nbsp;membuat pula kandang untuk memelihara kambing dan sapi&amp;nbsp;sekaligus&amp;nbsp;digester (tempat) biogas 2 unit. Pada jangka menengah (2-5 tahun) kegiatan yang dilakukan ialah&amp;nbsp;membeli 10 ekor kambing dan&amp;nbsp;sapi, menggarap lahan, mengumpulkan aneka tanaman pangan lokal dan memberi pelatihan pembuatan biogas,&amp;nbsp;pupuk dan pestisida organik. Pada jangka panjang (di atas 5 tahun)&amp;nbsp;kegiatan yang dilakukan ialah mengupayakan sertifikasi organik tanaman pangan lokal dan sayuran, membuat tempat pelatihan pertanian terpadu dan menjual produk hasil serta&amp;nbsp;jasa pelatihan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Program yang difasilitasi oleh Komisi PSE KWI, Komisi PSE&amp;nbsp;serta&amp;nbsp;Keuskupan Surabaya, satu demi satu mulai berjalan.&amp;nbsp;Yang menarik, usaha pemanfaatan lahan tak produktif untuk kegiatan pelestarian lingkungan dapat distereotisasi paroki lain yang memiliki lahan, apalagi lahan tidur, untuk dikelola demi&amp;nbsp;kegiatan positif. Harapannya program ini menjawab berbagai keprihatinan dalam rangka pengembangan pertanian organik,&amp;nbsp;tidak hanya himbauan dan wacana. Karena kegiatan yang dilakukan berkenaan dengan pemuliaan tanah, konservasi tanaman pangan dan lingkungan hidup.&amp;nbsp;Pada akhirnya, wahana ini menjadi tempat belajar bagi siapapun, khususnya para petani.&amp;nbsp;&lt;em&gt;(disarikan dari hasil PCM Tim Pelaksana Wahana Pembelajaran Pertanian Organik yang difasilitasi oleh Bp. Ferdinandus Locke)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-238455159345568086?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/238455159345568086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/238455159345568086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/06/pengembangan-wahana-pembelajaran.html' title='Pengembangan Wahana Pembelajaran Pertanian Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-n6xLrBco-kA/TfMZkTKpyyI/AAAAAAAABh4/lQw57JNSutU/s72-c/P1170701.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-6589736921003926143</id><published>2011-05-06T20:33:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T20:37:12.631-07:00</updated><title type='text'>Bencana Akibat Ulah Manusia dan Iklim</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Frekuensi bencana terkait iklim dan cuaca di Indonesia terus meningkat dalam 10 tahun terakhir. Perubahan iklim kerap menjadi kambing hitamnya. Namun, kekeliruan pengelolaan lingkungan sebenarnya berperan besar terhadap peningkatan frekuensi bencana.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2011 menyebutkan, tren bencana di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Jika tahun 2002 hanya tercatat 190 kejadian bencana, pada 2010 terdapat 930 kejadian. Bahkan, tahun 2009 terjadi 1.954 kejadian.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dari total kejadian bencana itu, hampir 79 persen merupakan bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang terkait cuaca dan iklim. Bencana ini antara lain banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, kebakaran hutan dan lahan, serta gelombang pasang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, tahun 2002 frekuensi bencana hidrometeorologi di Indonesia yang tercatat 134 kejadian. Tahun 2010 mencapai 736 kejadian. Pada tahun 2009 melonjak sampai 1.234 kejadian.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Tak hanya peningkatan frekuensi, dampak dan luasan bencana hidrometeorologi juga meningkat. Jumlah korban bencana hidrometeorologi di Indonesia yang tewas selama delapan tahun terakhir mencapai 4.936 orang, sebanyak 17,7 juta orang menderita dan mengungsi, ratusan ribu rumah rusak, dan lebih dari 2,5 juta rumah terendam banjir. Jumlah korban ini memang relatif kecil dibandingkan dengan korban tewas akibat bencana geologi, seperti gempa bumi dan tsunami, yang berkisar 200.000 jiwa dalam kurun waktu sama.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dalam laporan Global Humanitarian Forum (&lt;em&gt;The Anatomy of Silent Crisis, 2009&lt;/em&gt;) disebutkan, bencana hidrometeorologi akan menjadi ancaman terbesar manusia pada tahun-tahun mendatang. Laporan ini secara lugas menuding perubahan iklim sebagai penyebabnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Benarkah peningkatan bencana hidrometeorologi hanya disebabkan oleh iklim yang berubah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Laporan &lt;em&gt;Intergovernmental Panel on Climate Change&lt;/em&gt; (IPCC) menunjukkan, iklim global telah berubah. Pengaruh perubahan iklim menyebabkan pola curah hujan berubah. Tidak hanya tebal hujan yang berubah, intensitas, durasi, dan sebaran curah hujan juga berubah. Perubahan iklim global juga sangat memengaruhi perubahan pola aliran, seperti penurunan kecenderungan curah hujan tahunan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Secara global, curah hujan tahunan terus meningkat di daerah lintang tengah dan tinggi di belahan bumi utara, yakni 0,5-1 persen per dekade, kecuali di Asia Timur. Di daerah subtropik, rata-rata curah hujan berkurang sekitar 0,3 persen per dekade, sedangkan di daerah tropis meningkat 0,2-0,3 persen per dekade selama abad ke-20. Sebagian besar terjadi di belahan bumi bagian utara. Adapun perubahan curah hujan di belahan bumi bagian selatan belum diketahui secara komprehensif.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sutopo mengatakan, beberapa penelitian skala kecil telah banyak dilakukan di daerah-daerah tropis di belahan bumi bagian selatan, seperti di Indonesia. Perubahan iklim global telah membawa perubahan pola musim lokal.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Secara rata-rata jumlah hujan pada musim hujan (Oktober hingga Maret untuk wilayah Jawa) adalah 80 persen dari jumlah hujan tahunan. Perubahan pola musim terjadi dengan pertambahan lama musim kering dan peningkatan rasio jumlah hujan pada musim hujan terhadap musim kering yang meningkat di atas 80 persen. Hal ini semakin diperparah dengan terjadi penurunan akumulasi total hujan tahunan secara persisten hampir di seluruh wilayah Indonesia dalam lima dekade terakhir sehingga potensi air tercurah berkurang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Selain itu, suhu bumi meningkat 0,7 celsius dalam 100 tahun. ”Secara teori, peningkatan suhu ini meningkatkan penguapan. Kadar air di udara meningkat. Stabilitas udara terganggu sehingga lebih tidak stabil. Akibatnya, gejala-gejala cuaca lebih dinamis. Kondisi ekstrem pun bisa lebih sering terjadi,” kata Hidayat Pawitan, pakar perubahan iklim dari Institut Pertanian Bogor.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Alam dan manusia&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Menurut Hidayat, kesalahan pengelolaan lingkungan juga berpengaruh besar terhadap meningkatnya intensitas bencana di Indonesia. Karena itu, dia mengingatkan, agar perubahan iklim tidak menjadi kambing hitam atas segenap bencana yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Perubahan iklim terjadi sangat lama dan dampaknya juga masih diperdebatkan. Namun, kesalahan pengelolaan manusia bisa berlangsung dengan cepat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sutopo mengatakan, meningkatnya bencana hidrometeorologi di Indonesia karena kombinasi antara perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Bahkan, penelitian dia di Jawa menemukan, faktor degradasi lingkungan lebih dominan menjadi penyebab banjir dibandingkan perubahan iklim.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Menurut Sutopo, laju kerusakan hutan di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan kemampuan pemerintah dalam merehabilitasi lahan. Misalnya, selama 2003-2006, laju kerusakan hutan 1,17 juta hektar per tahun, sedangkan kemampuan pemerintah dalam merehabilitasi hutan dan lahan setiap tahun hanya sekitar 450.000 hektar. Artinya, terjadi defisit lebih dari 550.000 hektar per tahun. Terlebih lagi keberhasilan penanaman pohon dalam rehabilitasi hutan dan lahan tidak mencapai 100 persen sehingga degradasinya akan lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dengan laju kerusakan lingkungan yang terus meningkat, Sutopo memperkirakan, bencana hidrometeorologi di Indonesia akan terus meningkat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Berdampak luas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sutopo mengingatkan, bencana hidrometeorologi tak hanya menyebabkan korban tewas, tetapi juga mengancam hidup manusia dalam bentuk kegagalan panen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Penelitian ahli meteorologi dari IPB, Rizaldi Boer, menyebutkan, perubahan iklim ekstrem menyebabkan hilangnya produksi padi di Indonesia pada periode 1981-1990 sekitar 100.000 ton per tahun per kabupaten. Pada kurun 1991-2000 gagal panen meningkat menjadi 300.000 ton. Diramalkan pada tahun 2050 terjadi defisit gabah kering sebesar 60 juta ton di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;"Jika bencana ini tak diantisipasi secara menyeluruh, bukan hanya bencana alam yang terjadi, tetapi juga bencana sosial. Harus ada perubahan fundamental dalam pengelolaan lingkungan," kata Sutopo. &lt;em&gt;(Kompas, 4 Mei 2011)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-6589736921003926143?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/6589736921003926143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/6589736921003926143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/05/bencana-akibat-ulah-manusia-dan-iklim.html' title='Bencana Akibat Ulah Manusia dan Iklim'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-2160475865796599675</id><published>2011-05-06T00:16:00.000-07:00</published><updated>2011-06-11T09:21:57.659-07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Credit Union Karya Bersama Pare</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Lv8wJwLljg4/TckntET--aI/AAAAAAAABhY/X2KIak1ZdpQ/s1600/AKTIF+DI+KANTOR.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" j8="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-Lv8wJwLljg4/TckntET--aI/AAAAAAAABhY/X2KIak1ZdpQ/s200/AKTIF+DI+KANTOR.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VIcg94DMUq4/Tckn3lVRF0I/AAAAAAAABhc/I_S7dWGqnXM/s1600/HADIAH+KE+1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" j8="true" src="http://3.bp.blogspot.com/-VIcg94DMUq4/Tckn3lVRF0I/AAAAAAAABhc/I_S7dWGqnXM/s200/HADIAH+KE+1.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-94FHEiAbfQY/TckoFqoqTjI/AAAAAAAABhg/LIBvlvVto38/s1600/DEPAN+KANTOR.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" j8="true" src="http://1.bp.blogspot.com/-94FHEiAbfQY/TckoFqoqTjI/AAAAAAAABhg/LIBvlvVto38/s200/DEPAN+KANTOR.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Pada hari Minggu 23 Januari 2011, CU Karya Bersama menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke VII di Gedung Kesenian Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. RAT yang dihadiri oleh 432 anggota atau sekitar 90 % dari seluruh anggota, merupakan kesempatan bagi anggota CU berkumpul untuk mendengarkan laporan pertanggungjawaban CU tahun buku 2010. Rm. P. Kusnugroho, Pr yang merupakan perintis dan anggota luar biasa CU juga hadir. Pada RAT itu, anggota dapat mengetahui perkembangan CU, baik dari sisi keanggotaan, aset dan sisa hasil usaha. Semua elemen tersebut selama setahun ini ternyata menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Selain mendapatkan sisa hasil usaha, anggota juga mendapatkan kesempatan memperoleh hadiah &lt;em&gt;door prize&lt;/em&gt;. RAT juga merupakan kesempatan melihat kembali CU&amp;nbsp;serta merencanakan dan menyepakati gerakan CU supaya lebih baik. Semua itu agar CU Karya Bersama semakin menjadi lembaga keuangan mikro berbasis anggota yang profesional, terpercaya dan tidak berhenti belajar untuk mengambil langkah maju.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Bp. Alexander Lasmidi, selaku Ketua CU pada kesempatan itu mengucapkan selamat datang dan mengharapkan agar RAT menjadi ajang pendidikan kepada anggota untuk mengajak anggota baru bergabung dengan CU. Sementara Bp. Andreas Suparman, yang juga staff Komisi PSE Keuskupan Surabaya,&amp;nbsp;memaparkan tentang program komputer yang akan dijalankan dalam pengelolaan keuangan. Ia memberikan&amp;nbsp; penjelasan keuntungan penggunaannya dan biaya yang harus ditanggung, dari pengelolaan manual ke sistem digital tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sementara Bp. Banuari, Sekertaris Desa Manggis, mengharapkan agar CU dapat berkembang pesat dan menjadi besar di Desa Manggis dan sekitarnya. Sedangkan Bp. Kristiono dari Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan Kabupaten Kediri mengatakan bahwa RAT penting sebagai kesempatan penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas kepada anggota CU. Program komputer yang akan dipakai menunjukkan bahwa CU semakin berkembang. Ia pun menilai bahwa laporan dalam bentuk buku kali ini sudah lebih baik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;CU Karya Bersama yang berjalan sekitar 7 tahun memang telah berbadan hukun No. 286/BH/KDK/13.17/X/1999. CU kini telah memiliki organisasi yang tertata. Di dalamnya terdapat unsur penasehat, pengawas, ketua, sekertaris, bendahara dan bagian pendidikan. Sedangkan tempat pelayanan ada 2 lokasi yang diampu oleh seorang yang berada di masing-masing tempat pelayanan. Sementara karyawan ada 4 orang yaitu manajer, bidang pembukuan, kasir dan petugas lapangan. Selama kurun waktu tersebut, berlangsung rapat-rapat pengurus dan pendidikan bagi anggota baru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;CU Karya Bersama memiliki aset yang cukup menggembirakan sebesar Rp. 899.888.294. Jumlah anggota saat ini sebanyak 598 orang. Selama setahun terakhir, CU membantu biaya sosial kesehatan bagi 11 orang dan biaya sosial pendidikan 29 orang. Jumlah pinjaman yang beredar di kalangan anggota sebesar Rp. 128.803.100. Dalam RAT tersebut dibagikan sisa hasil usaha sebesar total&amp;nbsp;Rp. 60.000.000 yang dibagi untuk seluruh anggota. Anggota yang tidak&amp;nbsp;aktif hanya menerima 70 % dari sisa hasil usaha yang seharusnya diterima. Hal ini berubah dibandingkan dengan tahun sebelumnya, semua anggota selalu mendapatkan sisa hasil usaha yang sama sebesar 100 %. Perubahan ini diharapkan akan memicu anggota untuk aktif dan memenuhi kewajibannya sebagai anggota CU.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Perubahan lain ialah, penggunaan program komputer dan buku anggota yang akan diganti dengan buku baru. Bagi anggota lama, biaya buku tetap gratis, sedangkan untuk buku yang lain akan dikenakan biaya ganti cetak. Dalam kategorisasi anggota, mereka yang tidak melakukan simpanan wajib selama 4 kali dan tidak memenuhi kewajiban pinjaman selama 3 bulan, akan dikategorikan sebagai anggota yang tidak rutin. Selain itu ada kebijakan baru, bahwa&amp;nbsp;balas jasa simpanan akan berubah menjadi 70 % dan balas jasa pinjaman berubah menjadi 30 %. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dalam pemaparan rencana strategis, beberapa rancangan CU Karya Bersama ialah: mendorong setiap anggota mengajak calon anggota baru, membentuk koordinator kelompok di wilayah tertentu dengan harapan di setiap RT ada seorang koordinator, memberdayakan tempat pelayanan dan memberikan pelatihan manajemen kepada karyawan. Selain itu, akan ada upaya perbaikan dan perluasan kantor, sehingga pelayanan kepada anggota menjadi lebih nyaman. Satu hal lagi, CU Karya Bersama menargetkan pada Mei 2011 bergabung dengan Puskopdit yang dipandang bisa membuat CU Karya Bersama semakin berkembang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;CU Karya Bersama yang berada di kawasan pedesaan&amp;nbsp;hadir dalam upaya membangun ekonomi kerakyatan. Harapannya di tahun-tahun mendatang CU semakin maju dan menjadi kesempatan bagi anggota untuk saling membantu. Hal ini tidak lepas dari peran pengurus, pengawas dan penasehat yang bekerjasama dengan baik. Tak kalah penting&amp;nbsp;anggota yang aktif dan&amp;nbsp;turut mewartakan kabar gembira melalui CU. Sebagaimana slogan CU Karya Bersama ialah maju dan sejahtera bersama anggota. Pula&amp;nbsp;kepada siapapun, dari paroki manapun yang hendak mengembangkan CU&amp;nbsp;dapat mengenal CU Karya Bersama. &lt;em&gt;(Disarikan dari buku: RAT Ke-VII CU Karya Bersama)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-2160475865796599675?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2160475865796599675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2160475865796599675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/05/perkembangan-credit-union-karya-bersama.html' title='Perkembangan Credit Union Karya Bersama Pare'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Lv8wJwLljg4/TckntET--aI/AAAAAAAABhY/X2KIak1ZdpQ/s72-c/AKTIF+DI+KANTOR.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-1069094626724222914</id><published>2011-04-05T04:25:00.000-07:00</published><updated>2011-07-05T04:28:49.886-07:00</updated><title type='text'>Masa Pra Paska, Masa Aksi Puasa Pembangunan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masa Pra Paska dikenal sebagai masa pertobatan. Masa pertobatan identik dengan masa pantang dan puasa. Pantang dan puasa menjadi bagian pokok dalam Aksi Puasa Pembangunan atau yang biasa disebut masa APP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak awal kekristenan, pertobatan merupakan bagian penting dalam kehidupan umat Katolik. Yesus sendiri mengatakan, "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mrk 1: 15). Pertobatan diletakkan pada masa Prapaska, ketika umat diajak menyadari dosa dan kelemahan. Dosa yang sama itu telah menyebabkan Yesus menderita dan wafat di salib. Maka, tepat sekali di masa menjelang Paska umat memasuki Retret Agung dalam suasana pertobatan, merefleksikan dosa dan kelemahan demi mengenangkan Yesus yang menderita. Umat Katolik diajak untuk menapak tilas sengsara Yesus dalam laku pantang dan puasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di masa prapaska ada beberapa hal yang dapat ditempuh untuk mewujudkan pertobatan itu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Doa, Ibadat Jalan Salib dan Sarasehan Iman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di masa prapaska, umat Katolik diharapkan mendalami dan menghayati kehidupan doanya. Penghayatan doa tentu bukan memperbanyak doa hafalan semata. Selain doa pribadi, umat sebaiknya berdoa dalam ibadat atau dalam persekutuan umat. Doa yang dimaksud tentu juga doa bagi kepentingan masyarakat dan Gereja. Doa tersebut berupa pula Ibadat Jalan Salib setiap Jumat selama masa Prapaska. Dalam ibadat jalan salib, umat diajak mengenangkan sengsara Yesus sambil merefleksikan diri bahwa karena dosa dan kesalahan yang sama, manusia jalam ini pun telah menyelibkan Yesus. Selain itu, ada pula bahan sarasehan iman yang dipakai di lingkungan atau komunitas basis umat. Sarasehan iman ini didasarkan pada tema dan kerangka dasar APP Nasional yang dikontekstualkan dalam sub tema di setiap Keuskupan. Sarasehan iman mengajak umat mengamati situasi dunia saat itu, menilai dan menemukan jawaban iman atas situasi tersebut dan terdorong untuk melakukan aksi nyata untuk memperbaiki situasi sebagai bentuk pertobatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Pantang dan Puasa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puasa dan pantang dapat dimaknai sebagai ikut serta dalam penderitaan Yesus dengan menahan diri serupa latihan rohani. Keduanya tidak sekedar tidak makan makanan tertentu, mengurangi jatah makanan atau bahkan tidak makan atau minum sama sekali. Puasa dan pantang diaharapkan sebagai ajakan untuk kesediaan mengikuti Yesus, mengatur diri lebih baik serupa mati bersama Yesus (Kol 2: 20). Puasa dan pantang tidak sekedar berhenti dengan mengurangi, namun efek dari mengurangi itu diwujudkan dalam rupa amal kasih kepada sesama yang membutuhkan. Pantang dan puasa menemukan essensi dalam penyangkalan diri. Penyangkalan diri dapat berupa mengamalkan sikap jujur, kerja keras, tahu batas, solider dan sebagainya. Dengan demikian puasa dan pantang selain merupakan ekspresi sukarela mengikuti Yesus yang menderita juga merupakan bentuk solidaritas nyata kepada mereka yang berkekurangan dan menderita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Amal Kasih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amal kasih merupakan bentuk nyata dari pertobatan. Pertobatan menemukan bentuk yang berdampak baik kepada sesama jika disertai ungkapan silih atas dosa. Jika seorang berdosa dan mengakui kesalahan akan semakin sempurna dilengkapi dengan niat baik untuk melakukan amal kasih. Kisah Zakheus yang mengembalikan apa yang didapatnya secara tidak halal merupakan bentuk ungkapan pertobatan yang bertanggung jawab. Amal kasih merupakan bentuk nyata pertobatan, ialah perubahan dari sikap yang mengabaikan perintahNya, menjadi sikap berbalik kepadaNya. Di masa Prapaska, amal kasih diungkapkan dalam dimensi persekutuan, dihayati dan dijalani sebagai tindakan bersama. Tindakan itu berupa mengumpulkan dana, sebagai bagian dari pantang dan puasa. Pengumpulan dana tersebut digunakan untuk membantu karya-karya nyata bagi siapapun yang membutuhkan. Kegiatan itu disebut sebagai Aksi Puasa Pembangunan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-1069094626724222914?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1069094626724222914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1069094626724222914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/04/masa-pra-paska-masa-aksi-puasa.html' title='Masa Pra Paska, Masa Aksi Puasa Pembangunan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5337322341454741887</id><published>2011-03-16T01:47:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T08:25:01.561-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Ekologis Tahun Anak Keuskupan Surabaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Anak-anak adalah harapan, tetapi mereka juga generasi yang akan berkecil hati bila akan mewarisi dunia yang rusak&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani &lt;em&gt;oikos&lt;/em&gt; ("habitat") dan &lt;em&gt;logos&lt;/em&gt; ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita berbicara mengenai strategi konservasi lingkungan, artinya kita berbicara kesinambungan umat manusia dan mahkluk hidup dan di dalamnya yang mengandung nilai-nilai kebebasan, keadilan, serta nilai moral lainnya. Mengelola alam dan lingkungan yang benar dengan memperhatikan ekspresi kebudayaan dan pengetahuan adalah ungkapan iman. Ini penting mengingat Indonesia dan Asia ditandai oleh suku-suku, kepercayaan, kebudayaan, dan sumberdaya alam yang sangat bervariasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang penting dalam pengelolaan alam ini adalah, &lt;em&gt;“Sebelum kita berbicara mengenai orang, masyarakat atau lembaga di luar kita, sebaiknya kita mengelola diri kita lebih dahulu”.&lt;/em&gt; Yaitu mari kita perbarui wajah Gereja, keluarga, paroki, sekolah, karya-karya sosial, hingga menjadi lebih ramah lingkungan. Lebih dari itu, memang persolan lingkungan adalah persoalan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini efek dari pengelolaan alam yang tidak benar sudah mulai beraksi, para petani dan pedagang atau kelompok menengah ke bawah,yang mata pencahariannya sangat membutuhkan keteraturan musim, adalah mereka yang sangat terpukul dengan perubahan iklim, polusi dan kwalitas air yang buruk memberikan dampak negatif terutama pada masyarakat miskin. Anak-anak adalah harapan, tetapi mereka juga generasi yang akan berkecil hati bila akan mewarisi dunia yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua makhluk hidup diciptakan untuk kebaikan masa lalu, sekarang dan masa depan manusia. Maka pengunaan hasil bumi ,tumbuh-tumbuhan dan binatang, tidak bisa dipisahkan dari dasar-dasar moral. Yaitu tindakan ini tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan kebaikan orang lain, termasuk manusia yang hidup dimasa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berbicara tentang perubahan sikap terhadap alam, ini bisa dikerjakan lewat aksi sosial secara langsung (gerakan nyata). Tetapi, jangan dilupakan sarana pendidikan, yang bisa dilakukan lewat sekolah dan media. Menang perlu disayangkan kalau belakangan ini praktik pendidikan di sekolah tereduksi menjadi sekedar pengajaran. Pendidikan diartikan sebagai transfer ilmu pengetahuan. Padahal esensi pendidikan adalah membentuk pribadi yang baik. Termasuk baik dalam mengelola lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks lebih luas, pendidikan yang terdiri dari formal (sekolah), non formal (kursus,pelatihan), dan informal (keluarga, masyarakat), adalah merupakan sarana yang sangat penting dalam mendidik masyarakat. Peradaban manusia yang dicapai sekarang, merupakan hasil dari sebuah pendidikan, melalui media buku secara estafet masyarakat generasi terdahulu mewariskan ilmu pengetahuan, ketrampilan, sekaligus kearifan, kepada generasi yang hidup sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada catatannya, &lt;em&gt;“Memang pendidikan dan media merupakan sarana yang bisa berpengaruh baik terhadap alam, kehidupan dan manusia. Akan tetapi, pendidikan dan media juga bisa berpengaruh sangat buruk terhadap hal yang sama”.&lt;/em&gt; Kerusakan alam belakangan ini disebabkan oleh manusia. Hutan dibabat habis, untuk diambil kayunya. Atmosfir bumi telah berubah menjadi “rumah kaca” hingga terjadi pemanasan global yang berdampak pada anomali cuaca. Mengapa manusia merusak alam dan mengotori atmosfir dengan membakar bahan bakar fosil ? Karena generasi terdahulu telah mewariskan skill dan ilmu pengetahuan baik melalui buku maupun pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan penting, akhirnya melalui buku dan media pulalah manusia disadarkan bahwa perusakan alam itu harus dihentikan. Karena belajar melalui buku dan media sebagian orang sadar apabila pengrusakan ini terus berlanjut, bukan hanya alam yang akan rusak, kehidupan pun akan punah. Termasuk kehidupan umat manusia di planet ini. Pertanyaannya. &lt;em&gt;“Apakah kita menjadi salah satu orang yang sadar akan kelestarian lingkungan hidup kita ini ?” (Rm. Siprianus Yitno, Pr, moderator PSE Kevikepan Cepu dan Kelompok Tani Bumi Berseri).&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5337322341454741887?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5337322341454741887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5337322341454741887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/03/mengelola-alam-dan-lingkungan-dengan.html' title='Refleksi Ekologis Tahun Anak Keuskupan Surabaya'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-4424670970492052145</id><published>2011-03-13T23:40:00.000-07:00</published><updated>2011-06-11T09:19:08.193-07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Credit Union Rintisan Di Kawasan Urban</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Apa kabar pertumbuhan CU rintisan di kawasan urban, Surabaya dan Sidoarjo ? Selama minggu ini ada 2 CU yang mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). RAT kedua CU tersebut memang masih seumur jagung. Sejalan dengan usia keduanya yang masih balita, di bawah 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua CU memiliki karakteristik yang hampir sama. Mereka didukung oleh Pastor Paroki, Dewan Pastoral Paroki dan Seksi Sosial Paroki setempat. Pada awal pembentukannya, kegiatan tersebut hendak meningkatkan karya pelayanan sosial dari sekedar karitatif, menuju pemberdayaan. Tak heran sebagian dari anggota di kedua CU tersebut dulu adalah penerima bantuan Warung Projo dan penerima Beras Murah. Ada beberapa pembelajaran berkenaan dengan perjalanan kedua CU tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perkembangan 2 CU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- CU Cipta Mandiri, Sidoarjo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CU Cipta Mandiri, Sidoarjo, baru pertama kali mengadakan RAT pada 10 Maret 2011. Sejak melakukan &lt;em&gt;soft opening&lt;/em&gt; pada 4 April 2010, kini CU yang dirintis Seksi Sosial Paroki St. Maria Annuntiata memiliki 164 anggota. Para anggota terdiri dari beragam profesi. Mereka terdiri dari penarik becak, tukang sampah, tukang parkir hingga karyawan swasta, wiraswastawan, dosen serta rohaniwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurus yang hanya 3 orang serta 1 orang pelaksana, dari 10 orang yang dahulu mengawali berdirinya CU, mengakui bahwa keberadaan CU setahun ini belum maksimal. Hal itu disebabkan oleh terbatasnya orang yang terlibat sebagai pengurus dan pelaksana. Memang semula ada banyak orang dalam perintisan CU, namun setelah mengalami berbagai kesulitan beberapa mengundurkan diri. Pemaparan situasi ini diharapkan menggugah beberapa anggota yang memiliki kualifikasi layak namun sukarela untuk duduk dalam struktur organisasi CU, misalnya untuk posisi penasehat, pengawas dan pengurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Fenny Susilowati, selaku Ketua CU Cipta Mandiri, menghimbau kesadaran untuk bekerja bersama-sama melayani sesama anggota, sehingga fungsi kontrol dan lainnya dapat berjalan demi kemajuan CU. &lt;em&gt;"RAT juga dimaksudkan untuk menyampaikan rencana pembenahan CU. Dalam hal ini menjajaki kemungkinan penambahan atau perubahan personel pengawas, pengurus demi mendapatkan organisasi yang lengkap",&lt;/em&gt; tutur perempuan wirausahawati ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 hal yang akan diperhatikan dalam jangka pendek. Pertama, sosialisasi, yang akan menjadi kesempatan memperkenalkan CU serta memberi pendidikan kepada anggota. Sosialisasi, antara lain akan dilakukan kepada siswa-siswi sekolah agar menabung sejak dini sehingga mereka kelak mendapat kemudahan keuangan di bidang pendidikan. Termasuk sosialisasi ke lingkungan-lingkungan, sehingga CU semakin dikenal dan membantu mereka yang mengalami kesulitan ekonomi, ke pabrik-pabrik yang jumlahnya cukup banyak di kawasan Sidoarjo serta sosialisasi kepada anggota dalam perjumpaan di kantor pelayanan CU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pengawasan, yang masih kurang maksimal. Pengawasan masih dilakukan oleh pengurus kepada pelaksana. Sampai saat ini pengeluaran uang untuk pinjaman melalui prosedur yang ditandatangani pengurus memang aman. Sedangkan jumlah pinjaman disesuaikan dengan jumlah tabungan anggota. Sistem ini disebut sebagai sistem &lt;em&gt;tanggung renteng&lt;/em&gt; oleh anggota lain. Resikonya, tabungan anggota yang dijadikan tanggungan tidak dapat diambil hingga pinjaman peminjam lunas. Hal ini memiliki sisi positif karena menunjukkan solidaritas sesama anggota dan tetap menuntut tanggung jawab peminjam yang telah dibantu oleh anggota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan lain yang akan dijadikan prioritas adalah peningkatan kapasitas pengurus CU. Bentuknya berupa peningkatan pengetahuan serta kinerja pengurus dan pengelola. Selama ini sebenarnya telah ada upaya pembelajaran melalui kunjungan ke CU Sawiran, Malang dan CU Mandiri, Probolinggo. Bahkan 3 orang pelaksana dipersiapkan dengan mengikuti training di CU Sawiran. Serta menghadiri pertemuan Komisi PSE Keuskupan Surabaya yang menjadi kesempatan berjejaring dengan CU se Keuskupan. CU Cipta Mandiri juga menjajaki kerjasama dengan CU Sawiran yang menjadi induk, tempat belajar dan konsultasi. Tidak hanya itu, pengurus menjajaki kemungkinan Puskopdit Jatim Timur memberikan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, ada beberapa hal positif yang menggembirakan. Misalnya manajemen resiko prosedur pengeluaran pinjaman melalui rekomendasi pengurus, selama ini berjalan aman. Prediksi positif pada akhir April 2011 berupa, perolehan laba operasional untuk pembagian sisa hasil usaha (SHU). Juga rencana paket dana sosial yang juga diperoleh dari laba operasional. Tanda baik lainnya ialah meningkatnya jumlah penabung selama 5 bulan terakhir. Pada bulan Desember 2010 tercatat 259 penabung, dari 164 anggota. Selain itu terjadi solidaritas dengan sistem &lt;em&gt;tanggung renteng&lt;/em&gt; dalam peminjaman. Tak bisa dipungkiri, keberadaan CU turut membantu kebutuhan anggota untuk mencukupi kebutuhan seperti: pendidikan (50%), pinjaman modal kerja (25%), pinjaman konsumtif (12,5%) dan pinjaman lain (12,5%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang masih perlu ditingkatkan ialah: kesadaran menabung anggota yang berkenaan dengan rasa memiliki dan memajukan kesejahteraan bersama. CU masih perlu menyisihkan biaya untuk cadangan resiko dan menyisihkan dana amortisasi renovasi kantor serta training. Termasuk penerapan Standard Operasional Manajemen (SOM) dan Standard Operasional Prosedur (SOP). Selain pemilihan penasehat, pengawas serta peningkatan kesadaran anggota melalui pendidikan. Dengan demikian 3 pilar CU yaitu: pendidikan, solidaritas dan keswadayaan dapat berlangsung dengan baik. Semua itu menjadi bagian dari pencapaian target proyeksi tahun 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Kopdit Swadaya Sejahtera, Pakis Tirtosari, Surabaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopdit Swadaya Sejahtera, yang berdiri sejak tahun 2008, mengadakan RAT ketiga. Perkembangan yang dicapai Kopdit yang dirintis oleh Seksi Sosial Paroki Redemptor Mundi, Surabaya cukup membanggakan. Jika pada RAT kedua, tahun lalu, jumlah anggota sebanyak 295 orang, tahun ini terjadi penambahan menjadi 378 orang (133 lelaki dan 245 perempuan). Sementara jumlah aset per Desember 2009 sebesar Rp. 77.913.067,-, meningkat per Desember 2010 menjadi sebesar Rp. 1.164.959.339,-. Jumlah pinjaman yang beredar, tahun lalu sebesar Rp. 821.200.000,- , sedangkan tahun ini Rp. 787.000.000,-. Yang patut dipuji, pinjaman yang dimanfaatkan oleh anggota adalah pinjaman untuk kegiatan produktif. Secara berurutan pinjaman yang beredar berdasarkan banyaknya jumlah peminjam ialah: pinjaman produktif (41 orang), pendidikan (30 orang), kesehatan (9 orang), bangunan (21 orang), konsumtif (26 orang) dan tabungan (1 orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun mengalami kemajuan, namun pengurus tetap berupaya untuk meningkatkan sumber daya anggota, jumlah anggota serta mengatasi kelalaian pinjaman anggota. Karena itu, RAT 2011 mengambil tema, Meningkatkan Kualitas Anggota Melalui Pendidikan Dasar. Pengurus melihat bahwa anggota Kopdit Swadaya Sejahtera perlu disemangati terus agar meningkatkan budaya menabung. Karena tidak ada kesuksesan tanpa menabung. Bp. Fransiskus Budiono dalam kesempatan laporan memaparkan program kerja antara lain: mengadakan rapat bulanan bagi pengurus, pegawas dan staf yang membahas agenda rapat, resiko pinjaman, rencana kaderisasi dan persiapan bergabung dengan Puskodit serta memikirkan kekosongan pengurus dan pengawas. Memang secara organisasi, Kopdit Swadaya Sejahtera telah memiliki kepengurusan yang lengkap seperti penasehat, pengurus, panitia kredit, pengawas dan pelaksana harian. Mereka adalah 12 orang yang rela melibatkan diri dalam karya pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang menjadi Tim CU Komisi PSE itu menambahkan, "&lt;em&gt;Kopdit saat ini sedang mempersiapkan status berbadan hukum, targetnya pada tahun buku 2011 Kopdit sudah berbadan hukum. Berkenaan dengan pola kebijakan, Kopdit merencakan peninjauan poljak pada bulan Oktober 2011. Berkenaan dengan pendidikan, Kopdit akan mengadakan pendidikan anggota dengan tujuan memberikan konsep dasar koperasi kredit dan menumbuhkan tanggung jawab anggota sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa Kopdit. Sedangkan panitia kredit akan meningkatkan volume pinjaman dan mengurangi kemacetan pinjaman untuk mengindari kerugian".&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kopdit mengupayakan pendidikan terus menerus berupa pendidikan dasar anggota dan pengurus kopdit. Pendidikan kepada anggota merupakan kegiatan bagi anggota baru untuk mengenal, menambah pengetahuan, menumbuhkan rasa kecintaan kepada Kopditnya. Para anggota baru akan mendapat materi berupa: apa dan bagaimana Kopdit, profil, produk simpanan, visi misi, perkreditan serta anggaran pendapatan dan belanja. Sedangkan pendidikan bagi pengurus serta staf ialah pelatihan manajemen demi meningkatkan keterampilan dan keahlian operasional manajemen, menambah wawasan dan pengetahuan perkoperasian demi meningkatkan profesionalitas pelayanan. Kopdit Swadaya Sejahtera bahkan telah menarik minat Paroki St. Aloysius Gonsaga dan Paroki St. Yakobus, Surabaya untuk mendapatkan penjelasan tentang gerakan yang telah menjadi prioritas program Komisi PSE Keuskupan Surabaya tersebut. Hasilnya nyata, paroki Aloysius Gonsaga kini menjadi tempat pelayanan, sehingga Kopdit Swadaya Sejahtera kini memiliki 3 tempat pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apresiasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rm. Severinus Sabtu, CM, Pastor Paroki St. Maria Annuntiata, mengomentari perkembangan CU di parokinya, berdasarkan laporan simpanan saham yang di dalamnya meliputi simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela. Jika simpanan saham dikonfrontasikan dengan jumlah anggota, tampak bahwa komitmen anggota untuk menabung masih lemah. Anggota belum sadar apa arti menjadi anggota CU. Padahal anggota harus sadar bahwa menjadi anggota CU berarti pertama-tama untuk menyejahterakan dirinya bersama anggota lain, dengan cara menabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor yang selama ini aktif dalam pengembangan CU di Bintuni, Papua Barat ini mengatakan bahwa pendirian CU harus dimulai dari komitmen sekelompok orang yang menabung terlebih dulu. Idealnya kelompok itu sangat solid dan cenderung homogen. Mereka memperkuat diri dulu selama beberapa waktu. Setelah aset kelompok kuat, CU bisa memperluas anggota secara inklusif. Itu yang terjadi dengan bebeberapa CU yang kini memiliki aset besar. Misalnya CU Sawiran yang semula berlaku bagi kalangan pendidikan milik kongregasi CDD. Mereka lebih mudah memperkuat kewajiban simpanan karena ada komitmen pemotongan gaji dari anggota serta menggarap tabungan para siswa. Efeknya, simpanan saham anggota terkumpul segera dan pasti. Sedangkan untuk kelompok yang heterogen dan langsung terbuka untuk umum, memang baik. Namun perlu komitmen yang sangat kuat dari semua anggota untuk menabung. Memang, tantangan untuk kelompok yang heterogen lebih besar. Meskipun demikian Pastor asli Flores ini memiliki rencana, &lt;em&gt;"Saat ini fokus perhatian adalah penguatan kapasitas pengurus sehingga mereka sungguh memahami bagaimana membawa CU secara benar. Kemungkinan yang sedang dijajaki adalah meminta pendampingan dari jejaring CU"&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Bp. Lukas Indratmoko, manajer dan karyawan CU Kosayu Malang, mengomentari perkembangan Kopdit Swadaya Sejahtera yang cukup signifikan, menyebutnya sebagai sesuatu yang menarik. Pengalamannya bertahun-tahun diundang paroki-paroki dalam perintisan CU, membuatnya berkesimpulan, memulai CU di paroki lebih sulit. Kenyataannya memang hanya beberapa paroki yang sampai pada niat mendirikan CU. Di antara CU yang muncul pun sedikit saja yang bertahan dengan sehat. Kalau pun akhirnya mendirikan CU, perkembangannya lambat. Menurutnya ada beberapa faktor, antara lain komitmen pengurus Dewan Pastoral Paroki yang multi kepentingan, sehingga tidak fokus dan tidak serius. Tak ketinggalan, situasi kelompok atau anggota yang heterogen, di mana tidak semua memiliki cita-cita yang sangat kuat untuk menjadi sejahtera, karena memang beberapa di antara mereka sudah sejahtera. Hal ini berbeda dengan komunitas para guru serta karyawan di kalangan pendidikan kongregasi CDD yang sama-sama ingin membangun kesehteraan melalui CU. Hal yang sama terjadi pada para guru dan karyawan di SMUK St. Louis, Surabaya. Mereka memiliki kesadaran untuk membangun kesejahteraan dengan menabung yang dipermudah dengan melakukan pemotongan gaji. Hal ini pula yang terjadi di kalangan persekolahan milik kongregasi SPM, CU Mandiri, Probolinggo atau CU kalangan nelayan di Prigi, Trenggalek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman mendampingi beberapa CU, pengurus Puskopdit Jatim Timur ini menunjuk betapa penting dukungan para pastor dan DPP, entah berupa fasilitasi atau dorongan agar umat membentuk &lt;em&gt;communio&lt;/em&gt;, solider dan mengingatkan agar umat mau menabung. Tak kalah penting peran sumber daya manusia yang disemangati oleh “roh” CU. Artinya, perlu ada pioner yang memiliki komitmen sungguh-sungguh, mau turun, mau jatuh bangun, bahkan rela menanggung kesulitan yang ditemui. &lt;em&gt;“Tidak perlu banyak-banyak, 3 orang yang berkualitas, cukup untuk merintis CU yang baik”&lt;/em&gt;, lanjutnya. &lt;em&gt;“Selain itu, pembentukan CU tidak terbatas atau tidak hanya berbasis paroki. Tidak hanya berbasis teritorial, tetapi juga berbasis kategorial. Karena, masih terbuka peluang prospektif pembentukan CU bagi kelompok-kelompok homogen seperti karyawan paroki, karyawan keuskupan, yayasan serta rumah sakit yang memang sifat kelompoknya tetap dan ikatan paguyubannya telah solid”&lt;/em&gt;. Ia melihat peluang bahwa kota Surabaya memiliki potensi sekaligus permasalahan keuangan yang kompleks, di mana CU dapat menjadi sarana mewujudkan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komisi PSE&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, Gereja Katolik kembali mencetuskan CU sebagai pintu masuk menghadapi situasi kemiskinan dalam SAGKI 2005. SAGKI 2005 mengamanatkan pengembangan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) / Credit Union (CU) untuk pemberdayaan sosial ekonomi di kalangan umat basis. Komisi PSE Keuskupan Surabaya telah menetapkan pengembangan LKM / CU sebagai prioritas program selama 10 tahun ke depan, dalam Arah Dasar. Komisi PSE menempatkan diri sebagai perangkat pastoral Keuskupan yang menjalin komunikasi dan koordinasi dengan semua pihak terkait, termasuk perangkat pastoral di paroki, demi terlaksananya Arah Dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konkretnya, Komisi PSE melakukan kegiatan animasi serta fasilitasi kepada umat agar&amp;nbsp;melaksanakan prioritas program. Jika paroki atau kelompok umat (kelompok karyawan, kelompok lingkungan dan lain-lain) hendak mendirikan CU, Komisi PSE akan mendukung. Jika pendirian primer CU hendak dilakukan di setiap paroki, itu merupakan keputusan setiap paroki atau kelompok umat. Atau jika paroki-paroki di satu kevikepan justru bersatu, membentuk satu primer CU saja yang kuat dengan tempat pelayanan di setiap paroki, itupun keputusan masing-masing. Komisi PSE tidak mencampuri dan tidak akan membuat primer CU, tetapi mendorong agar&amp;nbsp;kesadaran sosial&amp;nbsp;umat tumbuh dan&amp;nbsp;berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi PSE akan menjalankan peran sebagai promotor&amp;nbsp;Se&lt;em&gt;lf Help Promotion&lt;/em&gt; &lt;em&gt;(SHP)&lt;/em&gt; dan bukan S&lt;em&gt;elf Help Organization (SHO)&lt;/em&gt;, di mana CU seharusnya lebih mendahulukan orang, &lt;em&gt;communio, &lt;/em&gt;daripada uang. Melalui seksos paroki, Komisi PSE mendorong peran sebagai kompas gerakan yang menjaga perilaku etis dan moralitas CU, menghadirkan kontrol sosial, evaluator yang mendahulukan mutualisme dan kualitas, bukan sekedar kuantitas. Ia&amp;nbsp;bertindak melakukan kajian-kajian kontemporer agar CU tidak berkiprah secara eksklusif-sektoral dan membentuk&amp;nbsp;CU yang sungguh-sungguh memberdayakan. &lt;em&gt;(A. Luluk Widyawan, Pr, Ketua Komisi PSE Keuskupan Surabaya). &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-4424670970492052145?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4424670970492052145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4424670970492052145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/03/rintisan-cu-di-kawasan-urban.html' title='Perkembangan Credit Union Rintisan Di Kawasan Urban'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-7217061610726442664</id><published>2011-02-19T09:08:00.000-08:00</published><updated>2011-02-19T09:10:41.591-08:00</updated><title type='text'>Kerangka Dasar APP 2011 Keuskupan Surabaya: Murid Kristus Mewujudkan Iman Yang Sejati</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-c0zt50pWTbE/TV_5azEcK9I/AAAAAAAABgM/ZQHtTUAjnEI/s1600/app%2Bks%2B003.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; DISPLAY: block; HEIGHT: 317px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575449102488710098" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-c0zt50pWTbE/TV_5azEcK9I/AAAAAAAABgM/ZQHtTUAjnEI/s320/app%2Bks%2B003.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi Puasa Pembangan (APP) dengan tema besar Pemberdayaan Kesejatian Hidup (2007-2011) sampai pada bagian akhir. Gerakan APP menjadi bahan pembelajaran umat beriman selama empat tahun. Buah hasil pembelajaran yang mulai tampak adalah kesadaran akan berbagai keprihatinan, semangat baru dan gerakan pembaruan ke arah pemberdayaan hidup bersama dalam masyarakat, komunitas, lingkungan hidup dan keluarga. Harapannya pembelajaran ini bukan menjadi pembekalan bagi orang lain, tetapi terutama bagi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi Puasa Pembangunan merupakan kesempatan seluruh umat membarui komitmen terhadap hidup beriman dalam semangat pertobatan. Tema Nasional APP 2011 mengajak umat merenungkan Kesejatian Hidup dalam Perwujudan Diri. Tujuannya adalah setiap umat Katolik sadar akan panggilannya sebagai murid-murid Kristus yang sejati dalam perjuangan hidup di dunia. Berdasarkan tema tersebut, Sub Tema APP 2011 Keuskupan Surabaya dirumuskan selaras dengan Arah Dasar yaitu mengajak umat menjadi Murid Kristus Mewujudkan Iman Yang Sejati dalam persekutuan, memiliki iman yang dewasa, guyub, penuh pelayanan dan misioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Sub Tema APP 2011 mengajak umat sebagai Murid Kristus Mewujudkan Iman Yang Sejati dalam persekutuan, memiliki iman yang dewasa, guyub, penuh pelayanan dan misioner. Hal itulah selaras dengan keprihatinan situasi umat beriman saat ini masih sarat dengan aneka tantangan dan hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan umat beriman dalam melibatkan diri dalam persekutuan belum menjadi kesadaran dan tanggung jawab. Keterlibatan dalam persekutuan seringkali karena terpaksa karena tidak ada orang lain yang terlibat. Keterlibatan itu didasarkan pada motivasi untuk mendapatkan, bukan dipahami sebagai kesempatan untuk memberi atau menyumbang bagi persekutuan umat beriman. Lebih parah lagi, keterlibatan dalam persekutuan seringkali hanya menjadi kegiatan sampingan belaka, untuk mengisi waktu luang. Atau jika memiliki kepedulian dalam persekutuan, kepedulian itu masih terbatas pada sikap loyalitas pada kelompok tertentu, berdasarkan tradisi dan bercorak karitatif saja. Kepedulian dalam persekutuan belum dimaknai secara baru sebagai sikap loyalitas menggereja secara universal, berdasarkan opsi dan bercorak transformatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada keprihatinan bahwa umat menghayati imannya tidak secara mendalam. Ibaratnya, iman tidak dibangun di atas batu karang yang kokoh, namun dibangun di atas pasir. Tidak mengherankan jika angin dan topan menerpa, iman pun goyah. Aneka persoalan antara lain relasi dengan Tuhan dalam keseharian, persoalan ekonomi, persoalan banyaknya tanggung jawab dan tantangan sikap kritis seringkali mengoyahkan iman. Umat beriman menjadi ragu-ragu akan kebenaran yang diimaninya. Bahkan yang memprihatinkan iman menjadi mati. Umat beriman meninggalkan imannya menghadapi dunia yang lebih mengagungkan kedangkalan dan kenyamanan semu. Padahal sepanjang sejarah Gereja terbukti bahwa iman Katolik tak lepas dari aneka tantangan. Umat beriman perlu belajar dari kekayaan sejarah, pengetahuan dan kerohanian Gereja yang meskipun menghadapi aneka tantangan justru iman tidak goyah, melainkan setia berpegang pada iman yang benar. Contoh-contoh dari kekayaan Gereja itu menampilkan proses belajar, menampilkan rahmat tersembunyi serta kesetiaan iman yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keprihatinan lain berkenaan dengan keguyuban. Relasi persaudaraan di kalangan umat beriman tidak berkembang. Trend jaman sekarang yang mengagungkan individualisme, materialisme, hedonisme membuat umat beriman terjebak dalam mementingkan diri sendiri, mengutamakan pemenuhan kebutuhan duniawi serta mengagungkan kepuasan diri semata. Situasi ini mengancam paguyuban umat beriman. Kesempatan bertemu tidak diadakan. Atau jika diadakan, pertanyaan yang muncul ialah apa keuntungan hadir dalam paguyuban umat beriman. Kebersamaan yang guyub tidak terwujud, komunikasi dan kesempatan untuk saling mengenal tidak tercipta. Kegiatan kunjungan, sharing perasaan, kesempatan refleksi bersama tidak diadakan dan tidak menjadi tujuan yang harus diperjuangkan dengan sadar dan terencana. Suasana persekutuan, berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, bersatu saling percaya, berbagi, bertekun dan dengan sehati, makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati hanya impan belaka. Tidak mengherankan di antara umat beriman ada yang menyeberang sungai Yordan menemukan rumput tetangga yang lebih hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pelayanan, kesadaran umat beriman untuk melibatkan dalam pelayanan masih perlu ditingkatkan. Mereka yang terlibat dalam pelayanan ada yang melakukan dengan terpaksa, berat hati, dan ogah-ogahan. Pelayanan itu dilakukan asal jalan, sekedar rutinitas dan demi kewajiban. Di lain pihak, banyak pula umat beriman yang memiliki kapasitas dan latar belakang ilmu serta memiliki jabatan atau posisi di bidang kerja yang sebenarnya bisa disumbangkan dalam pelayanan. Namun betapa tidak mudah membangkitkan semangat pelayanan. Hambatan keterlibatan dalam pelayanan itu dapat berupa ketidaktahuan, perasaan tidak ada prestise, persepsi in-efektifitas atau bahkan kecenderungan individualisme. Memang melakukan pelayanan perlu sikap tulus dan gembira. Tidak jarang mereka yang terlibat dalam pelayanan mengalami godaan untuk berhenti melayani. Terlebih jika mengalami bahwa pelayanannya tidak membawa hasil atau hanya membuat putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka misioner, kesadaran misioner umat beriman masih perlu ditumbuhkan. Memang benar, sebagaimana Yesus sendiri mengutus para murid, kita pun mengalami diutus ke tengah-tengah serigala. Namun perutusan Yesus jelas yaitu pergi dan mewartakan kabar gembira keselamatan. Medan perutusan memang serba penuh tantangan. Tantangan dari luar seperti, kenyataan kemiskinan dan ketidakadilan, politik itu kotor, korupsi serta isu kristenisasi membuat aneka usaha perbaikan seolah menemui dinding tebal yang tak mungkin diruntuhkan. Atau tantangan dari dalam seperti, perasaan tidak layak, takut menghadapi ancaman dan kehilangan kemapanan, serta puas terlibat di seputar altar saja selalu melemahkan niat untuk menumbuhkan kesadaran misoner dan melibatkan diri dalam aneka persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Sub Tema APP 2011 mengajak umat beriman Keuskupan Surabaya sebagai Murid Kristus Mewujudkan Iman Yang Sejati dengan kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengembangkan semangat melibatkan diri dalam persekutuan hidup menggereja. Artinya mengembangkan semangat mau terlibat, peduli dalam kehidupan menggereja bukan sekedar memenuhi tanggung jawab dan kewajiban sebagai orang yang telah dibaptis saja, namun sebagai ungkapan syukur dan perwujudan kehendak baik, sebagai kesempatan untuk memberi, bukan lagi mencari dan memperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengembangkan iman yang dewasa. Artinya, memiliki iman yang berakar mendalam. Iman yang dibangun di atas batu karang yang kokoh, bukan dibangun di atas pasir. Sekalipun aneka persoalan menerpa iman tidak goyah melainkan setia berpegang pada iman yang benar sebagaimana diwariskan oleh para Rasul. Hal itu ditempuh dengan semangat belajar dari contoh-contoh kekayaan Gereja yang menampilkan proses belajar, rahmat tersembunyi serta kesetiaan iman yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengembangkan relasi kebersamaan untuk menciptakan komunitas yang guyub. Hal ini ditempuh dengan cara mengembangkan relasi persaudaraan di kalangan umat beriman, mengadakan kesempatan perjumpaan, komunikasi, saling mengenal. Melalui kegiatan kunjungan, sharing perasaan, kesempatan refleksi bersama yang diperjuangkan dengan sadar dan terencana. Dengan demikian tercipta suasana persekutuan, sebagaimana komunitas jemaat perdana yang selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, bersatu saling percaya, berbagi, bertekun dan dengan sehati, makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menumbuhkan semangat pelayanan, bukan dengan terpaksa, berat hati, sekedar rutinitas dan demi kewajiban. Namun melayani dengan tulus dan gembira, ikut ambil bagian dalam karya penciptaan, sesuai dengan kapasitas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menumbuhkan kesadaran misioner umat beriman sebagaimana diutus oleh Yesus sendiri pergi ke tengah-tengah serigala, untuk mewartakan kabar gembira keselamatan di tengah medan yang serba penuh tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dasar Biblis – Teologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergilah, jadikanlah segala suku bangsa muridKu, demikian sabda Yesus (Mat 28:19). Hal ini memberikan kita gambaran betapa pentingnya panggilan Yesus bagi kita yang sudah percaya kepadaNya, agar kita menjadi muridNya. Selain itu menegaskan bahwa Yesus menghendaki umat beriman yang percaya adalah menjadi muridNya dan bukan sekedar orang percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Sakramen Baptis umat beriman menjadi muridNya. Baptis menandai dan mengefektifkan umat beriman bergabung dalam komunitas Gereja. Dengan baptis, umat beriman menjadi anggota umat Allah, di lain pihak umat juga menyatakan bahwa mereka mau menerima orang tersebut menjadi anggota bersama mereka. Persatuan dengan umat Allah ini terjadi karena orang yang dibaptis disatukan tidak hanya dengan Kristus, tetapi juga dengan semua orang yang sudah terlebih dahulu bersatu dengan Kristus. Umat Allah adalah sebuah persekutuan orang-orang yang sudah berada dalam persekutuan dengan Yesus Kristus dan dalam Yesus Kristus. Inilah Tubuh Mistik Kristus. Persatuan (yang tak kelihatan) dengan Kristus diungkapkan dengan persatuan (yang kelihatan) dengan anggota-anggota Gereja yang konkret. Rasul Paulus menegaskan bahwa kita semua dibaptis menjadi Satu Tubuh (1 Kor 12:13). Rasul Petrus mengungkapkan bahwa melalui Baptis, orang disatukan dengan anggota-anggota yang konkret dalam kasih persaudaraan (1 Ptr 22-23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi muridNya dan percaya kepadaNya dengan menerima Sakramen Baptis tidak lepas dari tuntutan untuk meneladani Sang Guru (Luk.9:23; 14:27). Kata mengikuti berarti meneladani. Seorang murid akan menjadi seperti gurunya (Mat.10:24). Pribadi, kehidupan dan pelayanan Yesus menjadi standard bagi para murid. Kasih ilahi yang ditunjukkan dalam kerendahan hati, kesetiaan, ketaatan, dan rela berkorban menjadi pelajaran yang tak henti-hentinya untuk dipelajari dan dipraktikkan oleh sang murid. Teladan Yesus itulah yang menjadi alasan agar umat beriman sebagai Murid Kristus Mewujudkan Iman Yang Sejati dalam persekutuan, memiliki iman yang dewasa, guyub, penuh pelayanan dan misioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Persekutuan. Dalam doaNya, Yesus menghendaki agar para murid dipelihara dalam namaNya, supaya mereka menjadi satu sama seperti Yesus dan Bapa adalah satu (Yoh 17:11). Yesus pun menghendaki agar para murid menjadi satu: “sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu” (Yoh 17: 21-23). Maka demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus, tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. (Rm 12:5). Dalam satu tubuh dan satu Roh, demikian para murid dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. (bdk., Ef 4:4-5). Maka Paulus mengingatkan kita supaya sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (bdk., Flp 2:2). Sinode Luar Biasa Para Uskup (1985) mengemukakan suatu rumus pemahaman Gereja yang baru, yakni paham communio atau persekutuan. Artinya sebagai hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen. Paham ini tidak dapat dimengerti secara organisasi saja, karena paham communio juga mendasari komunikasi di antara para anggota Gereja sendiri. Karena itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab Roh Kudus yang tinggal di hati umat beriman dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman Yang Dewasa. Yesus menyerukan kepada para murid “setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir” (Mat 7: 24-26). Paulus memuji jemaat di Efesus yang karena iman mereka dalam Yesus dan kasih mereka terhadap semua orang kudus membuatnya bersyukur. Paulus mendoakan agar Bapa memberikan Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar (Ef 1:15-17). Iman itu hendaknya ditekuni, dengan tetap teguh dan tidak bergoncang dan jangan mau digeser. (Kol 1:23). Sebagaimana Yesus sendiri berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Mat 5:48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guyub. Yesus menyatakan kepada para murid bahwa “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."(Mat 18:20). Dalam pengajaran, Yesus selalu berkumpul bersama para murid (Mrk 6: 30). Lukas dalam Kisah Para Rasul menceritakan bagaimana jemaat perdana mengalami persekutuan yang sehati, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kis 2: 41-47). Dalam persekutuan yang guyub mereka mengalami kebersamaan, hidup dalam kasih karunia yang melimpah, sebagaimana diceritakan dalam Kisah Para Rasul, “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya (Kis 4: 32-35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuh Pelayanan. Yesus mengajak para murid ikut serta mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan (Mat 6:33). Karena, setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:29). Kepada pemuda saleh yang kaya bahkan Yesus memberi tantangan pelayanan, “jikalau engkau hendak sempurna pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). Petrus mengajak kita ikutserta dalam pelayanan yang sukarela, “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri” (1 Ptr 5:2). Paulus bahkan menyatakan bahwa pelayanan itu sebagai semangat pribadi tanpa upah, “Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil (Kor 9:17-18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misioner. Yesus sendiri memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua, serta memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat (Mrk 6:7). Dalam proklamasi perutusanNya, Yesus mengatakan bahwa ia diutus oleh Roh Tuhan untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin dan untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dan untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.(Luk 4: 18-19). Yesus mengajak dan mengutus kita, "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. (Mat 10: 16). Suasana itulah yang membuat Yeremia merasa tidak layak dan tidak mampu (Yer 1:4-5) dan membuat Yeremua menawar perutusan Tuhan (Yer 6:10). Meskipun Tuhan mengutus Yeremia tetap menunjukkan kesetiaanNya mengguatkan (Yer 1:7-10), memberi kemungkinan peluang (Yer 30:1-9), serta meneguhkan walaupun jaminan pasti di masa depan masih meragukan (Yer 2:1-6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pertobatan dan Pembaruan: Murid Kristus Mewujudkan Iman Yang Sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertobatan dan pembaruan merupakan undangan sekaligus keterbukaan terhadap rahmat Allah. Yesus sendiri mengatakan bahwa, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa; untuk menyelamatkan orang berdosa” (Mat 9: 13; 1 Tim 1:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan pertobatan dan pembaruan ini, umat beriman diajak untuk membarui diri kembali mengenakan semangat penyerahan diri (Luk14:33) yang artinya mengikuti teladan Sang Guru, bukan mengikuti kehendak pribadi atau trend dunia. Masa prapaskah kesempatan mendalam untuk mendengarkan SabdaNya (Yoh.8:31-32), yang berarti suatu sikap untuk memperhatikan kembali ajaran Yesus yang seringkali diabaikan. Ini merupakan aspek internal seorang murid yang bertekad bertumbuh dalam iman yang semakin dewasa. Kesempatan tinggal dalam SabdaNya berarti hidup dalam kesetiaan dan ketaatan penuh kepada Kristus. Sebagaimana kata “murid” (&lt;em&gt;disciple&lt;/em&gt;) erat kaitannya dengan kata disiplin di mana mengandung unsur kesetiaan yang terus menerus dan unsur ketaatan. Seorang murid bukan saja belajar dari apa yang diajarkan gurunya, melainkan juga mengikuti teladan dari Sang Guru. Tuhan Yesus telah meninggalkan teladan mengasihi tanpa pamrih. Sebab itu Yesus memberikan perintah kepada kepada murid-muridNya untuk saling mengasihi sesuai dengan kasih yang telah diberikanNya kepada mereka. Saling mengasihi adalah aspek eksternal seorang murid dalam kebersamaan dengan orang lain (Yoh.13:34-35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, umat beriman diajak untuk meninggalkan manusia lama yang cenderung mengabaikan keterlibatan dalam persekutuan atau memandang keterlibatan dalam persekutuan hanya sebagai sampingan belaka. Keterlibatan dalam persekutuan dengan pola lama yang terbatas pada loyalitas pada kelompok tertentu, berdasarkan tradisi dan bercorak karitatif saja perlu dihayati secara baru dengan loyalitas menggereja universal, berdasarkan opsi dan bercorak transformatif. Umat beriman diajak pula memperkokoh imannya dengan membangun iman di atas batu karang yang kokoh sehingga ketika menghadapi aneka tantangan iman tidak goyah, melainkan setia berpegang pada iman yang benar warisan para Rasul. Umat beriman diingatkan agar tidak mengikuti trend sekarang yang mengagungkan individualisme, materialisme, hedonisme dengan menciptakan kebersamaan, komunikasi dan kesempatan untuk saling mengenal. Kegiatan yang bisa dilakukan misalnya, doa bersama, kunjungan, sharing perasaan, refleksi bersama dan saling berbagi, sehingga tercipta kebersamaan yang guyub, sehati dan sejiwa. Umat beriman dimotivasi kembali agar melibatkan diri dalam pelayanan yang tulus dan gembira. Terlebih, Yesus sendiri mengutus kita murid-muridNya, diutus ke tengah-tengah serigala untuk pergi dan mewartakan kabar gembira keselamatan. Dengan demikian, murid Kristus yang melibatkan diri dalam persekutuan, memperteguh iman, menciptakan keguyuban, melibatkan diri dalam pelayanan dan perutusan berarti sedang berusaha Mewujudkan Iman Yang Sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertobatan dan pembaruan sebagai Murid Kristus Mewujudkan Iman Yang Sejati, yang selaras dengan Arah Dasar Keuskupan Surabaya perlu diiringi dengan partisipasi yang mengembangkan tiga dimensi keterlibatan personal yang saling. Yaitu sikap mengenal dan memelihara semangat yang tepat, mengembangkan pemahaman yang benar, meningkatkan daya kepeloporan dalam kebersamaan. Kita berharap segenap umat Keuskupan Surabaya semakin mengenal, mencintai dan melibatkan diri dalam gerakan bersama hidup menggereja ini. Amat indah bila ada beberapa orang yang rendah hati dan mau mendengarkan, bersedia untuk belajar dan mengembangkan diri dalam kebersamaan. Iman yang sejati terwujud secara lebih utuh dalam persekutuan di Lingkungan dan Paroki melalui interaksi langsung dan keterlibatan aktif dalam pelaksanaan panca tugas Gereja. Oleh karena itu, kegiatan di tingkat Lingkungan dan Paroki merupakan bagian amat penting dan dapat disebut sebagai inti dalam kegiatan menggereja Keuskupan. Perhatian dan daya upaya untuk mengembangkan hal tersebut diwujudkan di Keuskupan Surabaya dengan mengembangkan pola pastoral berbasis persekutuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Perutusan Untuk Pembaruan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertobatan dan pembaruan umat beriman, sebagai Murid Kristus Mewujudkan Iman Yang Sejati terwujud secara lebih utuh dalam persekutuan di Lingkungan dan Paroki, melalui interaksi langsung dan keterlibatan aktif dalam pelaksanaan panca tugas Gereja. Kegiatan di tingkat Lingkungan dan Paroki yang merupakan bagian amat penting dan dapat disebut sebagai inti dalam kegiatan menggereja Keuskupan itu antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mensyukuri rahmat Sakramen Baptis dengan mempertegas kembali semangat sebagai murid, yang terbuka, rendah hati dan percaya, mengikuti teladan Sang Guru, tekun mendengarkan SabdaNya, memupuk kesetiaan dan ketaatan terhadap ajaran Gereja, pula dalam Ekaristi, devosi, pendalaman iman serta laku puasa dan pantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melibatkan diri dalam persekutuan umat beriman, memupuk sikap peduli atau sense of belonging pada hidup menggereja dan menciptakan kesempatan yang mendukung keterlibatan dalam persekutuan. Keterlibatan dalam persekutuan berarti meninggalkan pola lama yang terbatas pada loyalitas pada kelompok tertentu, berdasarkan tradisi dan bercorak karitatif saja dan mengenakan pola baru berupa loyalitas menggereja universal, berdasarkan opsi dan bercorak transformatif. Misalnya terus belajar dan mengembangkan kapasitas diri, mendukung persekutuan serta setia hadir dalam persekutuan di tingkat Lingkungan, Stasi, Paroki, Kevikepan maupun Keuskupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memperkokoh iman, dengan membangun iman di atas batu karang yang kokoh sehingga ketika menghadapi aneka tantangan iman tidak goyah, melainkan setia berpegang pada iman yang benar warisan para Rasul. Misalnya mengembangkan relasi persaudaraan, menjaga sikap peduli atau sense of belonging pada hidup menggereja, tidak menyerah atau mundur, mampu mengelola konflik serta aneka tantangan hidup beriman dalam kesempatan-kesempatan retret dan rekoleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Melibatkan diri dan menciptakan kebersamaan, dengan mengintensifkan komunikasi dan kesempatan untuk saling mengenal. Misalnya melalui kunjungan, sharing perasaan, refleksi bersama, saling berbagi dan peduli membentuk credit union sehingga tercipta kebersamaan yang dirasakan secarnya nyata, yang guyub, sehati dan sejiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Melibatkan diri dalam pelayanan yang tulus dan gembira untuk mewartakan kabar gembira keselamatan. Setiap umat beriman menyadari kapasitas dirinya dan mengetahui apa yg menjadi kebutuhan dalam dinamika hidup menggereja, sehingga tahu di posisi mana dapat mengambil peran. Misalnya para dokter dan para medis dapat mendukung karya sosial kesehatan, guru dapat mendukung karya pendidikan, akuntan dan ahli keuangan menata pengelolaan keuangan gereja, pengusaha memberi dukungan modal usaha dan semangat berwirausaha, petani mendukung karya pertanian lestari atau karyawan yang mengembangkan diri supaya semakin kreatif. Karya pelayanan dan perutusan merupakan karya sosial yang menuntut kepeloporan proaktif dan membawa harapan terutama kepada mereka yang berkekurangan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-7217061610726442664?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7217061610726442664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7217061610726442664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/02/kerangka-dasar-app-2011-keuskupan.html' title='Kerangka Dasar APP 2011 Keuskupan Surabaya: Murid Kristus Mewujudkan Iman Yang Sejati'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-c0zt50pWTbE/TV_5azEcK9I/AAAAAAAABgM/ZQHtTUAjnEI/s72-c/app%2Bks%2B003.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-2109274943150471850</id><published>2011-02-11T19:36:00.002-08:00</published><updated>2011-02-13T05:17:54.725-08:00</updated><title type='text'>Kesejatian Diri Melalui Aksi Berbagi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pertemuan Komisi PSE dan APP Keuskupan se Regio Jawa berlangsung tanggal 29–30 Januari 2011. Acara yang diadakan di Wisma Samadi Klaten merupakan agenda rutin untuk saling sharing tentang kegiatan Komisi PSE. Setiap Keuskupan membagikan pengalaman dalam menyusun materi APP berdasarkan kerangka dasar yang dikeluarkan oleh Komisi PSE KWI. Kerangka dasar tersebut menjadi pijakan inspirasi untuk yang diterjemahkan dalam bahan pendalaman masa Pra Paskah di Keuskupan masing-masing. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keuskupan Malang menterjemahkan materi kerangka dasar APP sebagai tahun syukur, bersamaan dengan Keuskupan Malang genap berusia 50 tahun. Kesejatian diri sebagai pribadi dilihat dalam rangkaian syukur atas rahmat panggilan Allah, di mana Yesus ditampilkan sebagai teladan menuju kesejatian hidup. Selain itu, umat diajak untuk melihat dirinya sebagai bagian dari sesama, untuk menemukan diri dalam persahabatan dengan sesama. Memang diakui, saat ini ada sedikit gangguan berkaitan dengan semangat persaudaraan. Namun, di tengah tantangan persaudaraan, umat diajak untuk memiliki harapan. Ketika harapan dipelihara, ada bentuk-bentuk dalam berbagai kelompok masyarakat dalam merajut persaudaraan. Dalam rangkaian ucapan syukur, umat juga diajak menghormati dan memelihara lingkungan. Dasar pijakannya, ungkapan doa yang sangat terkenal, "Allah semesta alam. Bumi memberi kehidupan. Manusia memelihara. Allah memberkati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuskupan Surabaya mengolah materi APP berdasarkan kerangka dasar dari KWI, namun dikemas berdasarkan tema yang ditentukan. Dalam proses pengolahan tersebut, ada 5 elemen yang dijadikan perhatian. Pengolahan materi APP berdasarkan Arah Dasar Keuskupan Surabaya yang terfokus pada persekutuan murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misoner. Bahan ini disajikan dalam 3 kategori, untuk anak-anak, remaja dan orang dewasa. Para penyusun membuat panduan bagi para pemandu di paroki, wilayah dan lingkungan agar dapat mengimplementasikan dalam pertemuan di tingkat lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuskupan Purwokerto menjadikan tahun 2011 sebagai tahun syukur. Syukur karena Keuskupan Pruwokerto genap berusia 50 tahun. Bersamaan dengan Uskup Purwokerto telah genap 10 tahun menjadi Uskup. Harapannya, Keuskupan Purwokerto semakin menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah. APP Nasional yang bertema kesejatian hidup dikemas oleh Panitia APP Keuskupan Purwokerto menjadi tema, Semakin Menjadi Tanda Kerajaan Allah. Pada tahun 2011 ini, umat diajak mensyukuri berkat yang diterima sekaligus berefleksi, apakah Gereja Keuskupan Purwokerto sudah menjadi tanda Kerajaan Allah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kategori orang dewasa, umat diajak memahami dan memaknai ucapan syukur. Untuk kaum muda, Gereja Keuskupan Purwokerto mengajak mereka mengenal pribadi, potensi diri untuk berbagi, sehingga mereka menyadari sebagai masa depan Gereja dan mengembangkan potensi diri. Untuk anak-anak, memaknai ucapan syukur lebih karena Yesus mencintai anak-anak. Prosesnya, setiap Dekenat mendapat mandat untuk menyusun materi APP. Romo Deken bertanggungjawab dan Romo Paroki terlibat dan membentuk tim APP Dekanat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara, Keuskupan Bandung mengikuti tema dasar yang dibuat oleh APP Nasional. Sejak tahun 2010, Keuskupan memiliki tema sendiri namun tetap berdasar kerangka dasar dari APP Nasional. Keuskupan Bandung menangkap esensi kesejatian hidup ada dalam komunitas basis. Kesejatian hidup diharapkan diwujdkan dalam komunitas basis. Materi tersebut ditujukan kepada anak-anak, remaja, orang muda dan orang dewasa dalam pertemuan di tingkat lingkungan. Dalam proses penyusunan, komunitas-komunitas, komisi-komisi dan guru-guru turut dilibatkan. Bahan jalan salib yang disusun, dirancang dalam waktu 4 tahun sesuai dengan periode gerakan di Keuskupan Bandung. Pada bulan Februari 2011, akan ada kegiatan sosialisasi ke paroki-paroki. Harapannya, terbentuk tim yang terdiri dari 3–4 orang untuk mensosialiasikan bahan APP. Selain itu, ada bahan Novena Roh Kudus dan Tuguran. Semua bahan diarahkan agar menggerakkan umat untuk melakukan kegiatan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuskupan Agung Semarang mengangkat tema, Inilah Orang Katolik Sejati. Cita-cita umat didasarkan pada Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang periode 2011–2015. Umat diajak menghadirkan Kerajaaan Allah bagi warga gereja dan masyarakat. Ide dasarnya diambil dari perkataan Yesus terhadap Natanael, &lt;em&gt;“Inilah orang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalam dirinya"&lt;/em&gt;. Dalam menggapai cita-cita tersebut, umat diarahkan untuk mengenal tanda kekatolikan, menemukan hal yang dibutuhkan untuk membangun diri sebagai orang Katolik sejati, serta merencanakan gerakan sebagai perwujudan diri sebagai orang Katolik sejati. Ada pula gerakan membangun semangat tobat melalui ibadat tobat, ibadat APP dan Aksi Paskah sepanjang tahun. Bahan yang disiapkan berupa bahan pendalaman iman APP dan ibadat Jalan Salib. Bahan tersebut akan diteruskan kepada tim APP di tingkat kevikepan dan paroki. Sebagai tindakan nyata, umat hendaknya membuat pertanggungjawaban dana yang diwujudkan dalam  aksi nyata. Sebagaimana terjadi selama ini, di Keuskupan Semarang ada gerakan untuk mendata orang miskin di setiap paroki, dana APP bisa diarahkan kepada mereka. Selain itu, ada kegiatan nyata membantu korban erupsi Merapi. Saat ini ada masih 19 Dusun yang mengalami bencana karena terkubur pasir. Keuskupan Semarang tetap mendukung dan membantu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Keuskupan Bogor menyusun materi APP dengan fokus pada keluarga. Yang menjadi pokok pikiran adalah bagaimana peranan kaum muda dalam keluarga. Dalam proses penyusunan tetap mempertimbangkan kelompok umat seperti anak-anak, remaja (SMP, SMA), orang muda Katolik dan orang dewasa. Tim APP Keuskupan melibatkan masing-masing pihak dan komisi yang membidangi kelompok usia tersebut. Selanjutnya akan diadakan sosialisasi bahan APP di setiap paroki, wilayah, lingkungan dan sekolah. Pasca APP, dana yang terkumpul digunakan untuk kegiatan karitatif dan pemberdayaan. Bahkan ada keputusan di tingkat Keuskupan Bogor bahwa dana APP tidak diberikan kepada kelompok umat yang mengadakan kegiatan retret atau rekoleksi. Dana APP secara nyata digunakan untuk mendukung kegiatan berkaitan dengan Hari Pangan Sedunia. Saat ini, umat di Keuskupan Bogor dihimbau untuk melibatkan diri dalam gerakan membudidayakan berbagai jenis pangan lokal seperti, uwi yang tahan di segala musim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema APP Keuskupan Agung Jakarta tahun 2011, merupakan bagian dari rangkaian tema umum periode 2011–2014. Ide dasar periode tersebut, Mari Bekerjasama Melawan Kemiskinan. Untuk tema APP 2011 ialah, Mari Berbagi. Tema ini bagian dari upaya membangun kerjasama melawan kemiskinan. Harapannya, tema sampai pada perwujudan kepedulian di meja makan atau “perjamuan”, sebagai tanda perhatian kepada orang yang lapar. Dengan kata lain, membawa orang yang berliturgi sampai pada kehendak berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Spiritualitas yang dipakai, spiritualitas inkarnatoris. Artinya, mengosongkan diri, seperti orang kecil dan melakukan berbagai kegiatan nyata menolong orang miskin. Seluruh dana APP pun ditujukan kepada orang miskin, untuk kebutuhan pangan, beasiswa, kesehatan dan bantuan pemberdayaan. Selain itu ada juga kegiatan "Ayo Sekolah" yang tidak hanya membantu namun mempertemukan donatur dengan anak yang dibiayai pendidikannya. Mereka diajak untuk membangun kerjasama. Di antara mereka ada anak pemulung, anak tukang cuci yang dibantu biaya kuliah. Seluruh orientasi gerak pastoral di Keuskupan Agung Jakarta berpijak pada ide pokok, Mari Berbagi. Ketika ada aksi atau kegiatan berbagi dengan sesama, di sana terdapat perwujudan diri sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rencana PSE Regio Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Para Ketua Komisi PSE Regio Jawa juga merancang kegiatan bersama. Kegiatan yang disepakati ialah mengadakan kunjungan dan pembelajaran di KKPT dan Lembah Hijau. Acara ini merupakan kesempatan belajar tentang pengembangan pertanian lestari. Kegiatan ini direncanakan pada tanggal, 8–10 Juli 2011, Rm. Siprianus Yitno dari Keuskupan Surabaya, Rm. Teguh dari Keuskupan Purwokerto dan Bp. Lilik dari Keuskupan Bandung menjadi &lt;em&gt;steering committee &lt;/em&gt;sedangkan Keuskupan Semarang yang diketuai oleh Rm. Luhur Prihadi dan Lies menjadi &lt;em&gt;organizing committee&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-2109274943150471850?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2109274943150471850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2109274943150471850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/02/kesejatian-diri-melalui-aksi-berbagi.html' title='Kesejatian Diri Melalui Aksi Berbagi'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-8589078759741880356</id><published>2011-01-23T17:55:00.000-08:00</published><updated>2011-01-23T18:02:35.516-08:00</updated><title type='text'>East Java, Indonesian Bishops Promote Organic Farming Projects</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Expert agronomists teach natural farming techniques, without pesticides or additives. The goal is twofold: to protect consumers and enhance the living standards of farmers. The bishops socio-economic Commission supports the initiative with "moral and financial" help.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Jakarta (AsiaNews) - The Indonesian Bishops Conference (KWI) has launched a project dedicated to the farmers of the province of East Java, to educate them in organic farming techniques. The aim of plan - backed "morally and financially" by the Socio-Economic Commission of the Bishops Conference - is to extend the practice to other parts of the country, to improve product quality and protect the health of consumers. Antonius Nurdianto, coordinator of the initiative, explains to AsiaNews that the goal is "to promote a new method of cultivation" and train farmers to be "pioneers" of organic farming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Indonesia, most people living from agriculture, but millions of workers are not familiar with modern techniques of cultivation. Organic food experts and financial resources are lacking, despite the fact that the demand for fruits, vegetables and "natural" products is constantly increasing. Most requests came from big cities like Jakarta and Surabaya (East Java provincial capital), where wealth is concentrated and people are more attentive to the quality of products and to health problems.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first project sponsored by the Church in Indonesia was launched last week in Ngrambe Mojorejo, two sub-districts of the parish of St. Joseph, in the regency of Ngawi (East Java). The program involves a group of farmers dubbed Mulyo Tani, and the choice fell on the area because there were "plenty of available land." The local priests have enthusiastically joined the initiative, so much so that they celebrated Mass in the fields as a "spiritual tool" that may be of assistance to farmers and crops.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fr. Agus Pr, parish priest of Mojorejo invites Catholic farmers to abandon chemical fertilizers, "toxic" and "fatal" for every living creature. The local response has been very positive, they "have shown enthusiasm in starting this new type of cultivation," said Antonius Nuriando.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The project coordinator, graduated from Catholic University of Atmajaya Yogyakarta, has a dream: to raise the incomes of farmers with new farming techniques. "The workers of the land are encouraged to produce fertilizer from waste materials - concludes agronomist - and put aside any kind of pesticide."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first part of the project promoted by the Indonesian bishops will take at least six months.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(&lt;/em&gt;&lt;a href="http://www.asianews.it/"&gt;&lt;em&gt;www.asianews.it&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;, 21 January 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-8589078759741880356?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8589078759741880356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8589078759741880356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/01/east-java-indonesian-bishops-promote.html' title='East Java, Indonesian Bishops Promote Organic Farming Projects'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5480585428595108133</id><published>2011-01-16T10:44:00.000-08:00</published><updated>2011-01-16T16:48:36.788-08:00</updated><title type='text'>Pendampingan Sosial Ekonomi Melalui Kambing</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TTM_LKqBLPI/AAAAAAAABfY/ileAwhQQVwQ/s1600/kambing.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 151px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562859425804397810" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TTM_LKqBLPI/AAAAAAAABfY/ileAwhQQVwQ/s200/kambing.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berawal dari retret bertema sosial, muncul ide dari Rm. Yustinus Suyatno, Pr, Pastor Stasi St. Don Bosco, Gringging, Kediri Barat untuk melakukan kegiatan pemberdayaan di wilayah sekitar Kalibago dan Sumberbentis. Sebelumnya ada saja rentetan kegiatan yang mendorongnya untuk menyusun kegiatan ini. Hal ini berawal dari kunjungan ke keluarga-keluarga di Stasi Gringing dan sekitarnya yang jumlahnya sekitar 346 KK. Juga berdasarkan data hasil &lt;em&gt;live in&lt;/em&gt; para seminaris dari Seminari St. Vincentius, Garum, kelas IV, pada tanggal 29 Sep - 4 Okt 2010. Hal itu mendorong untuk memprioritaskan Stasi Kalibago dan Semberbentis mendapatkan pendampingan di bidang sosial ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh hasil laporan di Stasi Sumberbentis, di wilayah sekitar kaki Gunung Klotok terdapat 57 KK. Sebagian besar merupakan lansia, sebanyak 19 orang diantaranya berstatus janda. Buruh tani berjumlah 34 orang, buruh kerja 10 orang, kuli bangunan 2 orang, pesuruh 1 orang, karyawan pabrik rokok Gudang Garam 8 orang, petani 4 orang dan pedagang kecil 8 orang, tukang 4 orang, karyawan swasta 2 orang, guru 2 orang, ibu rumah tangga 15 orang dan wartawan 1 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 5 Oktober 2010, disusun suatu daftar isian tentang kedaan ekonomi keluarga sebagai bahan proses pemberdayaan ekonomi. Hasilnya, memang cukup banyak warga yang memelihara kambing, bahkan ada beberapa KK yang memelihara kambing dengan sistem &lt;em&gt;maro&lt;/em&gt;. Artinya kambing itu milik orang lain dan orang itu hanya berjasa memelihara. Hasilnya nanti &lt;em&gt;diparo&lt;/em&gt; atau dibagi dua. Hal ini cukup menggambarkan situasi ekonomi umat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya kebanyakan warga di desa tersebut masih memelihara kambing secara tradisional. Disebut tradisional karena, pemeliharaan dilakukan dengan cara yang masih sama dengan pemeliharaan di jaman dulu. Maka untuk mendapatkan informasi baru tentang pemeliharaan kambing, seksi sosial melakukan kunjungan ke Pare untuk melihat pemeliharaan kambing secara lebih baik. Setelah itu, seksi sosial mensosialisasikan apa yang dilihat di Pare dan mengajak ketua lingkungan / stasi serta umat di Stasi Kalipang. Saat itu diberikan tawaran bahwa jika ada yang berminat akan diantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, Stasi Gringing memiliki tanah sawah cukup luas, selama ini tanah tersebut ditanami mangga dan ketela pohon. Maka untuk mendorong perubahan umat tentang pemeliharaan kambing yang lebih baik, muncul ide membuat percontohan kambing terlebih dahulu. Selain itu, di tempat yang sama akan dilakukan kegiatan pengolahan sampah / pembuatan pupuk organik. Ketika itu, Pastor Stasi mengatakan hal ini kepada seksi sosial bahwa kegiatan membutuhkan perhatian, kesungguhan dan dana yang cukup besar dan membutuhkan perencanaan matang. Hal ini mengingat di sekeliling kebun itu belum ada pagarnya. Meskipun demikian hasil rapat memberi keputusan positif ialah, diusahakan dana swadaya, dukungan dari Paroki dan Komisi PSE. Untuk sementara waktu kandang tersebut akan ditetapkan di rumah salah satu anggota seksi sosial. Karena yang bersangkutan bersedia memelihara. Kelak bila kebun stasi sudah siap, maka sewaktu-waktu bisa dipindahkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada pembahasan terakhir, sampai pada keputusan bahwa seksi sosial bersama umat dan didukung oleh Pastor Stasi akan melakukan 2 kegiatan, yaitu: Penggemukan kambing dan peranakan kambing. Tujuan kegiatan ini: kelompok sosial mempelajari penggemukan dan peranakan kambing, mempraktekkan penggemukan dan peranakan kambing di tanah milik Gereja dan kelak menularkan penggemukan dan peranakan kambing kepada umat / masyarakat peternak di Stasi sekitar, yaitu: Stasi Kalibago dan Stasi Sumberbentis. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5480585428595108133?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5480585428595108133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5480585428595108133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/01/pendampingan-sosial-ekonomi-melalui.html' title='Pendampingan Sosial Ekonomi Melalui Kambing'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TTM_LKqBLPI/AAAAAAAABfY/ileAwhQQVwQ/s72-c/kambing.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-1298161559667930969</id><published>2011-01-09T17:11:00.000-08:00</published><updated>2011-01-09T17:13:29.036-08:00</updated><title type='text'>Berbagai Bencana Masih Menanti</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berbagai bencana alam, mulai dari banjir, longsor, gempa, tsunami, hingga letusan gunung api, selama 2010 belum akan berakhir. Memasuki 2011, sejumlah bencana hidrometeorologi mengancam sejumlah daerah. Kurangnya kesiapan pemerintah menghadapi bencana yang sudah diprediksi terjadi menuntut kewaspadaan masyarakat untuk menjaga diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, selama 2010, ada 186 kejadian gerakan tanah yang memicu longsor dan banjir bandang di sejumlah daerah di Tanah Air. Jumlah korban tewas hingga 28 Desember 2010 mencapai 465 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan tanah terbanyak terjadi pada Maret dengan 34 kejadian. Wilayah yang paling banyak mengalaminya adalah Jawa Barat dengan 106 kejadian selama 2010. Sementara bencana dengan korban jiwa terbanyak adalah banjir bandang dan tanah longsor di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat, yang menewaskan 153 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Muncul fenomena baru bencana gerakan tanah. Pada 2010, selalu ada gerakan tanah yang merusak setiap bulannya. Sebelumnya, fenomena ini tidak pernah terjadi,” kata Kepala PVMBG Surono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun sebelumnya, banyak longsor terjadi pada Desember hingga Maret. Sementara April hingga November hanya terjadi pada bulan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana gerakan tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Karena itu, banjir, banjir bandang, dan tanah longsor juga disebut sebagai bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi lainnya adalah angin puting beliung dan angin topan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai bencana yang terjadi selama 2010, bencana hidrometeorologi paling mendominasi. Dari 644 bencana, 577 bencana di antaranya atau 89,6 persennya adalah bencana hidrometeorologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bencana hidrometeorologi masih berpotensi besar terjadi di Indonesia tahun ini. Sesuai data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lembaga meteorologi sejumlah negara menyebutkan, curah hujan Indonesia pada Januari hingga Maret di atas normal. Periode ini diperkirakan akan jadi puncak bencana hidrometeorologi tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta daerah rawan bencana buatan BNPB menyebutkan, satu dari tiga desa di Indonesia rawan bencana. Dari 497 kabupaten/kota, 176 kabupaten/kota berisiko tinggi banjir, 154 kabupaten/kota berisiko tinggi longsor, dan 153 kabupaten/kota berisiko tinggi kekeringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Tak terprediksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di luar bencana hidrometeorologi, masih banyak bencana tak terprediksi yang menimpa Indonesia pada 2010, seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ratusan gempa yang terjadi setahun lalu, tercatat tujuh gempa merusak. Gempa terbesar yang menimbulkan korban jiwa terbanyak terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada 25 Oktober dengan kekuatan 7,7 Magnitude dan kedalaman 20,6 kilometer yang memicu tsunami di tiga lokasi antara 3 meter dan 7 meter. Gempa dan tsunami ini menewaskan 428 orang dan 74 orang lainnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masyarakat yang berada di sekitar wilayah bekas gempa diharapkan selalu mewaspadai munculnya gempa dengan skala lebih besar. Kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi,” kata Surono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk letusan gunung berapi, yang terdahsyat adalah Gunung Merapi. Erupsi hebat pada 26 dan 30 Oktober serta 3 dan 5 November menyebabkan 386 orang meninggal dunia dan 399.408 orang lainnya mengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Merapi meletus, tercatat 19 gunung api menggeliat. Ancamannya diperkirakan masih terus berlangsung pada 2011. Selain Merapi, gunung api yang berstatus siaga hingga kini adalah Gunung Ibu di Halmahera, Maluku Utara, dan Gunung Bromo di Jawa Timur. Sebanyak 17 gunung api lainnya berlevel waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Bidang Pengamatan Gunung Api PVMBG Toto Hendrasto mengatakan, Gunung Bromo, Krakatau (Lampung), Dukono (Maluku Utara), Ibu, dan Merapi masih akan beraktivitas hingga tahun ini. Karena itu, butuh kewaspadaan dan kesiapsiagaan bagi pemerintah dan masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kerja sama antarmasyarakat bisa menekan potensi bahaya yang bisa menyebabkan korban jiwa,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Tak pernah siap&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wakil Ketua Kelompok Kerja Adaptasi, Dewan Nasional Perubahan Iklim Armi Susandi mengatakan, meski sebagian besar bencana yang terjadi dapat diprediksi jauh-jauh hari, upaya antisipasi pemerintah sangat kurang. ”Pemerintah hanya siap menangani bencana, tetapi tidak siap mengantisipasinya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, tindakan yang dilakukan pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif, lebih fokus dalam penanganan korban, bukan mencegah bagaimana agar korban dapat dihindarkan atau dibuat seminimal mungkin. Pemerintah lebih suka bertindak sebagai ”dewa penolong” yang membagi-bagikan bantuan daripada membangun infrastruktur untuk mengurangi daya rusak bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini membuat banyak daerah harus menghadapi bencana yang sama dari tahun ke tahun. Padahal, jika infrastruktur bencana dibangun walau dengan nilai investasi yang besar, anggaran penanganan bencana tahun berikutnya dapat ditekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun infrastruktur, diakui Armi, butuh biaya besar. Namun, itu dapat diatasi jika pemerintah punya niat kuat mengatasi dampak bencana. Kendala birokrasi yang sering kali muncul juga dapat dilalui jika pemimpin yang ada berani mengambil tindakan nyata untuk membebaskan masyarakat dari rutinitas bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Penanganan bencana bukan soal ahli atau bukan, tetapi ada kemauan atau tidak. Pemerintah harus melakukan yang sesuai kemampuannya, jangan tindakan-tindakan biasa dengan kemampuan rendah yang bisa dilakukan masyarakat” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung I Wayan Sengara mendesak agar pemerintah segera berinvestasi dan memiliki rencana jangka panjang untuk menghadapi bencana. Selain untuk mengurangi dampak bencana, investasi dan rencana jangka panjang itu merupakan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana jangka panjang itu di antaranya mencakup kajian teknis risiko bencana, pemetaan daerah rawan bencana, dana penanggulangan bencana, dan mempersiapkan sumber daya manusia pendukung yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya persiapan itu, lanjut Sengara, mengakibatkan banyak langkah yang diambil BNPB tidak berjalan baik. Dalam setiap bencana yang terjadi, selalu ada korban yang tak tertangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berbagai proses penanganan bencana harus segera dibenahi pemerintah karena banyak wilayah berpenghuni di Indonesia rawan terjadi bencana,” ujarnya. &lt;em&gt;(Kompas, 3 Januari 2011)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-1298161559667930969?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1298161559667930969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1298161559667930969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/01/berbagai-bencana-masih-menanti.html' title='Berbagai Bencana Masih Menanti'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5730676839785343748</id><published>2011-01-09T17:01:00.000-08:00</published><updated>2011-01-09T17:10:51.851-08:00</updated><title type='text'>Mendorong Mitigasi Berbasis Resiko</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kebanyakan dari kita mungkin menganggap penanganan bencana yang ditayangkan di televisi ketika Gunung Merapi meletus dan Kepulauan Mentawai diterjang tsunami adalah manajemen bencana. Padahal, penanggulangan bencana bukan hanya berbentuk respons tanggap darurat, tetapi juga dilakukan pra dan pascabencana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ketua Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada Junun Sartohadi mengatakan, meskipun ada perbaikan dalam penanganan bencana, belum ada perubahan besar terkait manajemen bencana. "Pengelolaan bencana masih berbasis tanggap darurat, bukan mitigasi," ujarnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Basis tanggap darurat itu pula yang menyebabkan penanganan bencana masih compang-camping karena unsur perencanaan menjadi urutan kesekian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Manajemen bencana dimulai dari perencanaan pembangunan yang bersandar pada analisis penanganan risiko. Absennya analisis penanganan risiko tecermin pada penanganan bencana Merapi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tidak ada perencanaan jelas bentuk aktivitas ekonomi seperti apa yang menjadi tumpuan hidup masyarakat, apakah peternakan, pertanian, atau pertambangan. "Karena tidak ada perencanaan, setelah bencana, kita bingung bagaimana membangun kembali," ujar Junun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Padahal, pola aktivitas Merapi sudah bisa dibaca dan diprediksi akan masuk ke fase erupsi besar setiap 4-9 tahun sehingga dipilih aktivitas perekonomian warga yang dari sisi bisnis sudah menguntungkan sebelum siklus berakhir. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bentuk perencanaan berbasis mitigasi lainnya juga perlu diterapkan pada penataan permukiman. Menurut Junun, sepanjang daerah aliran sungai yang berhulu di Merapi seharusnya tidak lagi dihuni. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mitigasi juga terkait dengan pendidikan bencana. Junun mengatakan, selama ini pendidikan bencana lebih banyak dilakukan masyarakat yang sering kali tidak menggunakan basis keilmuan dan teknologi. Menurut Junun, pemerintah bisa membuat perencanaan dengan kombinasi arahan dari atas maupun menggali partisipasi masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"Ini diperlukan agar ikatan-ikatan emosional di masyarakat bisa didekati, masyarakat juga bisa mengerti pendekatan birokrasi yang dilakukan pemerintah. Apabila hal ini dilakukan, kita tidak akan dengar pernyataan saling menyalahkan seperti ketika masyarakat Merapi menolak mengungsi," papar Junun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berbasis Risiko &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perencanaan yang komprehensif terdiri dari perencanaan bersifat regional dan detail. Perencanaan regional mencakup pemetaan potensi bencana di wilayah masing-masing. Pemahaman atas potensi ancaman menjadi strategi mitigasi. Dalam perencanaan strategi mitigasi ini, pendekatan ilmiah bisa bertemu dengan usulan dari masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perencanaan regional dirinci lagi dalam perencanaan detail. Sebagai contoh, mitigasi daerah rawan gempa membutuhkan perencanaan detail terkait standar desain bangunan. Mengingat luasnya wilayah Indonesia dan bervariasinya potensi rawan bencana masing-masing, penanganan bencana tidak bisa bergantung pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Direktur Kesiapsiagaan Bencana BNPB Wisnu Wijaya sepakat bahwa penanggulangan bencana harus berbasis pada risiko. Untuk daerah yang potensi rawan bencananya tinggi, penjabaran mitigasi risiko ke dalam bentuk perencanaan bahkan harus sangat detail. Jika perlu, sampai ke skenario terburuk yang bisa terjadi. Dari skenario itu bisa dikembangkan identifikasi sumber daya yang tersedia. Sumber daya menyangkut orang, biaya, dan peralatan. "Dari pemetaan bisa terlihat kekurangan atau kelemahan yang perlu ditutup, diambil dari mana," ujar Wisnu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perencanaan regional dan detail itu kemudian diintegrasikan ke rencana pembangunan jangka menengah maupun rencana jangka panjang. "Perencanaan regional penting dimasukkan ke dalam rencana pembangunan supaya ada anggarannya. Kalau tidak diintegrasikan, akan percuma, hanya di awang-awang dan tidak jadi prioritas pembangunan nasional," kata Wisnu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Soal pendanaan pun menjadi kendala. BNPB memperkirakan, dibutuhkan anggaran Rp 64,475 triliun untuk program penanggulangan bencana nasional selama lima tahun. Anggaran itu dibutuhkan untuk penguatan peraturan dan perundangan dan kapasitas kelembagaan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Apabila melihat besaran anggaran indikatif dalam rencana nasional, porsi terbesar ada pada penguatan kapasitas kelembagaan, mitigasi, dan kesiapsiagaan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mengatasi Kelemahan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menurut Wisnu, secara sporadis, sejumlah undang-undang sudah saling mendukung diterapkannya pembangunan yang berbasis mitigasi risiko. Sebagai contoh, Undang-Undang Tata Ruang yang mengharuskan ada peta rawan bencana untuk analisis risiko. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sudah mengharuskan semua daerah membentuk Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ia mengeluhkan, sering kali BPBD kurang berdaya karena lemah dari sisi jumlah personel maupun kualitas sumber daya manusia. "Pemerintah daerah sering kali hanya asal menempatkan orang, padahal seharusnya yang ahli dan profesional," kata Wisnu. BPBD perlu berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait mitigasi bencana. Peningkatan kapasitas yang sifatnya formal maupun nonformal perlu dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"Bahkan perlu sampai ke &lt;em&gt;table top exercise&lt;/em&gt;, semua pelaku di satu ruangan, diberi kasus, lalu dilihat bagaimana responsnya, dinilai berdasarkan protap, benar atau tidak, siapa yang bikin posko, siapa memimpin," kata Wisnu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ia yakin, jika regulasi dan fungsi lembaga dijalankan, mitigasi akan lebih baik. Soal mendorong pemerintah daerah lebih responsif terhadap perencanaan mitigasi bencana, diakui Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Ia mencontohkan, pihaknya selalu aktif mengirimkan informasi iklim dan cuaca kepada semua pemerintah daerah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"Saya bikin surat kepada gubernur, bupati, dan wali kota. Saya sudah perintahkan untuk segera bentuk BPBD, minta mereka bikin anggaran yang memadai. Tetapi, apakah itu dijalankan di daerah, ini kan era otonomi," ujarnya. &lt;em&gt;(Kompas, 20 Desember 2010)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5730676839785343748?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5730676839785343748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5730676839785343748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/01/mendorong-mitigasi-berbasis-resiko.html' title='Mendorong Mitigasi Berbasis Resiko'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-8998335033159209698</id><published>2011-01-09T16:51:00.000-08:00</published><updated>2011-01-09T16:56:17.867-08:00</updated><title type='text'>Bersahabat Dengan Bencana</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tak hanya terhadap angin, hawa dingin yang mengalir dari tanah basah, dan serpihan air hujan, warga Desa Bosua, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pun harus bertarung terhadap rasa lapar dan ancaman penyakit di dalam tenda-tenda pengungsian di zona hijau. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa korban juga harus bertahan dengan luka yang mulai terinfeksi. Kondisi tim penolong dari Kepolisian Resor Kabupaten Kepulauan Mentawai pun tak jauh berbeda. Mereka bahkan harus bertahan dengan minum air dan makan daging kelapa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Laut dengan gelombang setinggi 3-4 meter menjadi kendala. Kapal dan perahu dari kayu pengangkut bantuan dari pos penanggulangan bencana di Tua Pejat, ibu kota kabupaten, terpaksa mengurungkan rencana pelayaran mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Sikakap, proses pengiriman bantuan dan relawan relatif lebih baik. TNI Angkatan Laut mengirimkan sebuah kapal perang untuk mengangkut bantuan dan relawan dari Padang. TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat mengirimkan armada helikopter untuk memasok bantuan ke beberapa desa yang hancur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Indonesia negara maju, persoalan itu tentu dapat dieliminasi. Sebagai contoh, ketika tsunami menghajar Aceh pada pengujung 2004, beberapa negara yang terlibat dalam misi penanggulangan bencana, seperti Amerika Serikat, Australia, dan Singapura, menunjukkan pentingnya investasi peralatan penanggulangan bencana yang terintegrasi dalam misi-misi lain, seperti pertahanan dan keamanan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Amerika tidak hanya menyiagakan kapal perang, tetapi juga kapal amfibi yang mampu mendarat di pesisir barat Aceh untuk mengirim kendaraan berat dan pasukan penolong. Australia mengirimkan armada helikopter untuk mengirim bantuan dan mengevakuasi korban dari pedalaman Aceh dan Nias. Bahkan, dalam operasi itu, sebuah heli Sea King milik Angkatan Bersenjata Australia jatuh dan menewaskan 11 tentara mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal teknologi, Indonesia sendiri bukannya tidak memiliki kemampuan itu. PT PAL dan PT Dirgantara Indonesia (DI) memiliki kapasitas membangun peralatan tempur yang dapat difungsikan untuk berbagai kebutuhan. Pesawat CN-235, ikon PT DI, tidak hanya memiliki kemampuan sebagai pesawat angkut sedang dan pengintai amfibi, tetapi juga dapat difungsikan sebagai ambulans terbang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;PT PAL telah menguasai teknologi pembuatan kapal jenis landing platform dock yang mampu mengangkut tiga helikopter sekelas NBO-105 dan Nbell-412 yang teknologinya juga dikuasai teknisi dalam negeri. Kapasitas dan kapabilitas alat utama sistem persenjataan milik TNI itu dapat difungsikan sebagai rumah sakit terapung ketika bencana mengempas wilayah Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan tingkat kesiapan personel yang tinggi dan dapat segera digerakkan dalam segala kondisi ke berbagai wilayah, kemampuan teknologi tersebut tentu makin optimal. Ketika kekuatan itu dipadukan dengan sistem peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, dapat dibayangkan betapa hebat, tentunya, kemampuan Indonesia dalam tanggap darurat, lebih-lebih jika dukungan berupa ketentuan dan perundang-undangan juga memadai. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam operasi penanggulangan bencana di Mentawai lalu, Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, BNPB mendapat dukungan dua C-130 Hercules, satu kapal perang, dan beberapa helikopter TNI AD. Berdasarkan catatan Kompas, dalam proses penanggulangan bencana di beberapa wilayah, seperti gempa bumi di Nabire, Papua, tahun 2004, hingga letusan Merapi di Yogyakarta, peran serta berbagai kesatuan dalam tubuh TNI mengambil peran penting. PMI juga mengirimkan kapal pengangkut bantuan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Nabire, TNI mendirikan dua rumah sakit lapangan lengkap dengan ruang operasi dan di Yogyakarta mereka mengoperasikan Hagglunds, kendaraan ringan multiguna, sumbangan PMI yang mampu menjejaki berbagai medan untuk mengevakuasi korban. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peluang &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, untuk meningkatkan kapabilitas tanggap darurat itu, perlu dana luar biasa besar. Sebagai negara berkembang, ada prioritas lain yang lebih membutuhkan dukungan dana. Sutopo mengatakan, BNPB memiliki dukungan dana untuk mengoperasikan perangkat keras milik TNI, tetapi lembaga tersebut tidak memiliki dana untuk pengadaan alat seperti itu. Menurut dia, pengadaan alat berat ada pada instansi masing-masing dan pemerintah setempat, yang sewaktu-waktu dapat dioperasikan untuk penanggulangan bencana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kepala Pusat Instrumentasi, Rekayasa, dan Kalibrasi BMKG Masturyono menjelaskan, peran teknologi dalam proses tanggap darurat di Indonesia sifatnya membantu. Ia menuturkan, meski BMKG memiliki kemampuan dalam sistem peringatan dini yang memadai, yaitu kemampuan menginformasikan adanya bencana dan potensi ancamannya dalam hitungan bahkan dua menit, dalam beberapa kasus, seperti tsunami di Mentawai, kemampuan teknologi tidak dapat meminimalkan dampak bencana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jarak waktu antara gempa dan empasan tsunami yang menerjang pesisir barat Mentawai hanya lima menit karena titik gempa berada dekat kawasan berpenghuni. Sama sekali tak ada waktu bagi masyarakat untuk mengungsi, apalagi jaringan komunikasi di wilayah tersebut sama sekali tidak memadai. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya pilihan investasi yang menurut Masturyono dan Sutopo harus dikembangkan ke depan adalah penguatan kultur setempat, terutama di daerah rawan bencana, untuk meminimalkan dampak bencana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penguatan masyarakat oleh beberapa lembaga swadaya masyarakat di Mentawai sangat membantu. Meski separuh Desa Bosua hancur oleh tsunami, tidak seorang pun dari desa itu menjadi korban. "Kami segera melarikan diri ke bukit begitu gempa berhenti meski awalnya kami ragu-ragu karena gempanya terasa pelan," kata Kepala Desa Bosua Maralus Sagari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi geologis yang berada pada pertemuan tiga lempeng aktif, yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur, potensi bencana di Indonesia besar sekali. Bersahabat dengan bencana, mengenali tanda-tandanya, adalah peluang terbaik untuk menghindari dampaknya. &lt;em&gt;(Kompas, 20 Desember 2010)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-8998335033159209698?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8998335033159209698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8998335033159209698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/01/bersahabat-dengan-bencana.html' title='Bersahabat Dengan Bencana'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5877199992350513840</id><published>2010-11-27T14:19:00.000-08:00</published><updated>2011-04-27T15:01:52.684-07:00</updated><title type='text'>Exposure Visit Karina Ke Keuskupan Agung Palembang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Desa Suka Pulih dan Tegal Wangi merupakan dua desa dampingan dari Yayasan Bodronoyo, lembaga sosial milik&amp;nbsp;Keuskupan Agung Palembang. Kedua desa tersebut menjadi tempat yang mengundang decak kagum dan memberi&amp;nbsp;inspirasi dari hasil kunjungan yang diadakan tanggal 1–6 November 2010 lalu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Kegiatan ini disponsori oleh Karina KWI yang&amp;nbsp;mengundang para peserta dari setiap keuskupan&amp;nbsp;Indonesia untuk mempelajari inisiatif dan kerjasama anggota kelompok masyarakat dalam mengurangi resiko bencana. Di awal pertemuan, para peserta dibekali dengan pemahaman mengenai apa yang telah dilakukan oleh para peserta di setiap keuskupannnya. Proses ini berlangsung menarik karena para peserta diminta untuk mempresentasikan lewat gambar. Rupanya lukisan yang dibeberkan di atas kertas, menjadi hidup ketika dipresentasikan oleh wakil dari setiap kelompok. Sharing antar keuskupan, membangun inspirasi dan semangat baru agar para peserta bisa mengambil&amp;nbsp;makna di balik presentasi sesamanya dari keuskupan lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Pelayanan Sosial Keuskupan Agung Palembang dijalankan secara operasional oleh Yayasan&amp;nbsp;Bodronoyo. Para peserta diajak untuk melihat secara langsung apa yang telah dilakukan oleh Keuskupan Agung Palembang. Para peserta dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, mengunjungi Desa Pematang Panggang dan Sukapulih, sedangkan kelompok lain berkunjung ke Purwodadi dan Cinta Manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok yang berkunjung ke daerah Desa Purwodadi dan Cinta Manis menyaksikan kondisi masyarakat yang sangat bersahabat dalam mengembangkan kegiatan sosial ekonomi. Mereka membangun CU untuk menopang&amp;nbsp;kehidupan ekonominya. Anggota CU berasal dari berbagai agama. Persahabatan awal yang dibangun Rm. Abdi (almarhum) telah menghasilkan hadirnya lembaga keuangan mikro (CU) yang mampu menjawabi kebutuhan masyarakat di bidang keuangan. Sampai saat ini, CU yang dikelola oleh seorang haji dan kelompok muslim telah memberikan gambaran yang sangat positif terhadap hadirnya Romo Abdi dan Keuskupan Palembang dalam mengembangkan pelayanan sosial di tengah masyarakat nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Desa Suka Pulih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar warga Desa Suka Pulih adalah mantan gelandangan dan pengemis yang berasal dari Jakarta. Mereka mengikuti program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah. Namun dalam perkembangannya, banyak yang pulang ke Jawa karena tidak ada program pendampingan yang intensif. Romo Abdi lewat Yayasan Bodronoyo mengambil inisiatif untuk mendampingi anggota masyarakat yang masih tinggal di tempat itu. Pendampingan intensif pun mulai dilakukan dengan mengintensifkan lahan pertanian yang dibagi oleh pemerintah dengan menanam karet dan sawit. Setelah bertahan beberapa tahun, saat ini semua anggota masyarakat yang berada di Sukapulih sudah memiliki rumah permanen dan memiliki kebun karet dan kebun kelapa sawit. Kesulitan yang dirasakan terjadi&amp;nbsp;ketika banjir. Mereka&amp;nbsp;memperbaiki saluran agar ketika banjir,&amp;nbsp;ada saluran yang menyalurkan air sehingga tidak membanjiri lahan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman&amp;nbsp;mereka menjadi&amp;nbsp;pembelajaran bahwa program pendampingan menjadi elemen yang sangat penting bagi kelompok masyarakat sederhana. Ketika mereka terjebak dalam kemampuan yang sangat terbatas dalam mengolah kondisi kehidupan, mereka sangat terbantu oleh kehadiran pekerja sosial dari Yayasan Bodronoyo, Keuskupan Agung Palembang untuk mengarahkan, menuntun dan member petunjuk agar bisa mengatur kehidupan menjadi lebih baik. Ternyata hasil pendampingan para pekerja sosial dari Yayasan Bodronoyo, meningkatkan harga diri mereka sehingga&amp;nbsp;memiliki rumah, lahan pertanian, lahan perkebunan yang bisa dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas kehidupan.&amp;nbsp;Setelah berada bersama masyarakat Suka Pulih, peserta&amp;nbsp;berkunjung ke Tegal Wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Desa Tegal Wangi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertemu dengan warga Sukapulih, kami beranjak ke Pematang Panggang. Tiba di Pematang Panggang, kami beristirahat sejenak. Kemudian berangkat&amp;nbsp;dengan&amp;nbsp;ojek menuju Tegal Wangi. Jalan berlumpur dan melewati kebun karet di kegelapan malam, menjadi pengalaman menarik. Setibanya&amp;nbsp;di Tegalwangi, kami diterima oleh aparat desa dan anggota masyarakat. Obrolan awal pun dimulai dengan ucapan selamat datang oleh kepala desa. Mereka memberikan gambaran tentang awal keberadaan mereka di Tegal Wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya hanya beberapa orang datang ke tempat ini. Mereka berasal dari daerah konflik Aceh, Ambon dan Timor-Timur. Dengan bimbingan Rm. Abdi, para pendatang membawa bambu untuk membangun rumah sederhana. Berbekal lahan 2 hektar yang diserahkan pemerintah setempat, mereka mulai diajak untuk mengolah tanah tersebut. Awalnya, mereka sangat kesulitan. Namun pendampingan para pekerja sosial, sangat membantu mereka untuk terus bertahan dalam kesulitan hidup. Lewat pendekatan yang intensif, mereka mulai menanam karet. Persoalannya, mereka harus menunggu waktu 6 tahun sebelum panen. Proses ini merupakan masa yang sulit. Mereka bisa bekerja di lahan karet sesama, sambil mengerjakan kebun. Situasi ini bertahan sampai sekitar 6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka mulai panen karet, Rm. Abdi mengambil inisiatif untuk mendirikan Credit Union. Dengan demikian, uang yang terbatas ditabung di CU. Ketika jumlahnya sudah mencukupi, mereka pun meminjam untuk kegiatan ekonomi lainnya. Wajar apabila saat ini, ketika mereka panen, mereka bisa membeli sepeda motor, membangun rumah, menyekolahkan anak dan memperhatikan gizi, sehingga secara fisik mereka nampak lebih sehat. Kisah sukses ini, bukan berarti tanpa kesulitan. Ketika kemarau panjang , mereka merasakan kesulitan air. Saat ini mereka sedang membangun waduk untuk persediaan air bersih. Persediaan air memang cukup,&amp;nbsp;namun dibutuhkan&amp;nbsp;sentuhan teknologi agar air yang sudah dikumpulkan&amp;nbsp;dapat dialirkan kepada warga. Warga Tegal Wangi saat ini, siap menikmati kondisi hidup yang lebih baik. Wajar bila modal yang ada di CU Abdi Dalem, yang dibangun sejak 2005, saat ini asetnya sudah sebesar Rp. 12&amp;nbsp;Milyar. Sebuah angka yang terbilang sangat besar untuk sebuah desa yang bernama Tegal Wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bukan hidup tanpa kecemasan. Tanah yang mereka miliki hanya hak pinjam pakai tanah. Tanah tersebut berada di hak Hutan Pelindung. Bisa terbuka kemungkinan, sertifikat yang sudah mereka miliki&amp;nbsp;dibatalkan oleh campur tangan dari "atas". Saat ini ada gerakan dari warga&amp;nbsp;membahas hal ini secara lebih detil. Harapannya, mereka bisa mendapatkan sertifikat dan pengakuan dari pemerintah tentang hak atas tanah yang menjadi lahan untuk kehidupan dan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Butir Pembelajaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, adanya daya tahan untuk bertahan dalam kesulitan hidup. Banyak orang yang tidak tahan&amp;nbsp;berada dalam situasi sulit yang berkepanjangan. Warga Suka Pulih dan Tegal Wangi sudah bertahan. Mereka pun sudah menikmati hidup setelah mereka diuji&amp;nbsp;situasi sulit. Mereka berada dalam kondisi&amp;nbsp;ditempa&amp;nbsp;oleh guru kehidupan. Ketika mereka keluar dari situasi sulit, mereka akan&amp;nbsp;bijaksana menggunakan uang yang mereka dapatkan lewat tetesan keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, kehadiran para pendamping atau pekerja sosial di tengah masyarakat sederhana sangat dibutuhkan. Ketika masyarakat mengeluh,&amp;nbsp;pendamping mampu mengarahkan keluhan kepada penyelesaian masalah secara kreatif. Ketika masyarakat tidak mampu membuat langkah inovatif, para pekerja sosial pun membantu meningkatkan kemampuan mereka. Ketika masyarakat tidak mampu mengelola keuangan, para pendamping mengarahkan mereka untuk menabung di Credit Union. Ketika kondisi keuangan belum cukup, mereka membatasi keinginan mereka untuk tidak membelanjakan keuangan tersebut untuk sesuatu yang tidak terlalu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, mereka berada di wilayah yang jauh dari tawaran iklan kenikmatan. Iklan sering menjadi pintu masuk&amp;nbsp;keinginan, sehingga uang yang sudah ditabung, sering digunakan untuk membiayai keinginan yang kurang bermanfaat. Mereka bisa bertahan untuk hidup apa adanya walaupun mereka memiliki cukup uang yang tersimpan di Credit Union. Masyarakat dituntun untuk memanfaatkan dana dalam sebuah gerakan Koperasi Kredit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Bodronoyo Keuskupan Agung Palembang, memainkan peran yang sentral bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Suka Pulih dan Tegal Wangi. Peserta pun&amp;nbsp;bisa belajar banyak tentang program pendampingan bagi&amp;nbsp;masyarakat sederhana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5877199992350513840?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5877199992350513840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5877199992350513840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2011/04/exposure-visit-karina-ke-keuskupan.html' title='Exposure Visit Karina Ke Keuskupan Agung Palembang'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5418690570047225880</id><published>2010-11-20T09:42:00.000-08:00</published><updated>2011-05-18T12:00:15.848-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Financial Management in Practice</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qOvpdthhChg/Tcq--2SpnQI/AAAAAAAABhk/seIlFU5TThA/s1600/makna1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="149" j8="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-qOvpdthhChg/Tcq--2SpnQI/AAAAAAAABhk/seIlFU5TThA/s200/makna1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gg54YgFfm88/Tcq_EL0tyjI/AAAAAAAABho/W6qrRGeFx_M/s1600/makna2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="149" j8="true" src="http://3.bp.blogspot.com/-gg54YgFfm88/Tcq_EL0tyjI/AAAAAAAABho/W6qrRGeFx_M/s200/makna2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Pada tanggal 15-19 November 2010 lalu, Karina KWI kembali mengadakan pelatihan Makna 1, &lt;em&gt;Financial Management in Practice&lt;/em&gt;. Acara yang dihadiri oleh bagian keuangan Karina Keuskupan-Keuskupan ini, merupakan pelatihan kedua yang berlangsung di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Acara secara umum terbagi dalam 2 bagian. Bagian pertama, peserta diajak mengenal semangat dan nilai Karina. Bahan yang diberikan dari Kitab Suci, juga materi Magisterium Gereja Katolik. Peserta diperkenalkan dengan &lt;em&gt;Ensiklik Deus Caritas Est&lt;/em&gt;, khususnya artikel 19–25 dan 31-39. Intinya, Gereja tidak dapat mengabaikan pelayanan kasih dan bertanggung jawab atasnya, serta memberikan dukungan spiritualitas para pekerja kemanusiaan serta berpartisipasi aktif dalam mewujudkan keadilan social dan politik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Bagian kedua, peserta masuk ke dalam materi Manajemen Keuangan. Dalam sesi mengenal manajemen keuangan, peserta diajak untuk mengerti apa itu manajemen keuangan secara mendasar, dan kenapa manajemen keuangan itu diterapkan dalam organisasi kemanusiaan. Manajemen keuangan dalam organisasi kemanusiaan sangat dibutuhkan karena, mempermudah pekerjaan manager dalam pemanfaatan sumber daya secara efektif dan efisien dalam pengelolaan maupun dalam pertanggungjawaban kepada pihak terkait, memberikan tanggung jawab secara keuangan kepada donor dan pemangku kepentingan lainnya, sebagai bentuk kepercayaan atas dukungan para donor, partner kerja dan penerima bantuan. Tak kalah penting, sebagai wacana dalam mempersiapkan diri dalam kemapanan keuangan jangka panjang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dalam sesi ini diajarkan tentang beberapa hal. Antara lain, &lt;em&gt;accounting records&lt;/em&gt; yang menggambarkan sistem dan prosedur dalam mengatur keuangan dan moneter yang terjadi dalam organisasi yang meliputi: mencatat, mengklasifikasi dan meringkas informasi untuk berbagai tujuan. Sehingga hasil dari akuntasi keuangan adalah laporan pendapatan dan pengeluaran, neraca serta penganalisaan laporan keuangan. Peserta diajak untuk melihat kelayakan, daya tahan, kelancaran, ketergantungan dan ketepatan penggunaan terhadap pendapatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Hal ini diperjelas dalam bagian, &lt;em&gt;financial planning&lt;/em&gt; yang meliputi proses manajemen keuangan berupa: perencanaan, pengorganisasian, pengontrolan dan pengawasan sumber-sumber keuangan. &lt;em&gt;Financial Monitoring&lt;/em&gt; berupa pengawasan keuangan yang merupakan inti dari managemen keuangan, untuk memastikan bahwa sumber keuangan dalam organisasi digunakan secara tepat dan efektif. Dalam hal ini, seorang manager dituntut untuk dapat: mengatur resiko baik resiko internal (penggelapan, kesalahan pencatatan) dan resiko eksternal (misalnya: kebakaran kantor). Manager juga diharapkan dapat mengatur keuangan secara strategis, dapat melihat gambaran secara luas dan mengatur keuangan sesuai tujuan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Bagian terakhir ialah &lt;em&gt;Internal Control&lt;/em&gt; yaitu audit. Berkenaan dengan audit ada internal audit, yang dilakukan atas permintaan manajer organisasi, yang berfokus pada pemeriksaan sisdur akuntasi keuangan dan akuntansi manajemen yang dibuat oleh dewan dan manajer, untuk menggarisbawahi temuan dan membuat rekomendasi langkah yang harus diambil, namun dapat dilakukan oleh pihak dalam ataupun luar organisasi. Selain itu ada eksternal audit ialah pemeriksaan eksternal dari laporan keuangan yang telah disediakan oleh organisasi yang biasanya digunakan untuk keperluan yang berkenaan dengan tujuan hukum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Makna 1 memang lebih memberikan perkenalan tentang dasar dasar keuangan yang harus diketahui para pelaku keuangan dalam organisasi kemanusiaan khususnya Karina dalam kaitannya dengan pembuatan laporan keuangan yang baik, transparan, terstruktur dan terpercaya. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan intern dan ekstern, dalam hubungannya dengan donor dan pemangku kepentingan terkait. &lt;em&gt;(Emilia Susan, Finance Manager, Karina Keuskupan Surabaya)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5418690570047225880?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5418690570047225880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5418690570047225880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/11/pelatihan-financial-management-in.html' title='Pelatihan Financial Management in Practice'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-qOvpdthhChg/Tcq--2SpnQI/AAAAAAAABhk/seIlFU5TThA/s72-c/makna1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-8922828273067139571</id><published>2010-10-25T16:21:00.000-07:00</published><updated>2010-10-26T09:03:04.707-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Sphere Dengan Pengarusutamaan Gender</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TMYkkEDA5zI/AAAAAAAABfE/BCGyFeCu51A/s1600/imagesCA7LH3BF.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 79px; DISPLAY: block; HEIGHT: 112px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532149394251507506" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TMYkkEDA5zI/AAAAAAAABfE/BCGyFeCu51A/s200/imagesCA7LH3BF.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;Karina Keuskupan Surabaya baru saja mengikuti Pelatihan &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt; Dengan Pengarusutamaan Gender. Pelatihan yang diadakan di Bandung, 11-13 Oktober 2010 diselenggarakan oleh &lt;em&gt;Trocaire&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan ini diikuti 8 lembaga yaitu: Karina KWI yang menunjuk Karina Surabaya dan Caritas Bandung masing-masing 1 orang, Pusat Studi Manajemen Bencana, UPN Yogyakarta 3 orang, Keluarga Peduli Pendidikan Bandung (KPPB) 2 orang, &lt;em&gt;Management Crisis Center&lt;/em&gt; (MCC) Aceh 2 orang, &lt;em&gt;Trocaire&lt;/em&gt; sendiri sebagai pihak penyelenggara 5 orang dari Timor Leste, Ibu&lt;em&gt; Foundation&lt;/em&gt; sebagai panitia dan pemateri 3 orang, Dinas Kesehatan Kota Cimahi 2 orang dokter serta Kementrian Sosial Timor Leste 2 orang. Total peserta ada 21 orang, termasuk 1 orang suster dan 1 orang Pastor dari Timor Leste utusan dari &lt;em&gt;Trocaire&lt;/em&gt;. Perwakilan Karina dari Surabaya yaitu Martinus Sapto dan dari Bandung bernama Aty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berangkat dari Madiun hari Minggu, 10 oktober 2010 jam 19.30, sampai di Bandung jam 06.30. Perjalanan langsung dilanjutkan menuju lokasi pelatihan registrasi. Senin, 11 oktober 2010, kegiatan dimulai jam 08.30 dengan pembukaan dan perkenalan. Perkenalan dilakukan dengan &lt;em&gt;game&lt;/em&gt;, di mana tiap peserta diminta menggambarkan dirinya dan selanjutnya diacak untuk ditukarkan. Kemudian masing-masing peserta mencari pemilik gambar tesebut, selanjutnya diminta menyebutkan nama pemilik yang dipegang untuk maju satu persatu bergantian dengan peragaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah break sebentar dilanjutkan dengan sesi Pengantar &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt;, Piagam Kemanusiaan dan Kode Etik. Dalam sesi ini diputarkan film tentang bencana yang terjadi dari seluruh dunia. Selanjutnya tanya jawab tentang apa yang dilakukan saat terjadi bencana berdasarkan pengalaman yang pernah dilakukan di lapangan. Ada pula peragaan tentang Mr. Hak Asasi Manusia yang mengajarkan bahwa siapa saja yang harus dibantu, penempatan masyarakat pada lokasi aman dengan cara bermartabat terutama kepada mereka yang layak mendapatkan pertolongan. Miss Bantuan yang menghadapi pemanggul senjata dan non pemanggul senjata mengajarkan bahwa, siapa saja, meskipun bukan tentara, kalau ikut berperang dan membawa senjata adalah pemanggul senjata. Sedangkan yang tidak ikut berperang adalah non pemanggul senjata. Mereka yang ikut berperang maupun yang tidak, juga diberi bantuan apabila benar-benar membutuhkan. Mr. Pengungsi mengingatkan jangan sampai pengungsi diusir paksa. Misalnya ada warga negara lain yang karena konflik, perang atau apapun bencananya, kemudian minta perlindungan ke negara lain, tidak boleh diusir. Mereka harus ditampung dan diberi bantuan yang layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang, dilanjutkan dengan sesi Pengantar Pengarusutamaan Gender dalam tanggap darurat. Metode yang dipakai diskusi kelompok. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok untuk diskusi, kemudian mempresentasikan tugas kelompok. Intinya saat melakukan pertolongan dalam tanggap darurat, siapa yang diprioritaskan terlebih dahulu dan juga peranan dari laki-laki maupun perempuan dalam lokasi bencana perlu dicek, apakah sudah sesuai porsi. Jangan sampai ada ketidakadilan. Hal ini untuk menghindari perpecahan. Jadi, saat memberi bantuan harus tepat sasaran. Misalnya ada bencana gempa bumi atau banjir, kita langsung saja mengirim pakaian, padahal yang dibutuhkan air bersih atau makanan. Akhirnya pakaian menumpuk dan tidak bermanfaat. Hari pertama selesai jam 16.30. Saat makan malam ada acara bertukar kado yang telah dibawa masing-masing peserta untuk keakraban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 12 Oktober 2010, hari kedua dimulai dengan merefleksikan pelatihan hari pertama. Para peserta diminta menyebutkan apa yang sudah diperoleh pada hari pertama. Selanjutnya berkeliling untuk mengurutkan dari awal sampai selesai kegiatan hari pertama pada selembar kertas. Setelah itu dilanjutkan sesi Standar umum &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt; untuk semua sektor. Ada 8 Standar umum yaitu partisipasi, kajian awal, respon, penentuan sasaran, pemantauan, evaluasi, kompetensi dan tanggung jawab pekerja kemanusiaan, supervisi, manajemen dan dukungan terhadap personel. Dalam sesi ini para peserta diberi kuis untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dan dimasukkan kategori tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sampai pada Sesi Standar &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt; dalam sektor air bersih, sanitasi dan penyuluhan. Sesi ini dilakukan dengan metode diskusi kelompok kemudian presentasi. Peserta diminta memikirkan sektor air bersih, sanitasi juga penyuluhan kebersihan. Dalam sektor air bersih dijelaskan dari mana pasokan air bersih, berapa liter kebutuhan per orang, pemilihan sumber air bersih, pengukuran, kuantitas dan kualitas, cakupan, jumlah maksimum pengguna air bersih di tiap–tiap sumber air, waktu antrian serta akses dan kesetaraan. Hal–hal tersebut di atas harus diperhatikan. Pasokan air bersih perorangan yaitu 7,5–15 liter/hari yang meliputi: keperluan bertahan hidup, pasokan air (minum dan pangan) 2,5–3 liter/hari tergantung pada iklim dan ciri–ciri jasmani perorangan. Praktek–praktek kebersihan dasar 2–6 liter/hari tergantung pada norma–norma sosial dan budaya. Kebutuhan dasar untuk memasak 3–6 liter/hari, tergantung pada jenis makanan, norma–norma sosial dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan sumber air bersih perlu mempertimbangkan ketersediaan dan keberlanjutan air bersih dalam jumlah yang memadai. Termasuk apakah diperlukan sarana pengolahan air. Jika diperlukan, apakah langkah ini memungkinkan berkenaan dengan ketersediaan waktu, teknologi atau pendanaan yang diperlukan untuk mengembangkan sumber air. Penting pula mempertimbangkan kedekatan antara sumber air dengan penduduk yang terkena dampak bencana dan faktor–faktor sosial, politik atau hukum yang terkait dengan sumber air tersebut. Tak ketinggalan, jarak terjauh antara rumah tangga dan titik air terdekat sebaiknya 500 meter, lama antrian di sumber air sebaiknya tidak melebihi 15 menit dan untuk memenuhi tempat air dengan volume 20 liter sebaiknya tidak lebih 3 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa standar ukuran sebagai berikut, memperhatikan jumlah maksimum pengguna air bersih di tiap–tiap sumber air ialah: 250 orang/kran berdasar pada aliran 7,5 liter/menit, 500 orang/pompa tangan berdasar pada aliran 16,6 liter/menit dan 400 orang/sumur terbuka dengan 1 timba berdasar pada aliran 12,5 liter/menit. Untuk pembuangan tinja, maksimal 20 orang 1 jamban dan sebaiknya dipisahkan menurut jenis kelamin demi mengantisipasi terjadinya pelecehan terhadap kaum perempuan. Jarak jamban sebaiknya 30 meter dari sumber air tanah. Dasar jamban paling tidak 1,5 meter di atas sumber air, bawah tanah. Sedangkan penggerak penyuluhan kebersihan, idealnya ada 2 orang untuk setiap 1.000 orang penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang, dilanjutkan sesi Standar &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt; dalam bantuan pangan, ketahanan pangan dan nutrisi. Bantuan pangan tidak boleh asal membantu makanan tetapi memperhatikan kalori, gizi sehingga tidak berdampak buruk bagi korban bencana yang rentan oleh penyakit. Perlu juga dilihat ketahanan pangan, apakah masih tersedia bahan pangan di lokasi bencana serta sarana yang ada. Ketahanan pangan tercapai ketika semua orang setiap saat mempunyai akses fisik dan ekonomis terhadap pangan yang cukup, aman, dapat hidup sehat serta beraktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dilanjutkan dengan sesi Standar &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt; dalam hunian dan bantuan non pangan. Pada sesi ini peserta juga dibagi menjadi 3 kelompok untuk membuat tempat pengungsian bagi korban bencana. Hunian dapat berupa tenda atau ditempatkan dalam gedung, maupun bangunan yang jauh dari bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar hunian meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perencanaan Strategis: solusi hunian dan penampungan yang sudah ada hendaknya dijadikan prioritas. Pelaksanaannya dapat berupa pemulangan atau penampungan warga yang terkena dampak bencana dengan memperhatikan keamanan dan kesehatan serta menjamin kesejahteraan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perencanaan Fisik: praktek perencanaan sedapat mungkin memperhatikan kemungkinan akses dan penggunaan tempat hunian yang aman dan terjamin meliputi pelayanan dan sarana sarana dasar. Tak ketinggalan memastikan privasi dan pembatasan antara hunian satu rumah tangga dengan hunian lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ruang Tinggal yang Tertutup: warga mendapat hunian dengan naungan tertutup yang memadai, untuk dijadikan tempat tinggal yang bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Rancang Bangun: rancang bangun tempat hunian dapat diterima oleh penduduk yang terkena dampak bencana dan memberikan kenyamanan. Perlu pula memperhatikan suhu yang memadai, udara segar dan perlindungan dari cuaca untuk memastikan martabat, kesehatan, keamanan dan kesejahteraan penghuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pembangunan: pembangunan memakai pendekatan sesuai dengan praktek pendirian bangunan setempat yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dampak Lingkungan: dampak negatif lingkungan ditekan melalui pengaturan rumah tangga, pengadaan bahan serta penggunaan teknik pembangunan dengan cara seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk standar barang bantuan non pangan meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pakaian dan Perlengkapan Tidur: orang yang terkena dampak bencana hendaknya mempunyai pakaian, selimut dan perlengkapan tidur yang memadai untuk memastikan martabat, keselamatan dan kesejahteraan mereka. Untuk bayi dan anak–anak di bawah 2 tahun hendaknya mempunyai selimut berukuran minimum 100 cm X 70 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kebersihan Pribadi: setiap rumah tangga yang terkena dampak bencana mempunyai akses yang memadai terhadap sabun dan barang lainnya, untuk memastikan kebersihan, kesehatan, martabat dan kesejahteraan. Setiap orang hendaknya mempunyai akses terhadap 250 gram sabun mandi setiap bulan dan 200 gram sabun cuci setiap bulan. Bayi dan anak–anak hingga usia 2 tahun, hendaknya mempunyai 12 popok yang bisa dicuci atau popok sekali pakai, sesuai dengan kebiasaan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Piranti Memasak dan Makan: setiap rumah tangga yang terkena dampak bencana hendaknya mempunyai akses terhadap piranti untuk memasak dan makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kompor, Bahan Bakar dan Penerangan: masing–masing rumah tangga yang terkena dampak bencana dipastikan mempunyai akses terhadap sarana memasak bersama atau satu kompor per keluarga. Termasuk akses terhadap pasokan bahan bakar untuk keperluan memasak dan untuk menjaga kehangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Piranti dan Peralatan: masing–masing rumah tangga yang terkena dampak bencana, ada yang bertanggung jawab untuk melaksanakan pembangunan, pemeliharaan dan penggunaan hunian secara aman, serta mempunyai akses terhadap peralatan yang diperlukan. Setelah masing–masing kelompok berdiskusi dan mempresentasikan hasilnya maka dilanjutkan dengan evaluasi harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 13 Oktober 2010, kegiatan hari ketiga diawali dengan review dan refleksi kegiatan sebelumnya. Peserta diajak bermain membetuk 2 kelompok berdiri saling berhadapan. Mereka diajak adu cepat mengambil sebuah boneka yang diletakkan di tengah. Masing–masing peserta harus berebut dengan menyebutkan nomer urut yang diberikan. Mereka yang kalah diberi pertanyaan seputar materi hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dilanjutkan ke Standar &lt;em&gt;Sphere &lt;/em&gt;dalam layanan kesehatan. Peserta diberi 2 lembar kertas yang sudah diberi tulisan dan diminta untuk menempelkan pada papan sesuai dengan bagian yang ditentuka, yaitu: sistem dan infrastruktur kesehatan, pengendalian penyakit menular dan pengendalian penyakit tidak menular. Penempelan harus tepat sesuai dengan Standar &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt; sehingga peserta diharapkan bisa membaca dan memahami lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah break sejenak dilanjutkan dengan sesi Standar &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt; dalam persiapan bencana. Pada sesi ini peserta yang sudah dibagi menjadi 3 kelompok mendiskusikan persiapan apa yang harus dilakukan sebelum terjadi bencana. Misalnya ada peringatan dini, jalur evakuasi, lokasi evakuasi yang mudah ditempuh atau dijangkau, lokasi aman dan lain–lain. Hasil diskusi ditempel dan dipresentasikan untuk didiskusikan bersama sehingga saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi Standar &lt;em&gt;Shere&lt;/em&gt; berikutnya berkaitan dengan kegiatan tanggap darurat. Peserta yang sudah dibagi menjadi 4 kelompok diberi kasus simulasi bencana. Ialah situasi banjir bandang yang terjadi di tiga desa dalam satu kecamatan. Masing–masing kelompok diberi tugas untuk memberi pasokan air bersih, memberikan pelayanan kesehatan dan gizi, memberi pasokan pangan dan membuatkan tempat hunian. Sebelumnya sudah ada informasi tentang jumlah korban dan jumlah jiwa. Tetapi karena pihak donor minta minta data yang akurat, maka lembaga melengkapi dengan data–data yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data pelengkap itu misalnya jumlah kaum lelaki dan perempuan, termasuk anak–anak dan orang dewasa. Termasuk jumlah ibu hamil, jumlah ibu menyusui, jumlah korban yang rumahnya rusak atau roboh, pasokan pangan serta air bersih. Jika masih ada pasokan pangan di desa, bertahan berapa hari, berapa minggu atau bulan, kesediaan pangan untuk bertahan. Demikian pula sumber air, sanitasi yang ada dan pelayanan kesehatan. Dengan demikian, data yang didapat sungguh akurat untuk selanjutnya dikaji dan disampaikan kepada donor sesuai kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendapatkan informasi yang benar, tepat sasaran dan sesuai kebutuhan, maka lembaga sebaiknya segera membuat dan menghitung anggaran dana berdasarkan kebutuhan masyarakat terdampak bencana. Pemberian bantuan diharapkan tidak menimbulkan perpecahan dan masalah. Terlebih, jangan sampai masyarakat menjadi korban untuk kedua kalinya, hanya karena pasokan pangan atau bantuan tidak sesuai standar &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt; karena terjadi keracunan. Masyarakat terdampak harus mendapatkan bantuan yang layak dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan simulasi tersebut peserta diharapkan semakin memahami maksud Pelatihan &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt; Dengan Pengarusutamaan Gender. Harapannya dalam penanganan di lokasi bencana, apa yang dilakukan sungguh sesuai Standar &lt;em&gt;Sphere&lt;/em&gt;. Akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan selesai setelah diadakan pembagian sertifikat dan foto bersama. &lt;em&gt;(Martinus Sapto, relawan Karina Posko Madiun)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-8922828273067139571?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8922828273067139571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/8922828273067139571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/10/pelatihan-sphere-dengan-pengarusutamaan.html' title='Pelatihan Sphere Dengan Pengarusutamaan Gender'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TMYkkEDA5zI/AAAAAAAABfE/BCGyFeCu51A/s72-c/imagesCA7LH3BF.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-9054004121312448526</id><published>2010-10-19T11:07:00.000-07:00</published><updated>2010-10-25T12:40:01.194-07:00</updated><title type='text'>Peringatan Hari Pangan Sedunia 2010 Keuskupan Surabaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TL3fev1CfEI/AAAAAAAABe8/y-mKT_CH_XE/s1600/Rm.+Wartaya,+SJ+dan+Bp+Neksa+memaparkan+animasi+HPS.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 129px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529821636808834114" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TL3fev1CfEI/AAAAAAAABe8/y-mKT_CH_XE/s200/Rm.+Wartaya,+SJ+dan+Bp+Neksa+memaparkan+animasi+HPS.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TL3feJe_HOI/AAAAAAAABe0/p3inwV2KLE0/s1600/Bp.+Untung+Subagya+melihat+sayuran+organik.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529821626515791074" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TL3feJe_HOI/AAAAAAAABe0/p3inwV2KLE0/s200/Bp.+Untung+Subagya+melihat+sayuran+organik.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TL3feCciR3I/AAAAAAAABes/8lgYf4sRtgg/s1600/Rm.+Thomas+Suparno+menyerahkan+bibit+simbolis+kepada+Kades+Puhsarang.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 132px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529821624626464626" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TL3feCciR3I/AAAAAAAABes/8lgYf4sRtgg/s200/Rm.+Thomas+Suparno+menyerahkan+bibit+simbolis+kepada+Kades+Puhsarang.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;Peringatan Hari Pangan Sedunia Tahun 2010 diperingati di Keuskupan Surabaya. Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Surabaya telah menetapkan bahwa tahun ini Kevikepan Kediri mendapat kesempatan menjadi tuan rumah. Seksi Sosial Paroki St. Yosep dan Paroki St. Vincentius, Kediri bersama-sama menjadi panitia. Sebagaimana diketahui, Peringatan HPS setiap tahun telah menjadi agenda tahunan kegiatan Komisi PSE. Setelah berturut-turut diadakan di Paroki St. Wilibrordus, Cepu, Paroki St. Yusup, Blitar dan Paroki St. Cornelius, Madiun, HPS 2010 diadakan di Kompleks Peziarahan Puhsarang, Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai tema HPS 2010 KWI, Membangun dan Memelihara Sumber Pangan, peringatan kali ini dihadiri 141 peserta dari Paroki se-Keuskupan Surabaya yang terdiri 3 orang utusan setiap paroki. Mereka terdiri dari 1 orang dari Seksi Sosial Paroki dan 2 orang dari unsur petani dan peminat gerakan HPS. Kegiatannya selain animasi dan motivasi gerakan HPS juga kunjungan atau &lt;em&gt;exposure visit&lt;/em&gt; ke Gubug Lazaris tempat pertanian terintegrasi yang dipimpin Rm. Hardo Iswanto, CM. Selain itu, di lokasi parkir gereja tua Puhsarang, diadakan pameran yang menampilkan hasil pertanian, makanan olahan, beras, pupuk, pengenalan proses yang semua serba organik, termasuk informasi pangan sehat. HPS 2010 selalu dipadu dengan Perayaan Ekaristi, yang bertepatan dengan tirakatan Malam Jumat Legi. Perayaan Ekaristi HPS mengungkapkan syukur atas keselamatan Allah yang diberikan Sang Sumber pangan abadi ialah Yesus Kristus, yang mengundang umat untuk turut memuliakan (lebih dari sekedar memelihara) sumber pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pukul 08.00, peserta dari berbagai Paroki telah mendatangi tempat kegiatan dan penginapan yang terbagi di Wisma Betlehem dan Wisma Hening St.Catharina, Puhsarang. Tepat pukul 10.30, Bp. Antonius Widodo, selaku Ketua Panitia &lt;em&gt;Organizing Committee&lt;/em&gt; HPS 2010 mengucapkan selamat datang dan memaparkan seluruh rangkaian kegiatan. Acara disusul sambutan pembukaan Rm. A. Luluk Widyawan, Pr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Animasi pertama disampaikan oleh Rm. Yohanes Wartaya Winangun, SJ, Direktur Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT), Salatiga. Dalam makalah berjudul Mewujudkan Petani Organik, Pengusaha Mandiri dan Sejahtera, beliau mengatakan jika hendak membangun dan mengembangkan suatu daerah, bangunlah dahulu pertaniannya. Jika persediaan pangan terjamin dan rakyat tidak kekurangan, maka bidang-bidang lainnya bisa dikembangkan. Itulah yang dilakukan oleh Jepang. Beliau menegaskan inti dari pertanian organik adalah pertanian yang bekerja sama atau bersahabat dengan alam. Alam telah menghidupi segala makhluk hidup selama berjuta-juta tahun. Alam harus menjadi pusat, manusia mengelola alam dan tidak sebaliknya. Prinsip pertanian organik harus melestarikan kesehatan manusia, tanah, tanaman, hewan dan bumi, sebagai satu kesatuan tak terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Animasi kedua dipaparkan Bp. Neksa Hadiyanto Santoso, seorang pengusaha Pupuk Kascing yang berasal dari Kudus. Menurutnya, kascing (bekas cacing) adalah kotoran cacing. Kotoran tersebut berupa segala bahan alami yang busuk yang masuk dalam perut cacing, kemudian dicerna dan dikeluarkan lagi dalam bentuk butiran-butiran halus, berwarna kehitam-hitaman namun beraroma tak busuk, seperti tanah. Kotoran cacing telah bercampur lendir dan air liur cacing merupakan pupuk organik yang amat berkhasiat bagi segala macam tanaman. Sifat cacing memberi oksigen dan air dalam tanah. Cacing menetralkan kotoran dalam tanah dan bisa membunuh kuman thypus. Bahkan cacing bisa dipakai sebagai bahan untuk menghaluskan kulit. Kemampuan produksi pupuk yang dibuat cacing adalah seberat badan badan cacing itu sendiri per hari. Jika memelihara 1 ton cacing, maka pupuk kascing yang dihasilkan per hari juga 1 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sesi tanya jawab, ada 12 penanya. Pertanyaan diajukan antara lain oleh Bp. Suwandi dari Paroki St. Yusup, Blitar, Bp. Kasmijan dari Paroki St. Wilibrordus, Cepu, Bp. Subekti dari Paroki St. Yusup, Blitar, Bp. Titus dari Paroki St. Cornelius, Kediri, Bp. Wahyudi dari Paroki St. Petrus dan Paulus, Wlingi, Ibu Toupan dari Paroki Hati Kudus Yesus, Surabaya, Bp. Sunaryo dari Paroki St. Pius X, Blora dan Bp. Subagya dari Stasi Trenggalek. Para peserta tampak bersemangat dan berpartisipasi aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rm. Wartaya kembali mengajak tidak perlu ragu untuk memulai pola hidup sehat dan organik. Karena alam telah menyediakan apa yang dibutuhkan bagi kehidupan. Yang perlu ialah mengenal dan bersahabat dengan alam. Seperti salah satu contohnya, ketika hendak bertani organik sementara lahan lain masih tercemar kimia melalui aliran air, petani bisa menyaring bahan kimia dengan membuat kolam kecil sebelum air dari luar masuk ke lahan organik. Kolam tersebut diberi tanaman enceng gondok yang mampu menetralkan. Menanggapi keluhan bahwa beras organik harganya mahal, Rm. Wartaya justru mengajak untuk menghargai petani yang telah berjerih payah mengusahakan pangan sehat, dengan harga yang pantas. &lt;em&gt;“Coba bapak dan ibu merasakan sebagai petani dan hasil pertaniannya dihargai mahal. Senang atau tidak ?”,&lt;/em&gt; tanya beliau yang disahut peserta dengan seruan, &lt;em&gt;“Senang !”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi ketiga, Rm. A. Luluk Widyawan, Pr menjelaskan bahwa gerakan HPS sudah lama menjadi gerakan Gereja dan terus menerus digemakan. Komisi PSE menjalankan peran sebagai animator, motivator dan fasilitator, antara lain melalui Peringatan HPS yang telah berurutan diperingati setiap tahun. Komisi PSE bukan menjadi pesaing bagi kaum tani, namun mendukung dan mendorong mereka untuk terlibat dalam gerakan HPS, terutama melalui komunitas-komunitas basis petani di stasi atau paroki. Beberapa paroki telah berinisiatif menjalankan gerakan ini, seperti paguyuban tani Bumi Berseri (Paroki St. Willibrordus, Cepu), paguyuban tani Stasi St. Maria Ratu Damai, Slahung (Paroki St. Maria, Ponorogo) atau paguyuban tani Sekar Tanjung (Stasi Mojorejo, Paroki St. Yusup, Blitar). Tidak hanya itu, beberapa komunitas seperti Wahana Patria milik para suster Abdi Roh Kudus, Gubug Lazaris milik Konggregasi Misi atau SDK St. Theresia yang mendapat penghargaan dari Walikota Surabaya, merupakan contoh nyata turut ambil bagian dalam gerakan HPS. Harapannya semakin banyak umat tergerak melaksanakan gerakan HPS. Misalnya dengan memanfaatkan lahan tidur milik pribadi atau Gereja dengan sayuran organik, mengkampanyekan, mendistribusikan dan mengkonsumsi beras organik atau memulai bertanam di halaman rumah atau pot, tanpa pupuk kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan HPS selaras dengan salah satu dari prioritas pastoral Komisi PSE Keuskupan Surabaya yaitu pemberdayaan kewirausahaan bagi kaum petani dan kaum muda dan sesuai dengan amanat diskusi temu karya Komisi PSE, Agustus 2010 lalu yang memberi perhatian pada pemberdayaan pertanian dan pangan. Semua itu merupakan tanggung jawab iman karena gerakan memelihara bumi tetap lestari dan menciptakan sumber pangan sehat bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 13.00, para peserta rehat sejenak untuk makan siang. Acara dilanjutkan perjalanan ke Gubug Lazaris dengan dua bus dan beberapa kendaraan pribadi yang sukarela mengantar peserta. Para peserta sampai di lokasi ditemui, Rm. Hardo Iswanto, CM. Selaku tuan rumah beliau mengucapkan selamat datang dan menceritakan proses berdirinya Gubug Lazaris. Modal utamanya adalah keinginan untuk memulai karya di bidang pertanian secara nyata. Maka ia mempraktekkan bertani, karena para petani tidak butuh banyak wacana, melainkan contoh nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai mengusahakan lahan seluas hampir satu hektar yang sebagian besar ditanami padi. Di kompleks lokasi, tepatnya di bagian kiri, dibangun kandang sapi yang dihubungkan dengan rumah pengolahan kompos dari kotoran sapi. Di sebelah kanan ada rumah yang dipakai untuk pembuatan pupuk kascing. Pupuk kascing ini dipakai untuk menyuburkan seluruh tanaman di situ. Di bagian belakang terdapat lahan penanaman padi dengan sistem SRI. Sementara di tengah kompleks, terdapat &lt;em&gt;green house&lt;/em&gt; lahan sayur yang dilindungi dengan &lt;em&gt;paranet&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;“Semua tanaman di sini menggunakan pupuk kompos, tidak menggunakan pupuk kimia”&lt;/em&gt; demikian kata Rm. Hardo yang berasal dari Paroki St. Pius X, Blora. Beliau berharap agar semakin banyak peserta yang tergerak melakukan karya nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dilanjutkan dengan paparan Bp. Sitris dari paguyuban tani Bumi Berseri, Cepu yang memberi pelatihan pembuatan pupuk cair. Bahan utama pupuk ini dari limbah tahu, karena kota Kediri adalah kota tahu. Beliau menerangkan bagaimana memanfaatkan limbah sapi untuk biogas. Gas yang dihasilkan oleh limbah satu atau dua ekor sapi setiap hari, cukup untuk kebutuhan memasak rumah tangga. Gas ini aman, hemat dan ramah lingkungan. Para peserta kemudian melanjutkan dengan melihat-lihat area kompleks, tanaman di kebun, sapi di kandang, proses pembuatan kascing, lahan tanaman padi SRI serta membeli sayuran dan beras organik yang memang disediakan pengelola Gubug Lazaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menempuh perjalanan kembali ke Puhsarang, para peserta berhenti di depan area parkir gereja lama. Di gerbang masuk kompleks peziarahan itu, dilangsungkan pembukaan pameran dengan pengguntingan pita oleh Rm. A. Luluk Widyawan, Pr. Sementara Rm. Thomas Suparno, CM, Pastor Paroki St. Vincentius, Kediri menyerahkan secara simbolis 100 bibit pohon buah mangga kepada kepala desa Puhsarang untuk ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 24.00 rangkaian acara HPS 2010 diakhiri dengan Perayaan Ekaristi konselebrasi seluruh imam yang hadir dengan selebran utama Rm. AP. Dwijoko, Pr. Dalam kata pembuka Vikjen Keuskupan Surabaya itu mengatakan, &lt;em&gt;“Hujan yang mengiringi Perayaan Ekaristi ini memang tidak begitu nyaman untuk kita, namun itulah tanda kasih Allah kepada manusia dan alam semesta. Hujan ini akan membuat tanaman yang ditanam oleh para petani bisa hidup. Inilah yang patut kita syukuri”. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana hujan, umat yang memenuhi lokasi peziarahan tetap bertahan berlindung dengan payung yang disediakan. Rm. Siprianus Yitno, Pr dalam kotbah mengajak umat yang hadir untuk turut mengusahakan pangan sehat sehingga umat mengalami &lt;em&gt;murah sandang pangan, seger kwarasan&lt;/em&gt;, yang artinya mendapatkan pangan yang terjangkau dan sehat. Rm. Wartaya, kembali mengingatkan umat untuk mendukung gerakan HPS dengan yel-yel &lt;em&gt;“Organik Yes, Non Organik No !”&lt;/em&gt; Seusai misa, Rm. Dwijoko memberkati 1.000 bibit tanaman, berupa bibit mangga, durian, kelapa, juga bibit pohon mahoni, jabon dan lain-lain yang disediakan panitia untuk dibagikan kepada umat supaya ditanam. Sampai jumpa di HPS tahun depan. &lt;em&gt;(Bp. Untung Subagya, panitia SC HPS 2010 dan tim HPS Keuskupan Surabaya). &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-9054004121312448526?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/9054004121312448526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/9054004121312448526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/10/peringatan-hari-pangan-sedunia-2010.html' title='Peringatan Hari Pangan Sedunia 2010 Keuskupan Surabaya'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TL3fev1CfEI/AAAAAAAABe8/y-mKT_CH_XE/s72-c/Rm.+Wartaya,+SJ+dan+Bp+Neksa+memaparkan+animasi+HPS.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-4147739757993805270</id><published>2010-10-17T13:29:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T22:13:25.009-07:00</updated><title type='text'>Mengurangi Resiko Bencana Di Mojoasem</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLtfYUo_NSI/AAAAAAAABd8/M_dZ5jVcoIo/s1600/100_0074.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529117838989538594" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLtfYUo_NSI/AAAAAAAABd8/M_dZ5jVcoIo/s200/100_0074.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLtfXVnkkmI/AAAAAAAABd0/QSNOaXpEPjU/s1600/100_0093.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529117822072164962" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLtfXVnkkmI/AAAAAAAABd0/QSNOaXpEPjU/s200/100_0093.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLtfXDSriWI/AAAAAAAABds/fOnN8VHxWqI/s1600/100_0125.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529117817152702818" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLtfXDSriWI/AAAAAAAABds/fOnN8VHxWqI/s200/100_0125.JPG" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;Masih ingat Mojoasem ? Desa di tepi aliran sungai Bengawan Solo tahun 2007 dan 2008 lalu memang menjadi langganan banjir. Mojoasem berada di sebelah Utara Kota Lamongan, tepatnya di wilayah Kecamatan Laren. Jika di jalan bertanya, di mana letak Desa Mojoasem ? Pasti orang akan menjawab sambil menyebutkan Mojoasem sebagai daerah banjir. Memang secara geografis Mojoasem yang berada di sisi Barat tanggul Sungai Bengawan Solo menjadi daerah yang dikorbankan jika terjadi banjir. Maksudnya, sisi Timur tanggul yang merupakan area persawahan lebih dipertahankan. Akan tetapi desa di atas tanggul itu dihuni oleh banyak orang. Warga turun temurun telah menggarap ladang dan sawah, mendapatkan penghidupan dengan beternak ikan di tambak. Banjir menjadi pengalaman buruk yang merusakkan rumah, merobohkan tanggul, menghanyutkan tanaman di sawah dan ladang serta ikan di tambak yang ujungnya menganggu perekonomian warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karina Surabaya bersama berbagai &lt;em&gt;implementing partner&lt;/em&gt; saat itu membuka posko yang mendapat dukungan dari &lt;em&gt;Caritas network&lt;/em&gt;, paroki-paroki, kelompok dan sekolah untuk memberikan bantuan tanggap darurat ke berbagai desa antara lain: Desa Mojoasem, Siser and Pesanggrahan. Tak terkecuali Desa sekitar seperti Desa Misuwur, Kroyo, Jabung, Sapan, Gelap dan Dateng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah banjir berlalu, muncul kesadaran warga untuk berkumpul membentuk komunitas tanggap darurat supaya siap menghadapi banjir tahunan. Warga sadar pula untuk melakukan berbagai kegiatan seperti: memperbaiki tanggul yang jebol, meningkatkan kapasitas dengan pembelajaran pengurangan resiko bencana hingga terbentuknya tim dan kontak person lokal. Selain itu muncul kesadaran untuk memperkuat pertanian dan peternakan kambing sebagai strategi pemberdayaan, sehingga komunitas semakin solid dan tahan bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan perbaikan tanggul, warga telah melakukan survei tanggul yang rusak yaitu dengan volume pengerjaan 288,75 m3, sepanjang 15 meter. Warga pun merencanakan peninggian tanggul dan pelengsengan tanggul sepanjang 400 meter. Untuk itu, warga mengerahkan tenaga kerja secara gotong royong, mengakses Anggaran Dana Desa dan mengupayakan material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan strategi pemberdayaan demi terwujudnya komunitas tahan bencana, usaha yang direalisasikan adalah kelompok ternak kambing. Selama ini, peternakan warga masih dilakukan secara konvensional di mana ketergantungan pakan hijau sangat tinggi. Mereka belum sepenuhnya mengenal pakan alternatif yang sebenarnya melimpah di sekitar mereka misalnya, dari padi, limbah jagung, daun-daun dan limbah lainnya. Padahal limbah pertanian itu adalah sumber daya alam yang tersembunyi dan stoknya sangat berlimpah di lingkungan mereka. Selain, pola peternakan warga tidak pernah dimanajemen baik. Warga beranggapan ternak bukan usaha yang harus dikembangkan secara maksimal dan bisa menjadikan mereka sebagai pelaku wirausaha. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ipung yang menjadi pendamping warga, telah memfasilitasi terbentuknya organisasi komite desa pengurangan resiko bencana. Komite ini memiliki 40 orang yang berprofesi sebagai petani dan melakukan pertemuan rutin dalam setiap bulan pada tanggal 10. Sebagian besar anggotanya telah melakukan usaha peternakan domba secara konvensional. Anggota kelompok memiliki kemauan yang tinggi dalam memulai berwirausaha yang ditunjukan dalam pengelolaan sawah organik secara kelompok sebagai pilot proyek. Selain itu, di sekitar rumah anggota masih banyak ruang / lahan kosong yang bisa dimanfaatkan serta berlimpahnya limbah pertanian yang tidak diolah kembali. Kebetulan, ada dukungan 2 pasar hewan yang berjarak 2 km dari Desa Mojoasem yaitu pasar hewan Keduyung (Pasar Pon) dan 5 km pasar hewan Desa Bulu, Kecamatan Sekaran sebagai pasar induk yang memudahkan mengakses pasar. Tak ketinggalan lingkungan memungkinkan karena banyak bahan pakan ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga telah memulai dengan pelatihan dan kunjungan ke percontohan di Pare, melakukan pembuatan kandang, mengusahakan kambing secara swadaya atau mengakses bantuan dari penyumbang yang bersimpati, mengelola bersama peternakan, mengadakan pertemuan rutin dan mengikuti &lt;em&gt;workshop&lt;/em&gt; pengeloaan usaha ternak kelompok. Kambing pun mulai dipelihara di lokasi milik salah satu warga yang disepakati. Saat ini, paling tidak, warga yang menjadi anggota telah mendapatkan peningkatan kapasitas tentang wirausaha berbasis peternakan dan pertanian. Harapannya pendapatan 40 anggota ternak terpadu semakin meningkat dan selanjutnya terbentuk usaha pengemukan kambing dalam kandang terpadu. Dengan demikian, ketika banjir melanda dan menenggelamkan sawah, ladang dan tambak, keadaan ekonomi warga tidak serta merta ikut tenggelam. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-4147739757993805270?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4147739757993805270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/4147739757993805270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/10/penguatan-komunitas-warga-mojoasem.html' title='Mengurangi Resiko Bencana Di Mojoasem'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLtfYUo_NSI/AAAAAAAABd8/M_dZ5jVcoIo/s72-c/100_0074.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-2958109310690151796</id><published>2010-10-01T03:12:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T22:17:12.966-07:00</updated><title type='text'>Pupuk Cair Organik Dari Gondang Tapen</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLthw49eGHI/AAAAAAAABeM/CXknHPs86MY/s1600/37209_162608177091066_100000256544791_440130_7183961_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529120460079241330" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLthw49eGHI/AAAAAAAABeM/CXknHPs86MY/s200/37209_162608177091066_100000256544791_440130_7183961_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLthwBINJMI/AAAAAAAABeE/a92YYPy7K2w/s1600/67457_162608193757731_100000256544791_440131_1090655_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529120445091882178" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLthwBINJMI/AAAAAAAABeE/a92YYPy7K2w/s200/67457_162608193757731_100000256544791_440131_1090655_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pelatihan Pembuatan Pupuk Cair Organik di Stasi Gondang Tapen, Blitar diadakan pada 18 September 2010. Sebanyak 80 peserta yang sebagian besar kaum petani di sekitar stasi menghadiri kegiatan tersebut. Pelatihan dimulai tepat pukul 13.30 WIB. Setelah mendengarkan sambutan-sambutan dari Tim HPS Kevikepan Blitar serta Kepala Dinas Pertanian Kecamatan acara pelatihan dilaksanakan. Bp. Sitris dari Paroki, St. Willibrordus, Cepu memeragakan alat pembuatan tabung biogas. Peserta antusias sekali. Berhubung alat tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit, maka Tim menyarankan agar membuat percontohan biogas di salah satu stasi dulu, sampai berhasil. Setelah kelihatan hasilnya menyusul stasi lain ikut serta. Setelah diselingi tanya jawab, acara dilanjutkan dengan praktek membuat pupuk cair organik. Karena pupuk tersebut baru bisa dilihat hasilnya setelah 10 hari tepatnya tanggal 28 September 2010, maka akan ada kegiatan lanjutan. Rencananya pupuk hasil pelatihan tersebut akan dibagikan ke stasi-stasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara berikutnya peserta diajak belajar membuat pupuk dengan bokashi. Acara ini dipandu oleh Bp. Sumardji yang kebetulan menjadi petugas penyuluh lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian. Beliau didampingi oleh Bp. Jimat dari Stasi Mojorejo. Setelah pelatihan pembuatan pupuk bokashi, peserta menyempatkan diri ngobrol dan berdiskusi di rumah Bp. Singgih di samping Gereja. Tepat pukul 17.00 peserta kembali ke rumah dengan membawa ½ liter pupuk EM 4 yang akan digunakan sebagai media tanam yang akan ditanami benih persembahan dari umat pada Perayaan Ekaristi Hari Paroki St. Yusup, Blitar, tepatnya tanggal 17 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan tersebut juga dibentuk tim HPS di Kevikepan Blitar yang akan memonitor paroki dan stasi-stasi. Tim ini akan mengawal pupuk hasil pelatihan yang akan digunakan di stasi-stasi apakah dimanfaatkan secara baik dan benar atau tidak. Tim juga akan memberi semangat kepada para petani andalan di stasi-stasi agar tidak jemu-jemu memberi contoh kepada petani dan masyarakat di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sambutan penutupan, Bp. FJ. Soewandi sebagai sesepuh Tim Seksos Paroki St. Yusup, Blitar percaya bahwa pelatihan ini akan memberi inspirasi positif kepada para petani. Kelak meskipun subsidi pupuk dicabut dan pupuk menjadi langka, petani tetap bertahan dengan pupuk organik buatannya sendiri. Dan dengan demikian, ketahanan pangan bukan lagi menjadi impian namun nyata sebagai berkat dari Allah Bapa di surga. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-2958109310690151796?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2958109310690151796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2958109310690151796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/10/pembuatan-pupuk-cair-organik-di-stasi.html' title='Pupuk Cair Organik Dari Gondang Tapen'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TLthw49eGHI/AAAAAAAABeM/CXknHPs86MY/s72-c/37209_162608177091066_100000256544791_440130_7183961_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-38576891852471039</id><published>2010-09-30T14:13:00.000-07:00</published><updated>2010-10-01T00:27:52.450-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Manajemen Keuangan Praktis</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TKWJ5AllTgI/AAAAAAAABdU/1sGSR6H7QzA/s1600/fin.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 156px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522972130542964226" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TKWJ5AllTgI/AAAAAAAABdU/1sGSR6H7QzA/s200/fin.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TKWBhEbS50I/AAAAAAAABdM/JaPcBJZ3vdY/s1600/60258_433027684506_794764506_4767261_7439658_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522962923163674434" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TKWBhEbS50I/AAAAAAAABdM/JaPcBJZ3vdY/s200/60258_433027684506_794764506_4767261_7439658_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada tanggal 23-27 Agustus 2010 Karina KWI mengadakan Pelatihan Manajemen Keuangan Praktis untuk para staf keuangan dan program dari seluruh Caritas Keuskupan Se Regio Jawa dan Sumatera. Setiap Keuskupan mengirim staf dari bagian keuangan dan program. Karina Keuskupan Surabaya mengutus Fina Utami Putri, Heri Risdianto dan Bp. Eddy Loke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang diperoleh dari pelatihan ini berkaitan dengan manajemen keuangan praktis. Beberapa hal yang bermanfaat bagi organisasi, antara lain: membantu manajer dalam menfaatkan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dan memenuhi komitmennya kepada pemangku kepentingan, lebih bertanggungjawab kepada donor dan pemangku kepentingan yang lain, mendapatkan kepercayaan dari pemberi dana, patner kerja dan para penerima bantuan, memberikan nilai lebih bagi organisasi dan membantu organisasi mempersiapkan diri untuk keberlanjutan keuangan jangka panjang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Manajemen keuangan pada organisasi diibaratkan sebagai perawatan pada kendaraan. Jika tidak memberi bahan bakar dan pelumas yang baik atau servis berkala, maka kendaraan akan rusak dan tidak akan dapat bekerja secara efisien. Jika diabaikan, maka kendaraan tersebut sewaktu-waktu akan rusak dan gagal untuk mencapai tujuan utamanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tugas manajemen keuangan berkaitan dengan berbagai hal antara lain: &lt;em&gt;mengatur sumber-sumber yang sedikit&lt;/em&gt; karena organisasi kemanusiaan beroperasi dalam lingkungan yang harus memastikan bahwa dana dan sumber-sumber donasi digunakan secara tepat guna untuk mencapai misi dan tujuan organisasi. Selain itu untuk &lt;em&gt;mengatur resiko&lt;/em&gt; karena semua organisasi menghadapi resiko internal dan eksternal yang dapat mengancam operasi dan bahkan kelangsungan organisasi. Resiko-resiko tersebut harus dapat diidentifikasi dan diatur secara aktif untuk membatasi dampak-dampak negatif yang bisa terjadi. Juga &lt;em&gt;mengatur strategi, &lt;/em&gt;di mana manajemen keuangan bagian dari manajemen secara keseluruhan. Artinya manajer harus melihat pada gambaran yang lebih luas, yaitu bagaimana pendanaan organisasi secara keseluruhan dalam jangka menengah maupun jangka panjang, tidak hanya berfokus pada proyek dan program. Yang terakhir, dalam rangka &lt;em&gt;mengatur sesuai tujuan&lt;/em&gt; karena manajemen keuangan melibatkan perhatian khusus kepada proyek dan tujuan organisasi. Proses manajemen keuangan meliputi beberapa hal seperti perencanaan, pelaksanaan, pemeriksaan yang berjalan secara terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan maksudnya ketika sebuah organisasi didirikan, organisasi itu merumuskan tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatannya. Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan perencanaan anggaran yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan dan bagaimana mendapatkan dana. Pelaksanaan artinya setelah memperoleh dana, program dari kegiatan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan sebagaimana pada tahap perencanaan. Kemudian pemeriksaan, maksudnya keadaan yang sebenarnya dibandingkan dengan perencanaan awal. Para manajer keuangan kemudian dapat memutuskan apakah organisasi mencapai target untuk mencapai tujuan sesuai dengan jangka waktu dan rencana biaya yang sudah disepakati atau tidak. Hasil dari pemeriksaan akan digunakan selanjutnya sebagai pertimbangan dalam tahap perencanaan selanjutnya dan begitulah seterusnya. Demikianlah semua karena &lt;em&gt;financial transparency and accountability in humanitarian service is a must &lt;/em&gt;sebagaimana dikatakan Paus Yohanes Paulus II &lt;em&gt;(Bp. Eddy Loke)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-38576891852471039?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/38576891852471039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/38576891852471039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/09/pelatihan-manajemen-keuangan-praktis.html' title='Pelatihan Manajemen Keuangan Praktis'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TKWJ5AllTgI/AAAAAAAABdU/1sGSR6H7QzA/s72-c/fin.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-1838158617936976114</id><published>2010-09-17T12:22:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T11:38:34.463-07:00</updated><title type='text'>Persiapan Peringatan HPS 2010</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TJSiXOK7vJI/AAAAAAAABdE/bvkujGzkct4/s1600/2064647634_c3d0ab5e7f.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 133px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5518213963260345490" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TJSiXOK7vJI/AAAAAAAABdE/bvkujGzkct4/s200/2064647634_c3d0ab5e7f.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Surabaya bersama dengan Seksos Paroki St. Yusup dan Paroki St. Vincentius, Kediri akan mengadakan Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS), Keuskupan Surabaya. Peringatan HPS setiap tahun telah menjadi agenda kegiatan Komisi PSE. Setelah berturut-turut diadakan di Paroki St. Wilibrordus, Cepu, Paroki St. Yusup, Blitar dan Paroki St. Cornelius, Madiun. Tahun 2010 HPS diadakan di Kompleks Peziarahan Puhsarang, Kediri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Peringatan HPS merupakan kesempatan untuk memberi perhatian mengenai pangan. Ada yang konkret untuk diungkapkan yakni keprihatinan pada upaya keberlanjutan akan ketersediaan pangan dan memelihara keutuhan ciptaan Tuhan. Gereja harapannya semakin meningkatkan partisipasi dalam gerakan pangan dan aksi solidaritas yang lebih nyata. Gerakan pangan tidak saja gerakan teknis mengenai pangan. Namun gerakan kehidupan, dengan pangan sebagai investasi yang menghidupi dan menjadikan organik sebagai gaya hidup. Dengan demikian upaya manusia membangun kehidupan pangan harus bermuara pada terwujudnya kesejahteraan bersama (&lt;em&gt;bonum communae&lt;/em&gt;). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Peringatan HPS yang akan dipadu dengan Perayaan Ekaristi Malam Jumat Legi ini akan diadakan pada Kamis, 14 Oktober 2010. Lokasi peringatan di Wisma Hening St. Catharina / Wisma Bethlehem, Puhsarang, Kediri dan kompleks peziarahan Gua Maria Lourdes, Kediri. Peringatan HPS kali ini akan dihadiri oleh 3 orang utusan dari setiap paroki yaitu, 1 orang dari Seksi Sosial Paroki dan 2 orang dari unsur petani dan peminat Gerakan HPS. Meskipun demikian, seluruh rangkaian kegiatan terbuka bagi siapapun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bp. Petrus Erlik Dwi Prasetyono, selaku Sekertaris Panitia HPS 2010 mengatakan bahwa tema Peringatan HPS kali ini mengacu pada tema HPS KWI 2010 yaitu Membangun dan Memelihara Sumber Pangan. Hal ini selaras dengan salah satu dari dua Prioritas Pastoral Komisi PSE Keuskupan Surabaya yaitu Pemberdayaan Kewirausahaan Bagi Kaum Petani Dan Kaum Muda dan sesuai dengan amanat diskusi temu karya Komisi PSE beberapa seksos Paroki untuk memberi perhatian kepada dunia pertanian, pemberdayaan pertanian dan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang Gagasan HPS KWI 2010 yang bertema Membangun dan Memelihara Sumber Pangan sebenarnya mengajak umat untuk menyadari bahwa keselamatan Allah diawali dengan pangan dan ditandaskan bahwa ketersediaan sumber pangan abadi adalah Yesus Kristus. Maka sikap dan tindakan kita terhadap pangan adalah memuliakan (lebih dari sekedar memelihara) sumber pangan. Upaya membangun dan memelihara sumber pangan perlu dinyatakan dalam gerakan bersama, karena Allah sudah memberikan kepada manusia segala hal yang baik untuk kehidupan. Membangun (kembali) dan memelihara sumber pangan merupakan panggilan menjaga kehidupan manusia dan keutuhan alam ciptaanNya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Upaya membangun (kembali) dan memelihara sumber pangan sekaligus menjadi sasaran antara bagi promosi dan pengembangan kewirausahaan khususnya bagi petani dan kaum muda. Yaitu membekali mereka dengan wawasan, sikap dan keterampilan untuk membangun (kesadaran) kemandirian dan sekaligus memperlihatkan kewirausahaan sebagai alternatif pilihan. Isu pangan menjadi pintu masuk untuk memberi perhatian kepada kaum petani dan kaum muda, memperbaiki kondisi sosial ekonomi, menjadi sarana untuk membentuk kemitraan dan solidaritas antar umat se-keuskupan serta menjadi sarana dialog karya antar umat lintas agama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gerakan HPS sebenarnya telah dimulai di beberapa paroki di Keuskupan Surabaya misalnya, Paguyuban Tani Bumi Berseri (Paroki St. Willibrordus, Cepu), Paguyuban Tani Stasi St. Maria Ratu Damai, Slahung (Paroki St. Maria, Ponorogo), Paguyuban Tani Sekartanjung, Stasi Mojorejo (Paroki St. Yusup, Blitar), Paguyuban Tani Stasi Ngrambe (Paroki St. Yosep, Ngawi), Paguyuban Tani Kuasi Paroki St. Hilarius, Klepu, Ponorogo dan Gubuk Lazaris, Paroki St. Yusup, Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan peringatan HPS kali ini memperingati dan menggemakan Gerakan Hari Pangan Sedunia di Keuskupan Surabaya, memberikan animasi Gerakan HPS melalui animasi Pertanian Organik, Pemanfaatan Pupuk Kascing, memperkenalkan gerakan pertanian terintegrasi dalam &lt;em&gt;exposure visit &lt;/em&gt;ke Gubuk Lazaris dan &lt;em&gt;workshop &lt;/em&gt;pembuatan pupuk organik cair dari limbah tahu. Selain itu akan ditampilkan hasil produk pangan sehat dalam pameran dengan kriteria materi pameran berupa bahan makanan atau pangan olahan maupun modifikasi yang sehat, diolah dari bahan tanpa pupuk kimia dan tanpa pestisida kimia, misalnya: sayuran, beras organik, buah-buahan, &lt;em&gt;gethuk, gaplek, ketan, peyek&lt;/em&gt;, tahu dan lain-lain. Juga produk penunjang pertanian organik seperti pupuk, kompos, kompos cair, pestisida non kimia serta alat-alat pertanian dan teknologi tepat guna. Bagi siapapun yang hendak mengisi stand pameran diharapkan melakukan pendaftaran selambat-lambatnya 5 Oktober 2010, menghubungi kontak person, Bp. Bachtiar (Seksi Perlengkapan) – 081335323863. Panitia menyediakan 22 stand di lokasi parkir depan gereja tua, Puhsarang. Sampai jumpa di Puhsarang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-1838158617936976114?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1838158617936976114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1838158617936976114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/09/peringatan-hps-2010.html' title='Persiapan Peringatan HPS 2010'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TJSiXOK7vJI/AAAAAAAABdE/bvkujGzkct4/s72-c/2064647634_c3d0ab5e7f.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-2192962431708557685</id><published>2010-09-09T11:32:00.000-07:00</published><updated>2010-09-13T06:25:20.295-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Batik Life Skills</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIkpFVzswLI/AAAAAAAABcM/K2m2XyMg2YE/s1600/batik+002.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 142px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514984390421954738" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIkpFVzswLI/AAAAAAAABcM/K2m2XyMg2YE/s200/batik+002.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIkpAmJEW0I/AAAAAAAABcE/GTDGB0k5-7Q/s1600/batik+001.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 132px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514984308907203394" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIkpAmJEW0I/AAAAAAAABcE/GTDGB0k5-7Q/s200/batik+001.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIko7WJJpXI/AAAAAAAABb8/MBmgfV6dmE4/s1600/batik+005.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 136px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514984218713236850" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIko7WJJpXI/AAAAAAAABb8/MBmgfV6dmE4/s200/batik+005.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, &lt;em&gt;Batik Life Skills, &lt;/em&gt;demikian nama pelatihan yang diadakan oleh Wanita Katolik Cabang Paroki St. Petrus dan Paulus Rembang. Pelatihan ini diudukung oleh Panitia APP Keuskupan Surabaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, Batik merupakan aset asli budaya bangsa Indonesia yang ditetapkan oleh lembaga PBB untuk urusan pendidikan dan kebudayaan, Unesco. Begitu berharganya aset budaya tersebut, namun kenyataannya semakin sedikit penerus budidaya Batik. Data menunjukkan bahwa kapasitas produksi industri Batik Lasem di wilayah Kabupaten Rembang menurun drastis dari 144 pengusaha menjadi hanya 20 saja pada tahun 2006. Padahal Batik Lasem sebenarnya terkenal dengan batik pesisir atau batik yang cirinya indah dengan pewarnaan yang berani. Situasi inilah yang memanggil Wanita Katolik Cabang Rembang untuk ikut serta berperan aktif dalam memperkenalkan dan membudidayakan Batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penanggungjawab pelatihan, Ibu Agustina Dwi Indah Ratnawati, &lt;em&gt;Batik Life Skills&lt;/em&gt; ini diikuti oleh sebagian besar kaum ibu anggota WKRI dan sebagian kecil kaum remaja putri. Total peserta sebanyak 25 orang. Peserta diajar untuk dapat membatik dari tingkat dasar hingga menjadi kain batik dengan 1 warna saja, harapannya sampai 2 atau 3 warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memulai pelatihan panitia mempersiapkan beberapa peralatan pendukung, yaitu &lt;em&gt;kain mori, gawangan&lt;/em&gt; sebagai kayu peyangga kain saat membatik, &lt;em&gt;canthing&lt;/em&gt; alat tulis batik, &lt;em&gt;kompor&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;wajan&lt;/em&gt; untuk memanaskan bahan warna kain dari lilin, serta &lt;em&gt;dingklik&lt;/em&gt; tempat duduk pembatik. Selain itu, diperlukan pula malam / bahan lilin sebanyak 30 kg, pewarna, minyak &lt;em&gt;kethel&lt;/em&gt; dan minyak tanah serta meja kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi yang diberikan meliputi pengetahuan teori dan sejarah Batik, &lt;em&gt;mengethel&lt;/em&gt; yaitu membuat &lt;em&gt;kain mori&lt;/em&gt; yang baru dibeli menjadi kain yang siap dibatik dengan menghilangkan zat kimia yang ada, lalu mendesain gambar, &lt;em&gt;mengeblad&lt;/em&gt; yaitu gambar desain ditulis ulang di &lt;em&gt;kain mori&lt;/em&gt; dengan pensil. Tahap selanjutnya peserta diajar cara memegang &lt;em&gt;canthing&lt;/em&gt; alat pelukis di kain, kemudian diajar cara menggoreskan &lt;em&gt;canthing&lt;/em&gt; yang telah diisi lilin panas pada kain yang telah didesain. Tahap inilah yang sesungguhnya disebut membatik. Tahap membatik ini dibagi dalam beberapa latihan yaitu membatik di kertas, di kain kecil dan akhirnya di kain besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap berikutnya peserta belajar membuat &lt;em&gt;isen&lt;/em&gt; atau memberi isi pada kain batik yang masih lowong belum digambari. Berikutnya tahap &lt;em&gt;nerusi&lt;/em&gt;, membatik pada bagian belakang kain yang gambarnya belum jelas terlihat. Lalu diteruskan dengan mewarnai. Sesudahnya tahap &lt;em&gt;melorot&lt;/em&gt;, ketika lilin yang ada di kain batik dibersihkan dengan cara merebus kain dengan air panas. Kain yang sudah &lt;em&gt;dilorot&lt;/em&gt; kemudian dikanji dan diakhiri dengan tahap &lt;em&gt;finishing&lt;/em&gt; atau yang biasa disebut tahap &lt;em&gt;mengemplong&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduabelas tahapan pelatihan ini dilaksanakan dalam waktu 30 hari atau jika diringkas selama 1 bulan. Tepatnya pada bulan Maret hingga Juli 2010. Para instruktur terdiri dari 2 orang dan 4 asisten. Hasilnya peserta telah bisa membuat batik dari awal hingga sanggup menghasilkan batik meskipun dengan 1 warna. Ketua WKRI Cabang Rembang, Ibu Maria Regina Tri Maryati mengharapkan ada pelatihan &lt;em&gt;Batik Life Skills&lt;/em&gt; Tingkat Lanjutan. Karena para peserta yang telah memahami dasar membatik akan lebih meningkatkan kemampuannya untuk membatik dengan lebih indah atau bahkan berani membuka usaha batik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tidak mengherankan karena batik selain menjadi budaya bernilai seni tinggi, nilai jual di pasar menjanjikan, dengan rata-rata harga kain batik Rp. 300.000,- ke atas. Beberapa nama batik dari pesisir pantura itu antara lain &lt;em&gt;Bledak Campur, Geblok Kasur, Jahe Jahean, Kawung Kotak, Melati Manukan, Sekar Jagad, Jawaran, Lok Chan, Watu Pecah&lt;/em&gt; dan lain-lain yang tidak ditemukan di tempat lain. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-2192962431708557685?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2192962431708557685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2192962431708557685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/09/pelatihan-batik-life-skill.html' title='Pelatihan Batik Life Skills'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIkpFVzswLI/AAAAAAAABcM/K2m2XyMg2YE/s72-c/batik+002.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5054952839307785735</id><published>2010-08-18T12:55:00.000-07:00</published><updated>2010-09-30T14:24:07.821-07:00</updated><title type='text'>Temu Karya Komisi PSE 2010</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TGw6woHMdcI/AAAAAAAABWI/Wk90bk4hicU/s1600/dispse.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; DISPLAY: block; HEIGHT: 209px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506841051443000770" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TGw6woHMdcI/AAAAAAAABWI/Wk90bk4hicU/s320/dispse.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 6-8 Agustus 2010 diadakan Temu Karya Seksi Sosial Paroki Se-Keuskupan Surabaya. Pertemuan Seksi Sosial Paroki Se-Keuskupan Surabaya dirancang untuk mengajak peserta agar mengatur langkah dan gerak sesuai dengan Arah Dasar Keuskupan Surabaya dalam bidang pengembangan sosial ekonomi. Selama beberapa tahun, Seksi Sosial Paroki berjuang mencanangkan 3 program yang ditetapkan bersama. Dalam perkembangannya, sudah terbentuk Tim CU, Tim Penanggulangan Bencana (Karina) dan telah terjadi gerakan pemberdayaan para petani. Gerakan ini, kemudian diangkat dalam Musyawarah Pastoral dengan tema kemandirian bagi petani dan kaum muda serta pemberdayaan lembaga keuangan mikro melalui Credit Union. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen dalam upaya meningkatkan pelayanan di bidang sosial ekonomi di Keuskupan Surabaya. Selain itu, Komisi PSE memberikan peluang sharing kepada Seksi Sosial paroki yang sudah mengembangkan program pendampingan kelompok. Harapannya, program pendampingan ini, menjadi inspirasi bagi paroki lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi PSE tetap menyalurkan bantuan kepada kelompok umat yang membutuhkan bantuan modal usaha dan bantuan pelayanan kesehatan. Jenis bantuan ini terus disosialisasikan kepada pengurus Seksi Sosial Paroki agar menjawabi kebutuhan umat secara nyata. Seluruh pengajuan umat kepada Komisi PSE harus disertai persetujuan dari Ketua Lingkungan, Ketua Seksi Sosial Paroki dan Romo Kepala Paroki. Untuk bantuan modal usaha, pola yang dipakai adalah bantuan modal bergulir. Dana yang diserahkan kepada umat harus diangsur kepada Ketua Seksi Sosial Paroki setempat. Hasil angsuran tersebut, akan digunakan oleh Seksi Sosial Paroki untuk meningkatkan kualitas pelayanan sosial di Paroki yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temu Karya PSE juga menampilkan pengalaman dari para nara sumber yang mensharingkan berbagai jenis kegiatan berkaitan dengan komitmen yang dibangun bersama. Rm. Siprianus Yitno, Pr yang giat mengembangkan pertanian organik di wilayah Paroki St. Willibrordus, Cepu membagikan pengalamannya. Rm. Yitno memaparkan tiga mimpinya yaitu: petani sejahtera, pertanian lestari dan Gereja membantu petani (terlibat, peduli terhadap nasib petani). Petani sejahtera artinya petani dapat menikmati penanen, bisa membiayai tanam berikutnya, tersedianya pupuk dan bisa menabung di CU. Pertanian lestari dapat terwujud kalau ada kelompok tani yang secara rutin berkumpul dan belajar bersama, mendapatkan pendidikan sejak dini berkaitan dengan pertanian, seperti: dapat menghasilkan makanan yang sehat , dapat membuat pupuk alami serta mendapat dukungan modal dari CU. Mimpi ini sengaja dipaparkan untuk membangun gerakan dalam membantu para petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya ditampilkan pengalaman CU Cipta Mandiri yang didirikan di Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo. Awalnya seksi sosial mengadakan kegiatan karitatif di sekitar gereja. Ternyata banyak warga di sekitar gereja dalam kondisi yang terpuruk secara ekonomis. Kegiatan sosial selama ini berupa pembagian sembako kepada para tukang becak yang mangkal di sekitar gereja. Bantuan ini terasa tidak mampu membantu mereka untuk keluar dari keterpurukan. Lalu dirancang gagasan tentang Credit Union. Secara efektif, CU berdiri pada bulan Mei 2010 dan dibuka setiap hari Senin sampai Jumat jam 09.00-13.00 WIB. Produk yang ditawarkan antara lain berupa, Simpanan Saham, Simpanan Kebutuhan Sehari-hari, Smart Kid dan Simpanan Sukarela Berjangka. Ibu Fenny yang menjadi pengurus CU Cipta Mandiri menghayati gerakan ini sebagai bentuk panggilan untuk melayani sesama. Refleksi tersebut menjadi dorongan yang kuat sehingga bisa bertahan, setia dalam melayani sesama lewat gerakan Credit Union, meskipun menghadapi aneka tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi selanjutnya menampilkan pemahaman dan pengalaman tentang pemberdayaan kewirausahaan yang dipaparkan oleh Bp. J. Koesworo dan Bp. Lukas Kambali dari Universitas Widya Mandala, Surabaya. Kewirausahaan adalah proses penciptaan suatu yang baru dan membuat sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada. Jadi dalam kewirausahaan ada kreasi dan inovasi. Dalam kaitan dengan ini, dibeberkan karakter wirausaha. Antara lain, &lt;em&gt;percaya diri&lt;/em&gt;: keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas dan optimisme; &lt;em&gt;orientasi pada tugas dan hasil&lt;/em&gt;: kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan yang kuat, energik dan inisiatif; &lt;em&gt;berani mengambil resiko&lt;/em&gt;: kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan; &lt;em&gt;kepemimpinan&lt;/em&gt;: perilaku sebagai pemimpin bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik; &lt;em&gt;orisinil&lt;/em&gt;: inovatif, kreatif dan fleksibel dan &lt;em&gt;berorientasi ke depan&lt;/em&gt;: memiliki pandangan ke depan dan punya perspektif. Kewirausahaan sampai saat ini menghadapi hambatan dan belum dihargai sebagai layaknya sebuah profesi yang penting dan membanggakan. Di lingkungan keluarga, tidak banyak orangtua yang memperkenalkan, mendorong dan melatih jiwa kewirausahaan kepada anaknya. Informasi tentang kewirausahaan belum merata diketahui masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu, Yoseph Hanny Hendra Wardhana dari Madiun dan FA. Yunianto dari Pare mempaparkan informasi berkaitan dengan penanganan bencana. Selama ini Karina melakukan kegiatan tanggap darurat. Selain itu bersama jaringan Karina, mengadakan kegiatan dan peningkatan kapasitas berupa Pengurangan Resiko Bencana, &lt;em&gt;Emergency Response Team&lt;/em&gt;, pemahaman mengenai manajemen proyek dan managemen keuangan. Kegiatan ini bertujuan tim Karina semakin solid dan memiliki kapasitas, dapat mendorong masyarakat supaya semakin tanggap dan tahan ketika menghadapi bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian akhir, Rm. A. Luluk Widyawan, Pr membuat rangkuman kecil berdasarkan sharing pengalaman sebagai pembelajaran. Yaitu karya sosial hendaknya dimulai dengan masuk ke komunitas kecil atau mengumpulkan beberapa orang (5-10 orang) dalam komunitas yang memiliki keprihatinan yang sama. Lalu mulai rutin berkumpul melihat realitas sosial, menganalisa apa yang menyebabkan situasi tersebut, merefleksikan didasari iman Kristiani dan merumuskan tindakan efektif apa yang dapat dilakukan secara pribadi maupun kelompok. Inisiatif seperti ini hendaknya berasal dari bawah atau gerakan dari bawah, bukan turunan dari atas. Komisi PSE akan menjalankan fungsinya sebagai perangkat pastoral yang fokus pada mengelola kepengurusan, dana dan program agar mendukung proses pemberdayaan aktivis dan perangkat pastoral di Paroki dan Kevikepan, sesuai dengan Arah Dasar Keuskupan. Dalam hal ini Komisi PSE berperan untuk menganimasi, memfasilitasi dan mengkoordinasi inisiatif dari bawah tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran lain adalah perlunya mengenakan paradigma memberdayakan, bukan lagi karitatif, kecuali kepada para korban bencana yang membutuhkan bantuan segera dan cepat. Dari beberapa pengalaman tampak menonjolnya peran penggerak entah itu Romo, Tim Seksi Sosial dan orang-orang yang memiliki keprihatinan, mau turun ke bawah, serius, "gila atau setengah gila". Tidak hanya itu, tampak bahwa mereka memiliki kualitas mau belajar terus-menerus, entah dengan mengikuti latihan, mohon dukungan dari Pastor Paroki atau Dewan Pastoral Paroki, membuat proposal, mencari solusi setiap ada kesulitan, fokus, tidak goyah / tidak menyerah, memiliki mimpi, angan-angan atau misi. Serta tak kalah penting peran spiritualitas, kekuatan iman dan motivasi iman. &lt;em&gt;(Bp. Eddy Loke)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5054952839307785735?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5054952839307785735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5054952839307785735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/08/temu-karya-komisi-pse-2010.html' title='Temu Karya Komisi PSE 2010'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TGw6woHMdcI/AAAAAAAABWI/Wk90bk4hicU/s72-c/dispse.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-6700969718556139571</id><published>2010-08-04T17:46:00.000-07:00</published><updated>2010-08-05T07:22:25.716-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Dasar Penanggulangan Penderita Gawat Darurat</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFowVsC6JzI/AAAAAAAABV4/kLqrRLcvmis/s1600/P1030923.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501763043945228082" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFowVsC6JzI/AAAAAAAABV4/kLqrRLcvmis/s200/P1030923.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFov0-Hl8vI/AAAAAAAABVw/vcfvjdzSwNY/s1600/P1040079.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501762481861030642" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFov0-Hl8vI/AAAAAAAABVw/vcfvjdzSwNY/s200/P1040079.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;Karina KWI mengadakan Pelatihan Dasar Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD). Pelatihan yang diikuti peserta dari 14 Keuskupan ini total pesertanya 30 orang. Kegiatan dilaksanakan di &lt;em&gt;TC Disaster Oasis Yakkum Emergency Unit&lt;/em&gt;, Yogyakarta. Karina Keuskupan Surabaya mengutus Martinus Sapto dari Karina Posko Madiun dan Slamet HW dari Karina Posko Pare, Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 26 Juli 2010, kegiatan dimulai jam 07.00 WIB untuk registrasi dan dilanjutkan orientasi serta kontrak belajar. Selanjutnya peserta saling memperkenalkan. Materi pelatihan diberikan oleh dr. Stefanus dari Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Beberapa hal itu meliputi &lt;em&gt;Initial Assessment&lt;/em&gt;: pengertian dan komponen &lt;em&gt;initial assessment&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;survey primer&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;survey sekunder&lt;/em&gt; dan pengelolaan jalan nafas dan pernafasan yang terdiri dari pengenalan dan cara pemeriksaan gangguan nafas, &lt;em&gt;definitive airway&lt;/em&gt;, teknik mengatasi obstruksi jalan nafas oleh benda asing, pengelolaan pernafasan dan teknik bantuan hidup dasar: fisiologi dasar otak, jantung, paru dan cara memberikan bantuan hidup dasar pada orang dewasa dan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama, peserta mendapat materi berupa teori, bagaimana menangani korban yang baru saja mengalami bencana. Siapakah korban yang harus ditolong lebih dahulu dan juga bagaimana cara pemberian pertolongan, apabila korban mengalami gangguan pernafasan, bahkan apabila denyut nadi dan nafas tidak terasa. Tindakan pertama apa yang harus dilakukan sebelum ditangani oleh paramedis. Penilaian terhadap korban harus cepat, lagipula pengelolaan yang tepat guna menghindari kematian pada pasien gawat darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh penolong yaitu: &lt;em&gt;danger&lt;/em&gt;: penolong harus mengamankan diri sendiri dulu sebelum mengamankan korban (&lt;em&gt;safety&lt;/em&gt; lingkungan, penolong, korban) jangan sampai penolong justru menjadi korban; &lt;em&gt;response&lt;/em&gt;: memriksa respon kesadaran korban, dengan memanggil nama dan menepuk bahu, apabila tidak merespon suara; &lt;em&gt;airway&lt;/em&gt; (jalan nafas): memeriksa jalan nafas dan nadi; &lt;em&gt;breathing:&lt;/em&gt; (pernafasan) dan &lt;em&gt;circulation&lt;/em&gt; (jantung dan pembuluh darah). Setelah itu dilanjutkan dengan peragaan Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang dilakukan pada pasien dengan henti jantung. Teori dan praktek diberikan sampai peserta benar-benar paham dalam melakukan tindakan awal, sebelum ditangani paramedis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua, materi disampaikan oleh Sdr. Siti Meilani yang berprofesi sebagai perawat. Materi yang diberikan yaitu &lt;em&gt;Shock&lt;/em&gt;, Pendarahan dan Prinsip Pembalutan &amp;amp; Pembidaian. Dalam materi ini diajarkan bagaimana mengenal tanda–tanda orang yang sedang kondisi &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt;. Kita harus tahu antara orang &lt;em&gt;shock &lt;/em&gt;dan orang pingsan biasa. Akibat yang ditimbulkan dari &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt; yaitu terjadi gangguan fungsi organ yang bisa mengakibatkan kematian pada si korban apabila tidak segera ditanggulangi. Juga tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan apabila korban mengalami &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt;. Sedangkan dalam menangani korban yang mengalami pendarahan, kita juga tidak boleh asal saja dalam membersihkan luka, tetapi harus melalui penanganan yang benar dan tepat. Bagaimana cara menghentikan pendarahan juga harus dipahami supaya darah tidak keluar terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara diteruskan dengan materi pembalutan dan pembidaian di mana sebelumnya diperkenalkan perlengkapan untuk membalut luka dan membidai serta apa yang harus digunakan apabila dalam keadaan darurat dan tidak ada perlengkapan tersebut. Pemanfaatan alat yang ada di sekitar lokasi hendaknya tetap memperhatikan aspek benar dan tepat. Setelah itu dilanjutkan dengan praktek pembalutan dan pembidaian. Bagaimana membalut ketika ada luka dan juga membidai apabila ada tulang yang patah. Peserta dibagi per kelompok terdiri 5 orang dengan kasus yang berbeda. Setelah selesai diadakan sharing untuk evaluasi dan tanya jawab supaya peserta bisa memahami serta mengerti dimana kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya, kegiatan dimulai dr. Stefanus yang memberikan materi tentang evakuasi dan transportasi. Dalam materi ini peserta diberi infomasi bagaimana mengevakuasi korban beserta transportasinya. Bagaimana mengangkat korban apabila penolong hanya sendirian, berdua dan berempat. Apa yang harus dilakukan jika korban lebih berat dan lebih tinggi dari penolong yang seorang diri. Bagaimana juga letak posisi korban yang sudah diangkat di tandu untuk dipindahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dilanjutkan dengan praktek evakuasi dari materi RJP, perawatan luka, pembalutan, pembidaian serta stabilisasi dan transportasi. Masing-masing peserta atau kelompok mendapatkan kasus yang berbeda tetapi melaksanakan stabilisasi dan transportasi praktek evakuasi tetap sama. Praktek ini dimaksudkan untuk mengevaluasi dan melihat sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi yang sudah diberikan selama 3 hari sehingga pada saat menangani korban sesungguhnya tidak mengalami kesalahan. Dalam praktek dapat diketahui bahwa pemahaman para peserta terhadap materi cukup memuaskan meskipun tetap masih harus belajar banyak dan sering melakukan penanganan terhadap korban yang sesungguhnya, supaya terbiasa dan tidak mengalami kepanikan. &lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya, acara dimulai 08.00 WIB dengan materi Teknik Fasilitasi dari Ibu Ratna Susi. Sebelum masuk materi peserta diajak keliling mengenali bangunan-bangunan yang dibuat sesuai dengan apa yang telah dibuat warga di lokasi bencana yang didukung Yayasan Yakkum, misalnya ada rumah Flores, Aceh, Nias, Jawa dan juga ada bunker untuk tempat perlindungan saat ada bencana gunung meletus. Selain itu ada pengenalan alat masing-masing daerah dan melihat film kejadian bencana gempa di Turki. Kemudian dilanjutkan dengan materi teknik fasilitasi di mana peserta diajak bermain per kelompok, ada yang jadi mobil dengan mata ditutup, sopir dan penumpang secara bergantian. Setelah semua mengalami, kemudian diminta untuk presentasi masing-masing kelompok apa yang dirasakan saat menjadi sopir, menjadi mobil dan penumpang juga kesulitannya, serta bagaimana seharusnya semua itu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian peserta masuk ke dalam kelompok untuk melakukan praktek fasilitasi dengan materi yang sudah ditentukan. Kelompok juga dapat mengevaluasi dan melihat kemampuan teman lain sebagai fasilitator dalam menguasai materi. Setelah selesai kegiatan diserahkan kembali kepada Karina KWI. Pada kesempatan ini dibahas rencana tindak lanjut yang akan dilakukan di masing–masing Karina Keuskupan serta kebutuhan setiap Keuskupan akan pelatihan PPGD ini. Harapannya, apabila para peserta pelatihan dimintai bantuan saat terjadi bencana di suatu daerah, mereka sebagai wakil dari Karina Keuskupan dapat mengirimkan anggota yang sudah mendapatkan Pelatihan Dasar PPGD. Setelah hasil rencana tindak lanjut dikumpulkan untuk diolah, seluruh rangkaian acara ditutup dengan foto bersama. &lt;em&gt;(Martinus Sapto, Karina Posko Madiun)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-6700969718556139571?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/6700969718556139571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/6700969718556139571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/08/pelatihan-dasar-penanggulangan.html' title='Pelatihan Dasar Penanggulangan Penderita Gawat Darurat'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFowVsC6JzI/AAAAAAAABV4/kLqrRLcvmis/s72-c/P1030923.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-7847511460534063164</id><published>2010-04-26T12:53:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T07:59:39.991-07:00</updated><title type='text'>TQM Karina Di Surabaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S9Xxez8feGI/AAAAAAAABTE/6YAwox-vV8U/s1600/TQM2+065.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464539234526263394" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S9Xxez8feGI/AAAAAAAABTE/6YAwox-vV8U/s200/TQM2+065.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S9Xxek_2wDI/AAAAAAAABS8/W_UK6EI3kCo/s1600/TQM2+029.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 132px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464539230513840178" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S9Xxek_2wDI/AAAAAAAABS8/W_UK6EI3kCo/s200/TQM2+029.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S9XxeO0Hg4I/AAAAAAAABS0/RqnXGkkJzN8/s1600/TQM2+023.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 130px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464539224559027074" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S9XxeO0Hg4I/AAAAAAAABS0/RqnXGkkJzN8/s200/TQM2+023.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S9XxduSZOGI/AAAAAAAABSs/UjX1cfRluMk/s1600/TQM1+026.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S9XxdPpcENI/AAAAAAAABSk/9G7S80L2tVk/s1600/TQM1+014.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selama dua hari, Jumat-Sabtu, 23-24 April 2010, tim TQM (&lt;em&gt;Total Quality Management&lt;/em&gt;, Manajemen Kualitas Total) Karina KWI berkunjung ke Surabaya. Tim yang terdiri dari Rm. Padmaseputra, SJ, Rm. St. Budhi, Pr dan Rm. Lewi Ibori, OSA bertatap muka dengan para pengurus Karina Keuskupan Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama, tim TQM meminta tanggapan terhadap seluruh pengurus Karina Keuskupan Surabaya tentang kinerja Karina KWI selama ini. Sebagaimana diketahui, selama tiga tahun terakhir, Karina KWI mengadakan rangkaian proses animasi, fasilitasi dan koordinasi terhadap Karina Keuskupan. Fasilitasi itu berupa peningkatan kapasitas dalam bidang tanggap darurat, pengarusutamaan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat, manajemen keuangan, manajemen siklus proyek dan pengembangan organisasi. Dalam dialog antara tim TQM Karina KWI dan pengurus Karina Keuskupan Surabaya, berbagai hal tersebut diulas. Meliputi bagaimana pelaksanaan rangkaian proses fasilitasi Karina KWI, baik hal yang sudah berjalan dengan baik, maupun hal yang masih perlu ditingkatkan. Sebagaimana filosofi dasar TQM ialah sebagai efek dari kepuasan konsumen, dalam hal ini Karina Keuskupan, sebuah organisasi dapat disebut mengalami kesuksesan. Acara yang berlangsung di ruang pertemuan Wisma Keuskupan Surabaya itu berakhir pada sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua, kali ini kesempatan tim TQM Karina KWI dan segenap pengurus Karina Keuskupan Surabaya bertemu dengan Rm. AP. Dwijoko, Pr, Vikaris Jendral Keuskupan Surabaya. Dalam paparan awal, Rm. A. Luluk Widyawan, Pr menjelaskan situasi terkini Karina Keuskupan Surabaya sejak awal mendapatkan mandat Uskup. Sebuah kegembiraan bahwa Karina Keuskupan Surabaya didukung para relawan dan Keuskupan Surabaya. Pula rangkaian fasilitasi Karina KWI, telah memberi peningkatan kapasitas kepada kaum muda yang tergerak terlibat dalam karya kemanusiaan bagi para korban bencana. Hal ini dibenarkan oleh Rm. Padmaseputra, Pr dan Rm St. Budhi, Pr bahwa relawan dari Keuskupan Surabaya begitu menonjol. Lebih lanjut Rm. St. Budhi, Pr memaparkan hasil temuan yang akan disampaikan pada pertemuan di tingkat pengurus Karina KWI. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Rm. AP. Dwijoko, Pr, yang hadir mewakili Bapa Uskup mengatakan bahwa Keuskupan mendukung keberadaan Karina, terlebih semangat Karina untuk membawa kabar gembira kepada mereka yang berkesusahan. Hal ini mengingat wilayah Keuskupan Surabaya rawan bencana. Tidak hanya itu, rangkaian peningkatan kapasitas Karina telah ikut membawa nuansa baru dalam pengelolaan program pastoral. Intinya Keuskupan akan mendukung Karina dan Karina dapat menjadi kesempatan bagi orang muda untuk mewujudkan jati diri ke-Katolik-kannya yang dipanggil untuk rela berkorban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan evaluasi intern Karina dan mendengarkan masukan dari tim TQM. Tentu keberadaan Karina Keuskupan Surabaya yang didukung para relawan dan Keuskupan masih memiliki beberapa kekurangan. Kiranya, TQM menjadi salah satu pendekatan manajemen untuk suatu organisasi yang terpusat pada kualitas, berdasarkan partisipasi semua anggotanya dan bertujuan untuk kesuksesan jangka panjang, melalui kepuasan penerima manfaat, serta memberi keuntungan untuk semua anggota dalam organisasi serta masyarakat. Semoga. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-7847511460534063164?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7847511460534063164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7847511460534063164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/04/tqm-karina-di-surabaya.html' title='TQM Karina Di Surabaya'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S9Xxez8feGI/AAAAAAAABTE/6YAwox-vV8U/s72-c/TQM2+065.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-548699211851030124</id><published>2010-04-12T13:40:00.000-07:00</published><updated>2010-09-09T20:03:02.365-07:00</updated><title type='text'>CU Cipta Mandiri Berdiri Di Sidoarjo</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIlI29AgGXI/AAAAAAAABck/YHIYB3cdScA/s1600/balck+012.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515019327618685298" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIlI29AgGXI/AAAAAAAABck/YHIYB3cdScA/s200/balck+012.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIlI2iRVplI/AAAAAAAABcc/vjGcOJDNt2M/s1600/balck+018.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515019320441546322" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIlI2iRVplI/AAAAAAAABcc/vjGcOJDNt2M/s200/balck+018.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIlI2FAY3LI/AAAAAAAABcU/vj_tkecP7g4/s1600/balck+007.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515019312585825458" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIlI2FAY3LI/AAAAAAAABcU/vj_tkecP7g4/s200/balck+007.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada tanggal 4 April 2010, dibuka pelayanan Credit Union (CU) yang dirintis oleh Seksi Sosial Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo. CU ini sepenuhnya didukung oleh Dewan Pastoral Paroki dan Pastor Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo. Secara struktural CU berada di bawah reksa pastoral Paroki St. Maria Annuntiata karena wadah ini merupakan salah satu bentuk pelayanan sosial yang bersifat eksternal. Namun secara manajerial, CU berdiri sendiri dan mandiri di luar struktur DPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CU yang bernama Cipta Mandiri ini, memiliki harapan agar siapapun yang bergabung dalam CU termotivasi dan mampu menciptakan kemandirian dalam hidupnya dan mampu membantu dirinya sendiri untuk mengatasi keterbatasan, supaya menikmati kesejahteraan. Lokasi CU berada di eks Sekolah Dasar Katolik (SDK) Untung Suropati I milik Yayasan Yohanes Gabriel Keuskupan Surabaya yang berada di Jalan Kartini III / 11A, Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya tentang mengapa CU ini berdiri, Rm. Nyoto Basuki, Pr selaku moderator bidang sosial DPP mengatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat di daerah sekitar gereja banyak yang tidak terjamin kesejahteraan hidupnya. Mereka berasal dari golongan bawah yang tidak berpendidikan dan mengalami kesulitan dalam bidang ekonomi. Secara sosial mereka juga tidak mendapat perhatian. Namun demikian sebenarnya mereka bisa bangkit untuk mengatasi kelemahan diri, jika ada pihak-pihak yang peduli dan bersedia membantu. Seksi Sosial Paroki yang selama ini terlibat dalam pelayanan sosial berupa pemberian sembako dan makan sehat sebulan sekali merasa tergerak untuk membantu mereka meningkatkan kesejahteraan hidup. Karena itu, sasaran anggota saat awal adalah masyarakat di daerah sekitar gereja dan tukang becak yang setiap bulan menerima bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak CU ini akan terbuka bagi masyarakat umum termasuk para pedagang pasar, pedagang kaki lima di alun-alun kota yang jaraknya hanya 1 km dari tempat pelayanan, buruh pabrik yang jumlahnya ribuan, paguyuban transportasi kecil (becak dan mikrolet) serta pedagang &lt;em&gt;pracangan&lt;/em&gt; di rumah dan tepi jalan. Mereka tidak hanya diajak menjadi anggota namun mendapat dukungan yang bersifat teknis maupun non teknis, misalnya pelatihan, ajakan menabung, pinjaman modal, motivasi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim CU yang terdiri dari 8 orang, telah melakukan serangkaian pesiapan. Antara lain, menyeleksi calon pegawai, memberikan &lt;em&gt;training &lt;/em&gt;calon pegawai di CU Sawiran, mempersiapkan sistem kerja, termasuk merenovasi bangunan, menyediakan perlengkapan kantor, sosialisasi dan pembukaan. Mereka akan mematangkan rencana operasional. Menurut rencana CU akan membuka pelayanan sebagai berikut, Senin-Jumat pukul 08.00 – 16.00 WIB dan Sabtu pukul 08.00 – 13.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa produk CU Cipta Mandiri menurut ibu St. Fenny Susilowati berupa, Tabungan Harian SKS (Simpanan Kebutuhan Sehari-hari), Tabungan &lt;em&gt;Smart Kid&lt;/em&gt; (Tabungan untuk pelajar untuk memenuhi kebutuhan sekolahya) dan Tabungan Deposito berjangka dengan bunga menarik. Kelebihan CU Cipta Mandiri ialah, bisa menabung setiap hari mulai dari Rp.1000,-, tidak dikenakan administrasi bulanan 6 bulan pertama dan setelah 6 bulan biaya administrasi hanya Rp.1.000 / bulan. Hal ini dilakukan agar memungkinkan masyarakat ekonomi lemah tidak segan menabung. Terlebih karena lokasi yang mudah dijangkau (tengah kota) sehingga memungkinkan menabung setiap hari atau sesering mungkin. Bahkan tenaga operasional yang professional siap datang ke rumah anggota untuk memudahkan anggota menabung dan membayar angsuran. Semua itu ditujukan agar semakin banyak orang yang menjadi anggota dan dengan demikian semakin banyak orang yang hidupnya sejahtera. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-548699211851030124?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/548699211851030124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/548699211851030124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/04/cu-cipta-mandiri-berdiri-di-sidoarjo.html' title='CU Cipta Mandiri Berdiri Di Sidoarjo'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TIlI29AgGXI/AAAAAAAABck/YHIYB3cdScA/s72-c/balck+012.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-372379341496305365</id><published>2010-03-24T20:09:00.001-07:00</published><updated>2010-09-01T08:01:04.128-07:00</updated><title type='text'>Aceh Exposure Visit Bersama Caritas Czech Republic</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S6vWLh5ru5I/AAAAAAAABSE/0hMCRc4-I9A/s1600/26205_324934832822_643897822_3622912_1031847_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452687267429333906" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S6vWLh5ru5I/AAAAAAAABSE/0hMCRc4-I9A/s200/26205_324934832822_643897822_3622912_1031847_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S6vWLfEQDuI/AAAAAAAABR8/esrNta-M-WU/s1600/26205_325013777822_643897822_3623024_4092000_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452687266668351202" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S6vWLfEQDuI/AAAAAAAABR8/esrNta-M-WU/s200/26205_325013777822_643897822_3623024_4092000_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S6vWK01dsVI/AAAAAAAABR0/Ekeu34w15Ww/s1600/26205_325013802822_643897822_3623027_3593609_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452687255332041042" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S6vWK01dsVI/AAAAAAAABR0/Ekeu34w15Ww/s200/26205_325013802822_643897822_3623027_3593609_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S6vWKZWNkzI/AAAAAAAABRs/8gG-naJSh04/s1600/26205_325040227822_643897822_3623105_1162608_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S6vWJ80VcZI/AAAAAAAABRk/PYpMKQjmYh8/s1600/24347_327539627822_643897822_3631937_8021833_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Hari I, Senin, 22 Februari&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kami dijemput oleh staff &lt;em&gt;Caritas Czech Republic&lt;/em&gt; (CCR), Mastura Madina dan Saifullah Alfidrus di Sultan Iskandar Muda International Airport. Setelah berkeliling kota sebentar, kami makan siang. Kemudian, kami menuju Hotel &lt;em&gt;Green Paradise&lt;/em&gt;, tempat di mana seluruh peserta bermalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari II, Selasa, 23 Februari&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari seusai sarapan pagi, kami dijemput menuju kantor CCR. Di kantor, seluruh peserta yang terdiri dari mitra jejaring Caritas seperti: Cordaid, Caritas Australia, Trocaire dan Karina Keuskupan mengadakan pertemuan dengan staff CCR yang dipandu oleh &lt;strong&gt;Martin Vane&lt;/strong&gt; (Direktur), &lt;strong&gt;Rebecca Domondon &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;(CCR project manager for livelihood project in post tsunami areas)&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;dan&lt;strong&gt; Roberto Hutabarat&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;(CCR Project manager for livelihood project in post conflict areas).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan tersebut dijelaskan keberadaan CCR masih bertahan dan diterima masyarakat. CCR selalu mengawali proyek menyertakan peran masyarakat, masuk dengan menghormati budaya setempat meskipun beberapa fasilitator bukan orang asli Aceh dan memfasilitasi apa yang benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat penerima manfaat. Hal ini berbeda dengan berbagai LSM yang masuk di Aceh yang lebih terkesan mendikte suatu kegiatan dan tidak melibatkan peran serta masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membantu proyek tanggap darurat dan rekonstruksi, maka pada tahap berikutnya CCR masuk ke dalam program &lt;em&gt;livelihood &lt;/em&gt;dan pemberdayaan masyarakat. Skenario ini telah dirancang sejak CCR tiba di Aceh pertengahan Februari 2005. Seiring dengan selesainya proyek rekonstruksi tahun 2006-2007, di mana banyak donor telah kembali, berpengaruh terhadap perekonomian warga. CCR mengusahakan apa yang disebut “Mata Pencarian yang berkelanjutan dan Penguatan Organisasi Berbasis Masyarakat di Aceh Jaya”. Selama ini masyarakat Aceh mendapatkan sumber penghasilan utama dari bidang perikanan, bercocok tanam padi atau tanaman palawija lain secara bergantian dan tanaman keras, seperti karet. Maka, CCR masuk ke berbagai komunitas untuk mendukung program atau kegiatan tersebut. Lokasi program CCR tersebar di Kabupaten Aceh Jaya, tepatnya di Kecamatan Jaya, Sampoiniet, Krueng Sabe, Setia Bakti, Panga dan Teunom. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tujuan dari &lt;em&gt;exposure visit&lt;/em&gt; ini tak lain adalah upaya pengenalan kepada peserta kunjungan lapangan tentang sub sektor program CCR tentang pelaksanaan Pengembangan Mata Pencarian Pedesaan di Aceh Jaya yang meliputi bidang pertanian, kehutanan, perikanan, pengembangan koperasi. Serta pengenalan tentang menghubungkan komponen Pengembangan Mata Pencarian Pedesaan dengan Pengurangan Resiko Bencana. Pemetaan ketertarikan dan kebutuhan peserta berkenaan dengan kemungkinan dukungan lanjutan di bidang Pengembangan Mata Pencarian Pedesaan dan pengubungan antara Pengembangan Mata Pencarian Pedesaan dan Pengurangan Resiko Bencana. Serta upaya mengidentifikasi kemungkinan kerjasama dan transfer pengetahuan antara CCR dan organisasi yang diwakili oleh peserta dalam kegiatan ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah mengadakan pembukaan singkat, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;i. Aquaculture&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini kami melihat kelompok tani yang baru saja dibentuk. Sebelumnya mereka adalah korban tsunami yang tambaknya hancur, pencari ikan di sungai yang sebagian besar rumahnya rusak dan telah mendapatkan rumah bantuan. Seiring dengan kerusakan dan perubahan struktur tanah maupun sungai yang dulu menjadi lokasi pencarian ikan, hasil tangkapan ikan mereka berkurang yang artinya mempengaruhi penghasilan. Sementara untuk mencari penghasilan lain masyarakat belum berminat atau melaut pun masih trauma dan lagipula sangat tergantung musim, angin barat dan angin timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sedang merancang kegiatan pembuatan kolam ikan terpadu. Harapannya ada kelompok pengelola, yang merekrut anggota dan aktif membayar iuran. Lalu kelompok menentukan tempat pembenihan, mencari bibit aneka macam ikan yang relevan dengan kondisi air setempat. Dalam hal ini bekerjasama dengan pembenihan ikan / udang milik CCR di Kuala Unga. Selain itu, anggota dididik dalam pelatihan peternakan ikan, bekerjasama dengan dinas perikanan dan difasilitasi dengan tanaga ahli yang bekerja untuk CCR. Kelak, jika benih ikan dari pembenihan telah didapatkan, anggota akan mendapatkan terpal dan memulai beternak ikan di lahan milik pribadi atau kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ii. KPPT, Community Farm&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini kami bertemu dengan beberapa pengurus koperasi tani. Sejarah terbentuknya koperasi ini hendak membantu petani yang masuk dalam kategori miskin, entah buruh tani atau petani yang tidak memiliki lahan. Selain, karena daerah tersebut merupakan daerah konflik, di mana kawasan pertaniannya telah lama tidak digarap, padahal sebenarnya tanahnya sangat subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani yang menjadi anggota, masuk dengan membayar iuran tertentu, mereka mendapat fasilitas pelatihan pertanian dan pinjaman modal. Modal tersebut dikembalikan saat panen tiba. Bagi mereka yang memiliki lahan sempit dapat mengerjakan di tempat masing-masing, bagi yang tidak dapat mengerjakan di lahan bersama milik CCR. Dampak kesejahteraan telah dirasakan oleh anggota, di mana makin banyak orang yang berminat menjadi anggota. Selain itu, koperasi telah mengembangkan tempat pelayanan di lokasi lain sehingga lebih banyak melayani masyarakat, telah memiliki gedung sendiri dan alat angkutan untuk pendistribusian pupuk dan hasil pertanian. Beberapa faktor pendukung ialah pengembangan komunitas, para pengurus yang juga tenaga ahli serta penggerak koperasi yang merupakan staf CCR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;iii. Hatchery&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kompleks &lt;em&gt;hatchery&lt;/em&gt; ini merupakan kompleks untuk mengadakan pembenihan atau pembibitan ikan. Tempat ini dikelola oleh kelompok peternak, meskipun dikerjakan oleh CCR. Di tempat yang dikelola oleh pegawai full timer serta seorang tenaga ahli ini, bibit ikan atau bibit udang ditumbuhkembangkan sampai usia tertentu pada keadaan air tertentu sehingga siap beradaptasi dengan situasi air lokal. Saatnya tiba dan benih sudah cukup kuat untuk dilepaskan, maka petani-petani yang menjadi anggota akan mendapatkan bagian untuk diternakkan. Para petani tinggal menyiapkan lahan dan terpal sebagai peternakan. Tempat ini tidak hanya menjadi tempat pembenihan dan pembibitan ikan namun juga pembuatan pakan ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari III, Rabu, 24 Februari&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;i. Agriculture / Agroforestry / Post Conflict Projects (SRI)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tempat yang kami kunjungi dahulu merupakan daerah konflik. Keadaan kampung beserta tanah dan lahan pertaniannya telah lama ditinggalkan penduduk karena mengungsi sekitar 9 tahunan. Ketika tsunami tiba dan konflik berhenti, maka perlahan-lahan warga yang mengungsi di pinggir pantai kembali ke desa yang telah ditinggalkan tersebut. Mereka berusaha hidup dengan menjadi pembalak kayu di hutan. Namun keadaan ini tidak bisa dibiarkan. Gagasan yang muncul ialah menghidupkan kembali pertanian. Meskipun sebenarnya sulit karena ancaman babi hutan dan membutuhkan biaya tinggi untuk perlindungan pertanian dengan memasang kawat berduri, padahal lahan mereka sangat subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat CCR tiba, CCR menyediakan 2 pendamping ahli pertanian di lokasi. Lalu warga dikoordinasi dalam kelompok tani. CCR membeli tanah yang kemudian menjadi milik kelompok warga, selain itu juga mengatur lokasi-lokasi pertanian tersebut sebagai tempat pelatihan dan proyek percontohan. Dengan pola yang sama, warga yang mau menjadi anggota masuk dalam kelompok koperasi. Mereka kemudian membayar iuran, menerima pelatihan dan kemudian menerima benih untuk ditanam. Berkenaan dengan SRI, ternyata menarik bahwa dengan pola tanam menggunakan sedikit air tidak mempengaruhi pertumbuhan padi dan hasilnya tetap bagus. Demikian pula tidak perlu menggunakan pupuk kimia. Tanah di Aceh masih sangat subur, tanpa pupuk kimia pun hasil pertanian tidak mengalami penurunan, karena memang sejak lama kondisi tanah tidak memakai pupuk kimia. Selain fokus pada pertanian padi, CCR bersama warga mengembangkan pertanian kopi, palawija dan pembuatan pupuk organik. Hasil pertanian yang baik perlahan-lahan akan mengurangi niat warga untuk mendapatkan sumber penghasilan dengan membalak hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ii. Community Nursery&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan berikut berada di lokasi yang tidak jauh. Kami bertemu dengan komunitas para janda di tempat milik salah satu anggota, di mana lahannya cukup luas. Tempat tersebut merupakan tempat berkumpul yang halamannya menjadi pembibitan aneka benih tanaman. Komunitas ini terbentuk dalam rangka mendukung kegiatan CCR lain ialah pertanian dan penghijauan. Menarik bahwa mereka adalah para janda. Ada di antara mereka yang menjadi janda karena suami meninggal akibat konflik maupun karena sebab lain. Maklum beberapa saat lalu, konflik menyebabkan penderitaan. Selain penderitaan batin mereka kehilangan suami, sosok sumber penghidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pertama-tama bukan demi menghapus ingatan masa lalu, namun lebih bagaimana survive mendapatkan kegiatan yang menghasilkan. Kegiatan mereka antara lain simpan pinjam, merekrut anggota baru untuk mendapatkan pinjaman dan setelah mendapatkan pelatihan mereka diharapkan terlibat dalam pembuatan bibit tanaman entah tanaman bunga, tanaman keras maupun buah-buahan. Semua ini ada hubungannya dengan mencukupi kebutuhan bibit, baik untuk kegiatan proyek CCR sendiri maupun kebutuhan dari kelompok lain atau pesanan pemerintah. Meskipun demikian, di antara lahan milik anggota ada yang dijadikan tempat pembenihan maupun tempat penanaman. Hasil dari penjualan benih dan tanaman mereka kelola bersama dalam kelompok atau digulirkan bagi anggota sesuai kebutuhan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;iii. Community Nursery Learning Center&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, kami mendatangi apa yang disebut sebagai pusat pelatihan dan pembibitan pertanian. Di kompleks yang dibeli oleh CCR hampir 1 ha tersebut tersedia beragam model pengembangan pertanian. Mulai dari peternakan kambing, sapi dan kolam ikan di bagian depan, pembenihan dan pembibitan aneka tanaman di bagian tengah, peternakan ayam, pengelolaan biogas, pengolahan limbah dan air terpadu sebagai bahan pendukung proses produksi di bagian belakang serta penginapan dan tempat pelatihan bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat inilah, semua proses pelatihan anggota kelompok kegiatan atau proyek yang dikelola CCR dilaksanakan. Tempat ini menjadi diklat bagi para petani yang bergabung menjadi anggota, yang kemudiaan mendapatkan pinjaman dana pertanian. Tidak hanya berlatih, mereka berada di lokasi yang cukup komprehensif tersebut sambil magang. Mereka juga mencukupi kebutuhan pertanian, terutama bibit tanaman. Permintaan bibit tidak hanya dari kalangan anggota, namun juga dari kalangan lain dan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, permasalahan yang timbul ialah, seluruh proses dalam pusat pelatihan tersebut didukung oleh CCR. Padahal hendaknya pusat pelatihan mulai mendapatkan dana untuk keberlanjutan keberadaannya. Hal tersebut berbeda dengan keberadaan kegiatan lain yang menempati lahan atau bekerjasama dengan kelompok lain yang sudah ada. Maka pekerjaan yang harus dipikirkan CCR untuk unit ini adalah perencanaan bisnis yang matang untuk keberlanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari IV, Kamis, 25 Februari&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;i. Aquaculture / Freshwater Hatchery / Koperasi Nelayan Jaring Apung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan pusat pembenihan ikan ini tidak bisa dilepaskan dari latar belakang kehidupan masyarakat setempat yang memang membutuhkan tambahan penghasilan. Selama ini, warga tinggal di pinggiran pantai dan setelah tsunami menghantam, mereka kembali ke desa mereka. Keadaan ini memaksa warga kehilangan sumber pendapatan dari melaut. Maka, mereka diajak untuk bergabung dalam koperasi jaring apung, yang menggeser cara hidup nelayan warga ke peternakan ikan di lahan warga sendiri. Jenis ikan pun tidak tergantung ikan laut, payau atau tawar, namun segala jenis ikan. Meskipun demikian ada beberapa kelemahan dalam proses peralihan pengelolaan ikan. Maka, CCR membantu mengadakan pusat pengolahan benih ikan terpadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lahan yang dibeli CCR tersebut, warga berkoordinasi mengadakan pusat pelatihan mulai dari pembenihan, peternakan, hingga pemasaran dan pengupayaan pakan ikan. Penguasaan perikanan dari bibit, pengelolaan hingga diharapkan pemasaran merupakan mata rantai yang strategis memenangkan anggota atau peternak. Warga yang tergabung dalam koperasi dapat menjadi anggota. Jika hendak mendapatkan pinjaman untuk beternak ikan diharapkan mengikuti diklat dan magang di lokasi pusat pelatihan tersebut. Pengelolaan sepenuhnya pusat pelatihan oleh koperasi merupakan hal yang memudahkan dalam pengelolaan. Meskipun demikian, CCR tetap membantu beberapa hal yang disebut sebagai pengembangan pusat pelatihan tersebut. Tidak hanya bagi anggota, saat ini pusat pelatihan juga melayani anggota masyarakat dan bekerjasama dengan salah satu sekolah teknologi menengah setempat yang menjadikan pusat pelatihan pula bagi anak-anak sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ii. Disaster Risk Reduction&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lokasi yang dikunjungi merupakan desa yang rawan banjir. Banjir disebabkan oleh aneka sebab terutama kebiasaan masyarakat selama ini yang terlibat dalam pembalakan hutan. Hutan yang gundul di sisi tengah mengakibatkan air hujan tidak tertahan. Selain itu kebiasaan dan budaya membuang sampah yang menutup saluran-saluran sehingga menyebakan air meluap. Banjir yang terjadi selain memperburuk kemiskinan warga, apalagi warga yang tak berdaya tak kuasa menghindari banjir tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CCR bersama warga mengadakan pemetaan bersama warga. Menganalisa masalah, penyebab dan mulai merusmuskan kegiatan dan program untuk menanggulangi banjir. Beberapa hal yang disebutkan ialah upaya melakukan penyadaran warga, sosialisasi daan pemasangan poster. Selain itu juga digagas proyek yang antara lain memperlebar saluran air, memperbaiki pusat pegendali banjir di lokasi pintu air, hingga upaya advokasi untuk mendorong kepedulian pemerintah dalam rangka mendukung penanggulan banjir yang digagas oleh warga. Memang kesan yang cukup kuat ialah warga terfasilitasi untuk mengaktualkan gagasannya dalam rangka mengurangi dampak banjir tahunan, namun dukungan CCR yang sangat besar menjadi pertanyaan bagi keterlibatan warga. Mereka memberikan bantuan dalam rupa gotong royong dan pastisipasi lainnya yang masih relatif kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari V, Jumat, 26 Februari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini diadakan &lt;em&gt;debriefing&lt;/em&gt; di lobi hotel Calang. Seluruh peserta &lt;em&gt;exposure visit&lt;/em&gt; dan staff CCR berkumpul bersama. Mereka saling mengadakan evaluasi serta menyampaikan manfaat dari kunjungan bersama CCR ini. Selain itu, para peserta juga menyampaikan beberapa umpan balik, berkenaan dengan hasil pendangan mata selama menyaksikan program CCR di Aceh. Di antara para peserta bahkan sepakat untuk membangun jejaring dan koalisi kerjasama saling berkunjung dan belajar, karena hampir semua peserta, di tempatnya masing-masing menggeluti hal yang sama. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal positif yang dapat diambil sebagai pembelajaran dari &lt;em&gt;exposure visit&lt;/em&gt; adalah:&lt;br /&gt;• Project didukung oleh dana kuat, CCR mendapat support dari jejaring Caritas dan non Caritas&lt;br /&gt;• Project didukung oleh tenaga Program Manager, staff lokal dan tenaga ahli yang professional / kompeten di lapangan&lt;br /&gt;• Project didukung oleh masyarakat, melibatkan strategi melibatkan masyarakat, termasuk usul-saran sesuai apa yang diingini masyarakat&lt;br /&gt;• Project selalu diawali dengan menginisiasi program / kegiatan dengan membuat kelompok / koperasi sehingga masyarakat / anggota mengurus dirinya sendiri (&lt;em&gt;groupself management&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;• Pengelolaan &lt;em&gt;Hatchery Aquaculture KNJA&lt;/em&gt;, memakai strategi lebih baik daripada &lt;em&gt;Community Nursery Learning Center.&lt;/em&gt; Karena CCR tidak perlu memulai segala sesuatunya dari nol, CCR tidak mengusahakan semua sendiri dan tidak kewalahan dalam pengelolaan keberlanjutannya. Justru CCR memanfaatkan kelompok / koperasi yang sudah ada di masyarakat dan menempatkan diri sebagai pendukung saja.&lt;br /&gt;• Koordinasi struktural CCR mulai dari tingkat pusat (Aceh) hingga di lapangan berlangsung dalam semangat kebersamaan dan kekeluargaan, sehingga persoalan yang muncul dapat dipecahkan bersama secara baik&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedangkan beberapa hal yang menjadi catatan kritis adalah:&lt;br /&gt;• Ketergantungan penerima manfaat / warga masih tinggi terhadap CCR&lt;br /&gt;• Dalam exit strategy perlu melibatkan masyarakat dan perumusan bisnis plan sehingga kelompok / masyarakat bisa mengelola sendiri kelak setelah CCR meninggalkan lokasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari VI, Sabtu, 27 Februari&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Para peserta kembali lokasi masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-372379341496305365?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/372379341496305365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/372379341496305365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/03/aceh-exposure-visit-bersama-caritas.html' title='Aceh Exposure Visit Bersama Caritas Czech Republic'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S6vWLh5ru5I/AAAAAAAABSE/0hMCRc4-I9A/s72-c/26205_324934832822_643897822_3622912_1031847_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-5438302194261856659</id><published>2010-02-19T09:14:00.000-08:00</published><updated>2011-08-14T10:08:28.718-07:00</updated><title type='text'>Keputusan APP 2010</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Berdasarkan keputusan&amp;nbsp;No. 02/G.220/I/2010,&amp;nbsp;kolekte Minggu Palma dan pengumpulan dana APP Paroki, dihitung dan diserahkan seluruhnya (100 %) ke Panitia APP Keuskupan, melalui transfer bank ke rekening APP&amp;nbsp;atas nama Keuskupan Surabaya, paling lambat akhir April.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia APP Keuskupan Surabaya akan mengelola dana kolekte dan pengumpulan dana APP tersebut dengan perincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. 30 % dikirim ke KWI, dengan perincian:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;a. 15 % untuk karya APP Nasional&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; b. 10 % untuk karya Dana Solidaritas Antar Keuskupan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; c. 5 % untuk karya Karina KWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, dana dikelola untuk berbagai karya di Keuskupan Surabaya, dengan perincian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. 35 % untuk karya Panitia APP Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;ii. 30 % untuk karya Komisi PSE Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;iii. 20 % untuk karya Komisi-Komisi Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;iv. 15 % untuk karya Dana Sosial Keuskupan Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi lain tentang APP dapat menghubungi kantor sekertariat&amp;nbsp;APP Keuskupan Surabaya, Jl. Majapahit 38 B, Lt. III, Surabaya, 60265, telp.&amp;nbsp;031- 5665993&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-5438302194261856659?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5438302194261856659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/5438302194261856659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/02/aksi-puasa-pembangunan-2010.html' title='Keputusan APP 2010'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-2286810277255099066</id><published>2010-02-13T11:13:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T11:24:38.307-08:00</updated><title type='text'>Pembelajaran Bersama Dari Padang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S3b8Hkk8aHI/AAAAAAAABRc/QKx9FlytvyM/s1600-h/15149_199317007248_568842248_2943697_3307450_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 150px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437810807104366706" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S3b8Hkk8aHI/AAAAAAAABRc/QKx9FlytvyM/s200/15149_199317007248_568842248_2943697_3307450_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Surabaya, pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Udara Minangkabau. Lokasi bandara sekitar 5 km dari kota. Dari pintu keluar bandara, belok ke kanan lurus ke arah kota. Jika belok ke kiri ke arah Padang Pariaman. Sekitar setengah jam perjalanan memasuki kota Padang, tampak suasana cukup normal. Di kanan kiri, tampak bangunan yang rusak atau sedang dalam perbaikan. Aktifitas ekonomi memang menggeliat lagi di Padang, tetapi toko-toko besar, mal dan supermarket belum ada yang buka dan sedang direnovasi seperti, Matahari, Suzuya Rocky Plaza, Plasa Andalas dan Ramayana belum terlihat beroperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di penginapan pun, sopir taksi menjelaskan bahwa bangunan empat lantai di sebelahnya telah runtuh, namun pemilik segera merenovasi sehingga bisa beroperasi dan menjadi tempat menginap. Dari dalam kamar, memandang keluar jendela, tampak kompleks sekolah yang rusak berat, sementara aktifitas belajar mengajar tetap berlangsung di bangunan semi permanen dari papan dan tripleks beratapkan seng. Gempa masih terjadi ketika meletakkan tas di atas meja dan menurut office boy, memang masih sering terjadi gempa susulan dalam skala kecil dan ringkas. Dari sebuah tempat persis di sisi kanan Katedral Padang di Jalan Bundo Kanduang pertemuan Caritas Joint Response Learning Review dilaksanakan pada 27-28 Januari. Acara tersebut dihadiri oleh unsur ERT Keuskupan Padang, Karina, Caritas Partners, Caritas Member Operation dam Lembaga Karitas Keuskupan yang terlibat dalam penanganan bencana beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dibuka dengan sambutan singkat oleh Uskup Padang, &lt;strong&gt;Mgr. Martinus D.Situmorang&lt;/strong&gt;. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan peserta. &lt;strong&gt;Rm. Agus Mujihartono&lt;/strong&gt;, dari ERT Keuskupan Padang melanjutkan dengan presentasi singkat pengalamannya ketika gempa menguncang bumi Padang secara kronologis. Presentasi ini diberi judul G30S / Sumbar (Gempa Bumi 30 September / Sumatera Barat). Rm. Agus juga menuturkan beberapa kebingungan yang dialami, antara lain untuk soal: koordinasi ketika banyak orang yang datang, siapa yang harus dikontak, perubahan struktur yang begitu cepat berimbas pada perubahan tugas dan pekerjaan, perubahan budget, orang dan membuatnya berniat mengontak beberapa pihak yang pernah menawarkan bantuan sebelumnya. Termasuk kehadiran relawan yang datang membantu tetapi semua berangkat ke Padang Pariaman, tidak menolong umat dan warga kota Padang. Ia mengatakan kota Padang diabaikan, padahal jumlah rumah yang roboh tidak kalah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara kemudian dilanjutkan dengan diskui. Diskusi dilakukan dalam 3 kelompok, yakni ERT Keuskupan Padang, Karina dan Caritas Partners serta Lembaga / Karina Keuskupan lain. Mereka menjawab beberapa pertanyaan panduan sebagai berikut, apa yang berjalan baik? apa yang berjalan tidak baik? apa yang seharusnya ada tapi tidak ada? apa yang sudah terjadi tapi seharusnya tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut peserta dari Lembaga / Karina Keuskupan lain, beberapa hal yang sudah baik adalah, terbentuknya &lt;em&gt;Caritas Joint Response&lt;/em&gt;, keterlibatan Karina Keuskupan dan &lt;em&gt;Caritas Internationalis&lt;/em&gt;, serta kehadiran relawan yang secara tidak langsung menjadi kesempatan pengembangan kapasitas dalam rupa pembelajaran langsung di lapangan. Sedangkan yang tidak berjalan disebutkan koordinasi misalnya, mekanisme kerjasama Karina dan Keuskupan Padang belum lancar, koordinasi relawan, juga paket bantuan yang tidak seimbang, ketersediaan barang dari supplier, komunikasi antara logistik, relawan lapangan dan procurement kurang lancar, koordinasi antara relawan dari Keuskupan lain dan relawan Keuskupan Padang. Selain itu, relawan perlu mendapatkan penjelasan dan penyesuaian tentang form administrasi, assesment, monitoring dan evaluasi. Berkenaan dengan relawan hal yang petut diperhatikan adalah, pembagian tugas, pelibatan relawan lokal paroki dan penanggung jawab hidup harian. Kelompok dari berbagai Keuskupan ini merekomendasi pentingnya manajemen sirkulasi relawan, draft panduan relawan, database relawan dan relawan dari Keuskupan lain hendaknya ditanggung oleh Karina Keuskupan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari kelompok ERT Keuskupan Padang menggarisbawahi tentang, proses verifikasi beneficiaries, penjelasan tentang kinerja &lt;em&gt;Caritas Joint Response&lt;/em&gt; dan ERT Padang, penerusan informasi hasil pertemuan ke semua level dan ada forumnya secara khusus, selain manajemen informasi dan komunikasi yang mencakup alur informasi yang jelas. Kelompok Karina, &lt;em&gt;Caritas Partners&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Caritas Member Operation&lt;/em&gt; merekomendasi beberapa hal, yaitu: organisasi yang akan datang ke lokasi harus memberitahukan kepada lembaga Karina lokal terlebih dahulu, adanya &lt;em&gt;ER policy&lt;/em&gt; yang jelas, &lt;em&gt;tool kits&lt;/em&gt; yang praktis, apa yang harus dibuat / dipersiapkan, kebijakan, pengambilan keputusan, peran masing-masing pihak, pertemuan koordinasi yang teratur (dari segi isi, waktu, dan peserta), pentingnya liaison officer sebagai penghubung antara lembaga lokal dengan pihak donor dan satu struktur dalam pelaksanaan tanggap darurat di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi selanjutnya berkenaan dengan kinerja &lt;em&gt;Caritas Joint Response&lt;/em&gt;, terbagi dalam 4 kelompok, meliputi, Kelompok Gudang, &lt;em&gt;Procurement&lt;/em&gt; dan Distribusi, Kelompok Manajemen Proyek, Koordinasi dan Sumberdaya, Kelompok Program Design dan Kelompk Administrasi dan Keuangan. Diskusi dari berbagai kelompok ini menghasilkan poin-poin penting yang disebut rekomendasi. Sesuai rencana, hasil pertemuan tersebut dan beberapa rekomendasi akan dibukukan dalam sebuah buku saku yang dapat menjadi semacam buku panduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela acara diskusi, Pak Manalu dari ERT Keuskupan Padang menuturkan ketidakjelasan tugas ketika hasil rapat menunjukknya bertanggungjawab di salah satu bagian, tetapi tidak jelas di bagian mana. Sementara Dian dari Keuskupan Tanjungkarang menyebutkan saat mengambil alih tugas, ternyata setiap orang harus menciptakan sesuatu yang baru untuk memperlancar tugas, sehingga terjadi miskoordinasi. Termasuk masa kerja relawan serta keluar masuknya orang yang menurutnya menyulitkan. Harapannya kejadian yang demikian tidak terjadi dan semoga karya-karya pelayanan kemanusiaan di lingkup Karina menjadi lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-2286810277255099066?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2286810277255099066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2286810277255099066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/02/pembelajaran-bersama-dari-padang.html' title='Pembelajaran Bersama Dari Padang'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/S3b8Hkk8aHI/AAAAAAAABRc/QKx9FlytvyM/s72-c/15149_199317007248_568842248_2943697_3307450_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-7704119972099792377</id><published>2010-02-13T09:06:00.000-08:00</published><updated>2011-02-19T09:07:27.086-08:00</updated><title type='text'>Surat Gembala Prapaskah 2010</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saudara-saudara yang terkasih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Kor 6:11). Demikian Rasul Paulus mengingatkan setiap orang yang telah dibaptis untuk terus menerus bertobat sebagai sikap iman yang pantas bagi Dia yang telah menebus kita dengan kurban salibNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, kita umat Katolik perlu merasa bersyukur karena kita dapat mempersiapkan perayaan Paskah dengan masa pertobatan Prapaskah yang dimulai dengan Hari Rabu Abu yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 17 Februari 2010. Seperti seruan para nabi demikian pula Tuhan Yesus memanggil kita untuk menyesal dan bertobat, bukan pertama-tama dengan perbuatan-perbuatan lahiriah, seperti pada jaman Perjanjian Lama dengan “karung dan abu”, perbuatan puasa, pantang, dan matiraga melainkan pertobatan hati, pertobatan batin. Tobat batin adalah satu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah balik (metanioa), pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, berpaling dari yang jahat, menyadari diri sebagai anak-anak Allah, dan membebaskan diri dari keadaan berdosa. Bahkan tentang keadaan berdosa ini Rasul Yohanes berkata: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yoh 1:8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertobatan hati, pertobatan batin sekaligus mengandaikan kerinduan dan keputusan untuk mengubah kehidupan, serta harapan atas belas kasih ilahi dan bantuan rahmatNya, dengan menyadari “ada yang tidak beres dalam hidupku” atau “ada masalah dalam hidupku” bahkan “masalahnya ialah sering kali aku tidak merasa ada masalah dalam hidupku”. Hati manusia itu cenderung lamban dan keras. Untuk bertobat sungguh-sungguh kita hanya dapat bermohon supaya Allah memberi kepada kita hati yang baru (bdk. Yeh 36:26-27). Karena itu, pertobatan adalah pertama-tama karya Allah yang membalikkan hati kita kembali kepadaNya: “Bawalah kami kembali kepadamu, ya Tuhan, maka kami akan kembali” (Rat 5:21). Allah memberi kita kekuatan untuk mulai hidup yang baru dengan hati yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) Nasional tahun 2010 ini ialah Kesejatian Hidup Dalam Keluarga. Selama masa Prapaskah ini kita diharapkan untuk bertobat dari segala hal yang menghambat menghalangi terciptanya hidup keluarga yang beriman, rukun, damai sejahtera, yang saleh, tabah dan saling meneguhkan, penuh pelayanan, perhatian dan cinta kasih. Tema ini sejalan dengan fokus karya pastoral Keuskupan Surabaya pada tahun 2010 sebagai Tahun Keluarga dan Habitus Baru, hasil rekomendasi Musyawarah Pastoral Keuskupan Surabaya, November 2009 yang lalu. Seperti diketahui bersama sejak Januari 2010 terutama di paroki-paroki dan melalui koordinasi kevikepan di Keuskupan Surabaya mulai dirancang program-program kegiatan untuk mengisi Tahun Keluarga dan Habitus Baru ini. Tidak ada program besar dan menyeluruh seperti perayaan Tahun Keluarga dan Habitus Baru di tingkat keuskupan, justru di tingkat paroki-paroki dan kevikepanlah program-program kegiatan lebih dirasakan dampaknya bagi pembaharuan hidup keluarga-keluarga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat mengisi masa pertobatan Prapaskah 2010 ini dengan pembaharuan hidup sebagai anggota keluarga dan sebagai keluarga yang berciri kristiani. Beberapa pokok hidup keluarga kristiani dapat menjadi bahan renungan pertobatan batin kita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Kristiani adalah persekutuan pribadi, sebagai tanda dan citra persekutuan cinta kasih Bapa, Putra dan Roh Kudus (Anjuran Apostolik untuk Keluarga di jaman modern, Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, 21). Ditegaskan visi keluarga sebagai persekutuan pribadi-pribadi dalam cinta kasih. Menghadapi tantangan jaman yang cenderung materialistis, hedonis, dan konsumeristis, sering anggota keluarga kehilangan rasa dan sikap hormat satu sama lain sebagai pribadi. Misalnya, ayah dan ibu cenderung melihat anak sebagai beban, atau alat untuk kebanggaan orang-tua kalau anak menuruti keinginan, sukses, dsb. Di lain pihak, anak kehilangan rasa dan sikap hormat, karena orang-tua tidak memuaskan keinginan anak, bahkan menjadi penghalang kebebasan anak. Persekutuan pribadi keluarga sebagai komunikasi cinta kasih yang mudah menjadi transaksi pemenuhan kebutuhan dan keinginan semata. Adakah pertobatan batin untuk melihat anggota keluarga satu sama lain sebagai pribadi yang butuh rasa dihormati, dihargai, disayang, sebagai pribadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga adalah wadah hidup sebagai “sekolah keutamaan-keutamaan cinta kasih” (FC 36). Adakah suasana “rumah” sebagai wadah pembelajaran untuk kesabaran, ketekunan, kesetiaan, kejujuran, pelayanan, pengabdian tanpa pamrih satu sama lain. Apakah kita mampu menjadi teladan keutamaan-keutamaan cinta kasih ini atau kita menjadi batu sandungan bahkan dalam hal sopan santun dan etiket hidup bersama sebagai anggota keluarga kristiani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga adalah wadah hidup pembinaan iman dan kesucian hidup di hadapan Allah (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Vatikan II, Lumen Gentium 11). Apakah kita sebagai anggota keluarga kristiani cenderung menjadi penghalang atau penghambat satu sama ain untuk mengenal kehadiran dan bertemu dengan Tuhan dalam hidup doa, ibadat dan perayaan-perayaan sakramen Gereja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Tuhan memberkati kita dalam masa prapaskah ini dalam laku puasa, pantang dan matiraga dengan fokus perhatian pertobatan dalam hidup keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat Tuhan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono&lt;br /&gt;Uskup Surabaya &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-7704119972099792377?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7704119972099792377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7704119972099792377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2010/02/surat-gembala-prapaskah-2010.html' title='Surat Gembala Prapaskah 2010'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-2962124403796660106</id><published>2009-12-01T03:58:00.000-08:00</published><updated>2010-09-01T08:02:49.253-07:00</updated><title type='text'>Kabar Relawan Keuskupan Surabaya Di Padang (Kloter III)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxUH8bAzLRI/AAAAAAAABRU/qGcaXIvQdb8/s1600/15149_199316997248_568842248_2943695_5344420_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410239261980175634" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxUH8bAzLRI/AAAAAAAABRU/qGcaXIvQdb8/s200/15149_199316997248_568842248_2943695_5344420_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxUH7dpsutI/AAAAAAAABQ8/bKNy_8SU3eY/s1600/d1.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 149px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410239245508721362" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxUH7dpsutI/AAAAAAAABQ8/bKNy_8SU3eY/s200/d1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxUH7EyI7TI/AAAAAAAABQ0/vvH50GAlWuY/s1600/p1.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410239238833237298" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxUH7EyI7TI/AAAAAAAABQ0/vvH50GAlWuY/s200/p1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 setengah jam dari Bandara Juanda. Relawan Karina Keuskupan kloter ketiga, &lt;strong&gt;Sdr. Mugi Santoso, Sdr. Budi Hartono, Sdr. Stephanus&lt;/strong&gt; (Paroki St. Mateus, Pare), &lt;strong&gt;Sdr. Vincentius Dimas&lt;/strong&gt; (Paroki St. Stefanus, Tandes) dan &lt;strong&gt;Bp. Marcus Hariastono&lt;/strong&gt; (Paroki Mater Dei, Madiun, Ketua tim) dan Sdr. Budi Hartono akhirnya sampai di Padang. Sesampai di Padang, sebagai awalan mereka diajak berkeliling tempat wisata bersama relawan dari Keuskupan lain, antara lain mengunjungi Jam Gadang di Bukit Tinggi, Ngarai Sianok dan Gua Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, tim dibagi menjadi 2, Mugi, Dimas dan Budi bergabung dengan &lt;em&gt;Joint Response Caritas&lt;/em&gt;, sedangkan Bp. Marcus dan Stephanus bergabung dengan tim PSE Keuskupan Padang. Keduanya sama-sama melakukan respon tanggap darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu setelah makan dengan nasi goreng, diadakan perkenalan dengan seluruh teman dari berbagai Keuskupan. Pokok bahasan berikutnya, tim PSE membahas pendistribusian dan pembagian tugas menuju Padang Pariaman, Kampung Panas, Korong Kampung Ladang, Nagari Kurai Taji, Kecamatan Nan Sabaris. Bersama tim Keuskupan Padang yaitu, Sovia, Cemong dan Sutrisno, Stefanus dan Bp. Marcus melakukan assesment kedua menemui Wali Korong Bp. Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, tim meminta kepastian bersedia tidaknya warga dibantu rekonstruksi, sekaligus pendataan ulang. Hal yang sama dilakukan di Korong Kayu Angik, Nagari Gunung Padang Alai Kecamatan V, Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman. Relawan melakukan pendekatan kepada warga sambil menunggu Wali Korong yang sedang ada keperluan, mereka menikmati minuman di sebuah warung dengan menu khusus teh telur. Tim ini juga bertemu dengan tim 9 yang dikomandani Bp. Joni dan Mbak Veny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali Korong bernama Pak Buyung itu masih tampak muda dan memiliki banyak pengalaman di luar kota dan pulau. Ia memiliki wawasan luas ketika dengan lugas menjelaskan semua pertanyaan dari tim. Datanya, dari 103 rumah, 100 di antaranya rusak berat. Ia menyatakan bersedia dibantu dengan syarat tidak menyinggung masalah agama dan meminta agar semua warga mendapat bantuan tanpa kecuali. Dalam perjalanan pulang, supaya tidak terlalu malam sampai di posko, &lt;em&gt;Ranger Caritas&lt;/em&gt; dipacu Bp. Marcus namun masih sempat singgah makan bakso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Mugi, Dimas dan Budi yang bergabung dengan tim &lt;em&gt;JRC&lt;/em&gt; melakukan distribusi bersama Leon (Jakarta) dan Wawan (Semarang). Pertama-tama mereka mengkondisikan tempat distribusi dengan mengumpulkan warga di Surau Kampung Panas. Mereka dipandu oleh Wali Jorong bernama Bp. Gondo. Setelah siap, barang logistik berupa &lt;em&gt;shelter kits, hygiene kits dan tools kits &lt;/em&gt;diturunkan untuk 146 rumah warga. Sempat ada sisa paket sebanyak 9 buah, karena data sekunder yang tidak terbawa. Barang sisa itu disimpan di Surau Al-Mukmin. Mereka sempat melewati kampung Pecinan yang mendapat dukungan dari posko PSE, dalam perjalanan pulang, saat malam tiba untuk langsung beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 26 November 2009, sehari menjelang Hari Raya Idul Adha, pagi itu diawali dengan sarapan bersama relawan &lt;em&gt;Joint Caritas Response&lt;/em&gt;. Kemudian ada briefing untuk pendistribusian ke desa Apar untuk membantu 135 kk dan desa Pinang 215 kk. Relawan Karina Keuskupan Surabaya dibagi dua. Dalam pembagian tim Desa Apar terpilih Budi, Bp. Markus Hariastono, Mugi Santosa, Leon, Angka dan Ridho. Sedangkan untuk Desa Pinang: Dimas, Stefanus, Sr. Laurentia, Heri, Tris, Yuni, Tatik, Aldi dan Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di lokasi, makan siang telah disiapkan warga di rumah Sdr. Nyayun. Setelah selesai, distribusi dilakukan di lapangan desa tersebut dengan 4 truk yang mengangkut barang bantuan berupa &lt;em&gt;hygiene kits, tools kits dan kitchen sets&lt;/em&gt;. Para relawan dibantu warga sekitar yang sangat kooperatif. Sehingga pendistribusian selesai tanpa ada halangan yang berarti. Saat menjelang malam, warga menyediakan makan malam di rumah Sdr. Yuni. Seusai makan berpamitan untuk kembali ke Posko di Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 28 November 2009, pagi hari seluruh relawan &lt;em&gt;Joint Caritas Response&lt;/em&gt; mengawali dengan sarapan bersama di belakang posko dengan menu nasi goreng. Setelah itu diadakan briefing yang membahas tiga hal, &lt;em&gt;stock, assesment &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;input data&lt;/em&gt;. Sdr. Mugi bersama Wawan, Ridwan dan Yunia masuk dalam tim &lt;em&gt;assessment&lt;/em&gt;, Bp. Marcus, Budi, Stephanus, Alex, Aldi Ridho dan Sartono dalam tim &lt;em&gt;stock &lt;/em&gt;sedangkan Dimas bersama Sr. Laurentia dan Leon di tim &lt;em&gt;input data&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tim bergerak menuju lokasi &lt;em&gt;assesment &lt;/em&gt;di Korong Kubu Padang Manis, Nagari Campago, Kecamatan Koto Kampung Dalam, Kabupaten Pariaman. Tim langsung menemui Wali Korong Campago, Bp. Zal yang kebetulan bekerja di Dinas Pariwisata Pemkab setempat. Tim meneruskan ke Korong Pantamuan, Kecamatan Koto yang ditemui Wakil Wali Korong, Bp. Yaman. Kemudian tim bergerak ke Korong Limpato, Nagari Saih Jaik, Kecamatan Koto, masih di Kabupaten Padang Pariaman. Mereka bertemu Haji Sulaiman,tokoh masyarakat desa Limpato. Demikian pula ketika tiba di Korong Paguh Duku, Nagari Kutai Taji, Kecamatan Nan Sabaris tim disambut Ibu Salmiati kepercayaan Wali Korong. Seusai melakukan &lt;em&gt;assessment&lt;/em&gt;, tim kembali ke Padang dan bertemu dengan tim lain yang kemudian bergabung makan di kawasan Pecinan, Kota Padang ketika hampir malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu tim &lt;em&gt;input data&lt;/em&gt; melakukan pendataan yang membutuhkan ketelitian tinggi, karena dalam menghitung data harus cocok antara barang yang telah dikeluarkan gudang dan barang akan didistribusikan. Kali ini tim menginput data Desa Anbacang Gadang, Kampung Surau dan Kampung Tengah. Dalam setiap &lt;em&gt;input data&lt;/em&gt; ada saja permsalahan seperti: barang lebih atau kurang, belum ditandai siapa yang sudah mendapat atau data ganda dan lain lain. Menurut Dimas, perlu untuk memeriksa setiap data yang ada dengan melibatkan seluruh anggota tim. Baginya data sangat penting apalagi ini pengalamannya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi pengalaman tim &lt;em&gt;stock&lt;/em&gt; yang dilakukan Stephanus, Budi dan Bp. Marcus bersama teman lainnya. Tim ini sangat membutuhkan banyak energi dan kondisi prima untuk memindahkan barang dari gudang dan menghitungnya kembali, terlebih kondisi gudang mulai berdebu. &lt;em&gt;Stock&lt;/em&gt; gudang mendapat perhatian karena pada 30 November kontrak gudang habis. Meskipun demikian tim sangat kompak dan penuh kerjasama sehingga segera selesai. &lt;em&gt;(Budi Hartono, relawan)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-2962124403796660106?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2962124403796660106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2962124403796660106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2009/12/kabar-relawan-keuskupan-surabaya-di.html' title='Kabar Relawan Keuskupan Surabaya Di Padang (Kloter III)'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxUH8bAzLRI/AAAAAAAABRU/qGcaXIvQdb8/s72-c/15149_199316997248_568842248_2943695_5344420_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-2230466480049684440</id><published>2009-11-03T23:01:00.000-08:00</published><updated>2010-09-01T08:03:50.231-07:00</updated><title type='text'>Kabar Relawan Keuskupan Surabaya Di Padang (Kloter II)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvEtMBBEE8I/AAAAAAAABMk/DVLWQRseJHI/s1600-h/p2.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 150px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400147112648512450" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvEtMBBEE8I/AAAAAAAABMk/DVLWQRseJHI/s200/p2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvEtHMjOgxI/AAAAAAAABMc/f2SfvYJNJyw/s1600-h/15837_180056562936_110727902936_2718502_4123788_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400147029845246738" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvEtHMjOgxI/AAAAAAAABMc/f2SfvYJNJyw/s200/15837_180056562936_110727902936_2718502_4123788_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvEtBaWhmXI/AAAAAAAABMU/YEg1J035NwE/s1600-h/12840_104544916226307_100000123971952_125301_626937_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400146930470852978" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvEtBaWhmXI/AAAAAAAABMU/YEg1J035NwE/s200/12840_104544916226307_100000123971952_125301_626937_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvEs7sAdMeI/AAAAAAAABMM/WKZ2TepCTYY/s1600-h/9725_104328096247989_100000123971952_118156_6300988_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana kabar dari Padang dari relawan Keuskupan Surabaya ? Sebagaimana diketahui, sebelum kloter pertama pulang, dua hari sebelumnya, relawan kloter kedua tiba di Padang. Mereka adalah, Bp. Mugi Santosa, Agnes Kartika, Bp. Yulius Guntur Suseno, Leonardus Latu dan Heri Risdiono, yang berada di Padang sejak 17 Okt - 1 Nov 2009. Setelah beristirahat sehari, keesokan harinya diadakan rapat koordinasi di Kantor Komisi, mereka membagikan kisahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Bp Yulius Guntur Seno&lt;/strong&gt;, menceritakan bahwa di sana relawan dari Surabaya benar-benar diunggulkan. Hal yang paling banyak dilakukan distribusi dan tepat sasaran. Proses ini sangat bergantung pada stok di gudang. Tim mampu menjangkau tempat-tempat yang belum pernah mendapat bantuan. Kebetulan tim ditempatkan di wilayah Pariaman. Dengan cara yang dilakukan, masyarakat merasa betul-betul diperhatikan. Tanggapan dari masyarakat sangat positif karena sistem kerja tim sangat cepat. Waktu yang diperlukan hanya sekitar 2-3 hari sehingga masyarakat segera langsung menerima bantuan. Kepala kampung juga beranggapan bahwa bantuan sangat menolong dibandingkan dengan bantuan yang diberikan oleh pemerintah. Proses yang dilakukan oleh pemerintah terlalu berbelit dengan berbagai prosedur, harus mengantri, padahal jumlah bantuan yang didapat minim. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lelaki asli Madiun yang sudah memiliki seorang cucu ini mengatakan masyarakat sangat bersyukur dengan bantuan yang mereka terima. Tim merasa sangat koordinatif dengan warga saat melakukan pendistribusian, hingga pada saat membantu memasang tenda. Ia bahkan menerima ungkapan terima kasih berupa cipika-cipiki, yang disambut tawa semua peserta rapat siang itu. Ia menambahkan partisipasi masyarakat sangat baik, tanggap dan mau ikut bergerak. Pada saat pendistribusian tim relawan memperingatkan kepada warga apabila dalam 3 hari tenda yang dibagikan belum didirikan, maka bantuan akan ditarik kembali. Hasilnya setelah 3 hari, saat melakukan pengamatan, semua tenda yang dibagikan sudah berdiri sampai ke pelosok-pelosok. Harapannya ke depan ada baiknya jika mengirim relawan lagi, kita mengirimkan orang-orang yang berpengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mugi Santosa&lt;/strong&gt;, asli Pare, Kediri mengisahkan pada hari pertama tim langsung ke Bungus, Padang Selatan yang ternyata warga belum mendapatkan bantuan sama sekali. Tim melakukan &lt;em&gt;assessment&lt;/em&gt; hingga verifikasi. Proses assesment dan verifikasi yang harusnya diberi target 3 hari, dapat dilakukan oleh relawan dalam dalam 1 hari. Tim dipantau oleh relawan dari &lt;em&gt;Trocaire&lt;/em&gt; yang langsung melihat sistem kerja. Mereka sempat heran dengan cara kerja tim, yaitu dengan memberdayakan masyarakat setempat dan masyarakat setempat ikut bergerak. Proses pendistribusian dengan demikian berlangsung sangat cepat. Pengalamannya itu menurutnya diteruskan dan titipkan kepada tim Makasar yang hadir sebelum tim pulang. Satu hal yang menarik, setiap kali melakukan distribusi warga menyambut gembira, apalagi bila semua puas. Hasilnya ia pulang kembali ke posko &lt;em&gt;Joint Response Caritas&lt;/em&gt; dengan membawa satu tas kresek pisang goreng atau kelapa muda bahkan sempat diberi satu karung durian, sebagai ungkapan terima kasih. Sesampai di Surabaya pun, warga yang diberi bantuan seakan tak bisa melupakan dan masih menghubungi nomer &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Agnes Kartika&lt;/strong&gt;, satu-satunya perempuan dalam tim relawan Keuskupan Surabaya mengisahkan bahwa saat pertama datang langsung ke Pasaman Barat. Manajemen &lt;em&gt;assesment&lt;/em&gt; dan distribusi di sana masih kacau. Hari kedua tim mulai bekerja, meskipun belum menemukan sistem kerja yang pas. Data-data sekunder yang diterima ternyata banyak yang tidak benar. Sistem pemerintah di sana juga kacau. Jadi setiap tim masuk ke suatu tempat, harus mempelajari sistem pemerintahan yang berlaku di daerah itu. Kemudian tim diajari cara melakukan assessment yang benar, karena hasil &lt;em&gt;assesment&lt;/em&gt; sebelumnya dianggap tidak sesuai dengan format yang diberlakukan oleh Karina. Setelah mendapat ilmu yang benar tim juga melakukan verifikasi ke masyarakat. Ia sempat dimasukkan ke dalam tim &lt;em&gt;monitoring&lt;/em&gt;, yang merupakan tim yang baru dibentuk. Tim &lt;em&gt;monitoring&lt;/em&gt; bertugas untuk mengecek kembali pendistribusian hingga mengetahui kualitas barang yang diberikan ke masyarakat. Ternyata sistem &lt;em&gt;monitoring&lt;/em&gt; dirasa kurang efektif sehingga kemudian diubah. Menurut perempuan kelahiran Surabaya yang menghabiskan masa cuti setahun dua minggu ini, tim relawan dari Surabaya sangat diandalkan meskipun menjangkau daerah yang sama sekali tidak dapat pelayanan dari lembaga lain. Apalagi dukungan &lt;em&gt;Joint Response Caritas&lt;/em&gt;, barang dan tenda yang dibagikan sangat bagus. &lt;em&gt;(Bp. Ferdinandus Locke, notulis)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-2230466480049684440?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2230466480049684440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/2230466480049684440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2009/11/kabar-relawan-keuskupan-surabaya-di.html' title='Kabar Relawan Keuskupan Surabaya Di Padang (Kloter II)'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvEtMBBEE8I/AAAAAAAABMk/DVLWQRseJHI/s72-c/p2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-7494470959351786485</id><published>2009-10-30T00:58:00.001-07:00</published><updated>2009-11-10T07:35:51.328-08:00</updated><title type='text'>Kabar Relawan Keuskupan Surabaya Di Bojong, Garut</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvmHRF82YLI/AAAAAAAABO0/s1t5QQWChzI/s1600-h/grt2.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 150px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402497955732545714" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvmHRF82YLI/AAAAAAAABO0/s1t5QQWChzI/s200/grt2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvmHQyNoMMI/AAAAAAAABOs/OB7b2s4Dn9Y/s1600-h/grt3.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402497950434209986" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvmHQyNoMMI/AAAAAAAABOs/OB7b2s4Dn9Y/s200/grt3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvmHQpmIjKI/AAAAAAAABOk/Wqt76MG5vvY/s1600-h/grt.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 148px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402497948121074850" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvmHQpmIjKI/AAAAAAAABOk/Wqt76MG5vvY/s200/grt.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Relawan Karina tidak hanya berada di Padang, beberapa orang membantu di Garut, Jawa Barat. Mereka yang meninggalkan Surabaya, Sabtu 24 Oktober 2009, yaitu: FA. Yunianto, Budi, Bangkit dan Stefanus dan bergabung dengan Posko Paroki yang diketuai, Rm Agus Nindia Nikolas, Pr. Bagaimana kisahnya ? Berikut ini sms yang kemudian diterjemahkan ke email oleh Hany Hendra, koordinator ERT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 28 Oktober, 2009, Budi Hartono mengabarkan relawan saat ini berada di Bojong, Garut, Jawa Barat. Mereka mendapat tugas di tempat terpencil, jauh dari kota, sulit akses telepon serta internet. Job yang mereka dapat adalah rekonstruksi bangunan rumah tinggal. Budi menginformasikan bahwa pihak Gereja di sana rencananya akan memperbaiki rumah seorang warga yang tengah hamil. Ternyata sang bayi lahir lebih cepat saat rumahnya hendak direhab, tetapi mereka tetap mengerjakan rehab rumah itu. Pekerjaan mereka sebagai, istilah kerennya, co tukang batu alias kuli batu, mengecat tembok dan membuat tembok bata. Apapun job-nya karena sudah disetujui &lt;em&gt;the show must go on&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 29 Oktober 2009, Stefanus mengabarkan bahwa Tim Kariyo, panggilan sayang relawan Karina Keuskupan Surabaya, saat ini masih di Bojong. Kegiatan yang mereka lakukan tetap seperti kemarin yakni rehabilitasi rumah. Ada yang mengecat rumah, memasang list plang dan plafon. Sore harinya, setelah mandi, Yunianto dan Stefanus menjadi pembimbing anak-anak yang belajar bersama di rumah Ketua RW. Tumben...!!! Tim relawan tidur di rumah Ketua RW dan saat ini dalam keadaan sehat. Stefanus memohon maaf karena sinyal sangat sulit. Kadang datang, tapi sering pergi. Semoga bencana apapun seperti sinyal, sering pergi. Demikianlah berita kawan kita yang berada di tatar Sunda. &lt;em&gt;(FA. Yunianto dan Stefanus, relawan)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-7494470959351786485?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7494470959351786485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/7494470959351786485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2009/10/kabar-relawan-keuskupan-surabaya-di_30.html' title='Kabar Relawan Keuskupan Surabaya Di Bojong, Garut'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvmHRF82YLI/AAAAAAAABO0/s1t5QQWChzI/s72-c/grt2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-1842594256465633207</id><published>2009-10-16T01:16:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T08:05:01.204-07:00</updated><title type='text'>Kabar Relawan Keuskupan Surabaya Di Padang</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Stn3fRBz0II/AAAAAAAABLk/Q_L2lfEdp8Y/s1600-h/h.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393614145271877762" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Stn3fRBz0II/AAAAAAAABLk/Q_L2lfEdp8Y/s200/h.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Stn3XlX5lXI/AAAAAAAABLc/bPcHMSgH5rc/s1600-h/dl.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393614013294286194" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Stn3XlX5lXI/AAAAAAAABLc/bPcHMSgH5rc/s200/dl.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StgsuwU_VfI/AAAAAAAABLM/hnuUuRc8AUI/s1600-h/9530_167126137936_110727902936_2615816_3450205_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393109735534712306" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StgsuwU_VfI/AAAAAAAABLM/hnuUuRc8AUI/s200/9530_167126137936_110727902936_2615816_3450205_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Teman-teman, Keuskupan Surabaya merespon gempa di Padang dengan mengirimkan kita (&lt;strong&gt;Rm. Markus Rudi Hermawan, CM, saya Yoseph Hany Hendra, Indro Wicaksono, Eko dan Dolies&lt;/strong&gt;). Kita bersyukur bahwa kepedulian pada sesama yang menjadi korban bencana di Padang benar-benar diwujudnyatakan. Pemilihan mereka tentu dengan berbagai pertimbangan yang cukup meskipun mendesak (cepat) karena 1 X 24 jam harus berangkat ke Padang dari Surabaya. Saya masih ingat betapa beratnya situasi dan kondisi saya juga teman-teman yang diberangkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim ini dinamai Tim Karina Keuskupan Surabaya dengan pertimbangan bahwa Tim ini akan mudah diterima dan menerima informasi dari Kelompok / Lembaga yang telah hadir di Padang. Tim Karina Keuskupan Surabaya mempunyai tugas sebagai supporting unit bagi PSE / Karina Keuskupan Padang. Jadi kami diperbantukan ke Padang untuk mensupport kegiatan teman-teman di Padang. Untuk itu perlu kemampuan koordinasi, bahasa Inggris, mengatur strategi, pembuatan laporan &lt;em&gt;assesment&lt;/em&gt; serta komunikasi. Jelas, hal ini merupakan keuntungan bagi kita. Mungkin hal ini merupakan pengalaman pertama kita bergaul, bergerak dan bekerja secara internasional. Kita pun belajar banyak dari Caritas manca negara. Antara lain, kita mendapatkan hal baru dalam &lt;em&gt;assessment&lt;/em&gt;, yakni lima poin: makanan, rumah / &lt;em&gt;shelter&lt;/em&gt;, kesehatan, air dan sanitasi serta non-makanan seperti selimut, alat masak dll).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi di Padang, secara umum situasi kota sudah berangsur-angsur pulih, kehidupan sudah mulai berjalan normal, pasar dan para pedagang sudah mulai beraktivitas. Di beberapa tempat masih berserakan gedung dan rumah roboh namun sudah mulai dibersihkan. Di beberapa tempat memang masih tercium bau mayat. Situasi di Pariaman, tepatnya di Nagari Lubuk Alung dan Tuju Koto, tempat kita turun, sebagian besar rumah roboh dan rusak berat. Kehidupan memang sepertinya normal namun dalam hati siapa tahu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Posko &lt;em&gt;Joint Response Caritas&lt;/em&gt;, tepatnya di Jl. Kampung Batu 55, Kec. Padang Selatan (dekat Jembatan Siti Nurbaya) inilah kami berkumpul: tidur, memulai aktifitas harian, awal dan akhir. Di sini ada beberapa anggota, Caritas Internasional yang berkumpul bersama Caritas Indonesia (Karina). Mereka antara lain: - Karina, &lt;em&gt;Catholic Relief Services (CRS), &lt;/em&gt;Karina Keuskupan Padang, Karina Keuskupan Surabaya, Karina Keuskupan Palembang, Cordia Keuskupan Agung Medan,&lt;em&gt; Deutscher Caritas Verband (Caritas Jerman), Caritas Swiss, Trocaire (Caritas Ireland), Secours Catholique (Caritas France), Caritas Australia, Cordaid (Caritas Netherlands) dan Catholic Agency For Overseas Development (CAFOD, Caritas United Kingdom)&lt;/em&gt;. Suasana cukup ramai dan hidup, namun juga ruwet. Fasilitas seadanya, tapi tidak begitu menjadi kendala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kegiatan kami, seperti biasa setiap malam ada koordinasi, menggunakan bahasa Inggris. Pagi hari melakukan assessment dan melakukan distribusi. Cukup “njelimet” juga. Karena Caritas Internasional ikut turun bersama kita. Beberapa pengalaman baru muncul, yang lain sudah ada yang pernah kita lakukan. Ketegangan terkadang muncul di saat distribusi bantuan. Memang diperlukan &lt;em&gt;skill and knowledge&lt;/em&gt; untuk melaksanakan kegiatan ini, selain kemampuan berbahasa, metode penyaluran bantuan, kemampuan persuasif, fisik yang tangguh dan kemampuan cepat beradaptasi. Situasi warga sangat responsif dan kita harus mengikuti aturan main, mengingat kita adalah utusan Keuskupan Surabaya. Kegiatan beberapa hari ini saya rasakan cukup melelahkan baik fisik maupun mental, namun tak perlu dikhawatirkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sampai hari Sabtu, 10 Oktober 2009, jumlah relawan di posko mulai berkurang. Relawan dari Palembang hanya satu orang tersisa. Mulai tanggal 12 Oktober, kehidupan kota Padang dihimbau pemerintah untuk bernafas lagi. Artinya, kantor-kantor dan sekolah-sekolah mulai masuk. Artinya akan berdampak, relawan-relawan lokal Padang akan menurun drastis. Padahal, merekalah tulang punggung di lapangan. Kemungkinan besar tulang punggung itu akan berpindah ke tim Karina Surabaya yang sekarang ini masih lima dan akan menjadi empat orang di hari Selasa mendatang. Pergantian relawan seperti yang telah kita rencanakan akan sangat berarti bagi posko Caritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman, situasi dan kondisi yang kami alami saat ini sangat berbeda dengan yang ada di tempat kita. Sebagai koordinator &lt;em&gt;emergency response&lt;/em&gt; Karina Keuskupan Surabaya, saya merasa perlu menyampaikan hal ini. Saya berpesan, marilah kita menjaga sikap supaya semua dapat menjalankan misi dengan baik dan benar. Kita perlu berbuat sesuatu yang berguna untuk sesama yang menjadi korban bencana di Padang. Kami mohon doanya supaya dapat berbuat yang terbaik untuk kita semua. Padang, pada hari ketujuh, 12 Oktober 2009. &lt;em&gt;(Yoseph Hany Hendra Wardhana, koordinator Emergency Response Team dan Rm. Markus Rudi Hermawan, CM, koordinator lapangan )&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6850914821357697299-1842594256465633207?l=pseks-opini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1842594256465633207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6850914821357697299/posts/default/1842594256465633207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-opini.blogspot.com/2009/10/kabar-relawan-keuskupan-surabaya-di.html' title='Kabar Relawan Keuskupan Surabaya Di Padang'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Stn3fRBz0II/AAAAAAAABLk/Q_L2lfEdp8Y/s72-c/h.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6850914821357697299.post-678543167648567839</id><published>2009-10-11T01:11:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T08:06:44.821-07:00</updated><title type='text'>Exposure Visit Karitas Indonesia (Karina) Ke Caritas India</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StG7_Irw8SI/AAAAAAAABLE/bigXm9cQ4AA/s1600-h/g.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391296922276393250" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StG7_Irw8SI/AAAAAAAABLE/bigXm9cQ4AA/s200/g.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StG72IC9RgI/AAAAAAAABK8/VPibDv7OTPc/s1600-h/l.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StG7bbE0oDI/AAAAAAAABKk/-Kfcb27DsZo/s1600-h/j.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391296308738039858" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StG7bbE0oDI/AAAAAAAABKk/-Kfcb27DsZo/s200/j.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StGbFYlgYII/AAAAAAAABKc/JIKE-WR-v4A/s1600-h/b3.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 133px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391260745740607618" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StGbFYlgYII/AAAAAAAABKc/JIKE-WR-v4A/s200/b3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/StGazPC6osI/AAAAAAAABKU/xdiZt-ucUcc/s1600-h/b2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lima belas ketua Karina Keuskupan yang tergabung dalam Karina KWI pada 27 September – 6 Oktober 2009 mengadakan &lt;em&gt;Exposure Visit&lt;/em&gt; ke Caritas India. Bersama rombongan terdapat Uskup Agung Medan, &lt;strong&gt;Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFM.Cap&lt;/strong&gt; sebagai wakil badan pengurus Karina KWI, &lt;strong&gt;Rm. Ign. Ismartono, SJ&lt;/strong&gt;, mewakili Direktur Karina KWI, 2 orang &lt;em&gt;supporting unit&lt;/em&gt; Karina dan 2 orang wakil dari &lt;em&gt;Secuors Catholique-Caritas France&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang didukung oleh &lt;em&gt;Secuors Catholique-Caritas France&lt;/em&gt; ini bertujuan untuk mendukung pengembangan struktur keuskupan yang relevan dengan situasi teritori, memfasilitasi proses refleksi atas identitas Caritas dalam keuskupan, mendukung pengembangan orientasi strategis di tiap keuskupan dari perspektif sosio-pastoral dan mempromosikan pembagian pengalaman dan pembelajaran untuk memperkaya tanggapan Gereja terhadap persoalan sosio-pastoral. Hasil yang diharapkan dalam acara ini, identitas Caritas dipahami dan dibagikan kepada semua pemangku kepentingan di Keuskupan, orientasi strategis dibangun sesuai dengan keadaam di setiap Keuskupan serta kegiatan baru dilakukan seiring dengan temuan selama kegiatan kunjungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan dan hasil tersebut, maka ditempuh 3 tahap. Tahap pertama persiapan yang diadakan oleh para ketua Karina Keuskupan di kantor KWI pada 29-31 Juli dan 25-26 September. Persiapan itu menentukan orientasi teori tentang lembaga Caritas, perkembangannya di Asia, identitas Caritas, refleksi atas tanggapan Gereja Indonesia terhadap kemiskinan, uraian tentang Caritas India, situasi kemiskinan dan tindakan Gereja India serta perbandingannya dengan konsep dan praktek di Indonesia. Tahap kedua, kunjungan ke India, 27 September – 6 Oktober untuk menemukan analisis praktis atas situasi sosial dan tanggapan Gereja India, perkembangan 
